Friday, 9 August 2013

Lupa dan Eksistensi Manusia

Lupa. Hal yang manusiawi namun terkadang tak termaafkan.

Lupa tak menepati janji, lupa tanggal ulang tahun, lupa nama, lupa muka. Ah, masih biasa. Namun ketika teringat sebuah film, A Moment to Remember, jadinya sungguh tragis ketika seseorang yang dicintai justru lupa akan eksistensi orang yang mencintainya, dan justru mengingat orang tersebut sebagai mantan kekasihnya di masa lalu. Dan memang,eksistensi juga termasuk salah satu kebutuhan dasar manusia, setiap manusia toh tentu saja butuh dianggap ada.


Tapi toh seseorang bukan sengaja memilih untuk lupa, bukan? Lantas, berhak kah seseorang marah ketika orang lain lupa terhadap sesuatu yang menyangkut dirinya?

Katanya, manusia memang tempatnya salah dan lupa.

Dan justru karena kemampuan manusia untuk melupakan, yang memudahkan kita sebagai manusia untuk memaafkan kesalahan orang lain. Ya, dengan semakin cepat melupakan kejadian itu, semakin cepat melupakan hal yang membuat kita marah atau kesal kepada orang tersebut. Berarti dengan begitu, akan semakin cepat pula kita memaafkan dengan cara melupakannya.

Ketika saya masih sering berhaha-hihi dengan kedua teman saya yang menurut saya selalu bisa mengingat hal detil apapun, saya pernah mengungkapkan kekesalan saya yang sangat berbeda dari mereka perihal ini. Tapi teman saya itu jadinya tak pernah bisa marah terlalu lama kepada kami semua orang karena selalu teringat segala hal yang pernah dilakukan bersama, dan juga kebaikan apa saja yang pernah orang lain lakukan kepadanya. Tapi dengan begitu, berarti dia juga mengingat sama jelasnya setiap tingkah menyebalkan orang lain yang membuat dia marah. Ah, ternyata susah juga ya memiliki long-term memory.

Kembali pada topik bahasan sebelumnya. Tapi ternyata sangat mengerikan ketika tak hanya satu orang yang melupakan eksistensi kita. Menjadikan kita sebagai seorang nothing -bukan siapa siapa.

Seperti Bystander Effect menurut saya, semua orang saling berbagi tanggung jawab untuk saling, apa ya istilahnya, memperhatikan, menyayangi, atau mungkin sekedar menyadari keberadaan orang lain. Menurut saya akan lebih baik apabila setiap orang mempunyai komunitasnya masing-masing dimana mereka mendapat perhatian dari segelintir orang di sana. Namun sayangnya tak semua orang memiliki komunitas, dan ada komunitas yang terlalu besar sehingga setiap orangnya tak terlalu mengenal satu sama lain, otomatis keberadaan orang tertentu menjadi invisible, tak ada yang menyadari keberadaannya, alih-alih memperhatikan.

Sedikit intermezzo, dalam ilmu psikologi istilah Bystander Effect berarti efek yang bekerja pada semua orang dalam suatu kondisi untuk saling melempar tanggung jawab untuk menolong orang lain. Mungkin mirip hukum merawat jenazah kalo di agama islam, hukumnya kan fardlu kifayah: artinya jika sudah ada yang melakukannya maka gugurlah kewajiban untuk itu, tapi bila tidak ada yang melakukannya maka berdosalah semua orang di tempat tersebut.

Salah satu contoh Bystander Effect adalah ketika terjadi sebuah kecelakaan di jalan raya, maka setiap pengguna jalan dan semua orang yang sedang berada di tempat tersebut akan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menolong sang korban kecelakaan. Karena setiap orang berpikir, ah biar orang lain saja yang memanggil ambulance toh di sini ada banyak orang, maka tidak akan ada yang tergerak untuk menolong si korban. Nah, Bystander Effect ini akan hilang ketika ada yang secara personal memanggil kita, atau meminta tolong secara langsung kepada kita.

Terkadang ketika saya merasa lelah dengan semua orang yang melupakan saya, saya kembali menekuri pemikiran di atas. Toh saya juga sering tak sengaja lupa identitas seseorang yang pernah saya kenal tempo dulu. Karena mengenal seseorang bagi saya bermula dari mengenal karakter dan peran orang tersebut, kemudian setelahnya baru mengenal nama.

