Senin, 30 Oktober 2017

Post Graduation Syndrome

Sebenarnya sungguh sangat terlambat bagi saya untuk menulis ini, setelah graduasi berselang lima bulan lalu. Tapi biarlah, toh ini bukan koran yang harus selalu menyajikan informasi terkini. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, ingin kabar aktual dari saya silahkan japri. Heuheu

Setiap orang yang pernah bersekolah tentunya pernah mengalami masa seperti ini. Faktor pembedanya adalah seberapa lama masa ini bertahan, atau seberapa dalam sindrom ini mengobrak-abrik rasa dan kehidupan seseorang. Lantas sebenarnya apa sih definisi dari post graduation syndrome? Seorang teman pernah menulis bahwa istilah post graduation syndrome mengacu pada istilah post power syndrome. Mudahnya, istilah post power syndrome menggambarkan kondisi poltisi yang baru turun dari masa jabatan dan masih mendamba kekuasaan seperti ketika masih menjabat. Jadi kurang lebih istilah post graduation syndrome bermakna sindrom yang mendera orang-orang seusai diwisuda.

Well, sejujurnya saya tidak tahu apakah istilah ini memang benar adanya atau hanya istilah yang diciptakan manusia-manusia jaman sekarang untuk mendeskripsikan apa yang mereka rasakan. Sebagian orang mengalami kebingungan dan/atau kekosongan setelah ceremony graduasi yang penuh hingar bingar kebahagiaan, setelah sebelumnya bersusah payah mengusahakan kelulusan. Lantas menjadi hampa setelah hingar bingar ini berlalu, lalu dihadapkan pada berbagai pilihan sulit yang berkaitan dengan masa depan. Pertanyaan macam ‘setelah ini mau kemana’ atau ‘planning selanjutnya apa?’ akan menjadi pertanyaan template yang muncul baik dari diri sendiri maupun dari orang sekitar. Kita dihadapkan pada pilihan mencari pekerjaan, melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya, bahkan menikah.

No offense, saya menjumpai banyak dari mereka yang kemudian memilih lanjut S2 sebagai pelarian ketika tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Walaupun demikian, sebagian yang lain murni ingin belajar.

Post graduation syndrome kian menjadi bagi saya, ketika satu persatu teman-teman saya melanjutkan kehidupan mereka masing-masing dengan pindah ke kota lain. Mengingat kejayaan masa lalu (kayak pernah jaya aja), saya merasa lately kehidupan saya menjadi kurang berwarna. Saya merasakan kemunduran, terutama setelah beberapa kali apply pekerjaan dan ditolak. Bagaimanapun segala bentuk penolakan memiliki dampak tersendiri secara psikologis, sekecil apapun, disadari maupun tak disadari.

Sampai sekarang saya masih beranggapan bahwa pekerjaan (terutama di bidang saya) itu ada banyak sekali, apabila memang tak terlalu picky. Kendati demikian, masih ada saja teman saya yang menganggur. Kenapa saya bisa bilang begitu? Well, saya dan teman-teman saya pernah mengerjakan beberapa project sekaligus sampai rasanya hampir keteteran. Padahal sebenarnya bisa saja pekerjaan itu dibagi dengan orang lain. Tapi nyatanya, tidak semua orang mau mengerjakan pekerjaan macam ini. Alasannya bermacam-macam, dari honor yang tidak seberapa hingga masalah idealisme.

Hanya berselang beberapa hari setelah ceremony graduasi, saya memasukkan lamaran pekerjaan di suatu konsultan di kota tetangga. Namun sebelum pengumuman, saya ditelpon teman dan ditawari membantu proyek dosen. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya memilih mengambil proyek ini dan melepas panggilan wawancara yang datang beberapa hari setelah saya mengiyakan proyek ini. Bertemu dengan orang-orang baru dengan karakter yang menyenangkan, dengan sendirinya menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. Bersama mereka, saya betah lembur hingga malam. Meskipun belum memiliki sistem kerja yang ideal, saya enjoy bersama mereka. Toh seberat apapun pekerjaan selama kita bersama partner kerja yang menyenangkan, bukan masalah kan?

