Showing posts with label About Kuliah. Show all posts
Showing posts with label About Kuliah. Show all posts

Sunday, 19 May 2013

Survey

Berbicara tentang dunia perkuliahan, sebenarnya saya kangen sama yang namanya survey lapangan. Meskipun yah dulu pas semester awal-awal dikit mengeluh terutama karena gerahnya berpanas panasan di tengah kota, entah di tepi jalan raya atau justru blusukan di permukiman dengan gang yang sempit. Sampai ada guyonan tentang anak PWK, “..kamu kuliah apa mbajak sawah e, kok jadi item begitu..”

Masa-masa semester satu.

Survey Studio. Keinget janjian survey pagi buta jam 5 pagi –buat dapetin foto penampang jalan, foto façade, sama mengukur lebar jalan pakai meteran –tapi namanya juga jam karet, baru pada kumpul jam 7 kurang. Jadilah kami mengukur lebar jalan gejayan sebelum ringroad pada jam segitu dan mesti teriak teriakan “.. awas ada mobil.. cepet cepet sekarang lari ke seberang mumpung sepi.. “ dan juga diiringi klakson kendaraaan yang sliweran lewat.
Tim Studio Satu

Survey tentang elemen pembentuk kota menurut Kevin Lynch di Kecamatan Gondokusuman yang berakhir jalan-jalan ke Galeria Mall.haha :)

Survey ke TPA Piyungan yang segitu jauhnya dari kawasan UGM dan nggak mendapat penjelasan apapun karena lupa membawa surat survey.

Dan juga masa-masa semester dua, yang masih dapat kawasan amatan studio di Kota Yogyakarta. Kebetulan dapat Kelurahan Sosromenduran trus blusukan dari pasar kembang sampai kampung internasional, jalan-jalan keluar masuk Stasiun Tugu dan blusukan sampai permukiman di tepi-tepi relnya.

Trus survey Ndalem di Jeron Beteng. Ternyata sudah banyak Ndalem yang beralih fungsi dari fungsi aslinya karena dijual oleh pemiliknya, ada yang sudah menjadi tempat makan/resto, wisma/penginapan, malah ada yang jadi universitas. Tapi hampir semua masih mempertahankan bentuk aslinya kok. Beruntung, Ndalem amatan saya, Ndalem Purbonegaran, masih difungsikan sebagai Ndalem dalam artian rumah. Kami diijinkan berkeliling di kompleks Ndalem, dan bahkan masuk ke rumah utama hingga masuk kamar tidur. Dan saya cukup tercengang melihat perpaduan yang kontras mengenai desain tradisional bangunan yang kejawen dan juga tambahan perabotan modern di dalamnya seperti kulkas dan springbed. Selengkapnya mengenai Ndalem, postingannya menyusul ya.


Pintu Gerbang Ndalem Purbonegaran

Semester tiga, masanya bolak balik Jogja-Purworejo karena ada aja data yang ketinggalan setelah selama seminggu menginap untuk survey disana. Para cowok-driver-studio-purworejo, kalian hebat guys :)


Mampir bangunan cagar budaya yang udah nggak dipakai, Stasiun Purworejo

Tim Purworejo. 
Ceritanya anak2 kota yang 'gumun' liat sawah.hahahaa peace meeen :)

Dan akhirnya survey pertama di semester empat, survey lapangan ke Kecamatan Kraton, yeah tentu saja sekalian main-main. Survey yang rencananya paling lama makan waktu satu jam jadi makan waktu sekitar 3 sampai 4 jam karena mampir muter-muter Tamansari sama ada insiden ban bocor. Tamansari masih nggak terlalu berubah sejak terakhir kali saya ke sana, selalu menarik untuk belajar komposisi fotografi. Postingan tentang Tamansari menyusul ya.


Bertemu penjual manisan

Tim Survey Kecamatan Kraton



Monday, 11 March 2013

MP3EI


Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan sebuah terobosan baru untuk mewujudkan visi Indonesia, yaitu menjadi Negara Maju dan Sejahtera di Tahun 2025. MP3EI terdiri dari 8 program utama, 6 koridor ekonomi sebagai pusat pertumbuhan, dan 22 kegiatan ekonomi utama yang ditumbuhkembangkan di dalam 6 koridor tersebut. MP3EI ini bersifat sebagai dokumen pelengkap bagi dokumen-dokumen perencanaaan yang ada.

MP3EI mengandung 3 prinsip dasar yang menjadi strategi utama untuk mewujudkan visi Indonesia. Prinsip dasar yang pertama adalah pengembangan potensi ekonomi di 6 koridor ekonomi, yaitu Koridor Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawasi, Bali-Nusa Tenggara, dan Koridor Ekonomi Papua-Maluku. Pengembangan potensi di 6 koridor ini selain berfungsi sebagai upaya pemerataan pembangunan, juga untuk mengembangkan potensi strategis yang dimiliki Indonesia. Indonesia kaya akan berbagai SDA, dan juga secara geografis terletak pada lokasi yang strategis secara ekonomi. Dengan pengembangan potensi di 6 koridor yang telah disebutkan di atas, harapannya SDA dan potensi ekonomi yang dimiliki Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dengan menentukan tema pembangunan di tiap koridor tersebut, para pelaku ekonomi dapat menanamkan investasinya sesuai dengan arahan pengembangan potensi tiap koridor ekonomi.

