Showing posts with label Just Random. Show all posts
Showing posts with label Just Random. Show all posts

Tuesday, 23 October 2018

My Daily Life (2)

Ada apa lagi dalam hidup saya?

Beberapa waktu yang lalu saya mendatangi pernikahan seorang teman ekspedisi. Surprisely, dia menikah dengan mantan pacarnya! Saya bahkan tidak tau kapan mereka balikan, tau-tau udah nyebar undangan aja. Hal yang menarik dari pernikahan ini adalah diadakan dengan sederhana namun tetap layak. Saya datang di acara Ngundhuh Mantu nya, yang diadakan di rumahnya di Wates. Kedua mempelai ini menikah dengan memakai sepatu couple convers, dan bahkan bisa santai melenggang turun dari pelaminan untuk menyambut teman-teman undangan. Tidak ada live music digantikan musik-musik ala spotify yang diputar dengan sound. Tentunya lagu-lagu pilihan mereka sendiri, bukan lagu wajib pernikahan kebanyakan. Mempelai wanita bahkan bisa pegang hp, asyik sendiri selfie berdua dengan mempelai pria ketika tidak sedang ada tamu. Well, sejatinya seharusnya pesta pernikahan itu adalah pesta kita dimana kita bebas berekspresi dan tetap merasa nyaman. Saya hanya penasaran, bagaimana cara mereka meyakinkan orangtua mereka untuk mengadakan pesta pernikahan sesuai mau mereka ya?

Beberapa weekend saya belakangan ini cukup membahagiakan. Suatu Sabtu yang cerah, setelah puas berkeringat dari bermain badminton asyik sesiangan hingga sore, malamnya kami ke kuliner Kampung Tugu. Ya, sedang ada Gofood Festival yg malam itu dimeriahkan White Shoes and The Couples Company. Gagal menonton lantaran depan panggung sudah dipenuhi manusia yang lebih antusias menonton konser, akhirnya kami lebih memutuskan mengisi perut yang lapar sehabis berolahraga. Tapi ambience-nya cukup menyenangkan, ikut bergoyang seru sambil duduk, makan, dan mengobrol.

Weekend yang lain, ada Markerfest yang diadakan oleh Tokopedia di halaman Mandala Krida. Malam itu kami menonton The Rain dan Mocca. Sebenarnya besoknya kami berniat kesini lagi, namun apa daya: manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Sepenuhnya itu benar, sesederhana gagalnya rencana ikutan belajar nyablon siang itu, dilanjut nyore cantik sambil mendengarkan musik epic dari Rubah di Selatan, juga mengakhiri malam bersama Mbak Raisa yang cantik dan punya suara meneduhkan jiwa. Jogja memang tak pernah kehabisan event menarik yang juga gratis, itulah salah satu kemewahan tinggal di kota ini.

Alih-alih produktif di depan laptop mengejar deadline, saya malah terkapar tak berdaya di atas tempat tidur di bawah pengaruh obat flu yang sudah saya konsumsi dua kali dalam
hari itu. Lemah, cuma gara2 semalam pulang jam 12 malam saja sudah down! Well, apa sih yang bisa diharapkan dari pola hidup makan tak teratur, rajin pulang malam, terlalu sering begadang, sudah begitu tak pernah olahraga pula, juga tekanan hidup dari sana sini. Heu.

Weekend yang lain, setelah berenang, saya main ke Amplaz. Sedang ada Land of Leisure, dan kami nyore asyik bersama Ardhito Pramono. Awalnya gak ngerti dia ini siapa, sampai dia nyanyi yg The Bitterlove. Dan ternyata sebelom ini udah pernah nonton mini drama nya yg judulnya Bittersweet, tp blm ngeh kalo dia penyanyi jazz. Di awal, kami masih bisa nonton, tapi kami masih asyik jajan sambil merumput cantik. Trus pas udah akhir-akhir baru pengen nonton, udah gabisa menerobos kerumunan :( 
Tapi asyik sih ini, piknik sore di Taman Amplaz.

Lalu weekend terakhir kemarin, saya diajakin nyobain All You Can Eat nya Artotel Jogja. Jadi ceritanya istrinya sepupu saya kerja di situ, dan dia langsung berkabar waktu lagi ada promo. Sesuai dengan namanya, hotel ini sangat berseni. Dan tempat makannya yang semi outdoor ini seru banget sih buat saya. Di tengahnya ada kolam renang yang letaknya rada di atas, lalu prasmanan dan bakar-bakar barbeque ada di atas samping kolam renang yang outdoor, dan di sebelah pojok atas dijadikan corner buat band. Konsep garden party macam ini selalu bikin saya terkesan deh.

Lalu saya mau bahas tentang film, abis nonton anime sedih gitu ceritanya. Ada 3 cerita pendek, salah satunya bercerita tentang pertemanan 3 orang. Dua diantaranya saling suka. Lalu si mbak nya mau ngelanjutin sekolah di tempat yang jauh, yang susah gitu masuknya. Diam-diam si mas nya rajin belajar supaya bisa masuk sekolah itu juga, tapi gak bilang-bilang sama si mbak. Sementara itu, diam-diam si mbak sebenernya gak mau ke sekolah itu karena gak mau gak sama-sama mas itu lagi. Lalu mas nya ketrima dong di sekolah itu, sementara si mbaknya gagal tesnya. Begitulah kehidupan, gemes ya kenapa gak ngobrol aja sih mereka berdua.

Btw KPFT sekarang asyik banget dah, ada pingpong set, badminton set, dan satu set alat band-band an. Tinggal main aja kalau pas lagi nggak ada yang pakai. Padahal saya mah gabisa semuanya, gabisa pingpong, gabisa badminton, bahkan gabisa main musik, tapi suka aja menjadi penggembira nonton teman-teman yang main. Ada tempat ngopi sama minimarket nya juga. Mungkin kalau KPFT udah dirombak jadi sepuluh lantai, bakal lebih lengkap fasilitas buat mahasiswa. Kali aja bakal ada home theatre nya juga kan seru. Ini sekaligus ancaman sih buat sekre Satubumi dan sekre BSO-BSO yang lain. Mungkin kalau sekre dipindah, kami jadi tak bakal sebebas ini dan sebegitu serasa rumah sendiri. Tapi mungkin itu masih akan terjadi bertahun-tahun yang akan dating, ketika mungkin saja saya sudah tak berdiam di kota ini lagi.

My Daily Life


Well, bulan lalu saya menghabiskan Bumi Manusia nya Pram hanya dalam tiga hari. Tentu ada banyak hal yang bisa diambil dari novel popular ini. Kata-kata Jean Marais dimana kita harus adil semenjak dalam pikiran. Lalu pemikiran-pemikiran Minke, diantaranya adalah betapa menyenangkannya hidup tanpa harus berjalan menunduk-nunduk di hadapan kaki orang. Lalu bahkan saya jadi memikirkan bagaimana pribumi pada jamannya memperlakukan perempuan, dibandingkan bangsa kolonial memperlakukan perempuan. Lalu hal yang berkali-kali diingatkan, kita kaum terpelajar harus bersikap terpelajar pula. Dengan membaca novel Pram yang ditulis pada jaman segitu, yang konon kabarnya dia tulis di dalam penjara, tak bisa saya bayangkan betapa cerdasnya Pram. Lalu saya jadi penasaran background Pendidikan Pram, yang tentunya dia bisa menulis sedemikian rupa menunjukkan dia pasti juga kaum terpelajar. Apakah dia pribumi yang bangsawan?

Pada waktu yang bersamaan, saya sedang mengerjakan sebuah project untuk delineasi Kota Wates lama. Well, setelah saya menyelesaikan job menjadi surveyor untuk Kajian Pasar Tradisional di Kota Jogja, saya dijapri sama Mbak Bos tentang tawaran pekerjaan Kota Wates lama ini. Saya yang memang selalu tertarik pada sejarah langsung mengiyakan saja. Project ini mendorong saya untuk membaca literatur sejarah karena sejarah Wates erat kaitannya dengan sejarah masa kolonial Belanda. Salah satu literatur yang saya baca adalah tentang perubahan gaya hidup hedonis para pribumi yang berkuasa. Dalam literatur ini dijelaskan bahwa semenjak Pakualam IV terdapat sistem sewa tanah dimana tanah dapat disewakan selama puluhan tahun dengan dibayar di muka. Karena mereka pegang uang, maka dihamburkanlah. Salah satu tempat dansa dansi nya adalah yang sekarang menjadi Taman Budaya.

Ada juga beberapa literatur berbahasa inggris yang terpaksa saya baca karena disodorkan bos untuk dipelajari. Dari sini saya mengetahui istilah bangunan indische yang selama ini kita sering dengar dan gunakan merujuk pada bangunan reinassance yang telah mengalami adaptasi dengan iklim tropis di Indonesia. Lalu istilah vornstenlanden, istilah yang digunakan untuk menyebut daerah-daerah bekas kekuasan Kerajaan Mataram yang saat ini sudah terpecah menjadi daerah kekuasaan Kraton, Pakualam, dan Kasunanan Surakarta. Pikiran saya mulai melakukan sinkronisasi dengan apa-apa yang pernah saya tangkap sebelumnya. Salah satunya yang didapat dari jalan-jalan cantik di Jakarta tempo lalu dimana saya sempat mengunjungi Museum Jakarta di Kota Tua, tulisan-tulisan dari Buku Ekspedisi nya Kompas yang seri Ekspedisi Anyer-Panarukan, lalu kembali membuka materi-materi perkuliahan terutama tentang teori perencanaan dan teori keruangan. Juga karena ada literatur yang membahas tentang Batavia dan Kota Semarang, pikiran saya sibuk mensinkronisasi pengalaman saya ketika berkunjung ke kedua kota tersebut.