Berbicara tentang project-project yang pernah saya bantu pengerjaannya, ada beberapa yang cukup menyentil. Beberapa teman mengatakan bahwa saya ini tipikal yang idealis atau sok idealis malahan. Contohnya saja ketika kami diminta membuat justifikasi pemilihan lokasi untuk suatu pembangunan, dimana eksistingnya lokasi pembangunannya merupakan sawah produktif. Atau ketika kami diminta melakukan kajian pemekaran kecamatan namun konfigurasi desanya sudah ditentukan secara top down demi mendukung politic will. Segitu saja saya sudah merasa resah dan penuh dosa. Atau ketika ada beberapa rekan kerja yang saling membicarakan keburukan rekan kerja lain di belakang, saya sudah merasa muak dan jengah.

Well, selamat datang di dunia kerja yang penuh tantangan dan senggol-bacok. Lagi-lagi mengutip kata teman, yang terpenting kita mau berproses beradaptasi dengan lingkungan sekitar sehingga kita akan terbiasa dan bisa bertahan menghadapi gempuran faktor penyebab depresi. Oh iya, bahasan mengenai stres dan depresi yang akhir-akhir ini begitu mewabah di generasi kita, akan saya posting menyusul. 

Kamis, 27 Juli 2017

The Other Escape Routine

Malam ini randomly aku mengajak seorang teman mengunjungi sebuah kafe di dalam pojok beteng wetan, namanya Wedangan Rondjeng. Lokasinya pas banget di pojok beteng wetan sisi dalam. Dari situ kita bisa naik ke atas pojok beteng dan melihat jalanan Jogja dari atas sana, bahkan bisa jalan kaki sampe ke Plengkung Gading. Kenapa tiba-tiba bisa kesana? Random aja kepikiran kesana, kebetulan teman nginepnya di daerah situ.

Ceritanya bisa tau tempat itu gara-gara suatu hari pernah nyasar di lingkungan Kraton. FYI, area Kraton memang blindspot buat aku. Mungkin karena sense of place nya sama atau mirip, jadi rasanya sulit menghapalkan jalan di dalam beteng Kraton.

Aku inget banget pas itu weekend yang cerah menjelang penutupan sekaten. Rencananya aku lewat Plengkung Gading mau ke arah Plengkung Wijilan dan selanjutnya bablas ke daerah utara. Tapi rupanya Jalan Ibu Ruswo macet total, parah banget sampe gabisa gerak. Akhirnya sebelum keluar Plengkung Wijilan, aku banting kanan masuk jalan yang aku gak ngerti. Niatnya pengen keluar di sekitaran Jogjatronik malah muter-muter gak jelas dan melihat sebuah binar cahaya di ujung jalan sana. Waktu itu ngerasa amaze aja, ada tempat seperti itu di kawasan seperti ini. Mungkin istilahnya, syahdu kali ya. Tempatnya kecil, tapi asyik. Harga dan menunya juga cukup terjangkau, gak semahal kafe-kafe kebanyakan.

Kembali pada cerita malam ini, setelah ngobrol-ngobrol sebentar di Wedangan Rondjeng, kami memutuskan lanjut ke FKY di Pyramid yang baru pembukaan malam ini. Seperti biasa, FKY selalu ramai dengan stand-stand produk kreatif, kuliner, juga panggung hiburan. So, jalan-jalan malam random ini ditutup dengan menonton Jogja Hiphop Foundation di panggung utama FKY.


Well, sebenarnya tulisan ini dibuat dalam rangka merindukan hari-hari yang random, bersama teman-teman impulsif yang ayo aja mau jalan kemana. Diantara rutinitas sehari-hari yang membosankan, diantara himpitan deadline yang silih berganti, diantara teman-teman yang satu persatu mulai meninggalkan Jogja, jalan-jalan seperti ini merupakan escape yang menyenangkan. Lain kali mungkin aku dan kamu bisa melancarkan aksi short escape yang lebih seru. Mungkin menghabiskan weekend dengan terbang ke kota lain, lalu menonton pertunjukan seni budaya di kota itu. Selama aku dan kamu masih impulasif kita bisa kemana saja, bukan?

Minggu, 16 April 2017

Mengapa Tak Kau Hampiri Saja Aku?

