Tuesday, 15 September 2015

Random Thought

Sudah lama saya tidak menulis hal-hal random yang selalu muncul dalam benak saya. Karena akhir-akhir ini yang sering muncul hanyalah keresahan, sedangkan keresahan toh bukanlah topik yang menyenangkan untuk dibahas setiap hari.

Ada beberapa hal yang belakangan ini cukup mengganggu pikiran saya, yang memunculkan sebuah pertanyaan sederhana: ada apa sih sama semua orang?

Mendadak semua orang berbondong-bondong melakukan sesuatu. Mendadak wisata alam manapun begitu menarik untuk dikunjungi. Mendadak semua orang memiliki profesi sampingan dengan mencoba berwirausaha: handcraft, doodleart, reseller, sampai buka kafe. Mendadak semua orang suka banget nongkrong di kafe. Mendadak dimana-mana muncul berbagai kafe baru dengan berbagai konsep. Mendadak banyak orang tiba-tiba memutuskan berhijab. Mendadak semua orang jadi cantik dan bermake up. Dan mendadak sepertinya semua orang rasanya udah ngebet banget pengen cepet lulus! Well yaa, saya mengakui bahwa saya mungkin termasuk kategori ‘semua orang’ yang saya sebut di atas. Toh saya juga sudah tak seidealis dulu supaya bagaimanapun saya bisa segera lulus.

Hal ini mulai disadari ketika saya mau KKN di periode antar semester tahun lalu. Mendadak semua orang memilih mengambil KKN pada periode itu sehingga peserta KKN periode itupun membludak dari biasanya. Hal ini menurut beberapa orang disebabkan angkatan 2010 dan angkatan di atasnya pada telat KKN sedangkan angkatan 2011 pada kecepetan KKN. Walaupun sebenarnya tidak bisa dikatakan telat juga karena dulu umumnya mahasiswa memang mengambil KKN setelah semester 7, namun mahasiswa sekarang yang cenderung ingin segera lulus mencicil KKN diambil di semester 5 asalkan jumlah sks telah memenuhi syarat minimal untuk mengambil KKN.

Kemudian yang belum lama terjadi: wisuda periode Agustus 2015 lalu mendadak jumlah wisudawan yang lulus periode itu sangat banyak sehingga pihak UGM memutuskan membagi wisuda menjadi 2 hari, yaitu tanggal 19 dan 20 Agustus 2015. Kalau nggak salah sih ini baru pertama kejadian di UGM dimana wisuda dibuat dua hari saking banyaknya yang lulus periode itu.

Kemudian fenomena yang paling baru saya alami adalah penuhnya perpustakaan pusat UGM di hari biasa, bukan karena ada acara atau kegiatan yang memang berlokasi disana, tapi ya hari perkuliahan aktif biasa. Padahal perpustakaan pusat UGM setau saya biasanya tidak terlalu populer di kalangan mahasiswa. Mereka yang berkunjung bisa dipastikan mahasiswa tingkat akhir yang sedang mencari literatur, mahasiswa yang sedang ada tugas dan mencari buku spesifik tertentu, atau mahasiswa yang iseng pengen menjajal fasilitas UGM yang satu ini. Kala itu saya sangat kesulitan mencari tempat parkir motor di lingkungan perpustakaan UGM sehingga memutuskan untuk parkir di fakultas sebelah aja, fisipol. Awalnya saya menduga hal ini disebabkan sedang adanya renovasi perpustakaan dan masih dalam rangka transisi perpindahan lokasi parkir dari yang sebelumnya sehingga memang belum settled. Kemudian ketika saya menuju loker di bagian sirkulasi ternyata peminjaman loker telah penuh dan ada beberapa orang selain saya yang sudah mengantre duluan untuk meminjam loker karena untuk bisa masuk ke bagian sirkulasi pengunjung tidak diperbolehkan membawa tas. Yang saya tahu, di perpustakaan pusat UGM sebenarnya terdapat tiga lokasi penitipan tas/peminjaman loker, yaitu di bagian buku sirkulasi, bagian timur, dan bagian kalau ingin menggunakan fasilitas ETD di lantai 2. Dan ternyata ketiga tempat peminjaman loker tersebut sama penuhnya pada saat itu. Kenapa sih orang-orang?

Berbicara tentang mencari lokasi parkir motor, sebenarnya saya tidak terlalu heran dengan sulitnya mencari parkiran motor akhir-akhir ini. Pasalnya saya sering mengalami hal serupa di fakultas saya, baik di jurusan sendiri maupun di bagian lainnya. Mendadak parkiran motor jurusan menjadi penuh dan mesti digeser-geser sama petugas di jurusan biar muat lebih banyak motor lagi dan efeknya bagi saya adalah kesuliatan mengeluarkan motor pas mau pulang. Selain itu ada beberapa tempat yang entah kenapa begitu diminati parkir liar, antara lain di bawah: sepanjang halaman depan satubumi, sekre BEM sampai mushtek, dan juga di sekitaran KPFT. Semua mahasiswa yang sudah lama berada di lingkungan fakultas teknik pasti sudah paham risiko parkir sembarangan ini: digembosin ban nya. Metode ini terpaksa dilakukan untuk menimbulkan efek jera, dan ternyata cukup membawa hasil.