Dan mengingat bahwa di dunia ini ada sistem yang menjaga nggak ada yang bisa nggak seimbang, maka langkah pertama yang semestinya dilakukan ketika berharap dianggap ada adalah dengan menghargai eksistensi orang lain. Mulai mencoba mengenal orang lain yang tadinya kita anggap sebagai orang asing. Dan ketika ternyata kita masih merasa tak pernah dianggap ada, tak perlu khawatir :)

Selain itu, ketika semua hal duniawi memporakporandakan perhatian kita, kita terkadang lupa bahwa kita masih memiliki kontrak hidup dengan-Nya. Ya, kontrak untuk terus hidup dan beribadah kepada-Nya. Saya pun mendesah, manusia memang tempatnya lupa.


Monday, 15 July 2013

Ambulance, not my mine.

Hai. Hari ini aku kembali mengunjungi tempat itu dan kembali menunggu seseorang hingga batas waktu yang sama: pukul 22.00 sebelum kemudian memutuskan pulang dengan perasaan yang entah, mungkin lebih baik atau sama saja. Padahal ketika orang yang dinantikan datang, aku toh juga belum tau akan berkisah dari mana. Selalu begitu.

Di dunia ini, aku hanya bisa berkisah pada dua sosok manusia. Kisah yang menyublimkan segala perasaan melalui gesture atau ekspresi, entah bahagia yang membuncah setelah berhaha hihi dengan kawan lama, perasaan excited setelah menemukan hal atau sosok baru yang begitu mempesona, atau justru kekosongan. Ya, intinya seluruh hingar bingar di sudut hati.

Mereka bukan seorang motivator, bukan psikolog, bukan therapis, bukan pula pendengar yang baik. Mereka hanyalah dua teman yang baik, tapi cukup untuk memicu ketergantungan tersendiri untuk terus bersandar. Aku tak tahu apakah ini kabar baik atau buruk, karena kemudian akibatnya ketika dua teman yang baik ini tidak berada pada waktu, tempat, dan keadaan yang tepat dan tak ada yang mampu menggantikan kedua sosoknya, maka yang ada hanya mendung, mendung, dan terus mendung..

Karena bagiku orang-orang yang memampang kisahnya di dunia manapun, tak ubahnya seorang pelacur yang menawarkan dirinya, atau seorang pengemis yang meminta minta kepada setiap orang yang lewat. Ya, mungkin memang tak se-ekstrem demikian.

Aku hanya lupa bahwa kedua sosok itu pernah berbisik, “Helooo, I’m not your ambulance..”  dalam sebuah lagu yang mendesau di atas lincak.



Dalam pelarian hati, 
yang menunggu hujan membasuh segala keresahanku.


Ternyata perjalanan itu masih kurang panjang untuk mengusir kegundahan hati. Haruskah kita terus berlari hanya untuk mendamaikan hati yang resah, ataukah langit mulai berbaik hati mau menjatuhkan rintik hujan pengganti mendung yang berketerusan ini?

Helooo My Mood Booster, where have you gone?



Sunday, 19 May 2013

Survey

Berbicara tentang dunia perkuliahan, sebenarnya saya kangen sama yang namanya survey lapangan. Meskipun yah dulu pas semester awal-awal dikit mengeluh terutama karena gerahnya berpanas panasan di tengah kota, entah di tepi jalan raya atau justru blusukan di permukiman dengan gang yang sempit. Sampai ada guyonan tentang anak PWK, “..kamu kuliah apa mbajak sawah e, kok jadi item begitu..”

Masa-masa semester satu.

Survey Studio. Keinget janjian survey pagi buta jam 5 pagi –buat dapetin foto penampang jalan, foto façade, sama mengukur lebar jalan pakai meteran –tapi namanya juga jam karet, baru pada kumpul jam 7 kurang. Jadilah kami mengukur lebar jalan gejayan sebelum ringroad pada jam segitu dan mesti teriak teriakan “.. awas ada mobil.. cepet cepet sekarang lari ke seberang mumpung sepi.. “ dan juga diiringi klakson kendaraaan yang sliweran lewat.
Tim Studio Satu

Survey tentang elemen pembentuk kota menurut Kevin Lynch di Kecamatan Gondokusuman yang berakhir jalan-jalan ke Galeria Mall.haha :)

Survey ke TPA Piyungan yang segitu jauhnya dari kawasan UGM dan nggak mendapat penjelasan apapun karena lupa membawa surat survey.