Kita ketahui bersama bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda, untuk itu diperlukan pengenalan potensi, baik potensi SDA maupun potensi ekonomi berdasar lokasi strategis yang dimiliki oleh tiap wilayah. Selanjutnya potensi tersebut dikelompokkan berdasar kesamaan potensi dan letaknya yang saling berdekatan sehingga terbentuk kluster-kluster. Kluster-kluster tersebut kemudian disinergiskan membentuk suatu koridor ekonomi yang saling terkait. Diperlukannya klusterisasi atau spesifikasi sektor, menjadikan pengembangan potensi ekonomi di tiap koridor, yang sesuai dengan tema pembangunan yang telah ditetapkan, penting untuk dilakukan. Dengan membuat spesifikasi sektor-sektor basis tertentu yang khusus di tiap koridor tersebut, yang tentunya saling terintegrasi, harapannya output yang dihasilkan akan menjadi lebih optimal.
Penentuan tema pembangunan di tiap koridor ekonomi tentunya dengan berdasar data eksisting mengenai angka-angka yang menjadi informasi akan adanya potensi tertentu. Koridor Ekonomi Sumatera akan dikembangkan sebagai sentra produksi berkaitan dengan luas lahan perkebunan kelapa sawit dan jumlah produksi kelapa sawit yang terus meningkat tiap tahunnya. Selain itu di Koridor Ekonomi Sumatera akan dikembangkan pengolahan hasil bumi berkaitan dengan potensi pertambangan, dan sebagai lumbung energi nasional. Kita ketahui bersama, Sumatera memiliki SDA yang dapat dimanfaatkan secara bijaksana, seperti penambangan besi baja, karet, dan batu bara. Hasil bumi tersebut kemudian diolah dan dapat dijadikan sebagai industri hilir seperti misalnya karet alami yang dapat diolah menjadi ban, sarung tangan, sepatu, dan lain-lain. Mengenai tambang batu bara, Sumatera memiliki banyak potensi pertambangan batu bara yang belum di eksploitasi, terutama di Sumatera Selatan. Berdasarkan data dari studi kementrian ESDM, dengan produksi 200juta ton per tahun, Indonesia akan memiliki cadangan batu bara untuk jangka waktu yang lama. Selain potensi SDA, Sumatera juga memiliki potensi ekonomi dari letaknya yang strategis dengan Kawasan Strategis Nasional Selat Sunda sehingga cocok untuk industri perkapalan. Pembangunan Jembatan Selat Sunda tersebut akan menjadi sebuah investasi berupa infrastruktur, yang akan menunjang pertumbuhan di kedua sisi yang dihubungkan.

Koridor Ekonomi Jawa sebagai pendorong industri dan jasa nasional. Pulau Jawa lebih cocok dikembangkan sebagai penyedia makanan minuman, tekstil, peralatan transportasi, perkapalan, telematika, pengembangan jabodetabek area, dan industri alutsia. Industri tekstil dinilai potensial dikembangkan di Jawa karena daya serapnya terhadap tenaga kerja yang cukup tinggi mengingat penduduk Indonesia yang sebagian besar berpusat di Pulau Jawa. Pengembangan jabodetabek area terbentur oleh adanya permasalahan yang disebabkan telah melebihinya daya tampung wilayah. Sehingga muncul pemasalahan seperti kemacetan, kapasitas bandara dan pelabuhan yang sudah tidak mencukupi, hingga masalah air bersih. Untuk itu diperlukan strategi seperti penyebaran aktivitas bisnis ke luar DKI Jakarta sehingga tumbuh pusat pertumbuhan baru dan tidak terus berpusat di Jabodetabek.

Koridor Ekonomi Kalimantan sebagai pusat produksi, pengolahan tambang, dan sebagai lumbung energi nasional. Kalimantan akan dikembangkan produksi kelapa sawitnya berkaitan dengan luas lahan perkebunan kelapa sawit yang mencapai 53% dari total luas perkebunan di Kalimantan, penambangan besi baja, bauksit, batubara, dan migas, serta perkayuan dari hutan yang masih terbentang luas di sana. Dalam rangka memenuhi kebutuhan migas dalam negeri, Indonesia perlu mengembangkan lokasi penambangan migas cadangan yang mana salah satunya terletak di Pulau Kalimantan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia dengan negara lain dalam hal impor minyak bumi yang terus meningkat beberapa tahun terakhir ini. Hasil bumi lain yang tak kalah banyak terdapat di pulau ini adalah cadangan tambang batu bara dan bauksit. Sayangnya pemanfaatan bauksit di Indonesia masih belum maksimal karena sebagian besar tambang bauksit diimpor dalam bentuk mentah, padahal nilai jual tambang mentah dibanding dengan hasil olahannya dapat bertambah berkali lipat. Sehingga dibutuhkan pengembangan industri pengolahan tambang yang serius untuk mengatasi hal ini. Selain itu, identitas Kalimantan sebagai paru-paru dunia terkait luasan hutan di Kalimantan menjadikan Kalimantan memiliki potensi dalam industri perkayuan.

Koridor Ekonomi Sulawasi akan dikembangkan sebagai pusat produksi, pengolahan pertanian, perkebunan, perikanan, migas, dan pertambangan nasional. Sulawesi memiliki SDA berupa nikel dan migas, cocok untuk pertanian pangan, perkebunan kakao, serta perikanan. Pertanian pangan yang akan dikembangkan di Sulawesi mencakup pertanian padi, jagung, kedelai, dan ubi kayu. Mengenai perikanan, terjadi masalah eksploitasi berlebihan beberapa jenis ikan di Sulawesi, oleh karena itu dikembangkan juga perikanan budidaya.

Bali-Nusa Tenggara akan dikembangkan sebagai Pintu Gerbang pariwisata dan pendukung pangan. Bali dan Nusa Tenggara akan dikembangkan untuk pariwisata, peternakan, dan perikanan. Kita ketahui bersama bahwa Bali memiliki daya tarik pariwisata yang tinggi di dunia internasional, untuk itu dibutuhkan strategi pengembangan berupa peningkatan keamanan, promosi, dan pengembangan destinasi wisata di sekitar Bali seperti wisata pegunungan di Jawa Timur dan Lombok, serta wisata hewan endemik di Pulau Komodo. Selain itu pengembangan pariwisata dapat dilakukan dengan meningkatkan service berupa peningkatan kualitas dan kenyamanan pengunjung. Pengembangan pariwisata ini juga didukung dengan pemberdayaan masyarakat dan pengupayaan agar masyarakat lokal sadar wisata.