Lalu mengapa fenomena ini bisa terjadi? Mungkinkah ini merupakan dampak kebijakan kampus yang semakin mempersempit masa studi? Yang tadinya mahasiswa maksimal lulus 7 tahun, sekarang 5 tahun sudah terancam DO sehingga mendorong para mahasiswa untuk segera lulus. Atau apakah setiap tahunnya UGM menerima mahasiswa yang jumlahnya lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, dengan kata lain arus yang masuk tidak sebanding dengan arus yang keluar? Jika memang demikian yang terjadi maka wajar saja apabila fasilitas UGM yang selama ini tersedia menjadi tidak muat lagi mengakomodasi jumlah mahasiswa yang ada. Namun bisa juga sebenarnya fenomena yang terjadi tidak disebabkan faktor tersebut, melainkan disebabkan faktor culture atau yang larinya ke arah trend yang tengah terjadi. Mengambil analogi peristiwa mudik lebaran dimana terjadi traffic yang begitu memuakkan di segala ruas jalan, bahkan jalan yang pada hari biasa tidak pernah mengalami macet di hari lebaran menjadi begitu padat oleh kendaraan. Sebenarnya kan bukan ruas jalannya yang kurang memadai namun ada faktor trend atau budaya masyarakat kita yang memang menjadikan kita harus pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga pada hari lebaran, akibatnya karena semua orang berpikiran hal yang sama dan melakukan hal yang sama jalanan pun penuh.

Lantas apa yang harus kita lakukan, haruskah kita menjadi anti mainstream untuk terlepas dari segala bentuk crowded yang memuakkan yang sedang terjadi di arus utama?

Sebenarnya hal ini tidak masalah selama sesuatu yang lagi ngehits tersebut masih memuat substansi nilai kebaikan. Toh malah bagus kalau tiba-tiba semua orang mau memperbaiki Indonesia dan memutuskan berperang melawan korupsi, atau malah bagus kalau tiba-tiba semua orang menjadi agamis dan ingin masuk surga sehingga kejahatan di muka bumi ini menjadi berkurang. Dengan kata lain, malah bagus kalau semua orang pengen cepet lulus selama masih dalam kewajaran dan tidak melakukan kecurangan untuk bisa cepat lulus. Namun apakah segala yang saat ini ngehits itu mengarah pada nilai kebaikan? Nyatanya banyak alam terbuka yang seharusnya hanya sebagai wisata alam terbatas menjadi rusak karena terlalu banyaknya wisatawan yang datang. Sebut saja Semeru yang mendadak ngehits setelah rilisnya film 5 cm. Kemudian hijab yang semakin lama semakin fashionable sehingga terkadang melupakan tujuan sebenarnya. Adalah sosial media yang turut berperan membentuk pola pikir, perilaku,  dan mengarahkan trend kekinian: budaya selfie dan check in lokasi.

Keresahan saya berikutnya muncul setelah saya mengikuti sebuah sesi kuliah Engineering Ethics yang diisi oleh seorang dosen muda dari Jurusan Arsitektur. Etika itu berada dalam wilayah abu-abu yang sering kali kompleks, dilematik. Dosen tersebut menceritakan beberapa pengalaman yang pernah dialaminya di dunia kerja yang berhubungan dengan etika, dan beliau tidak bisa mengatakan dengan pasti mengenai apa yang harus dilakukan bila kita berada di posisi tersebut. Tanyakan hatimu, hatimu pasti tau jawabannya.

Selain itu dosen tersebut berbicara tentang Asean Economic Community, yang hampir pasti menimbulkan keresahan tersendiri bagi seluruh angkatan kerja Indonesia yang sadar. Aih, tiba-tiba saya teringat sebuah frase ‘ora melu edan, ora komanan’, yang kurang lebih artinya apabila kita tidak mau mengikuti euforia yang sedang terjadi maka kita tidak akan kebagian apapun. Menghadapi keresahan akan terjadinya pasar bebas di Asean Economic Community yang katanya akan mulai berlaku di tahun 2015, mendadak semua orang berusaha mempersenjatai diri dengan kursus bahasa asing, memperbagus prestasi akademik, dan mempertebal CV. Lantas apabila kita tidak ikut-ikutan les bahasa inggris, tidak ikut-ikutan buru-buru lulus, apakah kita bisa ikut bersaing mendapatkan pekerjaan yang layak? Berangkat dari pemikiran dan logika tersebut akhirnya (mungkin) terjadi fenomena yang sebelumnya saya analogikan dengan seperti fenomena mudik lebaran.

Dosen tersebut juga menyebut-nyebut bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat baik: memiliki jumlah penduduk termasuk salah satu yang terbesar di dunia dengan karakter manusianya yang konsumtif. Sebut saja rokok dan junkfood, negara penghasil rokok di barat sana yang sudah mulai concern pada masalah kesehatan mulai  kehilangan pasar dagangnya sehingga mulai mencari pasar di belahan bumi yang lain.

Kemudian ketika mereka-mereka yang telah maju sudah beralih meneliti luar angkasa, ketika berhasil mendapatan lokasi planet lain yang memungkinkan untuk manusia tinggal, memungkinkan diesploitasi, pasti mereka-mereka duluan lah yang mengungsi dari bumi yang sudah tua, sudah rapuh, sudah mulai rusak. Meninggalkan kita masyarakat dunia ketiga bersama bumi yang mulai tak bersahabat dengan manusia setelah mereka eksploitasi besar-besaran.  Aih,ditinggalkan saja sudah cukup menyedihkan, apalagi ditinggalkan bersama kekacauan. Saya sedih hanya dengan memikirkan kemungkinan itu.


However don’t be insecured dear, suatu hari nanti kita akan mengerti dan berhenti resah. 


