Selasa, 10 Juli 2018

10 Hours in Surabaya

Well, perjalanan ini terjadi karena semaju apapun teknologi, bagaimanapun juga ada hal-hal yang tidak bisa hanya dibicarakan via telepon. Dua hari sebelum hari ini, dia membelikan saya tiket kereta api Turangga yang hanya tersisa satu tiket. Saya jarang sekali naik kereta eksekutif, namun berhubung tiket kereta ekonomi sudah habis terjual dan kebetulan ada kereta dengan jam yang bagus, maka saya ambil saja peluang ini dan berangkat dari Stasiun Tugu pukul 03.30 AM. So, the adventures begin here.

Kereta yang saya naiki adalah kereta baru, yang luarnya silver-silver gitu trus dalamnya tempat duduknya warna biru bagus. Berasa naik pesawat gitu, haha. Sebut saja saya norak karena jarang banget naik kereta eksekutif. Diluar fasilitasnya yang gak perlu diragukan, ada beberapa hal yang saya amati. Seragam mbak dan masnya yang kasual: kaos polo putih, celana khaki, sepatu sport putih. Kedatangan dan keberangkatan yang ontime banget dan selalu memberikan informasi apabila terjadi keterlamabatan, bahkan cuma telat 4 menit aja diumumin cobaa. Nada bicara pemberitahuan/informasi yang lebih menyenangkan dan menggemaskan. Dan yang saya bingungkan, kenapa di kereta ekonomi gak dibikin gini sekalian ya, kalau udah ada rekamannya kan apa susahnya tinggal diputer di kereta ekonomi juga. Apakah alasannya semata karena yg rela bayar mahal memang harus mendapat perlakuan yg super istimewa? Termasuk cara bicara yg super ramah, padahal ramah itu gratis loh tinggal dilakukan aja kan ye..

Saya bertemu dengan dia di Surabaya sekitar pukul 9 pagi, dia sendiri dari Jember naik Ranggajati. Kami menghubungi beberapa rental motor dan pada akhirnya kami memutuskan tidak jadi menyewa motor. Berhubung saya sudah lapar, saya mengusulkan mencari sarapan sambil jalan kaki ke arah Unair. So, kami berjalan melalui gang-gang kecil menuju Jalan Dharmawangsa. Berhubung dia pernah tinggal beberapa bulan di kota ini dan tinggal di sekitar RS.Soetomo maka kami tidak kesulitan mencari jalan tembusan ini.

Sampailah kami di Jalan Dharmawangsa, dan menemukan suatu tempat makan chinese food. Berhubung saya sudah lapar sedari tadi maka langsung saja kami masuk dan memesan makanan. Dan ternyata dia lupa kalau porsi makan disini ekstra banyak, bahkan satu nasi goreng ayam yang dimakan berdua pun masih belum berkurang setengahnya. Lalu tercetus ide untuk membungkus nasi goreng itu dan membagikannya ke jalanan. So, itulah yang kami lakukan sembari menyusuri jalan melanjutkan perjalanan menuju Unair.

Setelah jalan kaki yang rasanya sih nggak jauh (karena sambil ngobrol seru, mungkin), sampailah kami di Unair kampus B. Kami memutuskan masuk dan mencari sebuah jurusan, hanya untuk melihat sekeliling aja. Setelah itu kami sholat dhuhur di masjid sebelah Fakultas Ekonomi dan Bisnis lalu kembali melanjutkan perjalanan. Sebenernya mau kemana sih kami?

Well, sebenernya kami ke Surabaya hanya untuk bertemu namun berkedok mencari kost. Maka disinilah kami, di daerah Karangmenjangan menyusuri gang V sampai gang I mencari rumah-rumah yang bertuliskan terima kost putri. Setelah melihat-lihat beberapa kamar di beberapa rumah berbeda, juga menghubungi beberapa kontak yang tertulis di bawah tulisan 'TERIMA KOST PUTRI' yang kami temukan, kami memutuskan untuk rehat sejenak. Kebetulan di seberang jalan terdapat sebuah coffe shop yang terlihat menjanjikan namun sepi pengunjung. Namanya Sareh (cmiiw, lupa namanya), jualannya makanan dan minuman aceh tapi jual beberapa snack dan minuman lain juga. Kafenya lumayan bagus, interiornya tergolong instagramable, mas-mas yang jaga juga ramah, dan terutama ber AC -sangat cocok buat ngadem di tengah teriknya Surabaya yang punya image panas. Harganya juga cocok di kantong mahasiswa. Entah kenapa sepi, mungkin karena masih musim liburan atau mungkin aja baru rame menjelang malam seperti coffe shop kebanyakan.

