Minggu, 16 April 2017

Mengapa Tak Kau Hampiri Saja Aku?

Ada sesak yang menggebu memenuhi ruang
Berkabut, berisik, penuh hingar bingar
Kau masih disana, menanti di sudut ruang
Mengapa tak kau hampiri saja aku disini?

Aku muak dengan segala
Ingin ku ke laut saja
Tapi laut menolakku
Ingin kupergi ke langit
Tapi ku tak punya sayap
Mengapa tak kau hampiri saja aku?

Aku terdiam di depan cermin
Lelah menari mengusir jenuh
Lelah tertawa mengusir sendu
Lelah menangis mengusir rindu
Mengapa kau tak datang jua?

Ada badai menikam langit senja
Kau masih tetap disana

Selasa, 11 April 2017

Bila Sampai Waktumu

Tak ada gunanya menangisi kematian. Toh hidup dan mati itu di tangan Tuhan. Tapi ketika kematian yang pernah kau bayangkan benar-benar hadir di depan mata, ternyata rasanya tetap hancur.

Air mata itu tak hanya jatuh atas kehilangan sosok menyenangkan yang pernah hadir di antara kita. Tapi merembet pada berbagai elemen kehidupan lain.

Bukan kah ini doamu, meminta yang terbaik pada Nya baik kesembuhan atau hilangnya rasa sakit dari tubuhnya. Bukankah baru saja kau kirimkan doa untuknya tengah malam tadi, supaya diberikan skenario terbaik untuknya.

Lalu kekhawatiran datang, bila satu persatu kematian mendatangi mereka yang pernah kau bayangkan lantaran kentalnya kerentanan akan hal itu. Tapi kau malah bertingkah egois dengan menutup mata.

Aku tau ini sungguh tak berhubungan, tapi air mata ini tak mau berhenti mengalir.



10 Maret 2017,
you surely feel so much better up there, right?

Rabu, 05 April 2017

Sedang Apa?

Apa?
Apa yang sedang kulakukan?


Aku sedang berusaha menyelesaikan revisi skripsiku. Mungkin itulah jawaban yang akan kulontarkan bila bukan kamu yang bertanya. Tapi jawaban untukmu berbeda. Aku sedang mencari ketenangan, jiwa dan raga. Maka disinilah sekarang aku duduk, sendiri saja di depan laptop di hadapan jendela besar. Dan tentunya di tempat yang tidak pernah kita datangi bersama, sehingga tak akan ada memori apapun yang terbangkitkan di ruangan ini.

Aku rasa tempat ini cukup nyaman dengan wifi, AC, musik relaksasi ala gramedia, dan colokan listrik. Dan terutama gratis. Oh bukan, terutama tidak ada gangguan samping sehingga kuharapkan aku bisa fokus menulis. Aku bertanya-tanya, dengan luasan sebegini besar kira-kira seberapa mahal ya biaya operasional tempat ini.

Tapi rupanya tidak, buktinya alih-alih fokus menulis revisi, aku justru menulis ini. Well, kuakui ada yang kurang dari tempat ini dan memang bukan kapasitas mereka untuk menyediakannya: teman.

Aneh bukan, aku jauh-jauh datang kesini untuk mencari ketenangan tapi justru merasa kesepian setelah berhasil mendapatkannya.

Lalu di tengah rasa sepi yang begitu menghujam, tanganku justru membuka lembaran tulisanmu yang sudah begitu lama tak kubuka. Ada beberapa artikel baru yang kau publish, dan salah satunya berhasil membuatku mendambamu lagi. Lagi? Ya, memang lagi, karena aku sudah pernah melepasmu dari harapku semenjak kutahu kau sudah bersama seseorang. Kata Mbak Raisa yang cantik, bukan aku mudah menyerah tapi bijaksana mengerti kapan harus berhenti.


Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa berusaha memantaskan diri dan berharap suatu hari nanti kita berjodoh. Tapi sebelum itu, kuharap kita bisa duduk bersama lalu mengobrol tentang apapun. Mungkin kita bisa mengobrol tentang topik yang kau tulis di salah satu artikelmu yang kau publish suatu hari di bulan November, hampir dua tahun yang lalu.