Thursday, 16 July 2015

talk about my self

Ada sebegitu banyak hal yang begitu penting untuk dicatat tapi mungkin karena terlalu banyak lantas justru terlupakan begitu saja. Misalnya tentang sindiran-sindiran yang sangat menohok buat saya. Kenapa ini penting untuk ditulis? Saya juga tidak tahu. Tapi ini semua penting karena menyangkut sama beberapa hal yang menjadi passion saya. Buku, traveling keliling dunia, nongkrong sambil talk about everything. Yeah dan ini menohok saya parah, about religious, family, friendship, social interaction, etc.

Pinter, cantik, sugih, ning ora nduwe sosiale blas. Lha apa urip meh urip dhewe..

Dari semua sindiran yang pernah dilontarkan kepada saya baik langsung maupun tidak langsung, inilah yang cukup membuat saya luar biasa kesal dan memutuskan untuk menulis ini. Kata-katanya tidak persis sama tapi artinya kurang lebih begitu. Sumpah sakit banget sama yang satu ini. 

Cantik? Saat ini saya merasa mendadak semua temen sepantaranku jadi super cantik, berpakaian bagus ala mbak-mbak banget (you know what i mean lah yaa), dan nggak lupa make-up. Yah mungkin memang sudah masanya mengingat sebagian toh sudah lulus kuliah dan siap memasuki jenjang sebagai wanita karir. Dan berhubung saya belum lulus, jadi ya style nya masih mahasiswa banget yang urakan, yang kasual, yang buluk, yang apa adanya. Jadi ya, saya tidak bisa dikatakan cantik kalau melihat teman-teman di sekitar saya sebagai pembandingnya. Tentu saja saya bersyukur dengan fisik saya walaupun biasa saja, tidak cantik. Toh menurut saya fisik kan bukan segalanya, ada yang lebih penting dari fisik kok, yaitu kepribadian. 

Pinter? Well, orang-orang yang nggak mengenal saya pasti bisa mengatakan bahwa saya pasti pintar mengingat track record saya yang bisa dibilang cukup baik di dunia akademik. Saya hampir selalu bersekolah di sekolah favorit di kota saya. SMPN 5 Yogyakarta, SMAN 8 Yogyakarta, dan sekarang Teknik UGM. Tapi saya masih sangat mengingat dengan jelas bahwa masa penuh derita, saya lalui di jenjang Sekolah Dasar dimana kita memang belajar segala hal dari dasar, dari nol. Kelas I SD saya belum lancar menulis, termasuk paling lama di kelas dan bahkan pernah beberapa kali ditulisin sama guru saking gak sabarnya sang guru nungguin saya beres nulis. Kemudian berhitung, kelas III SD saya masih menggunakan jari untuk menghitung penjumlahan. Dan kelas IV SD saya masih membuat garis-garis batang untuk alat bantu perkalian dan pembagian. Itu sangat menyakitkan ketika diketawain sama guru matematika, disuruh sekalian bawa lidi dari rumah buat ngitung. Dan kelas IV SD saya masih sama sekali buta dalam bahasa inggris, gak paham lagi guru bahasa inggris ngedektein apa. Gak paham artinya dan gak tau cara nulisnya. Dan saya merasa sangat dicurangi karena temen-temen saya paham, kan mereka les bahasa inggris di luar. Dan saya berhasil masuk SMP terfavorit di jogja pada masanya tidak lain dan tidak bukan karena bimbingan intensif dari bapak saya di rumah. Ketika semua temen-temen tetangga seumuran lagi pada asyik bermain di luar, saya semacam disekap di rumah untuk mengerjakan soal-soal. Yang saya tahu belakangan adalah, ketika kamu berhasil masuk ke rantai kehidupan sukses, maka akan lebih mudah untuk masuk kembali ke SMA favorit, dan seterusnya ke universitas favorit. Dan bagi kalian yang masih bisa bilang kalau saya pintar, saya kasih tau ya kalau saya gak pernah punya piala dari menjuarai lomba apapun, mempunyai prestasi di bidang apapun, dan hampir gak pernah masuk 10 besar rangking kelas walaupun juga bukan pemilik rangking bontot.

Kemudian, kaya? Jaman saya masih SD (atau mungkin sampai SMP atau malah sampai SMA) saya cuma punya kesempatan buat beli baju baru itu hanya setahun sekali, biasanya satu stel doang, yaitu waktu menjelang lebaran. Jadi pas SD, bisa dibilang saya punya lebih banyak seragam sekolah ketimbang baju biasa. Soalnya di SD saya setiap hari seragamnya beda. Senin putih-rok merah, selasa putih-rok putih, Rabu coklat-rok coklat, Kamis baju kuning-celana coklat tua, Jumat coklat-celana coklat, Sabtu seragam HW, plus ada seragam olahraga juga. Dan karena SPP sekolah swasta sangatlah mahal, saya berasumsi bahwa semua dana yang dimiliki keluarga saya pasti dicurahkan untuk itu. Sehingga sepatu dan tas belum tentu setahun sekali ganti, itupun bukan barang bermerk. Akhir masa SD sampe SMP dan SMA saya kemana-mana naik bis kota selain nebeng. Nonton bioskop, ngemall, dan kehidupan hedon lain dalam setahun bisa dihitung jari mungkin. Mungkin saya baru bisa sedikit hedon pas udah kuliah, dimana saya dapat beasiswa dan juga dari kerja parttime.