Dan juga masa-masa semester dua, yang masih dapat kawasan amatan studio di Kota Yogyakarta. Kebetulan dapat Kelurahan Sosromenduran trus blusukan dari pasar kembang sampai kampung internasional, jalan-jalan keluar masuk Stasiun Tugu dan blusukan sampai permukiman di tepi-tepi relnya.

Trus survey Ndalem di Jeron Beteng. Ternyata sudah banyak Ndalem yang beralih fungsi dari fungsi aslinya karena dijual oleh pemiliknya, ada yang sudah menjadi tempat makan/resto, wisma/penginapan, malah ada yang jadi universitas. Tapi hampir semua masih mempertahankan bentuk aslinya kok. Beruntung, Ndalem amatan saya, Ndalem Purbonegaran, masih difungsikan sebagai Ndalem dalam artian rumah. Kami diijinkan berkeliling di kompleks Ndalem, dan bahkan masuk ke rumah utama hingga masuk kamar tidur. Dan saya cukup tercengang melihat perpaduan yang kontras mengenai desain tradisional bangunan yang kejawen dan juga tambahan perabotan modern di dalamnya seperti kulkas dan springbed. Selengkapnya mengenai Ndalem, postingannya menyusul ya.


Pintu Gerbang Ndalem Purbonegaran

Semester tiga, masanya bolak balik Jogja-Purworejo karena ada aja data yang ketinggalan setelah selama seminggu menginap untuk survey disana. Para cowok-driver-studio-purworejo, kalian hebat guys :)


Mampir bangunan cagar budaya yang udah nggak dipakai, Stasiun Purworejo

Tim Purworejo. 
Ceritanya anak2 kota yang 'gumun' liat sawah.hahahaa peace meeen :)

Dan akhirnya survey pertama di semester empat, survey lapangan ke Kecamatan Kraton, yeah tentu saja sekalian main-main. Survey yang rencananya paling lama makan waktu satu jam jadi makan waktu sekitar 3 sampai 4 jam karena mampir muter-muter Tamansari sama ada insiden ban bocor. Tamansari masih nggak terlalu berubah sejak terakhir kali saya ke sana, selalu menarik untuk belajar komposisi fotografi. Postingan tentang Tamansari menyusul ya.


Bertemu penjual manisan

Tim Survey Kecamatan Kraton



Friday, 3 May 2013

Mendung

Hari yang kelabu, tak terik tapi tak juga hujan.
Mendung seolah menunggu waktu yang tepat untuk meneteskan air.
Membuat orang-orang resah ketika ingin bepergian, dan membuat anak-anak antusias menunggu hujan untuk bermain-main  bersamanya, dan mungkin demi melihat pelangi setelahnya.

Tapi hujan tak kunjung datang.

Hanya mendung, dan terus mendung. 

Di luar konteks keindahan hujan, aku merindukan hujan. Hujan yang menghapus mendung yang meresahkan. Tak apalah basah saat ini, toh ada selimut hangat dan juga secangkir coklat panas yang menunguku di rumah.

Teruntuk hujan, cepatlah datang menjemput segala keresahanku, 
dan membuaiku dalam kedamaianmu.



Tuesday, 23 April 2013

Be Brave :)

Tak pernah menyesal pada sesuatu, ah atau tepatnya seseorang yang membuat saya berada di sini.

Dan mungkin memang tak ada yang perlu disesalkan, toh memang selalu ada harga yang harus dibayar untuk semua yang kita dapat. Dan mungkin harga yang bisa saya bayar tak pernah sebanding dengan apa yang saya dapat. Teringat kata-kata dari seorang teman di sebuah obrolan atau tepatnya curhatan di tengah malam itu.

“..langkah pertama yang paling benar untuk membalas sebuah kebaikan adalah dengan menerima kebaikan itu sendiri. Kan jadi salah kalo niatnya mutusin pacar gara gara si pacar yang terlalu baik ke kita dan kita nya nggak merasa sanggup buat kasih feed back..”

Analogi yang kena banget, walopun menurutku tentu saja nggak bisa dianalogikan begitu..

Jadi mengapa saya suka naik gunung?