Koridor Ekonomi Papua-Maluku sebagai penyedia pangan, perikanan, energi, dan penambangan nasional. SDA yang dimiliki papua berupa nikel, tembaga, dan migas, serta cocok untuk pertanian pangan, serta perikanan. Kegiatan pertanian pangan diwujudkan dalam bentuk pengembangan MIFE (Merauke Integrated Food and Energy Estate), yaitu usaha budidaya tanaman skala luas, yang dilakukan dengan konsep pertanian sebagai sistem industri yang berbasis IPTEK, modal, dan manajemen yang modern. Tanaman yang akan dikembangkan dalam MIFE adalah padi, jagung, kedelai, sorgum, gandum, sayur, dan buah-buahan. Selain pengembangan koridor pada tema yang telah disebutkan di atas, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah pariwisata di Raja Ampat.

Prinsip dasar yang ke-2 adalah memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal, dan terhubung secara global (locally integrated, globally connected). Koneksi ini harus menghubungkan intra wilayah, yaitu koneksi di dalam wilayah itu sendiri, menghubungkan antar wilayah, dan internasional. Peningkatan konektivitas nasional mencakup Sistem Logistik Nasional (sislognas), Sistem Transportasi nasional (sistranas), RPJMN/RTRWN, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT). Penguatan konektivitas nasional dapat dilakukan dengan rencana pengembangan jaringan infrastruktur, pengembangan jaringan transportasi, dan pengembangan jaringan broadband. Jadi, yang dihubungkan tidak hanya manusianya, tapi juga untuk mobilitas barang komoditas industri, makhluk hidup selain manusia, jasa dan keuangan, serta koneksi informasi.

Langkahnya adalah membuat koneksi antar pusat pertumbuhan dalam satu koridor yang terintegrasi, kemudian menghubungkan antar koridor tersebut, dan membuka jalur perdagangan internasional di titik-titik strategis. Jalur-jalur strategis untuk memperkuat konektivitas tersebut antara lain selat malaka, selat sunda, selat Lombok-selat makasar, dan selat ombai wetar.

Sebagian besar masalah pengembangan pertambangan di luar Pulau Jawa terkendala masalah ketersediaan infrastruktur yang masih kurang terutama di bidang transportasi untuk mengangkut hasil tambang menuju pelabuhan. Untuk itu diperlukan pembangunan infrastruktur untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi di koridor-koridor ekonomi.

Prinsip dasar yang ke-3 adalah memperkuat kemampuan SDM dan perkembangan IPTEK untuk mendukung pengembangan potensi di 6 koridor ekonomi tersebut. Pertumbuhan ekonomi, selain dipengaruhi oleh SDA, juga sangat terpengaruh pada SDM, sebagai penggerak atau pelaksana  dan di dukung oleh kemajuan IPTEK. Oleh karena itu, meningkatkan kualitas SDM menjadi langkah awal untuk mengembangkan SDA/potensi yang dimiliki Indonesia.

Untuk menghasilkan tenaga kerja yang produktif, dibutuhkan sistem pendidikan yang bermutu dan relevan terhadap kebutuhan pembangunan. Dibutuhkan lulusan SMK dan vokasi untuk menjadi tanaga terampil dan juga lulusan SMA yang selanjutnya akan meneruskan pendidikan ke universitas. Dengan demikian, di tiap kota/ ibukota kabupaten harus terdapat community colleges atau lembaga pendidikan setingkat akademi, sehingga biaya pendidikan dapat ditekan karena tak perlu jauh-jauh dalam melanjutkan pendidikan.  Selanjutnya, mengenai pengembangan IPTEK dapat dilakukan dengan pembentukan kluster inovasi daerah, penguatan aktor inovasi, dan juga mengembangkan perguruan tinggi sebagai pusat riset.

Prinsip-prinsip teknis tersebut tentunya tak lepas dari pra syarat keberhasilan pembangunan, yang meliputi peran pemerintah dalam menciptakan suasana ekonomi makro yang kondusif, dan juga peran dunia usaha dalam peningkatan investasi serta penyediaan lapangan kerja; reformasi kebijakan keuangan negara dengan pembuatan APBN yang kredibel dan berkelanjutan; reformasi birokrasi berupa pelaksanaan good governance; penciptaan konektivitas antar wilayah di Indonesia; kebijakan ketahanan pangan, air, dan energi ; dan juga jaminan sosial dan penanggulangan kemiskinan.

Peran pemerintah dalam pengkondisian ekonomi makro dapat diwujudkan dengan regulasi dan kebijakan yang bersifat mendukung, dan dengan pemberian insentif dan disinsentif terkait arahan pengembangan. Hal itu telah mencakup reformasi kebijakan-kebijakan yang telah disebutkan di atas. Dunia usaha meningkatkan investasi dan pihak swasta bersama dengan pemerintah menciptakan konektivitas yang dapat dijadikan investasi dalam bentuk pembanguan infrastruktur.

Dengan berjalannya semua prinsip-prinsip MP3EI yang dibuktikan dengan berjalannya 22 kegiatan ekonomi utama, maka harapannya goal untuk mencapai Indonesia sebagai Negara Maju di tahun 2025 akan bisa tercapai.

Komentar dan Kritik  Terhadap MP3EI
MP3EI merupakan konsep ideal yang apabila tanpa rencana implementasi yang detail dapat dikatakan terlalu utopianisme, yaitu terlalu mengharapkan sesuatu yang terlalu tinggi dan hampir mustahil untuk dicapai. Namun dengan rencana implementasi yang dilengkapi langkah-langkah konkret, MP3EI menjadi sangat mungkin diimplementasikan. MP3EI tak hanya sebatas konsep, tapi sudah seperti sebuah buku panduan. Selain itu, MP3EI didukung oleh data-data yang faktual yang disuguhkan dalam skema yang menarik dan informatif cenderung dapat dimengerti bahkan oleh orang yang tidak berkecimpung di bidang-bidang yang disebutkan.

Tentunya dibutuhkan kerjasama dari semua pihak baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta hingga masyarakat Indonesia pada umumnya untuk mewujudkan visi Indonesia melalui MP3EI ini. Karena MP3EI mencakup seluruh aspek dan membutuhkan penanaman modal yang besar dari berbagai pelaku ekonomi di atas. Peran masyarakat Indonesia adalah sebagai SDM yang diharapkan mampu menjadi penggerak untuk mengembangkan koridor ekonomi di Indonesia.