Lantas sosial? HEYYY BUKA MATA PLISSS, memangnya saya nggak punya temen itu atas dasar keinginan sendiri. Saya mau mencoba menjelaskan terjadinya sebuah momen seseorang dianggap sombong. Jadi biasanya sih pada suatu waktu ada dua orang yang sebenarnya saling mengenal, gak sengaja bertemu di suatu tempat. Nah ketika orang tersebut nggak senyum atau nggak menyapa sekadar say hi, maka pasti dianggap sombong oleh satu orang yang lainnya itu. Misalnya si A ketemu si B terus mereka gak saling menyapa, nah hampir pasti si A mengejudge B sombong dan sebaliknya si B mengejudge A sombong. Padahal kan interaksi sapa menyapa itu berlangsung dua arah, lantas kenapa bisa salah satu mengejudge satu yang lain sombong. Bakal beda kalau salah satunya udah menyapa duluan dan yang disapa malah acuh tak acuh, kalau begitu menurut saya baru bisa dikatakan sombong. Tapi yang terjadi di dunia di sekitar saya, ketika seseorang lebih popular, lebih cantik, lebih kaya, atau entah lebih apapun, maka orang tersebut yang kemudian jadi korban dicap ‘sombong’. Yah hampir mirip sama kecelakaan di jalan raya yang melibatkan kendaraan motor dan mobil, siapapun yang salah pasti yang akan dipersalahkan yang derajat kendaraannya lebih tinggi yaitu si mobil. Dan hal itu juga berlaku untuk kecelakaan antara sepeda dengan motor, yang akan dipersalahkan tentu saja si motor. 

Maaf curhatnya jadi kepanjangan. Berbicara tentang diri sendiri memang menyenangkan, tapi sekaligus membosankan buat yang dengar. Anyway, terimakasih buat kalian yang kuat baca sampai sejauh ini. Saya menulis ini bukan karena saya ingin mengeluh, bukan juga karena mengharapkan belas kasihan orang lain. Tapi sebenarnya saya hanya muak sama semua stigma dari orang-orang yang nggak bener-bener kenal saya dan cuma menilai dari kulit luarnya aja. Pesan moral dari tulisan panjang ini sebenarnya hanya satu, yaitu DON’T JUDGE THE BOOK FROM IT’S COVER. Dan yeaaaah saya bersyukur dengan kesuksesan yang saya raih dan juga dengan lika liku kehidupan yang saya miliki. Semoga kalian juga begitu. Selamat malam!



Saturday, 7 March 2015

Di Antah Berantah

Selalu ada kok yg bisa disyukuri dalam setiap keadaan.

Ketika cuaca panas, maka semua cucian kering. Hanya sedikit hal yg bisa semenggembirakan cucian kering ketika stok baju terbatas sedangkan awal pekan berikutnya sudah harus pergi lg ke luar daerah. 

Ketika cuaca hujan maka setidaknya suhu udara lebih bersahabat. 

Ketika berada di antah berantah yang tentunya tidak senyaman di rumah, akan ada tempat-tempat menarik untuk dikunjungi. 

Ketika kembali ke 'rumah' yg cenderung membosankan setidaknya ada wifi yg sinyalnya lancar jaya.

Dan tentunya alangkah indahnya ketika semua kondisi tsb seimbang. Tak selalu panas, tak selalu hujan, tak selalu di luar, tak selalu di dalam..


catatan pertama dari daratan Ende, Flores, NTT

Sunday, 12 October 2014

Sedikit Berbagi Keresahan

Akhir-akhir ini segala hal yang muncul di depan saya menjelma keresahan.

Keresahan yang pertama muncul dari halaman Koran Kompas yang saya baca pada sebuah kesempatan. Berita yang tertulis adalah tentang kisruh pemilihan ketua DPR yang ramai diperbicangkan. Sepenangkapan saya, hal ini bermula dari adanya peraturan yang mengharuskan pengajuan calon DPR dilakukan dengan paket koalisi dengan minimal 5 partai. Berdasarkan peraturan yang berlaku, ada 10 partai yang mendapat kursi di DPR. Lima diantaranya telah tergabung dalam koalisi Merah Putih, sedangkan satu diantaranya, yakni partai Demokrat, memilih untuk tidak bergabung dalam paket manapun. Sehingga koalisi Indonesia Hebat, yang hanya terdiri dari 4 partai tidak memiliki kesempatan untuk mengajukan calon. Dengan begitu otomatis DPR dikuasai koalisi Merah Putih. Koalisi Indonesia Hebat yang merasa bahwa hal ini tidak adil tidak dapat melakukan apapun, kemudian memutuskan walk out. Dan seperti yang ramai diperbincangkan di social media, kabarnya palu yang semestinya digunakan untuk menetapkan putusan-putusan hilang atau lebih tepatnya disembunyikan. Pertama kali saya mendengar ini, saya hanya dapat terpana dan mengeluarkan dua patah kata: HOW CAN?
Selanjutnya, keresahan saya yang lain muncul ketika saya jogging pada suatu minggu pagi di lapangan GSP UGM. Ada sekelompok mahasiswa yang mengajak untuk menandatangani selembar kain putih untuk menolak RUU pemilihan kepala daerah oleh DPR. Well, saya pribadi juga menolak RUU tersebut, yang menurut saya mencuri demokrasi. Dan rupa-rupanya para mahasiswa juga merasa bahwa perlahan ada pihak-pihak yang ingin mengembalikan Indonesia ke jaman Orde Baru. Nah saya yang memang jarang mengikuti berita, apalagi berita yang berbau politik, beberapa yang lalu mendengar bahwa ternyata RUU ini telah disahkan karena menang dalam sidang paripurna DPR. Namun, SBY yang tidak senang dengan undang-undang ini langsung bertindak mengeluarkan Perpres yang notabene secara hukum memiliki hierarki lebih tinggi, yang isinya bertentangan dengan isi undang-undang tersebut. Otomatis undang-undang tersebut tidak jadi berlaku. Sungguh suatu kemubadziran dokumen perundang-undangan bukan?
Saya lantas teringat akan sebuah tugas kuliah, dimana kami mengambil studi kasus konflik pertambangan pasir besi di Kabupaten Kulonprogo. Dalam konflik yang telah bermula dari tahun 2006 tersebut, pada mulanya menurut peraturan tata ruang setempat tidak boleh dilakukan penambangan pasir besi di kawasan tersebut. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pada tahun 2010 dikeluarkan peraturan tata ruang wilayah yang lebih tinggi yang memperbolehkan penambangan. Otomatis, peraturan di tingkat daerah tidak berlaku lagi karena harus menyesuaikan dengan peraturan wilayah diatasnya. Ini terlihat seperti di negara kita ini terjadi peperangan antar lembaga pemerintah, berlomba saling mengakali di tingkat hierarki yang lebih tinggi. Sebagai seorang awam, saya merasa hal ini aneh dan meresahkan. Lalu apa kabar opini masyarakat di luar sana yang jauh lebih awam daripada saya?