Ada sesak yang menggebu memenuhi ruang
Berkabut, berisik, penuh hingar bingar
Kau masih disana, menanti di sudut ruang
Mengapa tak kau hampiri saja aku disini?

Aku muak dengan segala
Ingin ku ke laut saja
Tapi laut menolakku
Ingin kupergi ke langit
Tapi ku tak punya sayap
Mengapa tak kau hampiri saja aku?

Aku terdiam di depan cermin
Lelah menari mengusir jenuh
Lelah tertawa mengusir sendu
Lelah menangis mengusir rindu
Mengapa kau tak datang jua?

Ada badai menikam langit senja
Kau masih tetap disana

Selasa, 11 April 2017

Bila Sampai Waktumu

Tak ada gunanya menangisi kematian. Toh hidup dan mati itu di tangan Tuhan. Tapi ketika kematian yang pernah kau bayangkan benar-benar hadir di depan mata, ternyata rasanya tetap hancur.

Air mata itu tak hanya jatuh atas kehilangan sosok menyenangkan yang pernah hadir di antara kita. Tapi merembet pada berbagai elemen kehidupan lain.

Bukan kah ini doamu, meminta yang terbaik pada Nya baik kesembuhan atau hilangnya rasa sakit dari tubuhnya. Bukankah baru saja kau kirimkan doa untuknya tengah malam tadi, supaya diberikan skenario terbaik untuknya.

Lalu kekhawatiran datang, bila satu persatu kematian mendatangi mereka yang pernah kau bayangkan lantaran kentalnya kerentanan akan hal itu. Tapi kau malah bertingkah egois dengan menutup mata.

Aku tau ini sungguh tak berhubungan, tapi air mata ini tak mau berhenti mengalir.



10 Maret 2017,
you surely feel so much better up there, right?

Rabu, 05 April 2017

Sedang Apa?

Apa?
Apa yang sedang kulakukan?


Aku sedang berusaha menyelesaikan revisi skripsiku. Mungkin itulah jawaban yang akan kulontarkan bila bukan kamu yang bertanya. Tapi jawaban untukmu berbeda. Aku sedang mencari ketenangan, jiwa dan raga. Maka disinilah sekarang aku duduk, sendiri saja di depan laptop di hadapan jendela besar. Dan tentunya di tempat yang tidak pernah kita datangi bersama, sehingga tak akan ada memori apapun yang terbangkitkan di ruangan ini.

Aku rasa tempat ini cukup nyaman dengan wifi, AC, musik relaksasi ala gramedia, dan colokan listrik. Dan terutama gratis. Oh bukan, terutama tidak ada gangguan samping sehingga kuharapkan aku bisa fokus menulis. Aku bertanya-tanya, dengan luasan sebegini besar kira-kira seberapa mahal ya biaya operasional tempat ini.

Tapi rupanya tidak, buktinya alih-alih fokus menulis revisi, aku justru menulis ini. Well, kuakui ada yang kurang dari tempat ini dan memang bukan kapasitas mereka untuk menyediakannya: teman.

Aneh bukan, aku jauh-jauh datang kesini untuk mencari ketenangan tapi justru merasa kesepian setelah berhasil mendapatkannya.

Lalu di tengah rasa sepi yang begitu menghujam, tanganku justru membuka lembaran tulisanmu yang sudah begitu lama tak kubuka. Ada beberapa artikel baru yang kau publish, dan salah satunya berhasil membuatku mendambamu lagi. Lagi? Ya, memang lagi, karena aku sudah pernah melepasmu dari harapku semenjak kutahu kau sudah bersama seseorang. Kata Mbak Raisa yang cantik, bukan aku mudah menyerah tapi bijaksana mengerti kapan harus berhenti.


Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa berusaha memantaskan diri dan berharap suatu hari nanti kita berjodoh. Tapi sebelum itu, kuharap kita bisa duduk bersama lalu mengobrol tentang apapun. Mungkin kita bisa mengobrol tentang topik yang kau tulis di salah satu artikelmu yang kau publish suatu hari di bulan November, hampir dua tahun yang lalu.

Tapi jauh sebelum itu, izinkan aku untuk menyelesaikan revisi skripsi ini.


Senin, 06 Februari 2017

Be Creative!