Karena sebelumnya kita bahas tentang film, jadilah kami memutuskan nonton Kulari ke Pantai. Pertama pengen nonton film ini karena ada yang bilang ini film anak-anak sekualitas Petualangan Sherina jaman dulu. Berhubung saya suka sekali Petualangan Sherina, bahkan menginspirasi saya untuk mengunjungi tempat-tempat itu: Boscha dan perkebunannya Pak Ardiwilaga, wkwk. Maka kami mencari jadwal nonton yang pas dan pada akhirnya kami memutuskan ke Ciputra World.

Daerah sekitar dan menuju Ciputra World merupakan daerah yang asing bagi kami berdua. Kalau mengikuti cerita jalan-jalan ke Surabaya saya yang lalu, tau dong kalo selama ini kami mainnya hanya sekitaran Gubeng, mentok-mentok sampai Tunjungan Plaza atau House of Sampoerna. Tentang film Kulari ke Pantai, saya ceritakan di postingan terpisah ya. Yang jelas film ini really make my day!

Setelah nonton, kami sholat ashar masih di lantai yang sama. Dan ketika cek ketersediaan tiket pulang (karena kami tak berencana menginap di kota ini), kereta ke Jogja hari ini hanya tersisa 7 tiket. Setengah panik, kami langsung order gojek di samping happy puppy (ini penting banget ditulis biar besok-besok kalo kesini lagi inget dimana harus order gojek, wkwk) dan melaju menuju Stasiun Gubeng Baru. Tiket yang tersisa hari ini adalah Kereta Sancaka Tambahan yang berangkat pukul 6.15 PM. Ada satu kereta lagi, Mutiara Timur pukul 7.00 PM kalau nggak salah, dan itu tiketnya sudah lama habis.

Sesampainya saya di stasiun, saya langsung setengah lari-lari ke loket go show. Dan setelah sampai pada antrean saya, saya masih mendapatkan tiket itu, Alhamdulillah. Tinggal 2 tiket, dan langsung habis dibeli oleh bapak-bapak di belakang saya. Merasa beruntung sekali saya hari itu, tidak harus menghadapi kenyataan terburuk: naik bus. Perjalanan darat dengan menggunakan bus bisa mencapai 7-8 jam, dengan kereta eksekutif cukup lima setengah jam saja. Tapi kereta saya cukup berbeda dengan kereta saya tadi pagi, walaupun sama-sama eksekutif ya. Mungkin karena ini kereta tambahan, dan mungkin juga karena ini gerbong terakhir. Tidak ada selimut, tidak ada petugas yang lalu lalang menawarkan makanan, tidak ada lampu soft yang remang-remang asyik, dan tidak ada fullmusic videoklip Raisa. Dengan ini, berakhirlah petualangan saya hari ini. Btw ini berasa abis main seharian sampe kemalaman lalu esoknya sudah kembali bekerja, gak berasa abis keluar kota.wkwk


Senin, 11 Juni 2018

Pariwisata (Part 2)

Beberapa waktu yang lalu (mungkin tepatnya awal tahun ini) saya dan beberapa teman memutuskan jalan-jalan cantik eksplor Mangunan tapi mampir dulu ke Imogiri.

Well, kami ke makam raja-raja di Imogiri. Ini sebenarnya adalah kunjungan saya kesekian kali, tapi karena sepertinya terakhir kali ke sini waktu SMA jadi tidak masalah mengunjungi tempat ini lagi. Sebenarnya selama ini cukup heran mengapa ada yang namanya wisata religi atau wisata pesanggrahan. Bagaimana mungkin kuburan menjadi tempat yang menarik untuk berwisata? Lalu ketika saya menginjakkan kaki di kompleks makam raja di Imogiri, saya memang menemukan ketertarikan dan kesadaran bahwa tempat ini memang menarik untuk dikunjungi. Setelah mendaki kurang lebih 409 anak tangga (kata abdi dalem yang jaga), saya tertarik melihat gapura dan pintu menuju makam yang dihias oleh ukiran kuno. Ke kanan adalah deretan makam Sri Sultan Hamengkubuwana dan ke kiri adalah deretan makam Sri Susuhunan Pakubuwono. 

Lalu hal lain yang mengusik saya adalah, kenapa hanya makam saja dibuat sebagus ini. Bahkan Taj Mahal di India dan Piramid di Mesir yang masuk dalam situs keajaiban dunia yang dilindungi unesco juga merupakan makam. Well, pastinya itu untuk menghormati dan menghargai orang-orang yang dianggap penting. Tapi tidakkah cukup menjadikan makam se-syahdu dan se-khidmat Taman Makam Pahlawan di Jalan Kusumanegara? Kadang saya berpikir, kalau saya sudah tiada apa yang akan orang ingat dari saya. Tapi kalo ndak salah, dalam islam kan memang tidak boleh membangun bangunan di atas makam. Bahkan tidak perlu pakai kijing, cukup segundukan tanah dengan papan nama. Sepertinya kalau ndak salah supaya kita tidak terus-terusan mengingat yang sudah tiada, tapi tetap merawat makam secara tidak berlebihan. Cmiiw.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke persawahan Sukorame yang sedang hits itu. Sekarang segala wisata rupanya memang dirancang supaya bagus buat foto-foto, instagramable lah.