Keresahan selanjutnya datang dari sebuah obrolan makan malam di sebuah resto. Kala itu ada teman saya yang membawa teman kost nya yang dari Myanmar. Di sudut meja itu tiba-tiba salah satu teman saya membahas mengenai Asean Economic Community yang akan berlaku di tahun 2015 mendatang. Setahu saya, perjanjian ini telah ditandatangani sejak tahun 2007 silam namun gaungnya baru terasa sekarang. Saat ini banyak negara-negara Asean yang telah mengirimkan warga negaranya untuk belajar Bahasa Indonesia dalam rangka menghadapi Asean Economic Community. Sedangkan kita masih tidak sadar, dan justru bangga ketika orang-orang dari negara lain tertarik belajar bahasa dan budaya kita. Kita yang tidak sadar ini dengan senang hati, welcome dan membantu dengan mereka yang ingin menguasai bahasa kita. Well, saya akui pemikiran ini memang terdengar ekstrem, tapi saya rasa ada benarnya juga. Sesungguhnya saya khawatir dengan perebutan dunia kerja yang mungkin akan saya masuki ketika saya lulus di tahun depan. Saya tidak membayangkan bahwa kali ini kita tidak hanya bersaing dengan sesama job seeker  Indonesia, tapi mungkin juga jobseeker dari negara lain. Sesungguhnya saya sangat khawatir kepada masa depan Indonesia dengan SDM yang seperti sekarang ini.
Mari berpindah pada keresahan saya yang lain. Keresahan ini selalu saya abaikan namun begitu terasa. Entah hanya perasaan saya yang baru saja pulang dari perbatasan Indonesia, sebuah kota di Natuna yang begitu tenang dan lenggang dari kendaraan bermotor, atau memang demikian keadaanya. Saya merasa Jogja, kota tempat saya menghabiskan 21 tahun hidup saya ini, semakin lama semakin penuh dengan kendaraan bermotor. Sederhananya, hal ini sangat terasa ketika mencari tempat parkir di jurusan, atau di pusat perbelanjaan. Parkiran begitu penuh sesak, tidak seperti pada tahun pertama saya kuliah. Dan juga sangat terasa ketika terjebak macet pada jam-jam sibuk di beberapa ruas jalan. Menurut berita yang saya baca di sebuah Koran dalam salah satu penantian saya di halte Trans Jogja, balik nama kendaraan yang masuk dari luar Jogja tidak dipungut biaya alias gratis. Hal ini tentunya mempermudah kendaraan dari luar untuk masuk ke Jogja. Kata ayah saya, kebijakan ini tentunya memang diambil untuk menguntungkan pemda melalui pajak kendaraan yang masuk. Akan tetapi apa kabar dengan kondisi jalanan Jogja atas dampak dari kebijakan ini? Saya sebagai salah satu warga asli Jogja merasa kecewa, mengingat saat ini Jogja sudah tidak lagi termasuk dalam The Most Livable City versi IAP (Ikatan Ahli Perencana).


Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang nantinya akan bekerja pada ranah-ranah diatas, tentu saja saya sangat resah. Resah atas berbagai hal yang secara random muncul di benak saya.
Karena seorang planner adalah decision maker, pembuat kebijakan publik.

Teman Baru, Lingkaran Baru :)

Beberapa waktu yang lalu sepulang KKN, saya diminta untuk menjadi salah satu koordinator panitia Career Days ke- XVI nya ECC UGM. Kita yang ditunjuk menjadi koordinator ada 18 orang, dengan rincian 4 orang sebagai koordinator kesekretariatan, 3 orang koordinator LO, 2 orang koordinator teknis, 1 orang memegang questioner, 4 orang di media, 1 orang bagian customer care, 1 orang bagian promosi,  1 orang bagian umum sekaligus wakil ketua, dan 1 orang lagi bagian konsumsi yang sekaligus ketua tim kita.

Mencontek cara kerja perusahaan-perusahaan, kita diperkenalkan dengan yang namanya KPI (Key Performance Index). Ada beberapa indikator yang harus kita capai, dan apabila mencapai target KPI maka kita akan diberi bonus. Ada 5 poin KPI yang disepakati, yaitu pertama kehadiran panitia dalam setiap rangkaian acara career days ini, dari mulai briefing, gladi resik, acara, sampai pembubaran panitia. Jumlah panitia yang hadir minimal mencapai 80% dari total panitia. Poin ke-2 adalah kepuasan user (bos kita di ECC) sama kinerja kita. Poin ke-3 adalah kepuasan jobseeker/pengunjung career days. Poin ke-4 adalah kepuasan officer yang  bergabung dalam event ini. Dan poin yang terakhir adalah kepuasan seluruh panitia yang lain dan jumlah dana yang terpakai untuk pembubaran panitia tidak lebih dari 90% dari total anggaran yang diberikan.