Ada begitu banyak orang yang akhir-akhir ini menginspirasi saya, membuat saya kagum dan ingin menjadi seperti mereka. 

Dari awal saya suka membaca buku, saya tidak pernah tertarik apalagi menyukai buku bergenre motivasi/psikologi/self-help. Saya yang dari dulu suka membuat teori-teori sendiri berdasarkan pengematan sehari-hari, merasa buku-buku motivasi/psikologi/self-help itu sok tau dan sok menggurui. Well meskipun teori-teori yang saya buat tentunya lebih sok tau lagi, tapi saya lebih merasa puas karena saya mendapatkannya berdasar pengamatan sendiri. 

Walaupun saya paham sepenuhnya bahwa buku-buku motivasi/psikologi/self-help yang masuk percetakan ternama tentunya bisa dipertanggungjawabkan dan sudah melalui uji tertentu dengan literatur-literatur ilmiah. Namun tetap saja saya masih cenderung defensif terhadap genre buku satu itu.

Sampai saya menemukan bukunya Yoris Sebastian yg I('M)possible. Buku ini tergolong ringan dibaca tapi dengan isi yang sangat berbobot, menurut saya. Lalu belum lama ini saya penasaran dengan buku BacaKilat for Students, lalu membacanya hingga akhir. Saat ini saya sedang membaca bukunya Yoris Sebastian yang Oh My Goodness, buku pintar seorang creative junkies. Baru membaca bab Acknowlegments, saya sudah terheran-heran dengan penjelasan mengenai kesalahan judul dalam bahasa inggris yang seharusnya adalah creative junkie. Dan itu merupakan kesengajaan dari penulis, maka bila ada yang ikut-ikutan menggunakan istilah creative junkies maka dia ikut-ikutan keliru.

Belum lama ini saya main ke acara bernama Selamat Pagi yang diadakan yayasan Kampung Halaman setiap beberapa bulan sekali di Minggu pagi. Saya senang mendatangi acara ini karena jujur saya merasa takjub pada sebuah acara yang diadakan di tepi Sungai Kelanduan di Mlati, Sleman yang mana dihadiri oleh beragam orang dengan beragam style, dengan bintang tamu yang seringkali asing namun selalu menarik, juga lapak-lapak yang tak biasa.

Salah seorang yang menarik perhatian saya adalah mbak-mbak yang mengenakan sepatu converse dengan warna berbeda, yang satu pink muda dan satunya biru muda. Sekilas tidak terlalu terlihat karena model sepatunya sama dan warnanya cocok. Entah memang si mbak tersebut membeli sepatu yang kanan kiri warnanya beda ala Joger nya Bali, atau dia memang sengaja membeli dua sepatu sejenis untuk di mix. Yang jelas, saya merasa orang kreatif ada dimana-mana. 

Lalu beberapa waktu yang lalu, adek saya yang masih SMA bercerita perihal dua seragam OSISnya yang harus dipakai empat hari dalam seminggu. Sebenarnya ini normal, tapi adek saya itu tipikal yang selalu pulang sore sehingga bagaimanapun seragamnya harus dicuci setiap hari. Jadi permasalahan muncul ketika hari sebelumnya lupa nyuci atau karena cuaca yang terus menerus hujan menyebabkan seragamnya belum kering. Suatu hari dia menunjukkan seragam osisnya yang ber-badge warna coklat pudar dan bercerita bahwa sebenarnya itu seragam SMPnya. Awalnya saya merasa itu normal, seragam SMP yang masih bagus bisa aja dipake lagi cuma tinggal diganti badge. Tapi ternyata itu tetep badge OSIS SMP, yang dia warnai pake spidol. Rupanya seragamnya lagi-lagi belum kering dan kalau ganti badge dulu, bisa-bisa dia terlambat sekolah yang hari itu masuk jam setengah 7. Apakah temen-temennya sadar? Dia justru cerita-cerita ke temen-temennya dan bangga sebagai ketua OSIS yang melakukan sedikit kreasi pada seragamnya. Terserah kamu deh dek..