Setelah itu kami ke wisata hutan pinus Rumah Hobbit Seribu Batu Songgolangit, lalu ke Pintu Langit Dahromo, dan nongkrong cantik di Kedai Ngisor yang terletak di bukit Pathuk, Gunungkidul. Sejujurnya saya sudah terlalu muak dengan spot-spot foto ala-ala yang sangat banyak tersebar di semua lokasi wisata hutan pinus (dan mungkin juga semua wisata alam lainnya). Well, mungkin karena saya sudah pernah menyusuri sebagian besar dan merasa bosan.

Dulu saya punya kebiasaan berwisata hingga kelelahan, menyusun ittenerary sepadat mungkin karena tidak ingin melewatkan objek wisata menarik. Dan rupanya ini tidak baik, lebih baik memilih satu atau dua objek saja lalu menghabiskan waktu sepuasnya di sana. Berangkat pagi, pulang malam dengan badan pegal, mandi lantas tidur nyenyak untuk jalan-jalan hari berikutnya. Seperti ketika saya ke Bandung, ke Malang, ke Singapura, bahkan jalan-jalan ke hutan pinus dan ke pantai libur natal tahun lalu..

Tapi iya sih, salah satu motivasi saya rutin berolahraga adalah supaya saya kuat jalan-jalan kemanapun kalau mendadak ada yang ngajakin. Harus rajin jogging supaya kalau mendadak ada yang nodong, 'yuk ke Semeru' bisa langsung mengiyakan tanpa khawatir akan menyusahkan tim dengan kondisi badan yang tidak fit.

Btw sebenarnya saya berniat memasukkan beberapa foto dalam postingan ini, tapi berhubung saya malas sekali memilah foto jadi nanti saja diedit postingannya dengan tambahan foto ya. Lagi-lagi ini tulisan lama dan tidak up to date. Sudah memasuki musim liburan lagi, semoga saya bisa konsisten menulis dan posting tulisan baru. Teaser untuk postingan jalan-jalan berikutnya, saya akan posting cerita backpackeran ke ibukota Bulan April lalu yang sudah dibuat draft nya. Selamat berlibur!

Minggu, 20 Mei 2018

Show Off


Sharing is caring. Akhir-akhir ini saya memikirkan bagaimana caranya berbagi di sosial media tanpa melibatkan unsur pamer. Karena bagaimanapun toh itulah tujuan sosial media diciptakan: untuk bersosialisasi, berlomba-lomba menjadi makhluk paling sosialita. Akhir-akhir ini saya banyak mendengar istilah ‘budak-budak instagram’ atau seseorang yang minta difotoin demi ‘ngasih makan instagram’. Well, istilah ‘ngasih makan instagram’ sebenernya ada benarnya juga sih, karena istilah ‘newsfeed’ dan ‘feed’ like feeding my pet, ngasih makan hewan peliharaan. Ngomong apa sih gue, wkwk.

Dan parahnya dalam urusan agama, juga dipamerkan. Misal lagi tarawih di masjid apa, atau lagi ikut kajiannya ustadz siapa. Padahal supaya tidak menjadi riya’, dalam urusan ibadah sebaiknya kan hanya rahasia antara kau dan Dia.

Seorang teman pernah bilang bahwa instagram merupakan platform paling toxic karena semua orang mengupload kesuksesan mereka di sana. Lantas apakah ini salah? I mean baik si peng-upload maupun si follower yang baperan (duh). Tentu tidak. Saya sendiri pernah begitu sesak dengan satu platform, sebut saja Path, yang mana dulunya merupakan platform favorit hingga saya tak pernah tak bisa merasa sakit hati setiap scrolling Path dan akhirnya memutuskan untuk uninstall. Kenapa sakit hati? Well, mungkin karena Path kan memang bersifat daily life gitu kan, lalu saya mendapati diri saya merasa envy setiap melihat pergerakan teman-teman saya yang bahkan tanpa mereka sengaja update, tapi menunjukkan bahwa mereka arrive in mana. Atau sesederhana mereka hangout di kafe mana tanpa mengikutsertakan dirimu. Hal-hal sekecil itu di saat yang tidak tepat ternyata mampu memporakporandakan perasaan ya. Ah, mungkin saya saja yang lemah. Setelahnya saya merasa lebih damai. Dan ternyata tak hanya saya seorang yang mengalami hal serupa, banyak orang di sekitar saya yang juga demikian.