Tapi jauh sebelum itu, izinkan aku untuk menyelesaikan revisi skripsi ini.


Senin, 06 Februari 2017

Be Creative!

Ada begitu banyak orang yang akhir-akhir ini menginspirasi saya, membuat saya kagum dan ingin menjadi seperti mereka. 

Dari awal saya suka membaca buku, saya tidak pernah tertarik apalagi menyukai buku bergenre motivasi/psikologi/self-help. Saya yang dari dulu suka membuat teori-teori sendiri berdasarkan pengematan sehari-hari, merasa buku-buku motivasi/psikologi/self-help itu sok tau dan sok menggurui. Well meskipun teori-teori yang saya buat tentunya lebih sok tau lagi, tapi saya lebih merasa puas karena saya mendapatkannya berdasar pengamatan sendiri. 

Walaupun saya paham sepenuhnya bahwa buku-buku motivasi/psikologi/self-help yang masuk percetakan ternama tentunya bisa dipertanggungjawabkan dan sudah melalui uji tertentu dengan literatur-literatur ilmiah. Namun tetap saja saya masih cenderung defensif terhadap genre buku satu itu.

Sampai saya menemukan bukunya Yoris Sebastian yg I('M)possible. Buku ini tergolong ringan dibaca tapi dengan isi yang sangat berbobot, menurut saya. Lalu belum lama ini saya penasaran dengan buku BacaKilat for Students, lalu membacanya hingga akhir. Saat ini saya sedang membaca bukunya Yoris Sebastian yang Oh My Goodness, buku pintar seorang creative junkies. Baru membaca bab Acknowlegments, saya sudah terheran-heran dengan penjelasan mengenai kesalahan judul dalam bahasa inggris yang seharusnya adalah creative junkie. Dan itu merupakan kesengajaan dari penulis, maka bila ada yang ikut-ikutan menggunakan istilah creative junkies maka dia ikut-ikutan keliru.

Belum lama ini saya main ke acara bernama Selamat Pagi yang diadakan yayasan Kampung Halaman setiap beberapa bulan sekali di Minggu pagi. Saya senang mendatangi acara ini karena jujur saya merasa takjub pada sebuah acara yang diadakan di tepi Sungai Kelanduan di Mlati, Sleman yang mana dihadiri oleh beragam orang dengan beragam style, dengan bintang tamu yang seringkali asing namun selalu menarik, juga lapak-lapak yang tak biasa.

Salah seorang yang menarik perhatian saya adalah mbak-mbak yang mengenakan sepatu converse dengan warna berbeda, yang satu pink muda dan satunya biru muda. Sekilas tidak terlalu terlihat karena model sepatunya sama dan warnanya cocok. Entah memang si mbak tersebut membeli sepatu yang kanan kiri warnanya beda ala Joger nya Bali, atau dia memang sengaja membeli dua sepatu sejenis untuk di mix. Yang jelas, saya merasa orang kreatif ada dimana-mana. 

Lalu beberapa waktu yang lalu, adek saya yang masih SMA bercerita perihal dua seragam OSISnya yang harus dipakai empat hari dalam seminggu. Sebenarnya ini normal, tapi adek saya itu tipikal yang selalu pulang sore sehingga bagaimanapun seragamnya harus dicuci setiap hari. Jadi permasalahan muncul ketika hari sebelumnya lupa nyuci atau karena cuaca yang terus menerus hujan menyebabkan seragamnya belum kering. Suatu hari dia menunjukkan seragam osisnya yang ber-badge warna coklat pudar dan bercerita bahwa sebenarnya itu seragam SMPnya. Awalnya saya merasa itu normal, seragam SMP yang masih bagus bisa aja dipake lagi cuma tinggal diganti badge. Tapi ternyata itu tetep badge OSIS SMP, yang dia warnai pake spidol. Rupanya seragamnya lagi-lagi belum kering dan kalau ganti badge dulu, bisa-bisa dia terlambat sekolah yang hari itu masuk jam setengah 7. Apakah temen-temennya sadar? Dia justru cerita-cerita ke temen-temennya dan bangga sebagai ketua OSIS yang melakukan sedikit kreasi pada seragamnya. Terserah kamu deh dek..