Ketiga prinsip utama dalam MP3EI merupakan sesuatu yang memang paling mendasar untuk pengembangan suatu wilayah. Prinsip pertama, dengan menciptakan koridor-koridor ekonomi, berarti kita harus benar-benar memahami karakter dan potensi dari tiap wilayah di seluruh Indonesia terlebih dahulu baru kemudian dapat menciptakan sebuah koridor ekonomi. Setelah berhasil menemukan potensi strategis, langkah selanjutnya adalah mengembangkannya dan mensinergiskan potensi-potensi tersebut.

Ironisnya, kadang Indonesia terlambat mengenali potensi SDA yang dimilikinya dan justru pihak asing yang mengeruk keuntungan tanpa memberikan spread effect pada masyarakat lokalnya, seperti kasus penambangan emas Freeport. Jadi prinsip pertama ini memang merupakan langkah paling awal.

Mengenai potensi tambang di Indonesia, yang menjadi masalah adalah ketika pemerintah tidak bisa mengawasi akan adanya eksploitasi secara besar-besaran yang tak bertanggungjawab. Tentunya hal ini dapat merusak lingkungan yang upaya untuk pemulihannya sangat sulit dilakukan. Seperti kasus illegal logging yang terjadi di Sumbawa, perusahaan industri perkayuan yang memiliki ijin legal justru bangkrut karena kalah bersaing dengan illegal logging yang tak pernah berhenti siang-malam. Ironisnya, para pelaku illegal logging ini menggunakan jalur transportasi yang sama dengan PT. Veneer Indonesia selaku perusahaan industri perkayuan yang legal, dan justru menjadi tak bisa dibedakan truk pengangkut milik perusahaan atau milik pelaku illegal logging. Sementara aparat terkait yang bertugas menangani maslah ini belum bisa benar-benar diandalkan.

Kemudian dilanjutkan dengan prinsip yang ke-2 yang tak kalah penting, yaitu menghubungkan antar pusat pertumbuhan dan antar koridor ekonomi. Penguatan konektivitas ini juga berarti dengan menambah ketersediaan infrastruktur di dalam koridor-koridor ekonomi sebagai  salah satu bentuk investasi negara. Dengan memiliki aksesibilitas yang mudah, dapat mengurangi biaya distribusi barang yang berdampak pada menurunnya harga barang kebutuhan. Dengan menurunnya harga barang kebutuhan, maka akan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga harapannya masyarakat Indonesia akan lebih sejahtera.

Sedangkan prinsip yang ke-3 merupakan kunci dari kedua prinsip di atas. Dengan adanya potensi dan koneksi yang menghubungkan, tanpa adanya SDM sebagai pelaksana maka tidak akan berjalan. Untuk itu dibutuhkan SDM yang berkualitas dan memiliki daya saing sehingga Indonesia dapat bersaing secara global. SDM yang berkualitas akan mampu menciptakan inovasi teknologi baru yang tentunya membantu dalam efektivitas faktor-faktor produksi. Selain itu, SDM yang berkualitas akan mampu mengenali dan mengembangkan potensi-potensi strategis yang dimilikinya sehingga tak lagi termanfaatkan oleh pihak asing.

Kesimpulan yang dapat saya tarik, MP3EI merupakan suatu dokumen konsep yang dapat membuka sudut pandang optimis bahwa Negara Indonesia bisa menjadi Negara yang maju dengan usaha-usaha tertentu yang lebih dari sekedar ‘Business as Usual’. Arahan pengembangan yang tercantum dalam MP3EI cukup akurat karena dilengkapi data-data yang mendukung. MP3EI juga dilengkapi dengan petunjuk praktis mengenai tahapan pelaksaannya dan tiap kegiatan ekonomi utama di tiap koridor ekonomi dijabarkan dengan sedemikian rupa, sehingga memudahkan para stakeholder dalam mengimplementasikan rencana besar ini.


Saturday, 19 January 2013

Stake Holder Penting dan Pola Hubungannya

Studi Kasus: Jalan Palagan Tentara Pelajar, Ngaglik, Sleman

Dalam perkembangan suatu wilayah, hampir selalu dipengaruhi oleh 3 elemen penting, yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat lokal. Tak terkecuali perkembangan Jalan Palagan Tentara Pelajar ini. Perbedaannya terletak pada peran yang lebih dominan dalam mempengaruhi arah perkembangan suatu wilayah. Pemerintah berperan dalam memperhatikan kepentingan publik yang berupa konsensus kebutuhan dasar sebagai basis pembentukan pola guna lahan dan menjaga kesesuaian lahan demi keseimbangan ekologi. Kemudian peran swasta sebagai investor, melalui kegiatan interaksi ekonomi membentuk pola guna lahan. Sedangkan peran masyararakat lokal melalui proses sosial membentuk struktur fisik spasial yang pada akhirnya juga membentuk pola guna lahan.

Jalan Palagan Tentara Pelajar terletak di sebelah utara perempatan ringroad utara, tepatnya sebelah utara jalan Monjali, Kecamatan Ngaglik, Sleman. Jalan Palagan Tentara Pelajar merupakan jalan alternatif untuk menuju Kaliurang selain Jalan Kaliurang. Sepanjang kiri dan kanan jalan ini dulunya didominasi oleh sawah dan perkebunan. Namun semenjak di bangun ringroad dan munculnya universitas-universitas besar di bagian utara Kota Yogyakarta seperti UGM, UII, UPN, UTY, dan sebagainya maka kawasan ini ikut berkembang, menjadi ramai dengan muncul dan berkembangnya tempat-tempat makan, butik/distro, dan tak ketinggalan pasar modern seperti Indomaret dan Alfamart.

Berdasar letaknya, sebenarnya Kabupaten Sleman lebih cocok dijadikan sebagai daerah resapan air bagi Yogyakarta dan daerah-daerah dibawahnya. Daerah resapan air ini menjadi penting untuk diperhatikan untuk menjaga keseimbangan lingkungan sehingga terhindar dari bencana banjir dan kekeringan. Selain itu, kesesuaian guna lahan penting diperhatikan karena prinsip efisiensi dan prinsip resiko. Oleh karena itu, semestinya ada arahan kebijakan atau regulasi yang mengatur dan membatasi pemanfaatan ruang wilayah di Kabupaten Sleman ini agar dalam perkembangannya tetap sesuai pada koridor yang diinginkan.