Seperti kata Fiersa Besari dalam sebuah update-an di salah satu sosial medianya, tidak perlu menggali apabila tak sanggup menghadapi. Well, kadang kita tak perlu tau kehidupan orang lain, kalau ternyata kita justru sakit hati saat mengetahuinya. Gak usah stalking mantan lah kalau gak siap mengetahui bahwa dia jauh lebih bahagia setelah berpisah denganmu. Terus tiba-tiba terngiang lagunya Ed Shereen, i know i was happier with you.. Nah, ini lain lagi. Hahaa

Lalu mengenenai perhelatan-perhelatan seni yang kini tak pernah sepi dari ‘budak-budak instagram’. Saya pernah melihat share-share an yang intinya dia sedih banyak karya lukisnya yang rusak setelah pameran, yang tidak lain dan tidak bukan rusak karena manusia-manusia yang hanya peduli fotonya terlihat bagus di instagram.

Suatu hari di sebuah acara radio, tim Artjog datang untuk mempromosikan event ini ke khalayak masyarakat. Mereka membagikan enam tiket gratis kepada tiga pemenang beruntung, syaratnya adalah mengajukan pertanyaan apapun terkait Artjog. Nah, di sini yang menarik. Berdasar pantauan saya dari twitter, pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru aneh-aneh. Ada yang menanyakan kontribusi Artjog terhadap peningkatan kreativitas para pekerja seni di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Ada juga yang menanyakan apakah pengunjung wanita diharuskan mengenakan kacamata besar dan tas goodybag. Satire abis ya. Lalu ada yang menanyakan sasaran pasar (target market) Artjog dengan harga tiket yang tidak bisa dikatakan murah. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengandung kritik menarik. Saya sendiri sudah tidak pernah ke Artjog setelah harga tiket masuknya yang menurut saya tidak lagi sesuai dengan kantong saya. Lagian untuk men-supply kebutuhan saya akan seni, masih banyak perhelatan seni gratisan di kota ini. Berarti saya memang bukan target market dari Artjog ya. Haha. Sebenarnya bukan karena nggak sanggup bayar sih, kalau dibayarin sekalipun saya masih mikir dua kali kalau diajak ke Artjog (tapi ini tergantung siapa yang ngajakin sih, hehe). Karena, pertama, saya gak ngerti-ngerti amat tentang seni, cuma suka aja datang dan mengapresiasi, melihat-lihat dan mencoba mengerti, dan juga karena katanya seni itu menyehatkan. Ke-2, Melihat popularitas Artjog akhir-akhir ini saya menjadi malas untuk menjadi satu dari sekian banyak yang berjubel di dalam sana. Menurut saya, seni itu bukan untuk dinikmati secara rebutan. Seperti sholat, kita butuh kekhusyukan tersendiri untuk mendapatkan efek maksimal. Dan ke-3, mungkin saya merasa tidak sebanding aja antara kepuasan yang saya dapatkan versus harga tiket yang harus dibayarkan.

Saya jadi teringat, salah satu preferensi saya memilih mall untuk tempat nongkrong ketika melewati waktu maghrib adalah kondisi mushola di mall tersebut. Malas banget kalau mau sholat aja mesti mengantre, berdesak-desakan, terburu-buru karena udah ada yang ngantre di belakang kita, dsb. Sejauh ini dalam urusan mushola, menurut saya mall ter-oke di kota saya adalah JCM yang mana mushola nya ada di tiap lantai jadi ketika maghrib pun tak akan terlalu ramai. Well, begitu juga dengan pameran seni dan toko buku atau perpustakaan, juga tempat wisata alam. Saya rasa tempat-tempat tersebut sejatinya tidak cocok dalam keadaan ramai.

Entah, mungkin selama ini saya terlanjur mendapat privilage dengan mendatangi tempat-tempat tersebut dalam keadaan sepi sebelum menjadi se-mainstream sekarang. Dulu ketika hiking, kami bahkan selalu menyapa dan di sapa oleh siapapun yang kami temui di atas gunung. Minimal menanyakan dari mana, atau sekedar saling memberi semangat ketika berpapasan saat hendak naik/turun. Kalau sekarang, rasanya sudah malas saking banyaknya orang, bahkan harus mengantre dan tak bisa memilih jalur dengan leluasa. Juga privilage ketika bisa camping di pantai yang berasa pantai pribadi karena hanya kami satu-satunya pengunjung di sana. Kalau sekarang, jangan harap menjadi satu-satunya pengunjung, dapat tempat aja udah alhamdulillah ya.

Lalu tentang musik indie, musik folk, film indie, dan hal apapun berbau indie. Indie berasal dari kata independent, artinya segala proses penciptaannya hingga rekamannya tidak dilakukan dengan menggunakan label rekaman yang sudah besar. Mungkin karena pengaruh lingkungan, akhir-akhir ini saya mulai tertarik pada musik-musik indie. Bukan karena indie nya, tapi perasaan yang ditimbulkan dari pengalaman yang berbeda. Maksudnya, ketika kita terbiasa mendengarkan musik-musik pop yang banyak ditayangkan di media televisi atau di radio, ketika kita mendengarkan musik dengan tambahan instrumen yang berbeda, atau yang dinyanyikan secara tidak biasa, akan melahirkan perasaan yang berbeda pula. Lalu ada kritikan yang mana muncul dalam sebuah meme, tentang atribut yang dipakai mereka yang datang ke acara-acara indie gratisan. Seolah kalau kamu pendengar musik indie, kamu perlu mengabarkan pada seluruh dunia kalau selera musikmu berbeda.