Awalnya kita tak saling kenal dan masih canggung, kemudian Mas Rudi memberikan semacam training singkat di sore hari. Gamesnya sederhana, kita diminta saling menyilangkan tangan membentuk lingkaran, dan bagaimana caranya kita bisa bergandengan tangan tanpa ada tangan yang tersilang. Setelah itu dilanjutkan dengan games tebak nama dan koordinator di bidang apa. Caranya kita dibagi menjadi 2 tim yang berdiri saling berhadapan, kemudian Mas Rudi akan menyentuh 2 orang dari 2 tim yang berbeda. Dua orang yang disentuh Mas Rudi ini akan berbalik dan adu cepat menyebutkan nama teman di tim lawan beserta bidangnya. Dia yang kalah cepat akan dianggap gugur dan keluar dari permainan. Games yang terakhir, kita dibagi menjadi 2 tim, dan diminta menyusun piramida dengan menggunakan gelas plastik dengan kriteria terdiri atas 7 tingkat, masing-masing tingkat terdiri dari 4 gelas, kecuali di tingkat terakhir yang hanya terdiri dari 3 gelas. Bentuknya bebas, boleh berisi air atau kosong, yang penting cukup kokoh. Prinsipnya, selain bagaimana berkreasi membentuk strategi, kita sesama tim koordinator harus saling kenal dan harus solid dulu sebelum menghadapi panitia yang lebih besar.

Dari sini kadang kita makan bareng, main bareng, nongkrong bareng, dan juga ramai berceloteh di grup salah satu instant messenger.

Briefing panitia yang keseluruhan juga diselipkan beberapa games sebagai ice breaking diantara kita. Seluruh panitia diwajibkan membawa pesawat kertas sebagai tiket masuk. Pesawat kertas ini diberi nama dan bidang masing-masing. Selanjutnya pesawat tersebut diterbangkan bersama-sama dalam sebuah ruangan, dan setelah itu masing-masing dari kita harus mengambil satu saja pesawat yang sudah bergelimpangan di sekitar kita. Kemudian tugas kita mengembalikan pesawat tersebut kepada pemiliknya. Nah, hal ini yang ternyata susah sekali karena pada dasarnya kita ber-seratus tujuh puluh satu orang ini tidak saling mengenal. Maka kita dipaksa untuk saling berkenalan satu sama lain.

Games selanjutnya adalah menyanyikan balonku ada lima sambil tepuk tangan sesuai dengan irama. Dan kita harus bisa bertepuk tangan secara bersamaan padahal nyanyinya dalam hati. Kemudian kita harus ber-high five dengan gaya tangan kanan-tangan kiri-dan saling menubrukkan pundak minimal dengan 5 orang berbeda. Dan yang terakhir, kita diminta menghitung dari satu sampai sejumlah panitia yang ada disana, sambil menutup mata. Satu orang menyebutkan satu angka dan tidak boleh menyebutkan angka yang sama. Pada awalnya ini susah sekali, karena ketika ada yang bersamaan menyebutkan angka yang sama, kita harus memulai lagi dari angka satu.  Akhirnya kita menyepakati kita akan memulai hitungan dari kelompok-kelompok kecil yang sudah dibuat sebelumnya, secara urut. Dan orang terakhir dalam kelompok itu akan menyebutkan angka hitungan dengan nada yang berbeda sebagai penanda bahwa giliran kelompok selanjutnya yang meneruskan hitungan.

Pada hari H, overall semua berjalan lancar dengan sedikit kendala disana sini yang masih tergolong wajar. Setiap pagi dilakukan briefing dan ditutup dengan evaluasi di sore hari.

Dan agenda terakhir kita adalah pembubaran di BNI Foodpark UGM, yang merupakan salah satu sister brand nya ECC selain Swevel. Konsep yang kita bawa, berangkat dari kesenjangan yang terasa antar bidang. Misalnya seorang LO yang kinerjanya begitu terlihat karena merupakan frontliner ,dibandingkan dengan bidang Teknis dan Media yang kinerjanya cenderung dibalik layar. Padahal sebenarnya setiap bidang bekerja dalam porsi yang sama. Dipadukan dengan tema Career Days XVI ‘Kamu Tahu, Kamu Hebat’, kita sepakat menetapkan dresscode nya adalah profesi. Gamesnya adalah membuat hal yang saat ini terbilang konyol menjadi ilmiah di tahun 2040, sesuai dengan profesi kita. Ada beberapa kata kunci yang bisa mengarah kepada Magic (Harry Potter) dan yang mengarah kepada Teknologi (Doraemon). Selanjutnya setiap yang datang akan mengambil undian berisi kata kunci, untuk duduk di meja yang sebelumya telah ditulis beberapa kata kunci. Ceritanya satu meja itu merupakan sebuah perusahaan yang akan menjual produk tertentu berdasar kata kunci yang telah diberikan. Kemudian setiap perusahaan akan mempresentasikan produknya di depan semua panitia. Games ini memiliki beberapa makna, yang pertama setiap profesi memiliki peran masing-masing yang tanpa peran salah satu dari mereka maka produk tersebut tidak akan jadi. Jadi nggak perlu lah, nyombong dan merasa paling berguna. Kedua, sistem undian bertujuan agar seluruh panitia dapat membaur menjadi satu dan tidak hanya bergaul dengan lingkarannya. Selain itu, setiap panitia akan ‘terpaksa’ berinteraksi dengan panitia yang lain, hanya untuk mencari meja yang sesuai. Ketiga, kreativitas. Jelas tanpa adanya kreativitas, hal konyol tidak dapat menjadi nyata dan terasa logis.