Nah, disinilah peran pemerintah dibutuhkan kaitannya dengan perkembangan suatu wilayah. Pemerintah yang dimaksud disini adalah satuan pemerintahan yang menjadi pihak pemangku kepentingan yang memiliki tugas dan wewenang di wilayah tersebut, dalam hal ini yaitu BAPPEDA Kabupaten Sleman, Bupati Sleman, dan seterusnya termasuk ketua RW dan ketua RT. BAPPEDA membuat arahan perkembangan wilayah yang tertuang dalam RTRW, RDTRK, atau perundangan lainnya yang mengatur mengenai hal ini. Berdasarkan Perda nomor 12 tahun 2012 tentang RTRW, pengendalian pemanfaatan ruang ditempuh dengan menetapkan peraturan zonasi, perijinan, pemberian insentif dan disinsentif, dan kemudian memberikan sanksi apabila melanggar peraturan zonasi. Untuk menjamin kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang, ditetapkan perijinan yang terdiri atas izin prinsip, izin lokasi, izin penggunaan pemanfaatan tanah, izin mendirikan bangunan, dan izin lain berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Mengenai ketentuan insentif dari pemerintah daerah kepada masyarakat, dapat diberikan dalam berbagai bentuk, seperti pemberian kompensasi, pengurangan retribusi, imbalan, sewa ruang dan urun saham, penyediaan prasarana dan sarana, penghargaan, dan/atau kemudahan perizinan. Sedangkan mengenai pemberian disinsentif dapat berupa pengenaan pajak atau retribusi yang tinggi, pemberian persyaratan khusus dalam proses perizinan, dan/atau pembatasan penyediaan prasarana dan sarana infrastruktur.

Masih mengacu pada peraturan yang sama, Kecamatan Ngaglik ditetapkan sebagai kawasan yang sesuai untuk pertanian tanaman pangan yang meliputi padi, jagung, kacang tanah, umbi-umbian, dan tembakau. Selain itu, sepanjang Jalan Palagan Tentara Pelajar juga ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Perkotaan mengingat jalan tersebut saat ini cukup ramai dengan wisata kulinernya.

Di samping itu, pihak investor atau pihak swasta mulai berlomba berinvestasi di kawasan ini karena terlihat menjanjikan di kemudian hari. Setelah dibangun Hotel Hyatt, mulai muncul spread effect berupa resto-resto dan tempat makan seperti Pecel Solo, Sasanti, Ikan Bakar Cianjur, Taipan Suki, Naniek Resto, Pelem Golek, Kapulaga, Kangen Laut, Paripari, Sego Abang Bale Kedhaton, Ayam Keprek Istimewa, Sayur Desa, Dae Jang Geum, Bumbu Djawa, Nasi Pecel Yu Sri, dan Family Resto Asfira, dan sebagainya. Selain tempat makan, juga banyak bermunculan bangunan-bangunan lainnya seperti kantor developer Arya Guna Putra, kantor-kantor cabang bank swasta, dan pasar modern berupa minimarket seperti Indomaret dan Alfamart. Dengan demikian diharapkan para investor tetap memperhatikan etika dalam melakukan alih fungsi lahan dan tidak mengejar keuntungan semata. Peran investor dapat berupa ikut mendukung dan melaksanakan arahan kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan demi kebaikan bersama serta membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Untuk pasar modern ini, semestinya ada pembatasan mengenai jumlah dan jarak minimal antar minimarket. Karena apabila tidak ada pembatasan, nantinya akan terus bermunculan pasar-pasar modern secara tak terkendali yang kemudian berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar yang juga membuka warung kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Namun sayangnya, saat ini belum ada regulasi yang mengatur mengenai pembatasan jarak minimal antar minimarket di Jalan Palagan Tentara Pelajar ini. Sehingga fenomena yang terlihat adalah Indomaret yang hanya berjarak beberapa bangunan dengan Alfamart. Hal ini tentunya akan menjadikan saingan yang berat bagi masyarakat lokal, dan apabila tidak segera diambil tindakan dapat mematikan perekonomian masyarakat kecil.

Menurut hasil wawancara dengan salah satu ketua RW yang sekaligus selaku warga lokal di Jalan Palagan Tentara Pelajar ini, belum lama ini ada pengajuan ijin dibangunnya pasar modern yang lebih besar, yaitu SuperIndo. Namun menilik dampaknya terhadap perekonomian masyarakat lokal, rencana pembangunan tersebut tidak mendapat ijin dari ketua RW. Sayangnya untuk rencana pembangunan pasar modern yang lebih kecil, seperti Indomaret dan Alfamart, perijinannya tidak sampai pada tingkat RW.

Seperti telah disebutkan di atas, masyarakat lokal juga memegang peranan tersendiri dalam perkembangan suatu wilayah. Masyarakat lokal dalam hal ini adalah penduduk asli dan pemilik usaha-usaha kecil seperti warung kelontong dan bengkel. Masyarakat lokal selaku penghuni, bisa jadi menerima dampak positif maupun dampak negatif dari berkembangnya suatu wilayah. Terkena dampak positif apabila pihak-pihak swasta yang berinvestasi di kawasan tersebut menggunakan sumber daya lokal dalam pengembangan usahanya dan juga apabila dalam melakukan alih fungsi lahan tersebut pihak investor tetap memperhatikan etika, baik etika ekologis, etika sosial ekonomi budaya, maupun etika antar generasi. Hal itu juga didukung oleh tata peraturan yang berlaku yang bersifat melindungi masyarakat lokal. Selain itu, dengan berkembangnya suatu wilayah, tentunya meningkat pula ketersediaan infrastruktur, keamanan, dan fasilitas yang ada di wilayah tersebut sehingga memudahkan masyarakat lokal dalam memenuhi kebutuhannya. Misalnya saja apabila ingin mencari makan di malam hari maka dengan mudah dapat mendapatkannya, tidak seperti dulu ketika kawasan tersebut masih tergolong sepi. Sedangkan dampak negatif yang mungkin diterima masyarakat berupa kerusakan lingkungan, kehilangan ketenangan di malam hari, dan juga dampak perekonomian yang mungkin ditimbulkan atas berdirinya usaha-usaha baru tersebut.