Well ya, ini memang tulisan lama yang mengendap di notes google keep saya. Ada beberapa tulisan random yang belum saya publish karena niatnya mau ditambahin tapi malah kelupaan hingga membusuk. Akhirnya saya putuskan tulisan setengah jadi macam ini tetap akan saya publish sembari mengalihkan perhatian publik atas tulisan terakhir saya, yang demi kebaikan bersama, sudah saya unpublish. Karena ini bukan koran atau majalah, mohon maklum atas kurangnya aktualitas. Mau tau kabar aktual dari saya? Silahkan japri. Terimakasih 😁




Senin, 19 Desember 2016

Resolusi

Udah basi kali ya, ngomongin resolusi hidup menjelang tahun baru. Tapi gapapa lah ya, hidup saya juga basi kok.

Entah sejak kapan, saya termasuk orang yang selalu bikin resolusi hidup. Ritual itu selalu saya lakukan menjelang tahun baru, menjelang tahun ajaran baru (semasa sekolah), dan menjelang ulang tahun. Soalnya semua 'yang baru' itu selalu bikin semangat, jadi pas aja dijadikan momentum buat merilis harapan, atau sekedar merefresh dan evaluasi.

Tapi sebenarnya saya udah berhenti melakukan ritual itu semenjak.. mungkin 2 tahun terakhir, atau mungkin lebih. Why? Gak tau, cara kerjanya udah ilang aja rasanya. It doesn't work anymore.

Gak ada satupun yang berhasil saya raih dalam checklist sesederhana apapun yg saya buat. Dulu saya pernah membuat daftar berjudul 100 target hidup (gak nyampe 100 juga sih padahal), dan satu persatu semuanya mulai menjadi nyata.

Ketika semua berantakan, saya enggan melakukan hal ini lagi.

Gak paham juga sebenernya gimana cara kerja yang benar, entah sugesti atau apa, yang jelas hampir semua obsesi yang saya tulis dalam daftar resolusi yang kemudian bisa saya bayangkan dengan jelas, bisa saya detailkan dalam beberapa langkah, bisa membuat saya merasa begitu bergairah layaknya ketika membaca buku Harry Potter, maka hal itu akan menjadi nyata. Karena saya memang membuat resolusi yang realistis.

Bahkan obsesi ringan yang gak sempat tertulis, yang muncul tiba2 tapi menimbulkan sensasi mendebarkan yang menyenangkan itu, bisa juga terwujud bahkan ketika kita sendiri sudah lupa pernah memiliki obsesi itu.

Harusnya ini cuma ada di diary pribadi saya, lalu kenapa akhirnya saya publish? Well, saya masih percaya bahwa semakin kita menyebarluaskan impian kita ke seluruh dunia, kita akan semakin dekat dengan impian itu. Cara kerjanya? Berharap aja yang baca tulisan ini ikut mengamini. Doa banyak orang, apalagi yang mendoakan diam2 tanpa sepengetahuan yang didoakan katanya ijabah loh. Selain itu, dengan mengabarkan kepada seluruh dunia mengenai apa yang kita inginkan dan harapkan, semoga aja seluruh alam semesta mau bekerja sama bahu membahu mendukung saya. Dengan cuaca yang bersahabat, misalnya. 