Itulah mengapa, saya selalu tertarik pada kota bersejarah. Saya senang mengunjungi tempat-tempat itu sambil mengkonstruksi dalam pikiran saya, artikel-artikel yang saya baca mengenai apa yang terjadi di tempat itu pada masa lalu. Begitupun ketika saya belajar materi Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) untuk CPNS, pikiran saya melalangbuana pada tempat yang sedang saya baca itu. Pada kunjungan saya ke Jakarta setahun lalu untuk mengikuti tes CPNS di Bappenas, sehari sebelumnya saya datang kesana berniat cek lokasi. Cuaca yang begitu terik menghantarkan kami menyeberang ke Taman Suropati yang cantik nan meneduhkan itu. Lantas saya membuka maps untuk orientasi sekitar, dan ternyata dalam lingkup walkable distance, terdapat Museum Proklamasi yang mana dulunya adalah Rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol nomor satu. Kami pun memutuskan mampir kesana, dan ini cukup berkesan karena materi tentang ini masih segar dalam ingatan sehabis dibaca beberapa hari terakhir.

Yang menjadi fokus saya adalah tipologi bentuk kota atau konsep keruangan yang diperkenalkan oleh tokoh-tokoh ternama. Misalnya sebut saja Garden City nya Ebenezer Howard. Lalu Thomas Karsten yang hasil karya nya masih banyak ditemukan hingga saat ini di Indonesia. Lalu literatur tentang kota-kota di Indonesia yang merupakan kota bersejarah, dari sudut pandang sejarah kolonialisme dan tata ruang.

Hari-hari itu saya juga sempat mendatangi sebuah musikalisasi sastra di Taman Budaya. Dan mau tak mau saya membayangkan tempat ini di masa lalu ketika masih menjadi tempat dansa-dansi para bangsawan. Bayangpun saja pikiran saya sepenuh apa dengan hal yang campur aduk ini, mencoba menghubungkan, mencari benang merah, dan merekonstruksi seolah saya hidup pada jaman itu.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menemani dosen menghadiri rapat penyusunan KAK untuk suatu pekerjaan. Dalam suatu obrolan, beliau pernah bilang bahwa belajar yang asyik itu bukan belajar dari text book tapi belajar yang dipaksa karena tuntutan pekerjaan. Saya setuju sekali, salah satu yang saya pikir-pikir ulang kalau mau ambil s2, saya tau ilmu saya masih cetek dan saya butuh sekolah lagi, tapi ada suatu kekhawatiran bahwa ilmu itu tidak langsung bisa saya aplikasikan. Walaupun, tentu saja di dunia ini tidak ada perbuatan positif yang sia-sia. Kalau tidak langsung bisa terasa manfaatnya saat ini, pasti akan berguna di kemudian hari. Dosen saya menganjurkan mengambil semua pekerjaan sekalipun yang belum kita pahami, dengan catatan kita akan tercambuk untuk belajar dalam rangka menjaga kualitas dari nama yang kita bawa, sebut saja nama besar Gadjah Mada. Maka itulah yang saya lakukan, mengambil pekerjaan-pekerjaan yang tak terlalu saya pahami, agar supaya saya terpaksa belajar lagi.

Dalam kesempatan berbeda, dosen saya ini membahas tren generasi milenial dalam memandang hunian. Alih-alih menabung untuk membeli rumah, mereka justru menabung untuk piknik. Dalam hati lalu saya bersorak, well saya salah satunya. Generasi terdahulu memandang rumah sebagai tempat tinggal seumur hidup sedang generasi saat ini cederung pragmatis. Ketika masih sendiri tidak masalah tinggal di apartemen studio, begitu pula ketika masih berdua dengan pasangan. Ketika mulai memiliki anak, mereka bisa pindah ke apartemen atau rumah yang lebih besar. Akhir-akhir ini saya banyak membaca artikel yang mengabarkan bahwa generasi saat ini terancam tidak mampu membeli hunian dengan pendapatan mereka sendiri tanpa adanya subsidi dari pemerintah. Artikel nyinyir lainnya mengatakan bahwa salah satunya disebabkan gaya hidup anak sekarang yang suka nongkrong di kafe-kafe fancy, ketimbang nabung buat beli rumah. Tapi kemudian ada yang menganalisis fenomena ini sebagai bentuk pelarian karena rendahnya affordabilitas untuk membeli hunian, sehingga justru menghidupkan gaya hidup ngopi-ngopi cantik yang mana masih affordable buat mereka. Sementara itu di negara-negara establish, hunian pertama (rumah tinggal pertama, bukan sebagai investasi) sudah menjadi jaminan untuk warganya.

Tapi sebenarnya pemerintah kita, lewat PUPR sudah berupaya menyediakan perumahan lewat skema-skema yang saya masih gak terlalu paham. Oke, nanti belajar lagi tentang ini deh. Well, fokusnya tentu saja untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Di Sleman sendiri terjadi backlog perumahan bagi MBR namun surplus bagi kalangan atas. Herannya waktu dibilang surplus, ketika pengembang membangun tetep laris juga. Ada indikasi money laundry yang menyebabkan distorsi market, dan juga ulah appraisal sih ini. Kompleks banget emang ini Sleman, udah moratorium tapi tetep aja banyak kecolongan. Bahkan ada apartemen yang berada di daerah resapan air dan memotong urat air. Dosen saya bilang, sebagai anak Teknik sebenernya bisa aja asalkan menyiapkan rekayasa ruangnya untuk mengatasi permasalahan yang ada. Tapi lalu saya teringat kata-kata dosen Geomorfologi saya, manusia bisa aja merekayasa macam-macam tapi kalau struktur geologi dan geomorfologinya sudah begitu, pada saatnya dia akan kembali pada fitrahnya. Maksudnya apa? Misalnya bisa aja nih kita merekayasa membelokkan aliran sungai dengan bendung dan segala macamnya untuk kepentingan tata ruang kita saat ini, tapi pada saatnya nanti mungkin aja aliran sungai itu akan kembali sesuai aslinya dan menimbulkan banjir bandang di masa depan. Atau daerah yang terletak di atas patahan, ketika waktunya terjadi pergeseran lempeng ya siap-siap aja kena dampak gempa. Jadi faktor geologi-geomorfologi ini sebenernya ndak bisa ditawar-tawar sih kalau dari sudut pandang geografi. Tapi dari sudut pandang Teknik, ya gimanapun harus bisa rekayasa dong, kan anak Teknik. Mirip-mirip lah sama tarik ulur Arsitek dan Teknik Sipil. Kalau anak arsi mendesain bangunan terlalu realistis dengan struktur yang bisa dibangun oleh sipil, tentu desainnya akan biasa-biasa aja dan kurang all out. Disitulah kerja keras anak Teknik sipil, untuk mewujudkan mbuh piye carane supaya desain bangunan anak arsi bisa tetap berdiri dengan kokoh. Jadi sebenernya ke-multidimensi-an ilmu ini sangat menarik ya..

Lalu pengen bahas tentang film dan buku-buku yang belakangan ini saya baca juga sih, tapi ini aja udah kepanjangan. Sekian dulu sis and bro..


Monday, 11 June 2018

Pariwisata (Part 2)

Beberapa waktu yang lalu (mungkin tepatnya awal tahun ini) saya dan beberapa teman memutuskan jalan-jalan cantik eksplor Mangunan tapi mampir dulu ke Imogiri.

Well, kami ke makam raja-raja di Imogiri. Ini sebenarnya adalah kunjungan saya kesekian kali, tapi karena sepertinya terakhir kali ke sini waktu SMA jadi tidak masalah mengunjungi tempat ini lagi. Sebenarnya selama ini cukup heran mengapa ada yang namanya wisata religi atau wisata pesanggrahan. Bagaimana mungkin kuburan menjadi tempat yang menarik untuk berwisata? Lalu ketika saya menginjakkan kaki di kompleks makam raja di Imogiri, saya memang menemukan ketertarikan dan kesadaran bahwa tempat ini memang menarik untuk dikunjungi. Setelah mendaki kurang lebih 409 anak tangga (kata abdi dalem yang jaga), saya tertarik melihat gapura dan pintu menuju makam yang dihias oleh ukiran kuno. Ke kanan adalah deretan makam Sri Sultan Hamengkubuwana dan ke kiri adalah deretan makam Sri Susuhunan Pakubuwono. 

Lalu hal lain yang mengusik saya adalah, kenapa hanya makam saja dibuat sebagus ini. Bahkan Taj Mahal di India dan Piramid di Mesir yang masuk dalam situs keajaiban dunia yang dilindungi unesco juga merupakan makam. Well, pastinya itu untuk menghormati dan menghargai orang-orang yang dianggap penting. Tapi tidakkah cukup menjadikan makam se-syahdu dan se-khidmat Taman Makam Pahlawan di Jalan Kusumanegara? Kadang saya berpikir, kalau saya sudah tiada apa yang akan orang ingat dari saya. Tapi kalo ndak salah, dalam islam kan memang tidak boleh membangun bangunan di atas makam. Bahkan tidak perlu pakai kijing, cukup segundukan tanah dengan papan nama. Sepertinya kalau ndak salah supaya kita tidak terus-terusan mengingat yang sudah tiada, tapi tetap merawat makam secara tidak berlebihan. Cmiiw.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke persawahan Sukorame yang sedang hits itu. Sekarang segala wisata rupanya memang dirancang supaya bagus buat foto-foto, instagramable lah.

Setelah itu kami ke wisata hutan pinus Rumah Hobbit Seribu Batu Songgolangit, lalu ke Pintu Langit Dahromo, dan nongkrong cantik di Kedai Ngisor yang terletak di bukit Pathuk, Gunungkidul. Sejujurnya saya sudah terlalu muak dengan spot-spot foto ala-ala yang sangat banyak tersebar di semua lokasi wisata hutan pinus (dan mungkin juga semua wisata alam lainnya). Well, mungkin karena saya sudah pernah menyusuri sebagian besar dan merasa bosan.

Dulu saya punya kebiasaan berwisata hingga kelelahan, menyusun ittenerary sepadat mungkin karena tidak ingin melewatkan objek wisata menarik. Dan rupanya ini tidak baik, lebih baik memilih satu atau dua objek saja lalu menghabiskan waktu sepuasnya di sana. Berangkat pagi, pulang malam dengan badan pegal, mandi lantas tidur nyenyak untuk jalan-jalan hari berikutnya. Seperti ketika saya ke Bandung, ke Malang, ke Singapura, bahkan jalan-jalan ke hutan pinus dan ke pantai libur natal tahun lalu..