Mengenai keterkaitan antara pihak swasta dengan masyarakat lokal cukup banyak terjadi. Seperti telah disebutkan diatas, pihak-pihak investor bisa menggunakan sumber daya lokal, dalam hal ini masyarakat lokal sebagai tenaga kerja di usaha mereka. Misalnya saja sebagai pegawai Hotel Hyatt, pegawai resto, dan sebagainya. Contoh keterkaitan lainnya ditunjukkan dengan pemberian kesempatan kepada masyarakat lokal untuk menggunakan fasilitas-fasilitas tertentu, misalnya penggunaan lapangan tenis di Hotel Hyatt setiap Sabtu pagi. Selain itu banyak pegawai Hotel Hyatt yang mencari kost/tempat tinggal sementara di lingkungan sekitar. Tentunya hal ini menguntungkan masyarakat karena dapat menambah pendapatan masyarakat yang membuka usaha kost.

Akan tetapi, ada juga dampak negatif dari berkembangnya kawasan ini yaitu dengan munculnya minimarket yang bersaing dengan warung-warung milik warga, tentunya justru dapat melemahkan perekonomian masyarakat kecil. Mengenai kerusakan lingkungan berupa polusi udara akibat bertambah ramainya lalu lintas di Jalan Palagan Tentara Pelajar ini, dapat terjadi semakin parah apabila tidak diimbangi dengan penghijauan dan pembuatan kebijakan atau aturan mengenai penggunaan persil bangunan yang harus tetap menyediakan RTH dan tidak menggunakan seluruh luasan persil sebagai lahan terbangun.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam perkembangan suatu wilayah, antar stakeholder, yaitu pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat lokal terjadi tarik ulur sesuai dengan kepentingan masing-masing. Pemerintah sudah semestinya menjadi penengah antara kepentingan masyarakat dengan pihak swasta yang cenderung hanya mencari keuntungan tanpa mempertimbangkan kerusakan lingkungan atau dampaknya bagi masyarakat sekitar. Sedangkan antara masyarakat dengan pihak swasta sebaiknya menjaga pola hubungan saling menghargai dan saling membutuhkan sehingga keberadaan investor justru membantu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Antara pemerintah dan swasta juga dapat berkembang pola hubungan kerjasama saling menguntungkan berupa pembayaran pajak yang dapat menambah pendapatan daerah. Jadi sudah semestinya peran antar stakeholder tersebut saling terkait guna tercipta kawasan yang sustainable.



Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2012/08/15/07415981/Palagan.Kuliner.di.Utara.Yogya


Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sleman Tahun 2011-2031,

Peraturan Daerah No. 12 Tahun 2012 Tentang RTRW, dan

Wawancara dengan Masyarakat Lokal.

Saturday, 26 May 2012

Tentang Neo-Malthusianisme


Terdapat 2 konsep yang bertolak belakang mengenai pertumbuhan penduduk. Konsep yang pertama adalah konsep Neo-Malthusianisme atau pandangan pesimistik dan konsep yang ke-2 adalah konsep creative pressure atau pandangan optimistik. Disebut pandangan pesimistik karena melihat adanya pertumbuhan penduduk yang besar sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif, menimbulkan banyak masalah, dan hal-hal lain yang mengindikasikan hal buruk. Sebaliknya, pandangan optimistik melihat adanya pertumbuhan penduduk sebagai sesuatu yang bernilai positif, karena dengan timbulnya berbagai permasalahan kependudukan, justru akan memancing kreativitas kita untuk mencari alternatif solusinya.

Pandangan Neo-Malthusianisme berpokok pada pembatasan pertumbuhan penduduk dengan cara pembatasan kelahiran. Konsep ini lebih bisa diterima melihat fakta selama ini bahwa jumlah penduduk yang besar justru menimbulkan berbagai masalah, seperti masalah kelangkaan sumber daya alam, kerusakan ekologi, kekurangan pangan, pengangguran yang berdampak timbulnya kriminalitas, kemiskinan, kesehatan, dan menurunnya kualitas sumber daya manusia. Dengan adanya pertimbangan tersebut, membatasi jumlah kelahiran penduduk rasanya menjadi solusi kongkrit yang dapat diimplementasikan saat ini. Membatasi kelahiran dapat dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi atau dengan penyuluhan/pemberian informasi kepada masyarakat mengenai dampak dari besarnya pertumbuhan penduduk.

Tak dapat dipungkiri bahwa manusia dalam perkembangan hidupnya sangat bergantung pada alam. Untuk memenuhi kebutuhan transportasi misalnya, dengan adanya kelangkaan dan rencana kenaikan BBM saja masyarakat menjadi resah dan sangat menolak. Hal itu menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa SDA. Disisi lain, melihat kekurangan dari pandangan creative pressure, yaitu tidak memperhatikan bahwa belum tentu dapat ditemukannya solusi akan permasalahan-permasalahan yang timbul akibat tingginya jumlah penduduk. Apabila manusia tidak dapat menggunakan SDA secara lebih efektif, cerdas, dan bijaksana, SDA justru akan menjadi masalah. Contohnya saja pengeboran minyak bumi di Sidarjo yang tidak sesuai prosedur sehingga justru menjadi bencana lumpur Sidarjo. Kemudian yang baru-baru ini terjadi, bencana nuklir di Fukushima, Daichi, Jepang.

Selain itu masalah kerusakan lingkungan yang akhir-akhir ini menjadi trending topic, kita dihadapkan pada masalah pemanasan global, yaitu meningkatnya suhu rata-rata dipermukaan bumi akibat meningkatnya gas-gas efek rumah kaca. Salah satu gas efek rumah kaca adalah CO2, padahal CO2 merupakan sisa pembuangan utama pernapasan manusia. Dan juga limbah-limbah yang dihasilkan manusia, baik limbah rumah tangga maupun limbah dari pabrik industri, apabila tidak dikelola dengan baik, akan mencemari lingkungan.