Dengan berakhirnya pembubaran panitia, maka selesailah tugas kita sebagai koordinator panitia Career Days XVI. Sampai jumpa di CD selanjutnya, mungkin. Well yaaa, hanya bisa berharap semoga kebersamaan kita tidak hanya sebatas kontrak proyek.
 
 
 
 

Tuesday, 2 September 2014

Happy Birthday!

Saya tidak pernah terlalu mengapresiasi hari ulang tahun,
selain hanya merayakan dengan refleksi diri dan membuat daftar resolusi baru. 
 
Karena saya selalu mendapatkan kado –atau yang saya anggap sebagai kado ulang tahun, yang selalu indah.
 
Tahun 2011, ulang tahun ke- 18. Saya diterima di UGM, salah satu universitas paling bergengsi di negeri ini, dengan jurusan yang sesuai dengan passion saya. Urban and Regional Planning! Tidak ada kado lain yang saya harapkan selain tiket menuju masa depan yang lebih baik, right?

Tahun 2012, ulang tahun ke-19. Pertengahan tahun itu saya berkesempatan untuk jalan-jalan ke Nusa Tenggara Barat dalam sebuah ekspedisi bersama teman-teman satubumi, melihat tempat-tempat paling amazing yang pernah saya kunjungi. Tambora-Pulau Moyo-Pulau Satonda-Pulau Lombok. Selengkapnya bisa dibaca disini.

Tahun 2013, ulang tahun ke-20. Pertengahan tahun itu saya juga berkesempatan menginjakkan kaki di Bangkok, Thailand dalam sebuah Kuliah Kerja Perencanaan bersama teman-teman jurusan. Cerita tentang Bangkok, bisa dibaca disini.

Tahun 2014, ulang tahun ke-21. Pertengahan tahun ini saya tidak hanya berkesempatan merasakan kehidupan di perbatasan Indonesia selama kurang lebih 2 bulan dalam kegiatan KKN, saya juga menemukan keluarga baru, lingkaran baru yang begitu solid. Postingan cerita tentang KKN menyusul ya. Terimakasih Tuhan, salah satu kado ulang tahun terindah dalam hidupku :)
 
Dan ditengah lingkaran baru saya itu, yang tahu tanggal lahir saya dari fotokopi KTP yang dikumpulkan untuk membeli tiket kapal, mau repot-repot menceburkan saya ke laut, memberikan surprise dan juga ritual sederhana tiup lilin, kemudian satu persatu bergiliran memberikan doa secara personal diiringi tepuk satu jari, sebelum akhirnya minta ditraktir. Hahaha. Anyway, terimakasih banyak guys :)
 
 
Ini nih si tangan-tangan nakal

Terlalu banyak hal yang semestinya saya syukuri dalam hidup. Mungkin bagi orang lain kedengarannya biasa saja, tapi melihat perjalanan saya mendapat semua ini, dan memandang dari sudut pandang tertentu, rasanya sungguh berbeda. Saya memiliki rumah dimana kapanpun saya selalu bisa pulang, kendaraan bermotor yang mendukung mobilitas saya, keluarga yang selalu percaya dan memberikan dukungan pada apapun yang saya pilih, berbagai pengalaman dan kesempatan bersama teman-teman di lingkaran saya, dan juga berbagai fasilitas pendukung yang bersifat materi. Serta komponen penting yang sering kali terlupakan dan baru terasa ketika kita kehilangan: kesehatan, dan juga teman baik. Mungkin saya akan menjabarkan paragraf satu ini dalam sebuah postingan lagi.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? –QS. Ar Rahman: 13
 
 

Saturday, 24 May 2014

Integrasi Sistem Transportasi Kota Bangkok

Moda Transportasi di Bangkok
Bangkok merupakan salah satu potret kota besar di negara berkembang yang sukses dalam menyediakan sistem transportasi massal. Sistem transportasi Kota Bangkok saat ini tergolong mudah dan efisien dengan berbagai alternatif moda transportasi yang saling terintegrasi satu sama lain. Beberapa pilihan moda transportasi di Kota Bangkok antara lain adalah Bangkok Transit System (BTS Skytrain), Mass Rapid Transit (MRT) atau kereta bawah tanah, Buss Rapid Transit (BRT), Airport Rail Link (ARL), taxi, waterways atau water taxi, dan moda transportasi lokal yaitu tuktuk. Sebagai daerah tujuan wisata, hal ini sangat memudahkan wisatawan dalam melakukan mobilitas dari satu objek wisata ke objek wisata yang lain sehingga menjadi salah satu faktor pendorong berkembangnya pariwisata Bangkok yang selalu diminati wisatawan mancanegara. Selanjutnya, pembahasan ini akan lebih difokuskan pada moda transportasi BTS Skytrain dan Waterways.


