Tuesday, 23 October 2018

My Daily Life (2)

Ada apa lagi dalam hidup saya?

Beberapa waktu yang lalu saya mendatangi pernikahan seorang teman ekspedisi. Surprisely, dia menikah dengan mantan pacarnya! Saya bahkan tidak tau kapan mereka balikan, tau-tau udah nyebar undangan aja. Hal yang menarik dari pernikahan ini adalah diadakan dengan sederhana namun tetap layak. Saya datang di acara Ngundhuh Mantu nya, yang diadakan di rumahnya di Wates. Kedua mempelai ini menikah dengan memakai sepatu couple convers, dan bahkan bisa santai melenggang turun dari pelaminan untuk menyambut teman-teman undangan. Tidak ada live music digantikan musik-musik ala spotify yang diputar dengan sound. Tentunya lagu-lagu pilihan mereka sendiri, bukan lagu wajib pernikahan kebanyakan. Mempelai wanita bahkan bisa pegang hp, asyik sendiri selfie berdua dengan mempelai pria ketika tidak sedang ada tamu. Well, sejatinya seharusnya pesta pernikahan itu adalah pesta kita dimana kita bebas berekspresi dan tetap merasa nyaman. Saya hanya penasaran, bagaimana cara mereka meyakinkan orangtua mereka untuk mengadakan pesta pernikahan sesuai mau mereka ya?

Beberapa weekend saya belakangan ini cukup membahagiakan. Suatu Sabtu yang cerah, setelah puas berkeringat dari bermain badminton asyik sesiangan hingga sore, malamnya kami ke kuliner Kampung Tugu. Ya, sedang ada Gofood Festival yg malam itu dimeriahkan White Shoes and The Couples Company. Gagal menonton lantaran depan panggung sudah dipenuhi manusia yang lebih antusias menonton konser, akhirnya kami lebih memutuskan mengisi perut yang lapar sehabis berolahraga. Tapi ambience-nya cukup menyenangkan, ikut bergoyang seru sambil duduk, makan, dan mengobrol.

Weekend yang lain, ada Markerfest yang diadakan oleh Tokopedia di halaman Mandala Krida. Malam itu kami menonton The Rain dan Mocca. Sebenarnya besoknya kami berniat kesini lagi, namun apa daya: manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Sepenuhnya itu benar, sesederhana gagalnya rencana ikutan belajar nyablon siang itu, dilanjut nyore cantik sambil mendengarkan musik epic dari Rubah di Selatan, juga mengakhiri malam bersama Mbak Raisa yang cantik dan punya suara meneduhkan jiwa. Jogja memang tak pernah kehabisan event menarik yang juga gratis, itulah salah satu kemewahan tinggal di kota ini.

Alih-alih produktif di depan laptop mengejar deadline, saya malah terkapar tak berdaya di atas tempat tidur di bawah pengaruh obat flu yang sudah saya konsumsi dua kali dalam
hari itu. Lemah, cuma gara2 semalam pulang jam 12 malam saja sudah down! Well, apa sih yang bisa diharapkan dari pola hidup makan tak teratur, rajin pulang malam, terlalu sering begadang, sudah begitu tak pernah olahraga pula, juga tekanan hidup dari sana sini. Heu.

Weekend yang lain, setelah berenang, saya main ke Amplaz. Sedang ada Land of Leisure, dan kami nyore asyik bersama Ardhito Pramono. Awalnya gak ngerti dia ini siapa, sampai dia nyanyi yg The Bitterlove. Dan ternyata sebelom ini udah pernah nonton mini drama nya yg judulnya Bittersweet, tp blm ngeh kalo dia penyanyi jazz. Di awal, kami masih bisa nonton, tapi kami masih asyik jajan sambil merumput cantik. Trus pas udah akhir-akhir baru pengen nonton, udah gabisa menerobos kerumunan :( 
Tapi asyik sih ini, piknik sore di Taman Amplaz.

Lalu weekend terakhir kemarin, saya diajakin nyobain All You Can Eat nya Artotel Jogja. Jadi ceritanya istrinya sepupu saya kerja di situ, dan dia langsung berkabar waktu lagi ada promo. Sesuai dengan namanya, hotel ini sangat berseni. Dan tempat makannya yang semi outdoor ini seru banget sih buat saya. Di tengahnya ada kolam renang yang letaknya rada di atas, lalu prasmanan dan bakar-bakar barbeque ada di atas samping kolam renang yang outdoor, dan di sebelah pojok atas dijadikan corner buat band. Konsep garden party macam ini selalu bikin saya terkesan deh.

Lalu saya mau bahas tentang film, abis nonton anime sedih gitu ceritanya. Ada 3 cerita pendek, salah satunya bercerita tentang pertemanan 3 orang. Dua diantaranya saling suka. Lalu si mbak nya mau ngelanjutin sekolah di tempat yang jauh, yang susah gitu masuknya. Diam-diam si mas nya rajin belajar supaya bisa masuk sekolah itu juga, tapi gak bilang-bilang sama si mbak. Sementara itu, diam-diam si mbak sebenernya gak mau ke sekolah itu karena gak mau gak sama-sama mas itu lagi. Lalu mas nya ketrima dong di sekolah itu, sementara si mbaknya gagal tesnya. Begitulah kehidupan, gemes ya kenapa gak ngobrol aja sih mereka berdua.