Pertumbuhan penduduk dapat dilaksanakan dengan program Keluarga Berencana atau dengan cara peningkatan ekonomi. Karena banyak studi kasus membuktikan bahwa semakin tinggi angka pendapatan di suatu wilayah maka semakin rendah angka IMR nya.

Kesimpulannya, pandangan Neo-Malthusianisme sangat sesuai diterapkan di Indonesia yang merupakan negara berkembang dengan jumlah penduduk sangat besar. Harapannya apabila angka kelahiran dibatasi, akan mengurangi masalah kependudukan yang ada dan Indonesia dapat lebih maju.

Friday, 30 December 2011

Perkembangan Kota Yogyakarta dari Tahun 2006

Melihat sejarah Kota Yogyakarta yang dibangun dengan poros imajiner dari utara ke selatan, yaitu Gunung Merapi-Tugu-Keraton-Panggung Krapyak-Laut selatan, Kota Yogyakarta awalnya berkembang di sepanjang garis lurus tersebut. Selain itu, karena Kota Yogyakarta bagian selatan merupakan bekas kerajaan Mataram Islam, dan pusat kota Yogyakarta sendiri adalah bekas keraton Ngayogyakarta, terdapat pola catur gatra tunggal yaitu yang terdiri dari keraton, masjid agung, alun-alun, dan pasar. Sehingga perkembangan permukiman-permukiman cenderung berpusat di sekitar pola catur gatra tersebut karena adanya pusat kegiatan yang berupa pasar.

Pada perkembangan selanjutnya, Kota Yogyakarta lebih berkembang di bagian utara. Sehingga terjadi ketimpangan yang cukup terasa antara perkembangan ekonomi di kabupaten Sleman yang terletak di utara dengan perkembangan ekonomi di kabupaten Bantul yang terletak di selatan. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh munculnya kampus-kampus besar di sebelah utara Kota Yogyakarta, seperti Universitas Gajah Mada(UGM) dan Universitas Islam Indonesia(UII). Dengan adanya kedua kampus besar yang dihubungkan dengan jalan kaliurang tersebut, menyebabkan bermunculan pusat-pusat perekonomian baru di sepanjang jalan kaliurang. Mulai dari penyewaan kamar kost, jasa laundry, jasa photo copy, tempat makan, dsb. Kemudian mulai muncul tempat-tempat hiburan di jalan lingkar utara(ringroad utara) seperti tempat karaoke Happy Puppy, studio musik, dsb. Pusat-pusat ekonomi tersebut kemudian berkembang semakin besar, sehingga daerah tersebut semakin ramai dan berkembang.

Pemerintah Kota Yogyakarta kemudian mulai berusaha meratakan perkembangan ekonomi ini melalui pemerataan pembangunan dengan membangun pusat-pusat perekonomian baru di bagian selatan Kota Yogyakarta. Di mulai dari pembangunan Terminal Giwangan di ujung selatan Kota Yogyakarta, Jogja Fish Market/Pasar Ikan Higienis yang mulai beroperasi pada akhir 2007, dan belakangan ini pemkot Yogyakarta sedang gencar-gencarnya membangun XT Square/Pasar Seni Kerajinan Yogyakarta yang terletak di bekas Terminal Umbulharjo. Selain itu juga mulai muncul Universitas Muhammadiyah Yogyakarta(UMY) di jalan lingkar selatan(ringroad selatan). Harapannya, dengan adanya pusat-pusat kegiatan dan pusat ekonomi tersebut, mulai muncul semangat ekonomi di jogja selatan.

Namun sayangnya usaha pemkot Yogyakarta untuk mengembangkan pusat-pusat ekonomi tersebut masih kurang berhasil. Kios-kios yang dibangun di Terminal Giwangan banyak yang belum termanfaatkan secara optimal. Banyak kios yang tutup karena bangkrut dan sepi pengunjung. Jogja Fish Market yang diharapkan menjadi magnet jual-beli ikan di jogja bagian selatan ternyata juga sepi pengunjung. Hal itu kemungkinan disebabkan promosi yang dilakukan kurang gencar dan kurang menarik. Pembangunan fisik bangunan XT Square yang sudah selesaipun juga terbentur dengan perijinan yang belum tuntas, sehingga sampai saat ini XT Square belum dapat dioperasikan.
Setelah terjadi gempa 27 Mei 2006 dengan kekuatan 5,9 skala richter,  banyak terjadi kerusakan fisik bangunan di bagian selatan Kota Yogyakarta mengingat pusat gempa berada sekitar 25 km selatan-barat daya Kota Yogyakarta. Namun ironisnya, pembangunan kembali perumahan-perumahan, tidak di atur ulang sesuai dengan tata ruang yang seharusnya. Rumah-rumah tetap dibangun dengan jarak yang tidak sesuai dengan ketentuan. Padahal Pasal 44 Peraturan Daerah Kotamadya Yogyakarta Nomor 4 Tahun 1988 tentang Bangunan menyatakan bahwa setiap bangunan atau kompleks bangunan harus mempunyai jarak bangunan dengan bangunan lain disekitarnya dalam satu persil sekurang-kurangnya enam meter atau sama dengan tinggi bangunan. Hal ini disebabkan tingginya tingkat kepadatan sehingga kurang memungkinkan dilakukan penataan ruang pada kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan ini. 

Dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan pelayanan publik, pada pertengahan 2008 mulai beroperasi sarana transportasi umum yang menyediakan pelayanan dengan lebih maksimal. Transjogja lebih menekankan kepada pelayanan publik, berbeda dengan bus perkotaan yang cenderung mengejar setoran. Transjogja merupakan sarana transportasi umum dengan fasilitas AC, dan hanya dapat menaik-turunkan penumpang di halte yang telah disediakan. Dengan adanya sarana transportasi umum yang lebih memadai, harapannya dapat memudahkan aksesbilitas di kota Yogyakarta dan mengurangi kemacetan di Kota Yogyakarta. Dengan adanya kemudahan aksesbilitas, pemerataan pembangunan tentunya juga lebih mudah dicapai

Friday, 21 October 2011

OSPEK

Kalo di UGM namanya udah ganti jd PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru)
Sedikit cerita ttg ospek, aku merasa akhir-akhir ini sering banget di ospek. Berguna buat meningkatkan ke-solid-an sih, juga melatih mental dan ketahanan diri thdp tgs2 yg bejibun, tapiii..