Tapi iya sih, salah satu motivasi saya rutin berolahraga adalah supaya saya kuat jalan-jalan kemanapun kalau mendadak ada yang ngajakin. Harus rajin jogging supaya kalau mendadak ada yang nodong, 'yuk ke Semeru' bisa langsung mengiyakan tanpa khawatir akan menyusahkan tim dengan kondisi badan yang tidak fit.

Btw sebenarnya saya berniat memasukkan beberapa foto dalam postingan ini, tapi berhubung saya malas sekali memilah foto jadi nanti saja diedit postingannya dengan tambahan foto ya. Lagi-lagi ini tulisan lama dan tidak up to date. Sudah memasuki musim liburan lagi, semoga saya bisa konsisten menulis dan posting tulisan baru. Teaser untuk postingan jalan-jalan berikutnya, saya akan posting cerita backpackeran ke ibukota Bulan April lalu yang sudah dibuat draft nya. Selamat berlibur!

Monday, 21 May 2018

Show Off


Sharing is caring. Akhir-akhir ini saya memikirkan bagaimana caranya berbagi di sosial media tanpa melibatkan unsur pamer. Karena bagaimanapun toh itulah tujuan sosial media diciptakan: untuk bersosialisasi, berlomba-lomba menjadi makhluk paling sosialita. Akhir-akhir ini saya banyak mendengar istilah ‘budak-budak instagram’ atau seseorang yang minta difotoin demi ‘ngasih makan instagram’. Well, istilah ‘ngasih makan instagram’ sebenernya ada benarnya juga sih, karena istilah ‘newsfeed’ dan ‘feed’ like feeding my pet, ngasih makan hewan peliharaan. Ngomong apa sih gue, wkwk.

Dan parahnya dalam urusan agama, juga dipamerkan. Misal lagi tarawih di masjid apa, atau lagi ikut kajiannya ustadz siapa. Padahal supaya tidak menjadi riya’, dalam urusan ibadah sebaiknya kan hanya rahasia antara kau dan Dia.

Seorang teman pernah bilang bahwa instagram merupakan platform paling toxic karena semua orang mengupload kesuksesan mereka di sana. Lantas apakah ini salah? I mean baik si peng-upload maupun si follower yang baperan (duh). Tentu tidak. Saya sendiri pernah begitu sesak dengan satu platform, sebut saja Path, yang mana dulunya merupakan platform favorit hingga saya tak pernah tak bisa merasa sakit hati setiap scrolling Path dan akhirnya memutuskan untuk uninstall. Kenapa sakit hati? Well, mungkin karena Path kan memang bersifat daily life gitu kan, lalu saya mendapati diri saya merasa envy setiap melihat pergerakan teman-teman saya yang bahkan tanpa mereka sengaja update, tapi menunjukkan bahwa mereka arrive in mana. Atau sesederhana mereka hangout di kafe mana tanpa mengikutsertakan dirimu. Hal-hal sekecil itu di saat yang tidak tepat ternyata mampu memporakporandakan perasaan ya. Ah, mungkin saya saja yang lemah. Setelahnya saya merasa lebih damai. Dan ternyata tak hanya saya seorang yang mengalami hal serupa, banyak orang di sekitar saya yang juga demikian.

Seperti kata Fiersa Besari dalam sebuah update-an di salah satu sosial medianya, tidak perlu menggali apabila tak sanggup menghadapi. Well, kadang kita tak perlu tau kehidupan orang lain, kalau ternyata kita justru sakit hati saat mengetahuinya. Gak usah stalking mantan lah kalau gak siap mengetahui bahwa dia jauh lebih bahagia setelah berpisah denganmu. Terus tiba-tiba terngiang lagunya Ed Shereen, i know i was happier with you.. Nah, ini lain lagi. Hahaa

Lalu mengenenai perhelatan-perhelatan seni yang kini tak pernah sepi dari ‘budak-budak instagram’. Saya pernah melihat share-share an yang intinya dia sedih banyak karya lukisnya yang rusak setelah pameran, yang tidak lain dan tidak bukan rusak karena manusia-manusia yang hanya peduli fotonya terlihat bagus di instagram.

Suatu hari di sebuah acara radio, tim Artjog datang untuk mempromosikan event ini ke khalayak masyarakat. Mereka membagikan enam tiket gratis kepada tiga pemenang beruntung, syaratnya adalah mengajukan pertanyaan apapun terkait Artjog. Nah, di sini yang menarik. Berdasar pantauan saya dari twitter, pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru aneh-aneh. Ada yang menanyakan kontribusi Artjog terhadap peningkatan kreativitas para pekerja seni di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Ada juga yang menanyakan apakah pengunjung wanita diharuskan mengenakan kacamata besar dan tas goodybag. Satire abis ya. Lalu ada yang menanyakan sasaran pasar (target market) Artjog dengan harga tiket yang tidak bisa dikatakan murah. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengandung kritik menarik. Saya sendiri sudah tidak pernah ke Artjog setelah harga tiket masuknya yang menurut saya tidak lagi sesuai dengan kantong saya. Lagian untuk men-supply kebutuhan saya akan seni, masih banyak perhelatan seni gratisan di kota ini. Berarti saya memang bukan target market dari Artjog ya. Haha. Sebenarnya bukan karena nggak sanggup bayar sih, kalau dibayarin sekalipun saya masih mikir dua kali kalau diajak ke Artjog (tapi ini tergantung siapa yang ngajakin sih, hehe). Karena, pertama, saya gak ngerti-ngerti amat tentang seni, cuma suka aja datang dan mengapresiasi, melihat-lihat dan mencoba mengerti, dan juga karena katanya seni itu menyehatkan. Ke-2, Melihat popularitas Artjog akhir-akhir ini saya menjadi malas untuk menjadi satu dari sekian banyak yang berjubel di dalam sana. Menurut saya, seni itu bukan untuk dinikmati secara rebutan. Seperti sholat, kita butuh kekhusyukan tersendiri untuk mendapatkan efek maksimal. Dan ke-3, mungkin saya merasa tidak sebanding aja antara kepuasan yang saya dapatkan versus harga tiket yang harus dibayarkan.

Saya jadi teringat, salah satu preferensi saya memilih mall untuk tempat nongkrong ketika melewati waktu maghrib adalah kondisi mushola di mall tersebut. Malas banget kalau mau sholat aja mesti mengantre, berdesak-desakan, terburu-buru karena udah ada yang ngantre di belakang kita, dsb. Sejauh ini dalam urusan mushola, menurut saya mall ter-oke di kota saya adalah JCM yang mana mushola nya ada di tiap lantai jadi ketika maghrib pun tak akan terlalu ramai. Well, begitu juga dengan pameran seni dan toko buku atau perpustakaan, juga tempat wisata alam. Saya rasa tempat-tempat tersebut sejatinya tidak cocok dalam keadaan ramai.

Entah, mungkin selama ini saya terlanjur mendapat privilage dengan mendatangi tempat-tempat tersebut dalam keadaan sepi sebelum menjadi se-mainstream sekarang. Dulu ketika hiking, kami bahkan selalu menyapa dan di sapa oleh siapapun yang kami temui di atas gunung. Minimal menanyakan dari mana, atau sekedar saling memberi semangat ketika berpapasan saat hendak naik/turun. Kalau sekarang, rasanya sudah malas saking banyaknya orang, bahkan harus mengantre dan tak bisa memilih jalur dengan leluasa. Juga privilage ketika bisa camping di pantai yang berasa pantai pribadi karena hanya kami satu-satunya pengunjung di sana. Kalau sekarang, jangan harap menjadi satu-satunya pengunjung, dapat tempat aja udah alhamdulillah ya.

Lalu tentang musik indie, musik folk, film indie, dan hal apapun berbau indie. Indie berasal dari kata independent, artinya segala proses penciptaannya hingga rekamannya tidak dilakukan dengan menggunakan label rekaman yang sudah besar. Mungkin karena pengaruh lingkungan, akhir-akhir ini saya mulai tertarik pada musik-musik indie. Bukan karena indie nya, tapi perasaan yang ditimbulkan dari pengalaman yang berbeda. Maksudnya, ketika kita terbiasa mendengarkan musik-musik pop yang banyak ditayangkan di media televisi atau di radio, ketika kita mendengarkan musik dengan tambahan instrumen yang berbeda, atau yang dinyanyikan secara tidak biasa, akan melahirkan perasaan yang berbeda pula. Lalu ada kritikan yang mana muncul dalam sebuah meme, tentang atribut yang dipakai mereka yang datang ke acara-acara indie gratisan. Seolah kalau kamu pendengar musik indie, kamu perlu mengabarkan pada seluruh dunia kalau selera musikmu berbeda.

Dalam sebuah pameran seni yang lain, sebut saja Biennale, saya mendapati banyak tulisan menarik yang kalo ndak salah ditulis oleh Farid Stevy nya FSTVLST (eh bener gak nih tulisannya?). Salah satunya berinti semua orang ingin terlihat beda, dan karena SEMUA ingin berbeda malah jadinya SAMA SEMUA. See?

Saya jadi ingin menelaah lebih lanjut, mengapa pada dasarnya setiap orang ingin berbeda dari orang yang lain? Mungkin karena ada dorongan untuk eksis, untuk dianggap ada, untuk menjadi trendsetter. Lalu apa yang mendasari keinginan-keinginan tersebut? Mari kita bahas lain waktu. Paling tidak dengan menulis ini, dan dibantu kopi yang saya minum sahur tadi, misi saya untuk tidak tidur lagi setelah subuh tercapai. Yeaaaaay :)


Tuesday, 3 April 2018

On The Way Home (2)

Dalam satu hari, 24 jam, sekurang-kurangnya aku punya waktu satu jam untuk melamun: 30 menit perjalanan dari rumah ke kampus dan 30 menit perjalanan pulang.