Dalam sebuah pameran seni yang lain, sebut saja Biennale, saya mendapati banyak tulisan menarik yang kalo ndak salah ditulis oleh Farid Stevy nya FSTVLST (eh bener gak nih tulisannya?). Salah satunya berinti semua orang ingin terlihat beda, dan karena SEMUA ingin berbeda malah jadinya SAMA SEMUA. See?

Saya jadi ingin menelaah lebih lanjut, mengapa pada dasarnya setiap orang ingin berbeda dari orang yang lain? Mungkin karena ada dorongan untuk eksis, untuk dianggap ada, untuk menjadi trendsetter. Lalu apa yang mendasari keinginan-keinginan tersebut? Mari kita bahas lain waktu. Paling tidak dengan menulis ini, dan dibantu kopi yang saya minum sahur tadi, misi saya untuk tidak tidur lagi setelah subuh tercapai. Yeaaaaay :)


Rabu, 04 April 2018

Loser

Betapa kubenci selalu duduk di kursi cadangan. Cemburu itu nyata, tak terelakkan. Lalu bisa apa? Menyusup perlahan di antara mereka atau mundur teratur dari medan pertempuran, itu murni pilihanmu.

Rasa yang akrab, sensasinya hampir mirip ketika berada di ketinggian lantas mendongak ke bawah. Ada desir aneh yang meluncur aneh dari perut ke kaki. Bedanya, desir ini ada di dada: geli, aneh, dan mengandung rasa sakit. Beda lagi dengan desir halus ketika kau berinteraksi dengan lawan jenis yang sedang kau taksir. Mereka menyebutnya badai serotonin, atau kadang mendeskripsikan dengan 'butterfly in my tummy'. Kalau kau pernah mengalami semuanya, mungkin kau paham.

Terkadang patah hati itu begitu jelas terasa, meskipun tanpa mengetahui sebab atau pemicu yang jelas. Mungkin itu firasat, dan firasat biasanya benar. 

Ah, aku lebih suka mundur teratur. Bukankah terlalu menyebalkan tetap bermain pada permainan yang tak pernah kau menangkan? 

Bukankah sesuatu baru akan terasa berharga setelah kita kehilangan? Maka ingin sekali kuucapkan, selamat tinggal..

Selasa, 03 April 2018

On The Way Home (2)

Dalam satu hari, 24 jam, sekurang-kurangnya aku punya waktu satu jam untuk melamun: 30 menit perjalanan dari rumah ke kampus dan 30 menit perjalanan pulang.

Lagi-lagi lamunanku malam ini berputar tidak jauh-jauh dari pertemanan: manusia dan hubungan interaksi antar manusia. Selalu menarik, karena manusia itu makhluk kompleks. Kenapa tiba-tiba terpikir ini? Jadi ceritanya hari ini aku bertemu dengan banyak orang, orang penting maupun orang biasa saja. Akhir-akhir ini aku merasa orang-orang semakin blak-blakan menunjukkan kemauannya. Entah mungkin aku yang bertambah pintar dan peka membaca situasi, atau mereka yang semakin tidak smooth dalam memasukkan maksud dan kehendak mereka. Dari situ aku bisa menilai siapa pihak yang paling oportunis, dan memprediksi sikap apa yang akan  diambilnya selanjutnya. Bahkan bisa merasakan adanya ketegangan atau gesekan tak kasat mata macam listrik-listrik statis di film-film anime, yang muncul ketika tokohnya saling berseberangan. Haha

Kenapa sih manusia bisa saling nggak cocok begitu saja? Makin kesini kurasa manusia berteman hanya ketika merasa saling membutuhkan. Well, ini bahasannya akan panjang sih. Kayaknya mending aku bahas lain kali dalam postingan terpisah deh.

Sungguh receh dan maha tidak pentingnya topik ini, dibandingkan isu-isu global kemanusiaan atau isu lingkungan. Alih-alih memikirkan kemiskinan di Afrika, target-terget MDGs, tantangan pemanasan global dan perubahan iklim, dan lain sebagainya, aku justru memikirkan hal ini. Atau tidak perlu mengambil kasus jauh-jauh, topik ini menjadi tak penting dengan sendirinya ketika kita masih berurusan dengan hal-hal mendasar dalam hidup. Hal-hal mendasar itu macam apa? Macam besok mau makan apa, bukan karena bingung gak punya banyak referensi tempat makan (itu mah kelakuan orang-orang jaman sekarang 😝), tapi karena mungkin saja tidak ada yang bisa dimakan. 