Well ya, ini memang tulisan lama yang mengendap di notes google keep saya. Ada beberapa tulisan random yang belum saya publish karena niatnya mau ditambahin tapi malah kelupaan hingga membusuk. Akhirnya saya putuskan tulisan setengah jadi macam ini tetap akan saya publish sembari mengalihkan perhatian publik atas tulisan terakhir saya, yang demi kebaikan bersama, sudah saya unpublish. Karena ini bukan koran atau majalah, mohon maklum atas kurangnya aktualitas. Mau tau kabar aktual dari saya? Silahkan japri. Terimakasih 😁




Senin, 19 Desember 2016

Resolusi

Udah basi kali ya, ngomongin resolusi hidup menjelang tahun baru. Tapi gapapa lah ya, hidup saya juga basi kok.

Entah sejak kapan, saya termasuk orang yang selalu bikin resolusi hidup. Ritual itu selalu saya lakukan menjelang tahun baru, menjelang tahun ajaran baru (semasa sekolah), dan menjelang ulang tahun. Soalnya semua 'yang baru' itu selalu bikin semangat, jadi pas aja dijadikan momentum buat merilis harapan, atau sekedar merefresh dan evaluasi.

Tapi sebenarnya saya udah berhenti melakukan ritual itu semenjak.. mungkin 2 tahun terakhir, atau mungkin lebih. Why? Gak tau, cara kerjanya udah ilang aja rasanya. It doesn't work anymore.

Gak ada satupun yang berhasil saya raih dalam checklist sesederhana apapun yg saya buat. Dulu saya pernah membuat daftar berjudul 100 target hidup (gak nyampe 100 juga sih padahal), dan satu persatu semuanya mulai menjadi nyata.

Ketika semua berantakan, saya enggan melakukan hal ini lagi.

Gak paham juga sebenernya gimana cara kerja yang benar, entah sugesti atau apa, yang jelas hampir semua obsesi yang saya tulis dalam daftar resolusi yang kemudian bisa saya bayangkan dengan jelas, bisa saya detailkan dalam beberapa langkah, bisa membuat saya merasa begitu bergairah layaknya ketika membaca buku Harry Potter, maka hal itu akan menjadi nyata. Karena saya memang membuat resolusi yang realistis.

Bahkan obsesi ringan yang gak sempat tertulis, yang muncul tiba2 tapi menimbulkan sensasi mendebarkan yang menyenangkan itu, bisa juga terwujud bahkan ketika kita sendiri sudah lupa pernah memiliki obsesi itu.

Harusnya ini cuma ada di diary pribadi saya, lalu kenapa akhirnya saya publish? Well, saya masih percaya bahwa semakin kita menyebarluaskan impian kita ke seluruh dunia, kita akan semakin dekat dengan impian itu. Cara kerjanya? Berharap aja yang baca tulisan ini ikut mengamini. Doa banyak orang, apalagi yang mendoakan diam2 tanpa sepengetahuan yang didoakan katanya ijabah loh. Selain itu, dengan mengabarkan kepada seluruh dunia mengenai apa yang kita inginkan dan harapkan, semoga aja seluruh alam semesta mau bekerja sama bahu membahu mendukung saya. Dengan cuaca yang bersahabat, misalnya. 

Dan ini bukan berarti saya penganut animisme dinamisme ya, saya masih percaya hanya pada Allah semata kok. Tapi saya percaya (menurut penelitian yg saya baca), kalau benda mati itu juga punya intelejensi. Misalnya air, dimaki-maki dan dibacakan ayat suci, molekulnya bisa jadi berubah bentuk. Juga tanaman, ketika dirusak oleh manusia, dia bisa mengenali manusia yang merusaknya. Ini terlihat dengan mesin poligraf, seperti eksperimennya Luther Burbank. Dan sesederhana cerita dosen, yang suka ngajak ngobrol mobil tuanya. Suatu hari ketika parkir, pak dosen bilang pada si mobil untuk beristirahat disini aja, dan ternyata pas itu ada maling mobil, tapi gak berhasil soalnya mobilnya gak mau gerak. Benda-benda di sekitar kita tau kok kalau mereka disayang.

So, sebenernya garis besar keinginan saya itu apa sih? Sederhananya, hidup bahagia dunia akherat. Well siapa sih yang gak pengen itu. Oke, spesifiknya saya pengen memiliki kehidupan yang seimbang. Saya bahkan membuat diagram dalam buku diary saya: Sustainable of Me.