Lagi-lagi lamunanku malam ini berputar tidak jauh-jauh dari pertemanan: manusia dan hubungan interaksi antar manusia. Selalu menarik, karena manusia itu makhluk kompleks. Kenapa tiba-tiba terpikir ini? Jadi ceritanya hari ini aku bertemu dengan banyak orang, orang penting maupun orang biasa saja. Akhir-akhir ini aku merasa orang-orang semakin blak-blakan menunjukkan kemauannya. Entah mungkin aku yang bertambah pintar dan peka membaca situasi, atau mereka yang semakin tidak smooth dalam memasukkan maksud dan kehendak mereka. Dari situ aku bisa menilai siapa pihak yang paling oportunis, dan memprediksi sikap apa yang akan  diambilnya selanjutnya. Bahkan bisa merasakan adanya ketegangan atau gesekan tak kasat mata macam listrik-listrik statis di film-film anime, yang muncul ketika tokohnya saling berseberangan. Haha

Kenapa sih manusia bisa saling nggak cocok begitu saja? Makin kesini kurasa manusia berteman hanya ketika merasa saling membutuhkan. Well, ini bahasannya akan panjang sih. Kayaknya mending aku bahas lain kali dalam postingan terpisah deh.

Sungguh receh dan maha tidak pentingnya topik ini, dibandingkan isu-isu global kemanusiaan atau isu lingkungan. Alih-alih memikirkan kemiskinan di Afrika, target-terget MDGs, tantangan pemanasan global dan perubahan iklim, dan lain sebagainya, aku justru memikirkan hal ini. Atau tidak perlu mengambil kasus jauh-jauh, topik ini menjadi tak penting dengan sendirinya ketika kita masih berurusan dengan hal-hal mendasar dalam hidup. Hal-hal mendasar itu macam apa? Macam besok mau makan apa, bukan karena bingung gak punya banyak referensi tempat makan (itu mah kelakuan orang-orang jaman sekarang 😝), tapi karena mungkin saja tidak ada yang bisa dimakan. 

Pemikiran ini terlintas ketika aku berhenti di perempatan Gramedia dan melihat seorang anak kecil yang masih berjualan koran selarut ini. Aku memperhatikan dia hanya mendatangi mobil-mobil dan berhenti lama di samping kaca. Aku langsung terpikir bahwa sebenarnya menjual koran hanyalah kamuflase. Siapa yang akan membeli koran selarut ini, dan apakah itu koran tadi pagi yang sudah hampir kadaluwarsa untuk di jual keesokan harinya, atau memang ada koran malam?

Melewati rute yang sama setiap harinya, mau tidak mau membuatku memperhatikan orang-orang yang kutemui di setiap persimpangan jalan. Bahkan ketika aku masih rajin naik transjogja setiap hari, aku sampai hapal dengan mbak-mbak dan mas-mas kondekturnya, juga petugas penjaga halte. Aku bahkan menyadari ketika mbaknya ganti sepatu, sepatunya baru bukan yang biasa dia pakai sehari-hari. Aku pernah memikirkan sebosan apa ya menjadi kondektur transjogja yang setiap berhenti di halte selalu mengucapkan kalimat yang sama. Coba bayangkan dalam satu hari, satu shift kerjanya, berapa kali bus itu akan mengulang rute yang sama, melewati halte yang sama, dan masih diulang setiap harinya. Di persimpangan Jalan Batikan, aku selalu mengamati ada seorang anak perempuan yang berjualan koran, berjilbab dengan tas selempangnya yang khas. Prediksiku masih usia SMP. Memangnya dia tidak bersekolah? Karena beberapa kali aku pernah lewat sana saat jam sekolahpun, dia selalu ada. Sepertinya dia menyukai warna ungu, sering kali aku mendapatinya memakai baju dan jilbab berwarna ungu.

Kembali pada topik pertemanan, seorang teman yang cukup sering bergonta-ganti pacar pernah mengeluhkan bahwa sebenarnya dia sudah lelah selalu memulai kembali dari nol. Harus berkenalan dengan orang baru,   pdkt lagi, tahap awal pacaran lagi, dst. Proses itu selalu berulang setiap dia berganti pacar. Hal itu tidak mengherankan, karena pada dasarnya manusia cenderung enggan keluar dari zona nyaman. Dalam hal ini, pacar lama adalah zona nyaman.

Kurasa aku juga tipikal yang jauh lebih mudah jatuh cinta pada teman dekat yang sehari-hari bersama. Tresno jalaran seko kulino, kalo kata orang jawa. Dan cenderung kurang sepakat dengan yang 'dari mata turun ke hati'. Bagiku yang terakhir itu lebih seolah bersumber pada nafsu ketimbang kenyamanan yang melenakan. Tapi tunggu dulu, cinta itu banyak bentuknya kok. Ada eros, ludus, storge, pragma, mania, dan agape (percaya ndak, kalo literatur ini kudapatkan ketika mengerjakan soal reading nya ielts wkwk). Well, kurasa jenisku lebih kepada storge.

Menyikapi hal tersebut, memang alangkah jauh lebih menyenangkannya apabila bisa menikah dengan sahabat sendiri. Maka muncul hastag macam #temantapimenikah atau #marriedwithmybestfriend dan hastag-hastag senada lainnya.

Perasaan itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan, yang bisa kita kendalikan itu sikap kita. Mau mendewakan perasaan yang kadang bertentangan dengan logika, atau tetap membumi dengan berpijak pada realitas meski kadang terpaksa membunuh rasa, itu murni pilihanmu.

Btw kenapa endingnya malah ngomongin cinta sih? Auk ah. Namanya juga ngelamun, ngalor ngidul gak jelas jadinya.

Friday, 16 March 2018

Pelakor

Akhir-akhir ini istilah pelakor mulai sering terdengar, entah siapa yang pertama membuatnya. Pelakor di sini yang kumaksud adalah Perebut-Laki-Orang. Bukan Pecinta Lagu Korea, atau Pelaku Korupsi ya. Satu yang terakhir merupakan kesalahpahamanku selama ini mengenai istilah ini, hehe. Sudah sering dengar istilah satu ini, ngerti kalau istilah ini bermakna negatif tapi baru tau belum lama ini kepanjangan yang sesungguhnya.

Dibalik munculnya istilah pelakor, seolah mendeskreditkan bahwa perselingkuhan bersumber dari sosok perempuan yang kegatelan. Padahal kan namanya perselingkuhan itu kan antara dua orang, kalau salah satunya menolak kan pasti gak bakalan jadi. Lantas kenapa satu pihak bisa lebih disalahkan dari pihak yang lain?

Belum lama ini beredar video viral Bu Dendi nyawer pelakor, yang banyak banget dibuat meme atau video parodinya. Sumpah aku nggak ngerti lagi gimana perasaan si mbak pelakor itu (kalo masih punya perasaan sih). Maka kuhimbau pada semua perempuan di seluruh dunia, jangan lah jadi pelakor.

Lantas, bagaimana pandanganku tentang perselingkuhan? Oh itu termasuk kesalahan terbesar yang mungkin tak bisa kumaafkan. Kalau kamu menjalin hubungan serius denganku dan kamu berselingkuh, maka bhay! Tak ada ampun untuk urusan satu ini.

Dulu aku sempat rada gimana gitu sama kisah cintanya Re dan Rana dalam serial pertama Supernova. Rana berselingkuh dengan Re, dan cara mereka saling jatuh cinta itu menurutku kena banget ketimbang kisah cinta Rana dengan suaminya. Rasanya perselingkuhan mereka terasa benar. Dan justru setelah Arwin sang suami Rana mengikhlaskan Rana, Rana justru kembali ke pelukan Arwin.

Tapi semenjak aku melihat perselingkuhan benar-benar terjadi di dunia nyata, aku teramat geram untuk bisa melihat dari sudut pandang yang kulihat dari kisah Re dan Rana.

Belum lama ini aku menonton serial netflix Black Mirror. Episode 3 season pertama bercerita tentang pasangan suami istri, yang mana sang suami merasakan gesture yang berbeda dari istrinya ketika berinteraksi dengan seorang laki-laki. Sebagaimana episode-episode Black Mirror yang lain, episode ini juga menceritakan efek buruk kemajuan teknologi. Dalam episode kali ini, setiap orang bisa menyimpan apa yang mereka lihat dan dengar dari mata dan telinga mereka layaknya kamera yang menyimpan video. Rekaman kejadian itu bisa mereka putar berulang-ulang dengan alat semacam remote, juga bahkan bisa ditayangkan via layar televisi layaknya menonton film. Sang suami yang peka dengan detail gesture sang istri, terus memutar memori ketika mereka sedang mengadakan makan malam bersama, lantas melakukan zoom-ing pada hal-hal detail layaknya detektif mencari petunjuk. Twist nya adalah ketika sang suami mendatangi selingkuhan istrinya, lantas memaksanya menghapus memori yang terekam bersama istrinya. Lalu dia memaksa sang istri mengaku dan memperlihatkan memori mengenai apa yang dilakukannya dengan sang selingkuhan. Kemajuan teknologi ini sungguh ironi, di satu sisi kita bisa terus mengingat segala hal dengan detail, baik hal baik maupun hal buruk. Tapi di sisi lain, bisa mengingat segala sesuatu dengan teramat jelas itu sangat menyiksa. Beruntunglah kita masih bisa lupa, kalau semua kejadian yang kita alami selalu masih sesegar seolah baru terjadi tadi pagi, bagaimana kita bisa move on?

Pernah dalam posisi menjadi pelakor? Alhamdulillah sih enggak, dan semoga nggak akan pernah. Pernah punya temen seorang pelakor? Pernah, dan walaupun kesal setangah mati tapi ku tetap berteman. Karena bagaimanapun kisah cinta itu urusan pribadi, yang penting sebagai teman yang baik kan kita sudah mengingatkan. Kalau ntar kamu masuk video viral macam video Bu Dendi, risiko ditanggung sendiri ya. Satu hal penting lainnya, kalo dia segampang itu meninggalkan pasangannya untuk berselingkuh denganmu, maka bukan nggak mungkin kan suatu hari nanti dia juga segampang itu meninggalkanmu untuk orang lain.

Btw ini kenapa ya aku tiba-tiba nulis tentang pelakor di malam jumat kliwon begini. Well, nggak ada maksud khusus sih. Hanya sebuah bentuk ekspresi, daripada tenggelam dalam keresahan. Right?