Selain masalah pemandangan, sebenarnya berawal dari sebuah pelarian. Dan saya menemukan sebuah kedamaian di atas ketinggian itu, sejenak melupakan masalah duniawi dan menghilang dari peredaran karena memang tak ada sinyal di tempat setinggi itu. Ah ya, pengecualian di puncak Gunung Tambora yang masih bisa telponan pake sinyal telkomsel. Dan juga segala kondisi ekstrem atau kesulitan yang membuat saya menjadi bersyukur ketika kembali ke peradaban.

Misalnya ketika merasa sangat gerah di rumah, rasanya tak lagi ingin mengeluh ketika teringat dingin yang sangat menusuk ketika saya pertama kali naik Merapi, atau dinginnya Lawu. Dan ketika dulu saya sangat malas sekedar untuk menghangatkan air dengan kompor gas di rumah, ketika mengingat repotnya memasak di atas gunung, rasanya memasak apapun di rumah menjadi sangat menyenangkan. Lalu teringat ketika ngebela-belain menyentuh air yang dinginnya begitu untuk sholat di atas gunung, atau harus bertayamum karena keterbatasan air, maka saya mempertanyakan diri saya sendiri ketika malas sholat di tempat yang lebih mudah. Dan ketika saya malas sekali keluar rumah padahal sekadar melangkah ke warung sebelah untuk membeli sesuatu, rasanya jadi ringan ketika teringat begitu mudahnya mendapat barang apapun di jam berapapun karena ada indomaret yang buka 24jam disini , dibandingkan ketika saya  berada di Sumbawa waktu itu.


Di Merbabu

Pada intinya, naik gunung itu mengikis sifat pemalas saya, dan menumbuhkan rasa bersyukur terhadap hidup.

Puncak pertama: Puncak Lawu (3265 mdpl). Cerita selengkapnya bisa dibaca disini.

Puncak Merbabu (3145 mdpl), ketika pendakian massal dalam rangka ultah SATUBUMI tahun 2012.

Puncak Merbabu di kesempatan yang lain, dengan  jalur yang berbeda dan cenderung lebih ekstrem.

Danau Taman Hidup, Argopuro

Puncak Tambora (2820 mdpl).

Dan juga perjalanan naik gunung yang nggak sampai puncak atau hanya berniat bermain-main atau ‘pindah tidur’ di hutan. Pendakian Merapi via selo (selengkapnya bisa dibaca disini) dan juga latihan navdar di Ungaran.

Caving.

Ketertarikan saya yang lain di dunia yang satu ini. Walopun belum pernah masuk goa vertical, tapi ketika melihat keindahan ornament goa, stalagtit dan stalagmit yang begitu rapuh. Juga perlakuan senior saya yang begitu ‘menyayangi’ goa, “..sayang kan, untuk tumbuh stalagtit berapa centimeter aja butuh waktu berapa lama. Masa kita gampang aja matahin gitu..”


Pintu Masuk Goa

Ornamen Goa


Genangan air di dalam Goa

Kemudian rafting, dimana pada awalnya saya nggak ngerti apa yang di cari dari kegiatan ini. Entah mau mencari jeram atau justru menghindari jeram. Pertama kalinya saya rafting, di Elo langsung nyobain 2 trip dan konsepnya latihan, bukan funraft. Wow, pada saat itu saya langsung beranggapan bahwa ternyata rafting lebih meremukkan badan ketimbang naik gunung. Sepulang dari rafting, saya kebingungan mencari titik pusat linu karena rasanya seluruh badan dari pinggang ke atas serasa remuk redam dan akhirnya mengoleskan counterpain bagaikan mengoleskan handbody.hoho

Rafting Elo

Beberapa kali rafting masih di Elo dan kemudian beberapa waktu yang lalu mencoba rafting di sungai dengan karakteristik yang berbeda, Serayu. Berawal dari menghadiri sebuah presentasi mengenai ekspedisi pemetaan Sungai Serayu, saya bersama beberapa teman tertarik untuk mencoba dan merasakan sendiri mengarungi sungai serayu yang katanya cukup menantang ini. Elo termasuk antara sungai dengan grade 2-3, sedangkan Serayu termasuk grade 4. Maka berangkatlah kami bersepuluh menuju basecamp Serayu di wonosobo. Hmm, ternyata jauh juga ditempuh dengan naik motor.