Pemikiran ini terlintas ketika aku berhenti di perempatan Gramedia dan melihat seorang anak kecil yang masih berjualan koran selarut ini. Aku memperhatikan dia hanya mendatangi mobil-mobil dan berhenti lama di samping kaca. Aku langsung terpikir bahwa sebenarnya menjual koran hanyalah kamuflase. Siapa yang akan membeli koran selarut ini, dan apakah itu koran tadi pagi yang sudah hampir kadaluwarsa untuk di jual keesokan harinya, atau memang ada koran malam?

Melewati rute yang sama setiap harinya, mau tidak mau membuatku memperhatikan orang-orang yang kutemui di setiap persimpangan jalan. Bahkan ketika aku masih rajin naik transjogja setiap hari, aku sampai hapal dengan mbak-mbak dan mas-mas kondekturnya, juga petugas penjaga halte. Aku bahkan menyadari ketika mbaknya ganti sepatu, sepatunya baru bukan yang biasa dia pakai sehari-hari. Aku pernah memikirkan sebosan apa ya menjadi kondektur transjogja yang setiap berhenti di halte selalu mengucapkan kalimat yang sama. Coba bayangkan dalam satu hari, satu shift kerjanya, berapa kali bus itu akan mengulang rute yang sama, melewati halte yang sama, dan masih diulang setiap harinya. Di persimpangan Jalan Batikan, aku selalu mengamati ada seorang anak perempuan yang berjualan koran, berjilbab dengan tas selempangnya yang khas. Prediksiku masih usia SMP. Memangnya dia tidak bersekolah? Karena beberapa kali aku pernah lewat sana saat jam sekolahpun, dia selalu ada. Sepertinya dia menyukai warna ungu, sering kali aku mendapatinya memakai baju dan jilbab berwarna ungu.

Kembali pada topik pertemanan, seorang teman yang cukup sering bergonta-ganti pacar pernah mengeluhkan bahwa sebenarnya dia sudah lelah selalu memulai kembali dari nol. Harus berkenalan dengan orang baru,   pdkt lagi, tahap awal pacaran lagi, dst. Proses itu selalu berulang setiap dia berganti pacar. Hal itu tidak mengherankan, karena pada dasarnya manusia cenderung enggan keluar dari zona nyaman. Dalam hal ini, pacar lama adalah zona nyaman.

Kurasa aku juga tipikal yang jauh lebih mudah jatuh cinta pada teman dekat yang sehari-hari bersama. Tresno jalaran seko kulino, kalo kata orang jawa. Dan cenderung kurang sepakat dengan yang 'dari mata turun ke hati'. Bagiku yang terakhir itu lebih seolah bersumber pada nafsu ketimbang kenyamanan yang melenakan. Tapi tunggu dulu, cinta itu banyak bentuknya kok. Ada eros, ludus, storge, pragma, mania, dan agape (percaya ndak, kalo literatur ini kudapatkan ketika mengerjakan soal reading nya ielts wkwk). Well, kurasa jenisku lebih kepada storge.

Menyikapi hal tersebut, memang alangkah jauh lebih menyenangkannya apabila bisa menikah dengan sahabat sendiri. Maka muncul hastag macam #temantapimenikah atau #marriedwithmybestfriend dan hastag-hastag senada lainnya.

Perasaan itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan, yang bisa kita kendalikan itu sikap kita. Mau mendewakan perasaan yang kadang bertentangan dengan logika, atau tetap membumi dengan berpijak pada realitas meski kadang terpaksa membunuh rasa, itu murni pilihanmu.

Btw kenapa endingnya malah ngomongin cinta sih? Auk ah. Namanya juga ngelamun, ngalor ngidul gak jelas jadinya.

Kamis, 15 Maret 2018

Pelakor

Akhir-akhir ini istilah pelakor mulai sering terdengar, entah siapa yang pertama membuatnya. Pelakor di sini yang kumaksud adalah Perebut-Laki-Orang. Bukan Pecinta Lagu Korea, atau Pelaku Korupsi ya. Satu yang terakhir merupakan kesalahpahamanku selama ini mengenai istilah ini, hehe. Sudah sering dengar istilah satu ini, ngerti kalau istilah ini bermakna negatif tapi baru tau belum lama ini kepanjangan yang sesungguhnya.

Dibalik munculnya istilah pelakor, seolah mendeskreditkan bahwa perselingkuhan bersumber dari sosok perempuan yang kegatelan. Padahal kan namanya perselingkuhan itu kan antara dua orang, kalau salah satunya menolak kan pasti gak bakalan jadi. Lantas kenapa satu pihak bisa lebih disalahkan dari pihak yang lain?