Saturday, 20 January 2018

Pariwisata (Part 1)

Saya selalu penasaran, gimana ya perasaan orang-orang yang tinggal di kota destinasi wisata tapi tidak terlibat dalam kegiatan wisata. Misalnya Bali atau Malang (well, mungkin Batu lebih tepatnya) yang selalu menjadi tujuan wisata tak peduli musim liburan atau bukan.

Pasalnya sebagai warga Kota Yogyakarta yang notabene juga termasuk destinasi wisata, apalagi setelah boomingnya film AADC 2, musim liburan atau long weekend selalu menjadi hal yang tidak menyenangkan buat saya untuk bepergian kemanapun. Macet parah, dalam kota dan hampir seluruh jalan utama selalu macet dan dipenuhi bus pariwisata yang gede-gede itu. Apalagi Malioboro dan sekitarnya. Mending di rumah saja deh, menunggu semua keramaian itu surut dengan sendirinya begitu liburan usai.

Tapi libur panjang natal dan tahun baru kemarin menurut saya jauh lebih padat dari biasanya. Penasaran jumlah kunjungan wisatawan ke Jogja memang meningkat sebegitu drastisnya atau hanya perasaan saya saja lantaran liburnya yang lebih panjang dari biasanya. Dan mungkin karena orang-orang sengaja mengambil cuti menggabungkan long weekend natal dan long weekend tahun baru. Jadi rasanya liburnya nggak kelar-kelar.

Well, mungkin kota-kota yang menjadi destinasi wisata lainnya sudah dilengkapi infrastruktur yang memadai. Sedangkan jalanan Jogja masih tergolong kecil-kecil, banyak mobil saja udah bikin macet apalagi bus. Btw sorry oot, tiba-tiba keinget aja lagi on going baca salah satu novelny Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (sumpah, ini penulisnya ngakunya itu nama asli) yang mana mengambil sudut pandang dari sebuah bus dalam kota. Menarik, tapi mari kembali pada topik utama. Sehingga mungkin saja warga kota yang tidak terkait langsung dengan kegiatan pariwisata di kota tersebut tidak merasa terganggu dengan adanya wisatawan yang datang setiap hari.

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah artikel dari tirto.id yang menyebutkan bahwa kegiatan wisata merupakan salah satu kegiatan yang merusak bumi. Tirto menyoroti data perhitungan emisi yang dikeluarkan oleh pesawat untuk perjalanan wisata. 

Tapi sebenarnya saya cukup ragu ketika membicarakan isu lingkungan dan global warming. Ada yang bilang ini merupakan bentuk penjajahan baru terhadap negara-negara semacam Indonesia. Jadi mereka menggembor-gemborkan isu global warming, supaya kita menjaga lingkungan dengan mengurang emisi sehingga mereka bisa seenaknya buang emisi. Senior saya pernah menjelaskan mengenai konsep carbon trading, REDD+. Jadi masalah lingkungan ini sebenarnya sangat kontroversial. 

Selain itu ada yang namanya statistic lies, dimana data statistik diputar balik penyajiannya sehingga menimbulkan persepsi tertentu. Data statistiknya tidak salah, jumlah-jumlahnya sesuai dengan yang sesungguhnya, namun pengolahan datanya disetir sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu fakta yang diinginkan.

Bagaimanapun, menurut saya wisata itu merupakan kegiatan tersier. Sebagaimana segala hal yang bersifat tersier, tidak heran bahwa wisata cenderung mahal dan menyasar masyarakat golongan tertentu yang mampu membayar. Turunannya, biasanya orang mau membayar mahal asalkan memuaskan. Mungkin hal itu juga menjelaskan perilaku masyarakat yang cenderung seenaknya ketika berwisata, misalnya buang sampah sembarangan: kan saya udah bayar nanti juga ada petugas yang bersih-bersih. Nah, ketika ada dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan ini, tapinya tidak ingin menghentikan kegiatan ini, maka mungkin bisa diatasi dengan semakin membatasi jumlah orang yang bisa mengaksesnya. Hal ini bisa dilakukan dengan menaikkan tarif, atau menyebarkan isu bahwa dengan berwisata anda turut merusak lingkungan. Ha!

Kendati demikian tak bisa dipungkiri bahwa berwisata juga merupakan kebutuhan setiap manusia. Toh wisata tidak harus mewah, banyak piknik murah meriah yang tak kalah membahagiakan. Salah satunya adalah wisata alam. Bahkan ya, dalam kunjungan saya beberapa waktu lalu ke Tebing Breksi, mereka hanya memungut biaya parkir dan tarif masuk seikhlasnya. Saya sering kali merasa senang tinggal di kota ini, yang orang-orangnya tidak oportunis memanfaatkan momen yang lagi ngehits. Begitu juga ketika beberapa tahun yang lalu semua orang latah naik gunung akibat film berjudul 5 Cm. Gunung Andong di Magelang yang super duper ngehits itu karena cenderung mudah bagi pemula, selalu ramai dikunjungi weekdays maupun weekend, masyarakatnya sadar wisata dengan menyediakan rumah-rumah mereka sebagai basecamp, mengelola parkir dengan baik, juga mulai membuka usaha jualan makanan dan minuman dingin di sepanjang jalan. Namun satu yang membuat saya senang, mereka tetap menerapkan tarif normal seperti kalau kita jajan dimana-mana. Padahal kalau mereka berniat mengeruk untung sebanyak mungkin, memanfaatkan fenomena ini juga bisa aja. Seperti misalnya yang jualan air mineral 600ml seharga 10 ribu rupiah. Adaaa tempat-tempat yang begitu, dan aku bersyukur Jogja dan sekitarnya tidak begitu.

Berbicara tentang pariwisata, ada beberapa hal yang cukup menggelitik. Salah satunya mengenai latah desa wisata, termasuk salah satunya di kampung saya. Saya merasa kadang-kadang mereka mengunik-unikan diri supaya punya nilai jual. Di kampung saya ada semacam pawai atau festival, atau apapun lah itu dimana kami akan berarak-arak mengenakan kostum tertentu. Ada perebutan pendanaan di sini, dimana kampung saya dan kampung sebelah ingin menjadi desa wisata agar mendapat dana kampung wisata dari atas. Saya sendiri sebagai warga (bukan asli) kampung ini, terkadang bingung apakah kami punya selling point?

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman, desa wisata yang sustain itu seharusnya menjadikan kegiatan wisata hanya sebagai kegiatan sampingan sehingga mereka tidak mengalami ketergantungan secara ekonomi dari sektor ini. Tapi yang sering terjadi, kebudayaan yang dijual di desa wisata cenderung buatan (branding) dan bukan merupakan value yang murni dari hasil budaya mereka. Waktu itu saya menceritakan kunjungan saya ke Kampung Adat Waerebo di Flores. Well, kapan-kapan saya ceritakan dalam postingan lain.

Setiap kegiatan pasti ada trade off nya, namun apakah sebanding? Yang banyak terjadi, justru alamnya rusak setelah dilakukan kegiatan wisata alam. Alih-alih menyejahterakan masyarakat, kadang kerusakan sosio kulturalnya tidak sebanding.

Mungkin seharusnya dilakukan semacam pembatasan jumlah pengunjung untuk wisata alam, sesuai dengan daya dukung dan daya tampungnya sehinggga tidak over capacity yang berujung merusak. Tapi sepertinya cukup susah mengukur daya dukung dan daya tampung untuk wisata alam. 

Berbicara mengenai pariwisata selalu menarik, sama menariknya dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata itu sendiri. So, ini bisa jadi alternatif pilihan s2 saya selain manajemen transportasi dan socio spatial planning. Hmm.

Wednesday, 3 January 2018

Healing

Aku selalu membayangkan healing paling menyenangkan adalah duduk di sebuah ruang terbuka hijau, dengan pandangan luas, dengan angin yang semilir, diiringi playlist favorit. Atau kalau di kota ini tak bisa menemukan ruang terbuka yang tepat, setidaknya healing bisa dilakukan dengan berkeliling kota menggunakan transportasi umum, lalu mengamati setiap fenomena kota yang terlihat, tentunya masih ditemani playlist favorit.

Healing paling menyenangkan lainnya adalah duduk bersamamu, mengobrol tentang apa saja, tak peduli lingkungan sekitar. Entah di lesehan angkringan pinggir jalan, entah di kafe-kafe hits, entah di sepanjang perjalanan kita menuju suatu tempat, entah dimana saja.

Semua orang punya teknik healing masing-masing untuk menghadapi toxic life masing-masing. Ada begitu banyak healing yang bisa dilakukan: berenang, jogging, knitting, hairspa, bahkan menulis juga termasuk healing. Tapi healing favoritku masih kamu. Padahal kamunya udah gatau dimana. Kok jadi sedih sih? Emang. Yawdahlahyah kita akhiri saja tulisan ini lalu tidur!

Eits, bukan ini tujuanku menulis ini.

Akhir-akhir ini begitu banyak manusia depresi baik yg berakhir bunuh diri maupun yg masih terselamatkan, baik artis maupun orang terdekat di lingkaran kita. Ada apa dengan dunia kita, mengapa banyak sekali orang depresi? Well ya, mungkin memang karena tuntutan hidup sekarang ini semakin menggila.

Kata seorang teman, fangirling itu juga salah satu kegiatan untuk mengusir stres. Terutama di korea, dimana tuntutan kecantikan dan tuntutan di dunia hiburan jauh lebih parah ketimbang di negeri ini.

Sebenarnya saya sudah gatal ingin menulis ini bahkan semenjak Chester nya Linkin Park meninggal karena bunuh diri, juga mantan pacarnya Awkarin, juga managernya JKT48, juga yg belum lama ini Jonghyun nya Shinee. Tidak cuma artis, seorang teman yg terlihat depresi juga sampai kehilangan suaranya. Seorang teman yang lain, memilih rokok sebagai pelariannya. Dan seorang kenalan lainnya bahkan sampai mendatangi psikiater dan divonis mengidap depresi sedang (bahkan bukan depresi ringan coy!)