Jeram di Serayu jauh lebih banyak dan lebih menantang dari Elo. Ada jeram selamat datang, jeram tangga, jeram double drop, jeram S, jeram watukodok, dan jeram-jeram lainnya, diakhiri dengan jeram dwi. Beberapa jeram dinamakan sesuai bentuk fisiknya yang menyerupai tangga dan ada juga yang dinamakan seperti nama orang yang pernah meninggal di jeram tersebut.

Dan saya menemukan sebuah kedamaian di antara sekian banyak jeram di sana. Di antara pandangan yang terbuka lebar, dan pepohonan di tepian sungai. Di area flat di antara sekian jeram. Perasaan tenang dan damai.

Panjat tebing.

Nah, ini merupakan kegiatan yang tidak terlalu menarik bagi saya. Walaupun nggak nolak ketika di ajakin manjat di Siung atau sekedar jadi tim daratnya anak-anak panjat di Samigaluh. Karena memanjat selalu membutuhkan otot atau teknik, dan lebih bagus kalau punya keduanya.

Panjat tebing di Siung

Kembali pada sesuatu yang menjadi topik utama tulisan ini, mungkin boleh meminjam istilah Oppurtunity Cost dari mata kuliah ekonomi. Tentu saja akan ada biaya yang harus dikorbankan karena pilihan yang kita ambil. Dan biaya yang dimaksud disini tak hanya mengacu pada finansial, tapi juga waktu, kesempatan, dan yang lain-lain. Be brave, untuk melakukan kegiatan-kegiatan seru di atas, dan untuk menanggung segala konsekuensi dari pilihan kita memilih berkecimpung di dunia yang satu ini :)

Be Brave, Latihan SRT di selasar KPFT :)

Friday, 29 March 2013

Ideal =Humanis (?)

Berbicara tentang sebuah kota ideal, beberapa saat yang lalu saat saya sedang mati gaya di sebuah tempat, secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku yang menarik perhatian saya: After Orchard. Buku terbitan Penerbit Buku Kompas ini ditulis oleh seorang Indonesia lulusan Nanyang University yang mendapat beasiswa dan tinggal beberapa waktu di sana.

Sebuah buku yang membantu saya move on, karena pada saat itu saya sedang merasa kosong. Membuka pandangan saya akan sebuah sistem yang ideal tapi ironisnya justru mengarah pada dehumanisasi.

Poin pertama yang saya soroti mengenai Sumber Daya Manusia. Dimana telah menjadi sebuah sistem bahwa untuk bisa survive, kita harus memiliki kualifikasi tertentu dan lebih unggul dari semua orang. Sehingga hal ini memunculkan iklim persaingan yang begitu terasa. Dimana sistem ini otomatis akan membuang orang-orang yang tidak berkualitas, seolah mengatakan “Dunia sudah terlalu penuh sesak oleh manusia, mereka yang tidak berkualitas sebaiknya dimusnahkan.”

Sebenarnya sudah cukup banyak gagasan serupa baik yang muncul dalam komik seperti deathnote, maupun gerakan terselubung, yang terkadang menjadi topick obrolan teman-teman saya, tapi rasanya tak pernah memikirkan bahwa gagasan tersebut memang sedang terjadi secara halus. Misalnya dengan menjual produk makanan minuman tertentu yang sebenarnya berbahaya apabila dikonsumsi jangka panjang, secara tidak langsung ingin memusnahkan golongan yang secara ekonomi hanya sanggup membeli produk tersebut. Yang selamat adalah orang orang kaya yang sanggup mengakses makanan dan sayuran segar. Selain itu, dengan pressure yang tinggi akibat pola persaingan yang terjadi, menyebabkan angka bunuh diri meningkat. Dan ini merupakan salah satu bentuk seleksi alam yang lain. Akan tetapi pasti selalu muncul controversi, terutama dari aktivis pembela HAM. Mereka mengatakan bahwa toh setiap manusia memiliki hak hidup, jadi kita tak berhak dengan cara apapun memusnahkan suatu golongan, atau katakanlah kaum marginal.