Ospek Universitas
Aku nggak ikut sih, soalnya nggak wajib. Padahal sebenernya aku udah daftar, tp karena kurang koordinasi sama pemandunya jd batal ikut. Jadi ceritanya pas angkatan 2008, 2009, sama 2010 nggak ada ospek universitas ini. Nah, angkatan terakhir yang ada ospek universitas itu angkatan 2007. Berhubung mereka udah mau lulus dan nggak pengen ospek universitas ini punah, makanya mereka ngadain lg di angkatan 2011 ini. Pembicaranya keren2 sih, tp sayang katanya pada nggak dateng.


Ospek Fakultas


Di Fakultas Tenik namanya PERSADA(PEngenalan dan oRientasi mahaSiswa teknik gAdjah maDA). Di ospek inilah aku baru menyadari kalo di teknik itu jumlah perempuan dan laki2 sangatlah tidak sebanding. Prajaku, Praja 25, yaitu praja ternate, terdiri dari (36 ato 40 ya?)orang, perempuannya cuma 10 orang. Sampe sekarang aku blm apal nama tmen2 praja yg cowok, maklum rambut mereka kan sama semua bentuknya.hehe :p
Tapi kalo yang cewek aku apal kok, nih aku absen: nesya, septi, dyah, yozan, ina, friska, alifa, ulfi, sama kiky.
Sebenernya kami gak punya yel, tp akhirnya (kpaksa) punya.
Kurang lbh seperti ini:
(versi lagu ada kodok)
Ada kami (ternate, ternate) praja dualima(ternate, ternate)
Yg cantik2 (ternate, ternate)
Dan ganteng2 (ternate, ternate)


Ospek Jurusan



Di jurusan Teknik Architectur dan Perencanaan namanya SKALA(Semangat Kebersamaan Archi-pLAn). Kelompokku, kelompok 9, namanya Eko Budiardjo, temanya superhero (kita ngambil tema power rangers, aku jadi ranger kuning). Kita menang kategori kostum terbaik lhoo. Juga menang apresiasi seni bareng kelompok hewan2. yeeee :D

Beginilah yel2 kelompok kami:
(versi ga ga ga kuat 7icon)
Lihat yang merah wow,
Lihat yang hitam wow,
Juga yg hijau biru abu2
Yg pinky jg dong,
Kuningnya jg wow,
Juga yg putih biru muda

Inilah kita, dipandu sama alfa2
Lihatlah kita, Kitalah power rangers, pembela kebenaran ran ran ran ran

Ga  ga ga kuat, ga ga ga kuat , musuh ga kuat sama power rangers
Ga ga ga level, kita ga level sama musuh musuh musuh musuh musuh
GADUNGAN

Tapi berhubung gregetnya kurang dan bnyak yg bilang yel power rangers se-album sendiri, akhirnya kami memutuskan untuk mengganti yel2 kami mjd:

Hahahahaha hihihihihi, kitalah power rangers
Hahahahaha hihihihihi, musuh langsung dibasmi

Cerita lain dibalik ospek jurusan, pas ngerjain tgs sampe malem di kost yayang(kalo gak salah sampe jam 11an lbh). Rencananya aku mau nginep di kost ulin, tapi kita berdua entah kenapa bs nyasar muter2 pogung. Mau balik ke kost yayang jg gak bs. Udah berdua cewek semua, tengah malem lagi.. Akhirnya aku nelpon arsyi, untung dy mau jemput. Special thanks for our leader deh, superhero banget.


Ospek Prodi
Sebenernya harusnya cuma matrikulasi ttg materi2 tambahan ttg perkuliahan aja, tapi entah kenapa mereka(kakak angkatan) menjadikan ajang ini untuk ‘bersenang-senang’. Oiya, baru angkatan 2011 ini lho ada kegiatan kyk gini, angkatan sblm2nya gak ada. So, gak tau nih, mesti seneng ato sedih sih?

Ospek BEM
Sebenernya bukan ospek, namanya Skulkad(Sekolah Kaderisasi)-nya ORBIT(Open Rekruitmen Bem FT UGM). Aku kelompok cancer, dengan KAO kak putu sama kak faza. Di awal, karena blm pernah ketemuan,  aku sempet ngirain kalo kak putu itu cowok. Untung kalo aku sms pakenya ‘kak’ bukan ‘mas’. Parahnya, karena kak faza itu sibuk, sampe skrg aku blm pernah ngomong dan ketemu langsung sama orangnya. Sampe2 aku pernah salah ngirain orang lain adalah kak faza, tp skrg aku udah tau kok, kak faza itu yg mana orangnya.hehe :)

Jargonnya: Cancer! Do it better!

Beginilah yel2 kelompok kami:
(versi lagu manuk dadali)
Kami dari cancer coba ikutan orbit
Acaranya keren, panitianya oke
Pesertanya dari seluruh penjuru teknik
Berjuang bersama tuk menjadi yang terbaik

Kami anak cancer, we always together
Kami anak cancer, we will be the leader
Kami anak cancer, always peace forever
Kami anak cancer, wanna do it better


Ospek KMT (Up Grading)
Kebetulan tanggalnya bareng sama ospek jurusan, jadinya aku nggak bisa ikut :(
Padahal kayaknya seru soalnya pake nginep juga.

Serangakaian ospek ini ternyata blm selesei menyambut kami sebagai maba, bsk tanggal 29-30 ada makrab pwk, namanya PLASMA(PLAnology Sleeping bersaMA). Tapi dari segala ospek-ospek ini aku mendapat banyak temen baru dan juga pengalaman baru :D

Adakah ospek lain yg akan menyusul? Let’s enjoy it! :)