What doesn’t kill you, makes you stronger. Bodo amat sama pepatah satu itu, masa saya harus menunggu sampai mereka mati untuk tau apakah mereka akan menjadi lebih kuat atau justru sebaliknya.

So, aku kamu dan siapapun kita pasti butuh healing. Gak harus berupa piknik asik di akhir pekan, bisa juga kegiatan yg bisa dilakukan setiap hari sesederhana berenang di sore hari sepulang kerja misalnya, atau menulis apapun sebelum beranjak tidur, atau apapun kegiatan yg kita suka dan merasa lebih damai setelah melakukannya. Maka temukan healing favoritmu, ciptakan support system terbaikmu, dan berusahalah untuk tidak depresi. Cheers.


Tuesday, 2 January 2018

Page 1 of 365

Well, saya mau ikut-ikutan challenge menulis semacam #30HariBercerita atau apapun itu, demi menghidupkan kembali blog ini setelah sekian lama mati suri. Mau sependek apa dan se-nggak penting apa tulisannya, nanti dulu deh. Yang terpenting adalah konsisten menulis. Karena lagi gak punya topik menarik untuk dibahas, saya mau membahas film yang baru saya tonton semalam aja. Judulnya Bad Genius, film Thailand tahun 2017. Cukup recommended ditonton sih, menurut saya.

Film ini bercerita tentang seorang penerima beasiswa yang super pintar lalu membisniskan contekan ke teman-teman sekelasnya dengan bayaran mahal. Berawal hanya membantu sang teman dekat, lalu pihak yang diberi contekan ketagihan menyontek. Konflik berlanjut ketika mereka bukan hanya menyontek untuk ujian sekolah tapi juga untuk ujian masuk universitas! Gila banget, mereka gak mikir apa, kalo berhasil masuk Boston dengan cara curang memangnya mereka bisa survive di sana. Dalam artian, seleksi masuk memang ditujukan untuk menjaring orang-orang yang kompeten belajar di sana. Soal ujian di perguruan tinggi itu essay coy, bukan pilhan ganda.

Film ini mengingatkan pada cerita seorang teman yang juga merupakan penerima beasiswa, dimana dia bersama teman-teman penerima beasiswa lainnya saling bekerja sama memberikan contekan ujian pada teman-teman non beasiswa hanya supaya mereka semua bisa lulus.

Lalu saya juga jadi teringat beberapa teman saya dulu yang menjelang Ujian Nasional bukannya sibuk belajar justru sibuk mencari handphone paling kecil dan tipis, yang tentu saja kita tahu untuk apa.

Dulu jaman SMA, saya banyak menemukan tulisan bernada iklan layanan masyarakat yang intinya: menyontek itu akar dari korupsi, kalo dari mudanya udah suka menyontek gak heran kalo kedepannya jadi koruptor. Dan juga secara logika, ketika kita berhasil lulus dengan cara menyontek lalu ijazahnya kita gunakan untuk mencari pekerjaan, apakah nantinya pekerjaan kita barokah?

Saya tidak munafik, saya tentu saja juga pernah menyontek dan memberikan contekan. Lalu sikap saya tentang contek menyontek ini? Sesekali boleh aja asal gak kelewatan. Batas kelewatan itu yang gimana? Tanya aja hatimu, dia tau kok.

Lalu isu plagiarism yang sudah menjadi isu mahasiswa sekarang ini. Skripsi atau penelitian seseorang dikatakan tidak plagiat selama mengambil fokus, lokus, dan metode yang berbeda dari skripsi atau penelitian yang sudah ada. Minimal salah satunya berbeda, maka bisa dikatakan tidak plagiat. Selain plagiat yang jelas-jelas nyata plagiat, misalnya mengutip tanpa mencantumkan sumber, ada juga plagiat yang masih dalam bentuk ide. Tapi berhubung gagasan itu tidak memiliki hak cipta, maka sepertinya masih sah saja plagiat dalam bentuk ide. Seseorang pernah bilang, toh di dunia ini tidak ada ide yang benar-benar otentik. Akui saja, dengan terinspirasi dari buku, film, maupun dari lingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari sudah bukti bahwa ide itu sudah ada, hanya saja belum diklaim dan belum direalisasikan menjadi sebuah karya. Tapi tetap saja idenya tidak otentik tercipta dari pikiran kita semata. Well, selama masih etis sih silahkan saja mencuri ide dari mana saja dan jadilah orang pertama yang mengaplikasikan ide tersebut menjadi karya nyata.

Satu lagi, film ini mengingatkan saya pada sosok yang belum lama ini ramai di pemberitaan: Dwi Hartanto dan seluruh kebohongan prestasinya. Kita tidak meragukan bahwa dia pasti cerdas dengan bisa menempuh program doktoral di TU Delft Belanda, namun kita menyayangkan saja atas sikapnya yang tidak etis.

Well prestasi itu penting, tapi di atas itu semua etika jauh lebih penting. Begitu sih yang ditanamkan dosen pembimbing saya. Oh iya, saya masih berhutang cerita tentang dibalik terbitnya Si Buku Biru aka skripsi saya. Masih berupa draft kasar banget, semoga saja tulisan satu itu bisa segera saya posting di #30HariBercerita. So, tunggu saja..

Friday, 28 July 2017

The Other Escape Routine

Malam ini randomly aku mengajak seorang teman mengunjungi sebuah kafe di dalam pojok beteng wetan, namanya Wedangan Rondjeng. Lokasinya pas banget di pojok beteng wetan sisi dalam. Dari situ kita bisa naik ke atas pojok beteng dan melihat jalanan Jogja dari atas sana, bahkan bisa jalan kaki sampe ke Plengkung Gading. Kenapa tiba-tiba bisa kesana? Random aja kepikiran kesana, kebetulan teman nginepnya di daerah situ.

Ceritanya bisa tau tempat itu gara-gara suatu hari pernah nyasar di lingkungan Kraton. FYI, area Kraton memang blindspot buat aku. Mungkin karena sense of place nya sama atau mirip, jadi rasanya sulit menghapalkan jalan di dalam beteng Kraton.

Aku inget banget pas itu weekend yang cerah menjelang penutupan sekaten. Rencananya aku lewat Plengkung Gading mau ke arah Plengkung Wijilan dan selanjutnya bablas ke daerah utara. Tapi rupanya Jalan Ibu Ruswo macet total, parah banget sampe gabisa gerak. Akhirnya sebelum keluar Plengkung Wijilan, aku banting kanan masuk jalan yang aku gak ngerti. Niatnya pengen keluar di sekitaran Jogjatronik malah muter-muter gak jelas dan melihat sebuah binar cahaya di ujung jalan sana. Waktu itu ngerasa amaze aja, ada tempat seperti itu di kawasan seperti ini. Mungkin istilahnya, syahdu kali ya. Tempatnya kecil, tapi asyik. Harga dan menunya juga cukup terjangkau, gak semahal kafe-kafe kebanyakan.

Kembali pada cerita malam ini, setelah ngobrol-ngobrol sebentar di Wedangan Rondjeng, kami memutuskan lanjut ke FKY di Pyramid yang baru pembukaan malam ini. Seperti biasa, FKY selalu ramai dengan stand-stand produk kreatif, kuliner, juga panggung hiburan. So, jalan-jalan malam random ini ditutup dengan menonton Jogja Hiphop Foundation di panggung utama FKY.


Well, sebenarnya tulisan ini dibuat dalam rangka merindukan hari-hari yang random, bersama teman-teman impulsif yang ayo aja mau jalan kemana. Diantara rutinitas sehari-hari yang membosankan, diantara himpitan deadline yang silih berganti, diantara teman-teman yang satu persatu mulai meninggalkan Jogja, jalan-jalan seperti ini merupakan escape yang menyenangkan. Lain kali mungkin aku dan kamu bisa melancarkan aksi short escape yang lebih seru. Mungkin menghabiskan weekend dengan terbang ke kota lain, lalu menonton pertunjukan seni budaya di kota itu. Selama aku dan kamu masih impulasif kita bisa kemana saja, bukan?

Monday, 6 February 2017

Be Creative!

Ada begitu banyak orang yang akhir-akhir ini menginspirasi saya, membuat saya kagum dan ingin menjadi seperti mereka. 

Dari awal saya suka membaca buku, saya tidak pernah tertarik apalagi menyukai buku bergenre motivasi/psikologi/self-help. Saya yang dari dulu suka membuat teori-teori sendiri berdasarkan pengematan sehari-hari, merasa buku-buku motivasi/psikologi/self-help itu sok tau dan sok menggurui. Well meskipun teori-teori yang saya buat tentunya lebih sok tau lagi, tapi saya lebih merasa puas karena saya mendapatkannya berdasar pengamatan sendiri. 

Walaupun saya paham sepenuhnya bahwa buku-buku motivasi/psikologi/self-help yang masuk percetakan ternama tentunya bisa dipertanggungjawabkan dan sudah melalui uji tertentu dengan literatur-literatur ilmiah. Namun tetap saja saya masih cenderung defensif terhadap genre buku satu itu.

Sampai saya menemukan bukunya Yoris Sebastian yg I('M)possible. Buku ini tergolong ringan dibaca tapi dengan isi yang sangat berbobot, menurut saya. Lalu belum lama ini saya penasaran dengan buku BacaKilat for Students, lalu membacanya hingga akhir. Saat ini saya sedang membaca bukunya Yoris Sebastian yang Oh My Goodness, buku pintar seorang creative junkies. Baru membaca bab Acknowlegments, saya sudah terheran-heran dengan penjelasan mengenai kesalahan judul dalam bahasa inggris yang seharusnya adalah creative junkie. Dan itu merupakan kesengajaan dari penulis, maka bila ada yang ikut-ikutan menggunakan istilah creative junkies maka dia ikut-ikutan keliru.

Belum lama ini saya main ke acara bernama Selamat Pagi yang diadakan yayasan Kampung Halaman setiap beberapa bulan sekali di Minggu pagi. Saya senang mendatangi acara ini karena jujur saya merasa takjub pada sebuah acara yang diadakan di tepi Sungai Kelanduan di Mlati, Sleman yang mana dihadiri oleh beragam orang dengan beragam style, dengan bintang tamu yang seringkali asing namun selalu menarik, juga lapak-lapak yang tak biasa.