Belum lama ini beredar video viral Bu Dendi nyawer pelakor, yang banyak banget dibuat meme atau video parodinya. Sumpah aku nggak ngerti lagi gimana perasaan si mbak pelakor itu (kalo masih punya perasaan sih). Maka kuhimbau pada semua perempuan di seluruh dunia, jangan lah jadi pelakor.

Lantas, bagaimana pandanganku tentang perselingkuhan? Oh itu termasuk kesalahan terbesar yang mungkin tak bisa kumaafkan. Kalau kamu menjalin hubungan serius denganku dan kamu berselingkuh, maka bhay! Tak ada ampun untuk urusan satu ini.

Dulu aku sempat rada gimana gitu sama kisah cintanya Re dan Rana dalam serial pertama Supernova. Rana berselingkuh dengan Re, dan cara mereka saling jatuh cinta itu menurutku kena banget ketimbang kisah cinta Rana dengan suaminya. Rasanya perselingkuhan mereka terasa benar. Dan justru setelah Arwin sang suami Rana mengikhlaskan Rana, Rana justru kembali ke pelukan Arwin.

Tapi semenjak aku melihat perselingkuhan benar-benar terjadi di dunia nyata, aku teramat geram untuk bisa melihat dari sudut pandang yang kulihat dari kisah Re dan Rana.

Belum lama ini aku menonton serial netflix Black Mirror. Episode 3 season pertama bercerita tentang pasangan suami istri, yang mana sang suami merasakan gesture yang berbeda dari istrinya ketika berinteraksi dengan seorang laki-laki. Sebagaimana episode-episode Black Mirror yang lain, episode ini juga menceritakan efek buruk kemajuan teknologi. Dalam episode kali ini, setiap orang bisa menyimpan apa yang mereka lihat dan dengar dari mata dan telinga mereka layaknya kamera yang menyimpan video. Rekaman kejadian itu bisa mereka putar berulang-ulang dengan alat semacam remote, juga bahkan bisa ditayangkan via layar televisi layaknya menonton film. Sang suami yang peka dengan detail gesture sang istri, terus memutar memori ketika mereka sedang mengadakan makan malam bersama, lantas melakukan zoom-ing pada hal-hal detail layaknya detektif mencari petunjuk. Twist nya adalah ketika sang suami mendatangi selingkuhan istrinya, lantas memaksanya menghapus memori yang terekam bersama istrinya. Lalu dia memaksa sang istri mengaku dan memperlihatkan memori mengenai apa yang dilakukannya dengan sang selingkuhan. Kemajuan teknologi ini sungguh ironi, di satu sisi kita bisa terus mengingat segala hal dengan detail, baik hal baik maupun hal buruk. Tapi di sisi lain, bisa mengingat segala sesuatu dengan teramat jelas itu sangat menyiksa. Beruntunglah kita masih bisa lupa, kalau semua kejadian yang kita alami selalu masih sesegar seolah baru terjadi tadi pagi, bagaimana kita bisa move on?

Pernah dalam posisi menjadi pelakor? Alhamdulillah sih enggak, dan semoga nggak akan pernah. Pernah punya temen seorang pelakor? Pernah, dan walaupun kesal setangah mati tapi ku tetap berteman. Karena bagaimanapun kisah cinta itu urusan pribadi, yang penting sebagai teman yang baik kan kita sudah mengingatkan. Kalau ntar kamu masuk video viral macam video Bu Dendi, risiko ditanggung sendiri ya. Satu hal penting lainnya, kalo dia segampang itu meninggalkan pasangannya untuk berselingkuh denganmu, maka bukan nggak mungkin kan suatu hari nanti dia juga segampang itu meninggalkanmu untuk orang lain.

Btw ini kenapa ya aku tiba-tiba nulis tentang pelakor di malam jumat kliwon begini. Well, nggak ada maksud khusus sih. Hanya sebuah bentuk ekspresi, daripada tenggelam dalam keresahan. Right?


Senin, 05 Maret 2018

On The Way Home

Malam ini aku pulang dengan rute berbeda. Melewati Sagan dengan deretan kafe-kafe yang syahdu. Entah Sagan yang memang syahdu, atau ini hanya efek yang ditimbulkan paska hujan deras seharian.

Hari ini hujan ekstra deras mengguyur kotaku. Cuaca yang asyik, suara hujan yang ekstra berisik, dan udara yang sejuk ciamik. Cukup menyenangkan untuk dinikmati sendiri di lorong kosong lantai 2, depan ruang kantor yang sepi. Well, bisa terasa menyenangkan karena aku tak harus pergi kemanapun. Stay di kantor dengan perut kenyang dari katering siang ini. Dan masih bisa menyeduh segelas coklat panas di dalam kantor ketika hujan badai di luar sana, itu patut disyukuri.