Dan ini bukan berarti saya penganut animisme dinamisme ya, saya masih percaya hanya pada Allah semata kok. Tapi saya percaya (menurut penelitian yg saya baca), kalau benda mati itu juga punya intelejensi. Misalnya air, dimaki-maki dan dibacakan ayat suci, molekulnya bisa jadi berubah bentuk. Juga tanaman, ketika dirusak oleh manusia, dia bisa mengenali manusia yang merusaknya. Ini terlihat dengan mesin poligraf, seperti eksperimennya Luther Burbank. Dan sesederhana cerita dosen, yang suka ngajak ngobrol mobil tuanya. Suatu hari ketika parkir, pak dosen bilang pada si mobil untuk beristirahat disini aja, dan ternyata pas itu ada maling mobil, tapi gak berhasil soalnya mobilnya gak mau gerak. Benda-benda di sekitar kita tau kok kalau mereka disayang.

So, sebenernya garis besar keinginan saya itu apa sih? Sederhananya, hidup bahagia dunia akherat. Well siapa sih yang gak pengen itu. Oke, spesifiknya saya pengen memiliki kehidupan yang seimbang. Saya bahkan membuat diagram dalam buku diary saya: Sustainable of Me.

Sustainable of Me menggabungkan empat aspek: religi, financial, social+family, dan aktualisasi diri. Pada masa itu saya baru mempelajari mengenai pembangunan yang berkelanjutan dari segi ekonomi, ekologi, dan sosial. Kemudian saya tercetus mengadaptasi untuk membuat konsep kehidupan saya yang berkelanjutan. Maksudnya imbang dunia-akherat.

Saya sangat paham bahwasanya sebagaimana konsep ideal pada umumnya, hanyalah utopia belaka yang tidak aplicable. Sehingga demi membuat konsep tersebut tetap realistis, saya membuat list mengenai targetan setiap aspeknya. Membagi-bagi dalam beberapa tugas kecil, sehingga saya tidak merasa frustasi untuk mengamalkannya. 

Misalnya saya membagi aktualisasi diri menjadi fisik+psikologis, ability, dan hobby+leisure. Untuk fisik+psikologi, tergetan utama adalah sehat. Maka untuk mencapai sehat, diperlukan olahraga teratur, konsumsi buah dan sayur, dan pola hidup sehat lainnya. Olahraga teratur bisa dilakukan dengan jogging dan berenang minimal seminggu sekali. Dan seterusnya, dan seterusnya penjabaran setiap aspek hingga detail.

Wah tulisan ini mulai sangat membosankan bukan? Mari kita langsung menuju poin pentingnya saja.

Harapan terbesar saya saat ini adalah pengen cepet lulus biar bisa cepet punya pendapatan sendiri, biar gak ngerepotin orangtua lagi. Soalnya saya memasuki fase deadlock, yang mana satu-satunya jalan keluar agar hidup saya kembali mengalir adalah dengan menyelesaikan tugas akhir saya.

Pengen kerja dimana setelah lulus? Pengen jadi PNS? Pertanyaan itu kalo diajukan semasa saya masih sok idealis, saya akan bilang gak mau jadi PNS. Alasannya? Setahu saya banyak kinerja PNS yang kurang baik, walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa itu hanya oknum, dan bahwa saya tidak tahu banyak. Tapi kalau pertanyaan itu datang saat ini, mungkin akhirnya saya sadar bahwa sepertinya lulusan jurusan saya memang dicetak untuk mengabdi kepada negeri. Bisa saja mengelak, tapi hatimu pasti tau peranmu semestinya dimana. 

Maka saya ingin mencicipi bekerja untuk pemerintah di kementerian. Alasannya? Menurut saya, dengan berada di sistem yang lebih besar akan mempermudah kita melihat pemasalahan secara lebih menyeluruh, lensa zoom in-zoom out nya lebih terasah lah ya. Dan demi menghindar dari urusan politik, target terbesar saya di bidang karir adalah bekerja untuk NGO internasional yang fokus pada permasalahan global. Kok saya bisa bilang bekerja di NGO bisa menghindarkan diri saya dari politik? Karena setiap negara pasti berpolitik, maka setiap keputusan yang diambil harus mengikuti politic will dari pemegang kekuasaan. Ah, mungkin saya terlalu banyak membaca tulisan2 kiri. Sedangkan sebagai aparat pemerintah, kita harus tunduk pada keputusan pemimpin negara. Maka saya ingin menghindar dari urusan negara, biar orang lain saja lah yang mengurusi itu. Saya hanya ingin bekerja sebaik-baiknya untuk kesejahteraan semua umat manusia, tidak peduli warga negara, kebangsaan, warna kulit, agama, apalagi politik. Semoga saja di dunia ini memang ada NGO yang benar2 independent dan murni berniat membangun untuk kebaikan semua umat. Bayangan saya sih ya, bisa berupa NGO yang fokus pada ruang terbuka publik yang humanis gitu. Bisa apa aja sih fokus NGO nya, asalkan masih sesuai sama bidang dan hati nurani saya.