Salah seorang yang menarik perhatian saya adalah mbak-mbak yang mengenakan sepatu converse dengan warna berbeda, yang satu pink muda dan satunya biru muda. Sekilas tidak terlalu terlihat karena model sepatunya sama dan warnanya cocok. Entah memang si mbak tersebut membeli sepatu yang kanan kiri warnanya beda ala Joger nya Bali, atau dia memang sengaja membeli dua sepatu sejenis untuk di mix. Yang jelas, saya merasa orang kreatif ada dimana-mana. 

Lalu beberapa waktu yang lalu, adek saya yang masih SMA bercerita perihal dua seragam OSISnya yang harus dipakai empat hari dalam seminggu. Sebenarnya ini normal, tapi adek saya itu tipikal yang selalu pulang sore sehingga bagaimanapun seragamnya harus dicuci setiap hari. Jadi permasalahan muncul ketika hari sebelumnya lupa nyuci atau karena cuaca yang terus menerus hujan menyebabkan seragamnya belum kering. Suatu hari dia menunjukkan seragam osisnya yang ber-badge warna coklat pudar dan bercerita bahwa sebenarnya itu seragam SMPnya. Awalnya saya merasa itu normal, seragam SMP yang masih bagus bisa aja dipake lagi cuma tinggal diganti badge. Tapi ternyata itu tetep badge OSIS SMP, yang dia warnai pake spidol. Rupanya seragamnya lagi-lagi belum kering dan kalau ganti badge dulu, bisa-bisa dia terlambat sekolah yang hari itu masuk jam setengah 7. Apakah temen-temennya sadar? Dia justru cerita-cerita ke temen-temennya dan bangga sebagai ketua OSIS yang melakukan sedikit kreasi pada seragamnya. Terserah kamu deh dek..

Well ya, ini memang tulisan lama yang mengendap di notes google keep saya. Ada beberapa tulisan random yang belum saya publish karena niatnya mau ditambahin tapi malah kelupaan hingga membusuk. Akhirnya saya putuskan tulisan setengah jadi macam ini tetap akan saya publish sembari mengalihkan perhatian publik atas tulisan terakhir saya, yang demi kebaikan bersama, sudah saya unpublish. Karena ini bukan koran atau majalah, mohon maklum atas kurangnya aktualitas. Mau tau kabar aktual dari saya? Silahkan japri. Terimakasih 😁




Saturday, 5 November 2016

Wanita

Laki-laki menuntut perempuan sempurna, jauh lebih daripada perempuan menuntut kesempurnaan dari seorang laki-laki.
Ukuran kewanitaan dari seorang perempuan memang jauh lebih banyak dari ukuran kepriaan seorang lelaki. Bahkan istilah kewanitaan sangat lazim terdengar, sementara istilah 'kepriaan' rasanya tak pernah ada. Mungkin lebih akrab ditelinga dengan istilah kejantanan pria, kali ya. Tapi rasanya kata jantan lebih berasosiasi dengan dunia seks, ketimbang asosiasi peran pria sebagai laki-laki dewasa. Rasanya kebanyakan orang sepakat bahwa wanita idaman adalah wanita yang cantik parasnya, anggun lakunya, halus perkataannya, bisa memasak, bisa menjahit, bisa mengurus rumah tangga, cerdas mendidik anak, dan manja sekaligus mandiri. Sementara itu sebagian perempuan menyatakan bahwa lelaki idaman hanyalah lelaki yang mapan secara ekonomi, serta dapat dijadikan imam ditunjukkan dengan akhlak dan ibadahnya yang baik. Nah, kan!

Akhir-akhir ini topik tentang wanita sering muncul ke permukaan seputar saya berada.

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara pembacaan puisi bertemakan wanita yang diselenggarakan teater lilin di Indiecology Cafe. Ada sebuah puisi yang begitu menarik perhatian saya, berjudul Nyanyian Angsa karya W.S. Rendra. Puisi ini bercerita tentang wanita pekerja seks yang terkena penyakit menular seksual. Dia diusir dari rumah pelacuran. Dia miskin dan tidak bisa membayar pengobatan. Dia harus menanggung semua penderitaannya sendiri akibat keputusannya melacur. Padahal bukankah tidak ada wanita manapun yang bersedia menjadi pelacur jika tidak terhimpit tuntutan ekonomi?
Kutipan puisi tersebut bisa dibaca 
di sini.

Lalu beberapa hari yang lalu saya juga tak sengaja mampir ke Bentara Budaya dan melihat pameran fotografi yang mengambil tema serupa, karya anak-anak Kolase Debrito.

Wanita itu makhluk yang istimewa. Bahkan Tuhan menurunkan sebuah surat khusus dalam kitab suci Alquran, Surah An Nisa yang artinya perempuan.

Berbicara tentang wanita tidak pernah terlepas dari topik emansipasi, kemudian berkembang menjadi tarik ulur peran wanita sebagai ibu (rumah tangga) dengan peran wanita sebagai tulang punggung keluarga. Sosok wanita sebagai tulang punggung keluarga bisa muncul sebagai wanita karier baik yang melakukan pekerjaan yang bersifat universal atau wanita melakukan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki seperti menjadi supir bus, pembantu rumah tangga, Tenaga Kerja Wanita di luar negeri, bahkan pekerja seks komersial.


Berhubung saya tidak bisa menemukan sumber yang menjelaskan emansipasi menurut R.A. Kartini, saya mengambil sumber KBBI saja. Emansipasi (n) menurut KBBI: 1. pembebasan dari perbudakan; 2. Persamaan hak di berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria).

Dulu seorang istri dikenal dengan sebutan 'konco wingking' atau artinya 'teman belakang' yang hanya bertugas masak di dapur dan tidak pernah dilibatkan diskusi topik-topik penting di ruang tamu. Perempuan dulu tidak boleh bersekolah, kecuali mereka yang ningrat. Bahkan peran wanita didiskreditkan dengan singkatan 3 M (Masak, Macak, Manak).

Saat ini wanita sudah diperbolehkan bersekolah, bekerja, dan menduduki jabatan pemerintahan. Emansipasi wanita saat ini lebih diartikan bahwa wanita tak hanya bisa setara dengan pria dan memegang jabatan-jabatan penting di pemerintahan, tapi justru bisa mengungguli pria. Kemudian para wanita mulai meninggalkan peran pokoknya, maka tak jarang wanita modern yang menjelma kaum urban tak lagi bisa memasak, atau lihai menggendong anak mereka sendiri. Alih-alih menikah dan mengurus rumah tangga, mereka lebih suka bercengkerama dengan laptop di dalam gedung pencakar langit, mengejar karier setinggi gedung tempat mereka bekerja. Mereka bersekolah tinggi dan berkarier hebat mengatasnamakan emansipasi. Lalu melupakan peran alami mereka sebagai wanita. Tentu tak semua perempuan modern demikian.

Rasanya ini mirip-mirip kasus para buruh yang tertindas karena kapitalisme, kemudian ketika dibela mereka justru sering mengadakan demo menuntut kenaikan gaji yang tidak rasional besarnya. Kurang ajar sekali, yang tadinya tertindas sekarang jadi ngelunjak!

Saya bukan menolak emansipasi, toh saya termasuk penikmat emansipasi dimana saya bisa bersekolah tinggi dan saya juga memiliki keinginan bekerja. Hanya saja, menurut saya pembagian peran itu perlu. Seperti pembagian kerja yang dikenal dalam dunia kerja, spesialisasi akan lebih meningkatkan produksi baik dari segi kualitas maupun kuantitas, ketimbang semua pekerjaan dari sektor hulu ke hilir dilakukan oleh satu orang yang sama. Contohnya ketika kita akan memproduksi sebuah kursi, akan lebih mudah ketika ada yg khusus menebang pohon menjadi kayu di hutan, ada yg khusus menggergaji balok-balok kayu dan menghaluskannya, ada yg khusus menyusun balok kayu dan menambahkan paku agar terbentuk kursi, ada yg khusus mengecat, dst.


Jadi menurut teori ekonomi, akan lebih menguntungkan sebuah wilayah memproduksi satu komoditas unggulan mereka dan menjualnya ke luar daerah tsb untuk membeli komoditas lainnya ketimbang memproduksi semua komoditas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Duh, lagi-lagi tulisan saya melantur kemana-mana. Intinya saya hanya ingin bilang bahwa perempuan memang seharusnya berperan demikian sesuai dengan kodratnya. Toh terpilihnya peran wanita tentunya sudah disesuaikan dengan karakter perempuan, makhluk ciptaan Tuhan.

Memang seharusnya perempuan lah yang mengurus anak, karena mereka yg melahirkan anak sehingga perempuan memiliki sisi keibuan jauh lebih besar dari laki-laki. Katanya, perempuan itu multi tasking makanya perempuan sejak jaman dahulu kala diberi peran yg sedemikian rupa banyaknya. Tapi kadang perempuan modern lupa bahwa pemilihan peran yg sudah ditentukan dari entah peradapan jaman kapan, memang sudah diatur sesuai kecocokan fisik, psikologi, dan lain-lain.

Bagaimana jika peran wanita ditukar menjadi peran laki-laki? Bisa saja, jika dilatih. Toh sekarang chef dan koki terkenal didominasi laki-laki. Ada juga pembantu rumah tangga laki-laki. Tapi tetap saja, ibarat berbakat melukis dipaksa belajar bermain musik.

Sebenarnya ini tulisan lama yang mengendap di folder Draft di laptop saya, dan saya kehilangan hasrat melanjutkan tulisan ini, maka saya publish saja seadanya. Mungkin akan saya lanjutkan ketika saya sudah berhasrat menulis lagi tentang topik ini, karena topik mengenai wanita itu sangat luas. Saya belum menyentuh isu feminisme yang hingga saat ini belum saya pahami. Saya belum membahas mengenai wanita yang sering dipersalahkan karena mengundang hasrat lelaki untuk melakukan pelecehan seksual. Tapi mungkin lain kali saja.