Poin ke-2 yang saya soroti adalah mengenai sistem pendidikan di sana. Dimana untuk bisa masuk perguruan tinggi, yang nantinya akan mendapatkan gaji yang tinggi, maka haruslah bersekolah di Senior High School, sedangkan lulusan Vocational School tidak akan bisa diterima di perguruan tinggi. Lulusan Vocatonal School hanya bisa mengakses pekerjaaan yang gajinya tak seberapa. Sedangkan untuk bisa diterima di Senior High School maka harus berasal dari Junior High School, dan hanya lulusan Elementary School terbaik yang bisa diterima di Junior High School. Jadi sekalinya gagal pada tingkatan pertama maka tidak ada pilihan lain. Sehingga menanamkan sebuah paradigm bahwa kita tidak boleh gagal, dan memunculkan rasa takut gagal sedini mungkin. Sangat berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia yang begitu fleksibel, dan tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Misalnya saat kita masih kecil dan hanya ingin bermain sehingga tak memiliki prestasi akademik yang gemilang, maka ketika kita beranjak dewasa dan merasakan pentingnya memiliki prestasi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak maka bisa saja kemudian kita berubah menjadi rajin dan berprestasi. Maka sah-sah saja ketika lulusan sekolah pinggiran yang tak dikenal diterima di perguruan tinggi unggulan di Indonesia selama dia berhasil lolos tes saringan masuknya.

Masih mengenai sistem pendidikan di sana, kita didorong untuk tak hanya berprestasi tapi juga mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang bentuk insentifnya berupa poin. Dan sebenarnya tak hanya didorong tapi lebih cenderung dipaksa, karena hanya mahasiswa yang memiliki cukup poin yang boleh tinggal di asrama mahasiswa. Sedangkan yang poinnya kurang, harus menyewa kamar di luar kompleks universitas yang cukup jauh dan harganya berkali kali lipat dari harga kamar asrama dengan fasilitas pas pasan. Akibatnya memilih ekstrakurikuler bukan lagi berdasar minat dan bakat, tapi berdasar ekskul mana yang mampu memberikan poin lebih untuk bertahan hidup, dan itupun tak cukup hanya dengan mengikuti satu macam ekskul.

Poin ke-3, adalah mengenai kehidupan sosial. Berkaitan dengan persaingan, yang baik kasat mata maupun tak kasat mata di kota tersebut, berdampak pada pola kehidupan sosial masyarakatnya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa masyarakat perkotaan cenderung bersifat individual ketimbang masyarakat sub urban. Tak bisa dipungkiri bahwa orang-orang yang RELA tinggal di kota metropolitan merupakan orang yang membutuhkan akses yang dekat dengan pekerjaannya, dengan kata lain yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga bisa jadi tak sempat mengenal tetangga kiri kanannya. Tak memiliki waktu untuk bersosialisasi. Bahkan menurut buku ini, banyak taman taman atau ruang terbuka publik di sana yang sebenarnya di desain sangat cozy tapi justru terlihat lenggang karena masyarakatnya tak memiliki waktu sekedar untuk duduk duduk santai dan mengobrol. Tipikal yang tidak bersusah-susah mencari teman untuk makan karena kesulitan menyamakan jadwal yang hectic, sehingga bila perlu membungkus makan siang untuk dimakan di meja kerja.

Sesuatu yang terlalu prosedural ternyata justru mejadikan manusia sebagai robot, sesuatu sistem yang niatnya ingin menjadikan kota humanis justru entah, terasa tidak humanis. Misalnya ketika pelayanan dokter di sana yang begitu prosedural, mengikuti diagram flowchart yang menganalisis gejala penyakit berdasar pola ya dan tidak, apabila ya maka begini apabila tidak maka begitu, dst sehingga sampai pada sebuah kesimpulan penyakit apa dan penanganannya bagaimana. Mengabaikan bahwa pada dasarnya manusia memiliki keunikan sendiri-sendiri, dengan kompilasi yang berbeda maka seharusnya penanganannya tak bisa diseragamkan meski memiliki gejala yang sama.

Entah, saya jadi merasa bersyukur tinggal di tempat saya tinggal sekarang. Meski jauh dari kata ideal, rasanya lebih manusiawi. Ketika se anti sosial apapun saya di sini maka tetap akan ada orang yang peduli dan sempat untuk sekedar say hello :)


Monday, 11 March 2013

Opini: Iklan


Sebenarnya iklan yang membentuk paradigma kita atau justru sebaliknya?

Hal itu merupakan hubungan timbal balik, seperti menanyakan yang mana yang lebih dulu, antara telur atau ayam. Semua orang pasti memiliki jawabannya sendiri, tentunya dengan alasan tertentu.