Sustainable of Me menggabungkan empat aspek: religi, financial, social+family, dan aktualisasi diri. Pada masa itu saya baru mempelajari mengenai pembangunan yang berkelanjutan dari segi ekonomi, ekologi, dan sosial. Kemudian saya tercetus mengadaptasi untuk membuat konsep kehidupan saya yang berkelanjutan. Maksudnya imbang dunia-akherat.

Saya sangat paham bahwasanya sebagaimana konsep ideal pada umumnya, hanyalah utopia belaka yang tidak aplicable. Sehingga demi membuat konsep tersebut tetap realistis, saya membuat list mengenai targetan setiap aspeknya. Membagi-bagi dalam beberapa tugas kecil, sehingga saya tidak merasa frustasi untuk mengamalkannya. 

Misalnya saya membagi aktualisasi diri menjadi fisik+psikologis, ability, dan hobby+leisure. Untuk fisik+psikologi, tergetan utama adalah sehat. Maka untuk mencapai sehat, diperlukan olahraga teratur, konsumsi buah dan sayur, dan pola hidup sehat lainnya. Olahraga teratur bisa dilakukan dengan jogging dan berenang minimal seminggu sekali. Dan seterusnya, dan seterusnya penjabaran setiap aspek hingga detail.

Wah tulisan ini mulai sangat membosankan bukan? Mari kita langsung menuju poin pentingnya saja.

Harapan terbesar saya saat ini adalah pengen cepet lulus biar bisa cepet punya pendapatan sendiri, biar gak ngerepotin orangtua lagi. Soalnya saya memasuki fase deadlock, yang mana satu-satunya jalan keluar agar hidup saya kembali mengalir adalah dengan menyelesaikan tugas akhir saya.

Pengen kerja dimana setelah lulus? Pengen jadi PNS? Pertanyaan itu kalo diajukan semasa saya masih sok idealis, saya akan bilang gak mau jadi PNS. Alasannya? Setahu saya banyak kinerja PNS yang kurang baik, walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa itu hanya oknum, dan bahwa saya tidak tahu banyak. Tapi kalau pertanyaan itu datang saat ini, mungkin akhirnya saya sadar bahwa sepertinya lulusan jurusan saya memang dicetak untuk mengabdi kepada negeri. Bisa saja mengelak, tapi hatimu pasti tau peranmu semestinya dimana. 

Maka saya ingin mencicipi bekerja untuk pemerintah di kementerian. Alasannya? Menurut saya, dengan berada di sistem yang lebih besar akan mempermudah kita melihat pemasalahan secara lebih menyeluruh, lensa zoom in-zoom out nya lebih terasah lah ya. Dan demi menghindar dari urusan politik, target terbesar saya di bidang karir adalah bekerja untuk NGO internasional yang fokus pada permasalahan global. Kok saya bisa bilang bekerja di NGO bisa menghindarkan diri saya dari politik? Karena setiap negara pasti berpolitik, maka setiap keputusan yang diambil harus mengikuti politic will dari pemegang kekuasaan. Ah, mungkin saya terlalu banyak membaca tulisan2 kiri. Sedangkan sebagai aparat pemerintah, kita harus tunduk pada keputusan pemimpin negara. Maka saya ingin menghindar dari urusan negara, biar orang lain saja lah yang mengurusi itu. Saya hanya ingin bekerja sebaik-baiknya untuk kesejahteraan semua umat manusia, tidak peduli warga negara, kebangsaan, warna kulit, agama, apalagi politik. Semoga saja di dunia ini memang ada NGO yang benar2 independent dan murni berniat membangun untuk kebaikan semua umat. Bayangan saya sih ya, bisa berupa NGO yang fokus pada ruang terbuka publik yang humanis gitu. Bisa apa aja sih fokus NGO nya, asalkan masih sesuai sama bidang dan hati nurani saya.

Wuih, ini sih curhat sekaligus pencitraan kali ya. Bodo amat, wong blog pribadi saya, salah sendiri kepo!

Segitu dulu aja deh, makasih loh yang masih betah kepo sampe sini. See you on top ya!