Masih dalam Pencarian

Tak perlu mati-matian mencari hal yang tidak dibawa mati.” –Emha Ainun Najib
Beberapa hari yang lalu saya ikut kelasnya Akademi Berbagi yang diisi sama Rene Suhardono. Yang membuat saya tertarik mengikuti kelas ini bukan karena pengisinya yang baru belakangan saya tau kalau beliau itu orang keren, tapi karena judul kelasnya Urip Iku Kudu Urup! Skills to design your life. Pas sekali buat saya yang sedang merasa mati di tubuh yang hidup. Sebenarnya saya sudah lama tau bahwa Akademi Berbagi sering mengadakan kelas dengan pembicara hebat soalnya kakak saya volunteer akber di Jember, tapi baru kali ini saya memutuskan untuk mencoba hadir di kelas akber. Sebelum ini saya sama sekali tidak mengenal mas Rene, saya baru mencari tau siapa Rene pas memutuskan daftar kelas akber. Dan ternyata beliau itu penulis buku yang saya sempat tertarik beli tapi belum jadi beli karena bukunya mahal :v
Jadi saya sama sekali belum pernah baca bukunya, apalagi tau bentukannya mas Rene.hehe

Dua jam sesi seru bersama mas Rene terasa sangat singkat karena ternyata beliau orangnya kocak abis. Kenapa gak ikut stand up comedy aja mas? Hehe. Sebenarnya mas Rene hanya melontarkan beberapa isu meresahkan yang sudah sempat saya pikirkan, yang terkubur oleh banyak hal permasalahan saya yang lebih urgent. Diantaranya mengenai bisnis pendidikan. Beliau menyinggung biaya Perguruan Tinggi yang begitu mahal, hanya demi mendapatkan selembar kertas ijazah dengan lambang tertentu. Seolah kita memang membeli selembar kertas, karena sering kali lulusan perguruan tinggi tidak siap bekerja dan tidak bisa apa-apa. Buktinya banyak kok lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Sistem pendidikan konvensional akan seperti Blue Bird saat muncul Gojek. Ada beberapa perusahaan yang sudah mengeluarkan teaser bahwa tidak tertarik pada selembar ijazah dan tingginya IPK.

Intinya memprotes sistem pendidikan formal di negeri kita yang masih sangat konvensional. Seorang anak dituntut menghapal semua materi pelajaran, dituntut mengejar ranking satu, dituntut kuliah di universitas ternama, dituntut segera lulus dengan IPK tinggi, lebih bagus lagi sudah mendapat pekerjaan sebelum lulus, dituntut langsung bekerja setelah lulus, kemudian menikah. Well, sebagai seorang anak saya mengakui adanya tuntutan tersebut dari orang tua saya.

Tanpa sengaja hidup kita di desain oleh orang lain dan lingkungan sekitar. Sering kali yang terpikir justru menyalahkan orang lain atau parahnya menyalahkan Tuhan:  yang menciptakan kita siapa, yang membentuk diri kita siapa? Jadi kalau kita tidak bahagia dan hidup kita hancur, salahin siapa? Padahal designer hidup kita ya diri kita sendiri.

Kadang saya merasa sistem yang ada itu tidak humanis. Semua orang dituntut sama, padahal di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar sama, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Mas Rene menganalogikan sebuah kelas yang berisi berbagai jenis binatang, lalu seorang guru meminta seisi kelas untuk memanjat pohon. Tentunya yang paling bersemangat adalah Monyet, dia dengan senang hati memanjat seberapa banyak pohon dan seberapa tinggi pohon yang ada. Gajah cukup kebingungan, kalau saya robohin pohonnya aja gimana pak? Dan yang merasa paling bodoh adalah Si Ikan, karena yang dia tahu hanyalah berenang. So, kenali dirimu sendiri, kenali potensimu.

Oh iya tentang mengenali diri sendiri, saya jadi mau cerita kalau beberapa hari yang lalu saya jatuh dari motor lagi. Jatuhnya pas berhenti di tikungan dan karena motor saya terlalu tinggi atau lebih tepatnya kaki saya terlalu pendek. Di tikungan itu ada lubang drainase yang secara kontur lebih rendah dari jalanan di sekitarnya. Oleh sebab itu, saya biasa berhenti sebelum tikungan. Tapi karena disitu ada orang lain, saya merasa aneh kalau saya berhenti terlalu mundur sebelum tikungan. Maka sayapun maju sedikit dan jatuh. Saya sering ditanyain sama orang-orang lantaran suka aneh kalau bawa motor. Misalnya dulu pas saya suka sengaja pelan-pelan biar kedapetan lampu merah, atau dulu mesti nurunin kaki kalau belok, atau mau nyeberang ke kanan tapi malah minggir ke kiri dulu, atau mau mundurin motor aja mesti turun dulu dari motor, dsb. Tapi itu semua saya lakukan dengan alasan, karena yang paling mengenali diri kita ya diri kita sendiri. Toh itu kan proses, sekarang saya tidak perlu menuggu lampu merah karena udah bisa ganti gear tanpa berhenti. Yang paling tau proses kita sampai dimana kan diri kita sendiri. Jangan kayak saya, pengen keliatan kayak orang-orang lain eh malah jatuh.

Passion is nothing without action. Tidak perlu koar-koar ke seluruh dunia atau setidaknya ke orang tua masing-masing, INI LOOOH PASSION SAYA. Karena mereka tidak peduli, toh yang mereka lihat itu creation. Saya sepakat dengan itu, karena selama ini orang tua saya termasuk yang membebaskan pilihan anaknya asalkan bertanggungjawab. Mereka cuma butuh bukti, seluruh dunia cuma butuh bukti bahwa passionmu itu ada wujudnya dalam bentuk kreasi. Kamu suka menggambar, kamu suka main musik, kamu suka menulis, tunjukkan kalau itu memang bisa menghasilkan uang, kalau passionmu ada wujudnya, kalau passionmu itu bisa buat hidup.

Pesan terakhir mas Rene, cari arah bukan tujuan. Toh kita tidak tau kapan kita mati, toh kalau arahnya sudah benar kita akan terus menuju tujuan yang benar. Kita tersesat bukan karena tidak tau mau kemana, tapi justru tidak tau berada dimana. 

Foto bareng Rene
Sumber: nyolong dari twitternya @EDUHostelJogja



Monday, 1 August 2016

Di Balik Awal yang Baik

Ini merupakan awal bulan sekaligus awal pekan yang menyenangkan. Setelah sekian lama tidak kembali ke Bantul, hari ini saya memutuskan kembali ke Dinas PU Bantul untuk meminjam dokumen RDTR. Siapa sangka ternyata saya justru mendapatkan shp file nya juga. Just for your information, instansi biasanya pelit urusan yang satu ini. Mahasiswa yang se-major sama saya pasti udah pengalaman banget lah ya, jadi korban ribetnya birokrasi di negeri ini. Dari mulai ditolak dinas dengan berbagai alasan, diputer-puterin dari satu dinas ke dinas yang lain, sampai di php in masalah data. Intinya mencari data sekunder di instansi pemerintah, kalau anda sedang tidak beruntung, ribetnya bisa luar biasa. Tapi tidak dengan hari ini, sepertinya saya sedang beruntung. Thanks God, for this nice first day on August.

Saya bahkan beranggapan untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan, terkadang kita perlu melakukan semacam 'merayu'. OMG, don't call me bitch because of this crazy opinion. Yang saya maksud merayu disini adalah dengan berdandan dengan tak cukup sekedar rapi tapi juga menarik. Menggunakan baju yang memang kita tampak bagus mengenakan itu, mengusahakan matching dari atas sampai bawah. Atau bila perlu menggunakan sedikit sentuhan make up seperti bedak, eyeliner, lipstik menurut saya sudah cukup. But, it's work. Mungkin kalau saya tidak berjilbab, sekalian aja buka satu atau dua kancing kemeja bagian atas. Ini bukan bermaksud nakal atau menggoda, hanya demi mendapatkan data dengan mulus dan cepat aja. Prinsip ini tidak hanya berlaku untuk lawan jenis saja, toh semua orang baik perempuan ataupun laki-laki menilai seseorang pertama kali dari tampilan fisiknya.

Penampilan itu segalanya, minimal first impression kita harus bagus. Peduli amat sama impression ke sekian yang terus bakal berkembang seiring semakin seringnya interaksi dilakukan.

Mungkin ini bisa dianalogikan seperti IPK. Ada yang bilang IPK tinggi itu bukan segalanya, yang penting softskill kita. Tapi sebenarnya IPK bagus itu kan tiketnya. Tanpa IPK bagus, meskipun softskill kita bagus tetap saja kita tidak bisa diterima di perusahaan x, misalnya. Menurut saya begitu juga dengan penampilan fisik, fisik menarik itu bukan segalanya, tapi itu tiket. Tak heran semua teman-teman saya mendadak jadi cantik, dan semakin banyak klinik perawatan kecantikan bertebaran disana sini. Mungkin tuntutan cantik di lingkungan dewasa ini semakin meningkat.

Bahkan seorang teman laki-laki pernah secara lugas mengatakan bahwa dia pasti akan menuntut kecantikan dari istrinya siapapun itu nanti.

Cantik? Itu kan relatif. Dan lagi, ada yang lebih penting dari kulit yaitu isinya. Percuma cantik kalau gak punya inner beauty, percuma cantik kalau kelakuan minus, percuma cantik kalau gak diimbangi sama kecerdasan. So, jangan cuma sibuk mempercantik fisik, jangan lupa percantik attitude juga. Satu kertas tempelan di cermin saya yang tiba-tiba terlintas ketika menulis ini, bahkan dalam islam arti dari doa ketika bercermin adalah: ya Allah, sebagaimana Engkau berikan aku rupa yang baik, maka jadikanlah padaku akhlak yang baik.

Di luar itu semua, di luar tuntutan tampil cantik, saya tidak berniat berusaha memikat siapapun. Bukan begitu seharusnya perempuan bersikap? Bukan begitu tujuan adanya hijab?

Demikian, saya berharap skripsi yang penuh drama dan air mata ini segera terselesaikan. Kapan-kapan saya kisahkan drama penuh air mata itu, tapi tidak sekarang. Selamat malam!