Wuih, ini sih curhat sekaligus pencitraan kali ya. Bodo amat, wong blog pribadi saya, salah sendiri kepo!

Segitu dulu aja deh, makasih loh yang masih betah kepo sampe sini. See you on top ya!

Senin, 21 November 2016

Menjadi Galak

Akhir-akhir ini saya merasa bertemperamen buruk. Sering marah-marah, gampang bete, sensitif, apatis, judes, dsb. Dan tidak hanya saya, orang-orang di sekitar saya juga saya rasa demikian. Entah ini karena saya yg udah terlanjur sensitif sehingga menilai mereka demikian, atau memang begitulah faktanya.

Padahal faktor pemicunya sering kali hanya hal-hal sepele. Sesederhana melihat barisan semut di dinding kamar, sesederhana digangguin para kucing pas lagi makan, sesederhana scroling timeline sosmed yg bikin baper, sesederhana liat kondisi rumah yg berantakan, sesederhana melihat cermin dan merasa gendut, sesederhana merasa warna kulit menggelap, sesederhana itu.

Padahal ya, semua tadi seharusnya bukan apa-apa.

Pada intinya jika ditelaah lebih jauh, semua faktor sederhana itu dapat diidentifikasi sbg sesuatu yg tidak beres, tidak pada tempatnya yang mengganggu saya dan membuat saya kesal. Sesuatu di luar keinginan saya, sesuatu yg tidak sesuai ekspektasi saya. Sehingga semua selalu berawal dengan, 'ih kok begini siiih?!' 

Walaupun semuanya tetep dikerjakan, walaupun akhirnya tetap saya yg membereskan rumah, tetap saya yg mengusir para semut di dinding kamar, saya juga tetap melakukan itu dengan mencak-mencak. Jadi apa bedanya jika saya melakukan itu dengan tidak perlu marah-marah, bukan?

Mungkin saja ini hanya faktor hormonal, mungkin saya hanya sedang PMS. Di sisi lain, PMS hampir tidak pernah mendorong saya menjadi seorang yg superjudes. Justru berbagai tekanan yg melanda jiwa dan batinlah yg sanggup mengubah saya menjadi seorang yg begitu menyebalkan.

Tapi capek kan, temperamen begini..

Lantas bagaimana caranya menjadi tetap ramah dan perhatian pada sesama, diantara sejuta tekanan? Mungkin saya perlu melakukan tension release. Melepas ketegangan. Tapi rasanya saya sudah terlalu banyak bersenang-senang tapi ketegangan tak jua berkurang. Yang ada justru saya merasa perlu menghukum diri saya sendiri setelah bersenang-senang, diantara deadline. Saya tidak layak bersenang-senang, lebih tepatnya belum layak. Teringat sumpah Gadjah Mada, tidak akan memakan buah palapa sampai menyatukan nusantara. Dulu saya merasa sumpah itu, apa banget, sok-sokan banget menurut saya. Tapi sekarang mungkin saya mengerti perasaan Mahapatih Gadjah Mada kala itu, ada perasaan bersalah ketika mencoba bersenang-senang sebelum kewajiban lunas terbayar.

Come on, semua orang pasti punya tekanan hidup masing-masing. Nyatanya tidak semua orang menjadi judes dan menyebalkan. Mereka saja bisa tetap ramah dan menawan, mengapa saya tidak? Nantinya ketika saya sudah kembali baik-baik saja, toh saya akan menertawakan diri saya sendiri yg bisa segampang itu bete cuma gara-gara hal-hal nonsense. So, marilah menunggu datangnya waktu itu sembari mulai mengendalikan emosi yg tidak perlu.