Latar belakang dibangunnya BTS: Kemacetan dan Destinasi Wisata

Peningkatan kemacetan yang disebabkan tidak sebandingnya antara laju pertambahan kendaraan pribadi dengan laju pertambahan lebar jalan, menjadi permasalahan utama di banyak negara, tak terkecuali Kota Bangkok, Thailand. Pada awal tahun 1990-an, kemacetan di Kota Bangkok merupakan salah satu kemacetan yang tergolong cukup parah di dunia. Kemudian pemerintah Thailand merencanakan membangun moda transportasi massal yang efisien dengan teknologi canggih untuk mengurangi kemacetan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat, yaitu BTS Skytrain. BTS Skytrain adalah moda transportasi berupa kereta massal yang melintasi kota yang relnya berada diatas jalan layang. Namun Pada tahun 1992 terjadi konflik politik yang menyebabkan pembangunan BTS Skytrain ini sempat terhenti, sehingga BTS Skytrain ini baru mulai beroperasi di tahun 1999. 

Selain untuk mengurangi kemacetan dan untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat Bangkok, pembangunan BTS Skytrain ini juga bertujuan untuk memfasilitasi wisatawan yang berkunjung ke Bangkok. Tidak dapat dipungkiri bahwa transportasi merupakan komponen penting dalam pariwisata. Kemudian dalam rangka menunjang fasilitas pariwisata, setelah sukses dengan BTS Skytrain, pemerintah Thailand menggandeng swasta untuk membangun Mass Rapid Transit (MRT) dan Buss Rapid Transit (BRT).

Jalur dan Jangkauan BTS

Panjang rel Skytrain sekarang ini mencapai 55 km, menempuh 480 perjalanan, atau 1,100 km perhari. BTS SkyTrain saat ini memiliki 2 jalur, yaitu BTS Skytrain Silom Line dan BTS Skytrain Sukhumvit Line. BTS Skytrain Silom Line beroperasi dari National Stadium setelah Stasiun Siam dan berakhir di Ratchaphruek di bagian selatan, dan sesuai dengan jalur yang dilayaninya diberi kode South (S) dan diberi nomor dari S1, S2, dst. Sedangkan BTS Skytrain Sukhumvit Line beroperasi dari Mo Chit di ujung utara hingga Bearing di sisi timur, dan jalur layanannya diberi kode North (N), West (W), dan East (E).Kedua jalur tersebut bertemu di Stasiun Interchange, yaitu Stasiun Siam. Semua jalur ini terletak di kanan sungai Chao Phraya kecuali beberapa stasiun terakhir jalur S (S7, S8, S9, dan S10).



Gambar1. Peta Rute dan Jangkauan BTS Skytrain

Kondisi Pelayanan, Perawatan, dan Jam Operasional
Kondisi baik di stasiun maupun di dalam BTS Skytrain tergolong aman, nyaman dan bebas tindak kriminal. Di stasiun BTS Skytrain tersedia pula skybridges(jalur pejalan kaki) dan beberapa fasilitas pelengkap lainnya seperti smallshop, cafe, dan mesin ATM.





Gambar 2. Kondisi Peron BTS (atas) dan Kondisi di dalam BTS (bawah)
Sumber: Dokumentasi Pribadi 2013

Kerena itu rel diperiksa setiap hari setelah kereta tidak beroperasi lagi. Yaitu antara pukul 01.00 - 04.00, setelah itu pelayanan dapat beroperasi dengan normal kembali pada pukul 06.00. BTS Skytrain beroperasi dari pukul 06.00-24.00 setiap harinya. 

Cara Mengakses BTS Skytrain
Tiket kereta BTS dapat dibeli di setiap stasiun, berupa tiket one-way, day pass (THB 100), atau monthly pass. One-way tiket harus dibeli dari mesin tiket menggunakan uang koin dengan menukarkan uang kertas ke uang koin di loket staff terlebih dahulu. Harga ditentukan sesuai jumlah stasiun yang Anda lalui, dapat dilihat langsung di samping mesin tiket.



Gambar 3. Tiket BTS Skytrain
Sumber: Dokumentasi Pribadi 2013

Waterways
Waterways merupakan moda transportasi air yang melewati Sungai Chao Phraya. Moda transportasi ini telah berkembang sejak dulu dan termasuk kearifan lokal yang bisa di adaptasi untuk sungai-sungai besar di Indonesia. Saat ini jalur waterways telah terintegrasi dengan jalur MRT di Stasiun Central Pier. Moda transportasi ini dapat dijadikan alternative karena terbebas dari macet dan kondisi pelayanannya yang tidak kalah dari transportasi darat.

Gambar 4. Moda Transportasi Waterways
Sumber: Dokumentasi Pribadi 2013



Gambar 5. Peta Jalur Moda Transportasi Waterways

Bentuk Integrasi Antar Moda Transportasi
Seperti telah disebutkan sebelumnya, system transportasi antar moda di Kota Bangkok telah terintegrasi dengan baik. Bentuk integrasinya adalah dengan adanya stasiun interchange untuk berganti moda atau berganti jalur seperti di Stasiun Siam, pengguna moda transportasi BTS Skytrain dapat berganti jalur dari BTS Skytrain Sukhumvit line dengan BTS Skytrain Silom line begitu juga sebaliknya. Selain itu, di Stasiun Sala Daeng dan Stasiun Asok, pengguna BTS Skytrain dapat berganti moda dengan MRT dan begitu juga sebaliknya. Sedangkan untuk interchange antara BTS Skytrain dengan waterways ada di Stasiun Central Pier. Sistem transportasi yang sudah saling terintegrasi seperti di Bangkok ini tentunya dapat dijadikan bahan referensi untuk di adaptasi di Indonesia demi tercapainya transportasi publik yang aman, nyaman, dan efisien. 


Gambar 6. Bentuk Integrasi Antar Moda Transportasi Di Bangkok