Iklan terbentuk atas paradigma masyarakat karena memang itulah tujuan iklan ada. Untuk menarik seseorang akan suatu produk tertentu. Untuk itu diperlukan informasi mengenai apa yang menarik, yang membuat seseorang menjadi tertarik untuk menggunakan atau membeli produk tersebut. Apabila tidak mengikuti cara berpikir masyarakat, tentu saja iklan tersebut tidak akan menjual. Nah, dengan begitu berarti iklan diciptakan menurut pola pikir masyarakat. Misalnya iklan-iklan sampo atau pasta gigi yang menggunakan orang-orang barat yang ceritanya sebagai ahli produk tertentu. Mengapa tidak menggunakan orang negro atau orang Indonesia asli sebagai modelnya? Tentu saja untuk mengusung agar produk tersebut terbilang ilmiah, dan karena paradigma masyarakat yang terlanjur beranggapan bahwa orang-orang ahli atau ilmuan itu adalah orang-orang luar negeri, dalam hal ini bangsa kulit putih. Padahal bisa saja orang Indonesia menjadi seorang ahli kan.

Namun sebenarnya justru iklan itu, baik secara langsung maupun secara tidak langsung membentuk pola pikir masyarakat. Bersamaan dengan media, iklan membentuk pola pikir kita. Misalnya iklan-iklan produk perawatan tubuh  menciptakan sebuah paradigma bahwa cantik itu yang kulitnya putih, kurus, berambut lurus, dan sebagainya. Kemudian iklan-iklan rokok yang menggambarkan petualangan, persahabatan, dan kesuksesan. Hal itu mengisyaratkan bahwa merokok itu keren, jantan, jalan menuju sukses, dan sebagainya. Padahal hal-hal tersebut tidak saling berkaitan.

Nah, apabila dikaji lebih jauh, pola timbal balik tersebut merupakan pola yang terus berputar, akan tetapi bukan berarti tidak bisa diarahkan. Kita bisa mengarahkan pada paradigma apakah yang ingin kita tanamkan, tapi secara perlahan-lahan, dengan tetap memasukkan paradigma eksisting yang ada pada saat ini. Terus menerus begitu hingga terbentuklah paradigma baru sesuai yang kita inginkan.

Kemudian muncul pemikiran untuk mempengaruhi, membentuk, atau merubah pola pikir masyarakat melalui iklan. Sayangnya cukup sedikit orang yang menyadari hal ini, dan lebih sedikit lagi orang yang menyadari bahwa mereka terpengaruh atau termakan iklan. Para pembuat iklan cenderung berpikir mengenai branding, komersialisasi, bagaimana iklan mereka bisa menjual, dan sebagainya tanpa berpikir panjang mengenai  dampak tidak langsung dari iklan yang mereka buat. Sehingga kemudian banyak iklan yang bermunculan yang tidak berhubungan dengan produk yang ditawarkan.

Memangnya apa dampak tidak langsung yang mungkin muncul? Bermacam-macam, misalnya mendorong seseorang berperilaku konsumtif dan melakukan hedonisme. Atau menjadikan pemikiran bahwa produk-produk import jauh lebih berkualitas, lebih modern, dan lebih keren daripada produk lokal. Untuk beberapa produk ada benarnya memang, tapi tentu saja tidak semua demikian. Hal tersebut kemudian dapat menurunkan jiwa nasionalis seseorang. Dan dengan begitu, sebenarnya iklan dapat dijadikan metode menjajah secara alam bawah sadar. Iklan yang terus menerus ditampilkan atau ditayangkan, yang pada mulanya tidak kita acuhkan, lama kelamaan kemudian mempengaruhi alam bawah sadar kita mengingat bentuk pengulangan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter atau respon seseorang.

Berbicara tentang iklan, iklan mendorong kita untuk berperilaku konsumtif. Itu jelas, karena lagi-lagi memang itulah tujuan iklan dibuat. Tapi tidak lantas menjadikan menipu dalam beriklan menjadi boleh. Tetap saja ada nilai moral yang perlu diperhatikan. Seperti misalnya pemilihan jam tayang yang dipengaruhi siapa yang menjadi target dalam iklan tersebut, ibu rumah tangga kah, remaja kah, atau justru anak-anak. Pengemasan iklan-iklan produk untuk orang dewasa dan untuk anak-anak tentu saja berbeda, karena factor usia juga berpengaruh pada pola pikir seseorang. Untuk itu kita harus selektif dalam memandang iklan. Berhati-hatilah dan jangan mudah terpengaruh :)