Jumat, 04 November 2016

Wanita

Laki-laki menuntut perempuan sempurna, jauh lebih daripada perempuan menuntut kesempurnaan dari seorang laki-laki.
Ukuran kewanitaan dari seorang perempuan memang jauh lebih banyak dari ukuran kepriaan seorang lelaki. Bahkan istilah kewanitaan sangat lazim terdengar, sementara istilah 'kepriaan' rasanya tak pernah ada. Mungkin lebih akrab ditelinga dengan istilah kejantanan pria, kali ya. Tapi rasanya kata jantan lebih berasosiasi dengan dunia seks, ketimbang asosiasi peran pria sebagai laki-laki dewasa. Rasanya kebanyakan orang sepakat bahwa wanita idaman adalah wanita yang cantik parasnya, anggun lakunya, halus perkataannya, bisa memasak, bisa menjahit, bisa mengurus rumah tangga, cerdas mendidik anak, dan manja sekaligus mandiri. Sementara itu sebagian perempuan menyatakan bahwa lelaki idaman hanyalah lelaki yang mapan secara ekonomi, serta dapat dijadikan imam ditunjukkan dengan akhlak dan ibadahnya yang baik. Nah, kan!

Akhir-akhir ini topik tentang wanita sering muncul ke permukaan seputar saya berada.

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara pembacaan puisi bertemakan wanita yang diselenggarakan teater lilin di Indiecology Cafe. Ada sebuah puisi yang begitu menarik perhatian saya, berjudul Nyanyian Angsa karya W.S. Rendra. Puisi ini bercerita tentang wanita pekerja seks yang terkena penyakit menular seksual. Dia diusir dari rumah pelacuran. Dia miskin dan tidak bisa membayar pengobatan. Dia harus menanggung semua penderitaannya sendiri akibat keputusannya melacur. Padahal bukankah tidak ada wanita manapun yang bersedia menjadi pelacur jika tidak terhimpit tuntutan ekonomi?
Kutipan puisi tersebut bisa dibaca 
di sini.

Lalu beberapa hari yang lalu saya juga tak sengaja mampir ke Bentara Budaya dan melihat pameran fotografi yang mengambil tema serupa, karya anak-anak Kolase Debrito.

Wanita itu makhluk yang istimewa. Bahkan Tuhan menurunkan sebuah surat khusus dalam kitab suci Alquran, Surah An Nisa yang artinya perempuan.

Berbicara tentang wanita tidak pernah terlepas dari topik emansipasi, kemudian berkembang menjadi tarik ulur peran wanita sebagai ibu (rumah tangga) dengan peran wanita sebagai tulang punggung keluarga. Sosok wanita sebagai tulang punggung keluarga bisa muncul sebagai wanita karier baik yang melakukan pekerjaan yang bersifat universal atau wanita melakukan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki seperti menjadi supir bus, pembantu rumah tangga, Tenaga Kerja Wanita di luar negeri, bahkan pekerja seks komersial.


Berhubung saya tidak bisa menemukan sumber yang menjelaskan emansipasi menurut R.A. Kartini, saya mengambil sumber KBBI saja. Emansipasi (n) menurut KBBI: 1. pembebasan dari perbudakan; 2. Persamaan hak di berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria).

Dulu seorang istri dikenal dengan sebutan 'konco wingking' atau artinya 'teman belakang' yang hanya bertugas masak di dapur dan tidak pernah dilibatkan diskusi topik-topik penting di ruang tamu. Perempuan dulu tidak boleh bersekolah, kecuali mereka yang ningrat. Bahkan peran wanita didiskreditkan dengan singkatan 3 M (Masak, Macak, Manak).