Aku memiliki beberapa kawasan favorit di kotaku: Kotabaru, Sagan, dan Kotagede. Tak heran kawasan-kawasan tersebut menjadi kawasan favoritku, pada jamannya kawasan itu kan tempat tinggal konglomerat. Wajar saja terasa tertata apik dan elegan. Salah satu penandanya adalah bangunan-bangunan heritage, juga gardu listrik yang aku lupa namanya (gardu listriknya punya nama). Gardu listrik ini menandakan kawasan tersebut adalah kawasan elit karena dulu tak semua orang bisa menikmati listrik. Kotabaru dan Kotagede punya Babon Enim (ah, aku sudah ingat nama si gardu listrik).

Seorang teman pernah berkata, kita cenderung lebih memilih rute perjalanan yang melewati tempat-tempat kita bisa bernostalgia. Misalnya melewati mantan sekolah kita. Aku menghabiskan 6 tahun masa Sekolah Dasar di Sagan, pernah 3 tahun mengenyam pendidikan di Kotabaru, dan hampir 20 tahun tinggal bertetanggaan dengan Kotagede. Jadi bisa jadi aku menyukai kawasan-kawasan tersebut karena keelitannya (aku sudah menyukai kawasan ini sebelum aku menyadari bahwa kawasan-tersebut merupakan kawasan elit atau heritage), atau bisa jadi karena mereka memiliki memori tersendiri untukku, atau bisa jadi hanya karena aku suka tempat bersejarah. Seperti Kota Tua Jakarta, yang walaupun baru sekali kukunjungi namun sudah begitu melekat. Entahlah.

Hari ini kami bermain game uno hingga pukul 8 malam di kantor. Entah kenapa kami gemar sekali menghabiskan waktu di kantor hingga larut malam, atau sekedar makan malam bersama di luar dan mengobrol panjang ngalor-ngidul. Mungkin kami memang segerombolan orang-orang yang malas pulang, tentunya dengan alasan masing-masing yang tak perlu ditanyakan. Pak Bos bilang aku dan permainan uno ku sangat mudah ditebak, kelihatan banget pola permainannya. Mungkin aku memang terlalu lempeng dan lurus-lurus, kurang tricky.

Satu kartu canggih dalam permainan uno adalah kartu kosong, dimana fungsinya adalah menukar kepemilikan kartu. Hal itu mengingatkan kita bahwa dalam hidup ini, segala hal yang kita miliki itu hanya titipan. Memang harus diusahakan semaksimal mungkin, tapi juga harus siap kalau sewaktu-waktu diambil kembali. Kalau udah pernah main uno dan nyaris menang atau sedang merasa di atas angin karena memiliki deretan kartu dahsyat, lalu tiba-tiba ada yang mengeluarkan kartu emas yang menukar kepemilikan kartu, pasti tau dong rasanya sebagian duniamu runtuh ketika tak siap kehilangan sesuatu yang kau cintai di dunia ini.

Pada beberapa game, aku bisa menemukan sisi filosofis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya adalah permainan uno tadi. Selain itu, ketika main salah satu game nya Pou, yang mana kita diberi misi untuk menghilangkan permen di antara buah-buahan dengan cara menyamakan warna buah. Duh susah juga ya menjelaskan game satu ini. Aku mendapat beberapa filosofi hidup dengan bermain game satu ini. Pertama, kalau mau memenangkan banyak round kita harus fokus sama misi yang diberikan. Karena akan ada banyak buah-buahan yang menarik untuk dijadikan, untuk menambah koin. Tapi kalau kita tidak fokus pada misi, kita tidak akan pindah ke round berikutnya. Sementara itu, ada waktu yang terus bergerak dan ketika waktu habis maka game is over. Filosofi berikutnya, kadang kita terlalu fokus pada buah-buahan yang ada di sekitar misi. Padahal jalan kemenangan kadang berasal dari arah yang tak terduga. Sumpah ini bukannya sok bijak, tapi coba deh main game satu ini dan kau akan mengerti apa yang kumaksud. Heuheu

Apa inti dari tulisan ini? Ndak ada, just sharing aja tentang apa yang kupikirkan sepanjang perjalanan pulang. Btw 'tempat' itu salah satu variabel yang bisa dijadikan sebagai pemanggil ingatan buatku, selain tentunya musik dan aroma. Jadi aku bisa banget masih ingat pernah mengobrol tentang apa di tempat mana, atau musik tertentu mengingatkan pada masa-masa tertentu, juga bau tertentu mengingatkan pada orang-orang tertentu. Maka kadang aku menyimpan pemikiran-pemikiran di suatu tempat yang aku lewati dalam perjalanan, dan melanjutkan pemikiran itu ketika melewati tempat yang sama di hari yang berbeda. Akibatnya adalah, karena mengendarai kendaraan dengan mode auto pilot, seringkali lupa kalau mau mampir. Soalnya udah ada template rute ke rumah, atau rute ke kampus. Kapan-kapan aku share lagi deh, apa saja yang aku pikirkan dalam perjalanan pulang.