Saat ini wanita sudah diperbolehkan bersekolah, bekerja, dan menduduki jabatan pemerintahan. Emansipasi wanita saat ini lebih diartikan bahwa wanita tak hanya bisa setara dengan pria dan memegang jabatan-jabatan penting di pemerintahan, tapi justru bisa mengungguli pria. Kemudian para wanita mulai meninggalkan peran pokoknya, maka tak jarang wanita modern yang menjelma kaum urban tak lagi bisa memasak, atau lihai menggendong anak mereka sendiri. Alih-alih menikah dan mengurus rumah tangga, mereka lebih suka bercengkerama dengan laptop di dalam gedung pencakar langit, mengejar karier setinggi gedung tempat mereka bekerja. Mereka bersekolah tinggi dan berkarier hebat mengatasnamakan emansipasi. Lalu melupakan peran alami mereka sebagai wanita. Tentu tak semua perempuan modern demikian.

Rasanya ini mirip-mirip kasus para buruh yang tertindas karena kapitalisme, kemudian ketika dibela mereka justru sering mengadakan demo menuntut kenaikan gaji yang tidak rasional besarnya. Kurang ajar sekali, yang tadinya tertindas sekarang jadi ngelunjak!

Saya bukan menolak emansipasi, toh saya termasuk penikmat emansipasi dimana saya bisa bersekolah tinggi dan saya juga memiliki keinginan bekerja. Hanya saja, menurut saya pembagian peran itu perlu. Seperti pembagian kerja yang dikenal dalam dunia kerja, spesialisasi akan lebih meningkatkan produksi baik dari segi kualitas maupun kuantitas, ketimbang semua pekerjaan dari sektor hulu ke hilir dilakukan oleh satu orang yang sama. Contohnya ketika kita akan memproduksi sebuah kursi, akan lebih mudah ketika ada yg khusus menebang pohon menjadi kayu di hutan, ada yg khusus menggergaji balok-balok kayu dan menghaluskannya, ada yg khusus menyusun balok kayu dan menambahkan paku agar terbentuk kursi, ada yg khusus mengecat, dst.


Jadi menurut teori ekonomi, akan lebih menguntungkan sebuah wilayah memproduksi satu komoditas unggulan mereka dan menjualnya ke luar daerah tsb untuk membeli komoditas lainnya ketimbang memproduksi semua komoditas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Duh, lagi-lagi tulisan saya melantur kemana-mana. Intinya saya hanya ingin bilang bahwa perempuan memang seharusnya berperan demikian sesuai dengan kodratnya. Toh terpilihnya peran wanita tentunya sudah disesuaikan dengan karakter perempuan, makhluk ciptaan Tuhan.

Memang seharusnya perempuan lah yang mengurus anak, karena mereka yg melahirkan anak sehingga perempuan memiliki sisi keibuan jauh lebih besar dari laki-laki. Katanya, perempuan itu multi tasking makanya perempuan sejak jaman dahulu kala diberi peran yg sedemikian rupa banyaknya. Tapi kadang perempuan modern lupa bahwa pemilihan peran yg sudah ditentukan dari entah peradapan jaman kapan, memang sudah diatur sesuai kecocokan fisik, psikologi, dan lain-lain.

Bagaimana jika peran wanita ditukar menjadi peran laki-laki? Bisa saja, jika dilatih. Toh sekarang chef dan koki terkenal didominasi laki-laki. Ada juga pembantu rumah tangga laki-laki. Tapi tetap saja, ibarat berbakat melukis dipaksa belajar bermain musik.

Sebenarnya ini tulisan lama yang mengendap di folder Draft di laptop saya, dan saya kehilangan hasrat melanjutkan tulisan ini, maka saya publish saja seadanya. Mungkin akan saya lanjutkan ketika saya sudah berhasrat menulis lagi tentang topik ini, karena topik mengenai wanita itu sangat luas. Saya belum menyentuh isu feminisme yang hingga saat ini belum saya pahami. Saya belum membahas mengenai wanita yang sering dipersalahkan karena mengundang hasrat lelaki untuk melakukan pelecehan seksual. Tapi mungkin lain kali saja.