Btw KPFT sekarang asyik banget dah, ada pingpong set, badminton set, dan satu set alat band-band an. Tinggal main aja kalau pas lagi nggak ada yang pakai. Padahal saya mah gabisa semuanya, gabisa pingpong, gabisa badminton, bahkan gabisa main musik, tapi suka aja menjadi penggembira nonton teman-teman yang main. Ada tempat ngopi sama minimarket nya juga. Mungkin kalau KPFT udah dirombak jadi sepuluh lantai, bakal lebih lengkap fasilitas buat mahasiswa. Kali aja bakal ada home theatre nya juga kan seru. Ini sekaligus ancaman sih buat sekre Satubumi dan sekre BSO-BSO yang lain. Mungkin kalau sekre dipindah, kami jadi tak bakal sebebas ini dan sebegitu serasa rumah sendiri. Tapi mungkin itu masih akan terjadi bertahun-tahun yang akan dating, ketika mungkin saja saya sudah tak berdiam di kota ini lagi.

My Daily Life


Well, bulan lalu saya menghabiskan Bumi Manusia nya Pram hanya dalam tiga hari. Tentu ada banyak hal yang bisa diambil dari novel popular ini. Kata-kata Jean Marais dimana kita harus adil semenjak dalam pikiran. Lalu pemikiran-pemikiran Minke, diantaranya adalah betapa menyenangkannya hidup tanpa harus berjalan menunduk-nunduk di hadapan kaki orang. Lalu bahkan saya jadi memikirkan bagaimana pribumi pada jamannya memperlakukan perempuan, dibandingkan bangsa kolonial memperlakukan perempuan. Lalu hal yang berkali-kali diingatkan, kita kaum terpelajar harus bersikap terpelajar pula. Dengan membaca novel Pram yang ditulis pada jaman segitu, yang konon kabarnya dia tulis di dalam penjara, tak bisa saya bayangkan betapa cerdasnya Pram. Lalu saya jadi penasaran background Pendidikan Pram, yang tentunya dia bisa menulis sedemikian rupa menunjukkan dia pasti juga kaum terpelajar. Apakah dia pribumi yang bangsawan?

Pada waktu yang bersamaan, saya sedang mengerjakan sebuah project untuk delineasi Kota Wates lama. Well, setelah saya menyelesaikan job menjadi surveyor untuk Kajian Pasar Tradisional di Kota Jogja, saya dijapri sama Mbak Bos tentang tawaran pekerjaan Kota Wates lama ini. Saya yang memang selalu tertarik pada sejarah langsung mengiyakan saja. Project ini mendorong saya untuk membaca literatur sejarah karena sejarah Wates erat kaitannya dengan sejarah masa kolonial Belanda. Salah satu literatur yang saya baca adalah tentang perubahan gaya hidup hedonis para pribumi yang berkuasa. Dalam literatur ini dijelaskan bahwa semenjak Pakualam IV terdapat sistem sewa tanah dimana tanah dapat disewakan selama puluhan tahun dengan dibayar di muka. Karena mereka pegang uang, maka dihamburkanlah. Salah satu tempat dansa dansi nya adalah yang sekarang menjadi Taman Budaya.

Ada juga beberapa literatur berbahasa inggris yang terpaksa saya baca karena disodorkan bos untuk dipelajari. Dari sini saya mengetahui istilah bangunan indische yang selama ini kita sering dengar dan gunakan merujuk pada bangunan reinassance yang telah mengalami adaptasi dengan iklim tropis di Indonesia. Lalu istilah vornstenlanden, istilah yang digunakan untuk menyebut daerah-daerah bekas kekuasan Kerajaan Mataram yang saat ini sudah terpecah menjadi daerah kekuasaan Kraton, Pakualam, dan Kasunanan Surakarta. Pikiran saya mulai melakukan sinkronisasi dengan apa-apa yang pernah saya tangkap sebelumnya. Salah satunya yang didapat dari jalan-jalan cantik di Jakarta tempo lalu dimana saya sempat mengunjungi Museum Jakarta di Kota Tua, tulisan-tulisan dari Buku Ekspedisi nya Kompas yang seri Ekspedisi Anyer-Panarukan, lalu kembali membuka materi-materi perkuliahan terutama tentang teori perencanaan dan teori keruangan. Juga karena ada literatur yang membahas tentang Batavia dan Kota Semarang, pikiran saya sibuk mensinkronisasi pengalaman saya ketika berkunjung ke kedua kota tersebut.

Itulah mengapa, saya selalu tertarik pada kota bersejarah. Saya senang mengunjungi tempat-tempat itu sambil mengkonstruksi dalam pikiran saya, artikel-artikel yang saya baca mengenai apa yang terjadi di tempat itu pada masa lalu. Begitupun ketika saya belajar materi Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) untuk CPNS, pikiran saya melalangbuana pada tempat yang sedang saya baca itu. Pada kunjungan saya ke Jakarta setahun lalu untuk mengikuti tes CPNS di Bappenas, sehari sebelumnya saya datang kesana berniat cek lokasi. Cuaca yang begitu terik menghantarkan kami menyeberang ke Taman Suropati yang cantik nan meneduhkan itu. Lantas saya membuka maps untuk orientasi sekitar, dan ternyata dalam lingkup walkable distance, terdapat Museum Proklamasi yang mana dulunya adalah Rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol nomor satu. Kami pun memutuskan mampir kesana, dan ini cukup berkesan karena materi tentang ini masih segar dalam ingatan sehabis dibaca beberapa hari terakhir.

Yang menjadi fokus saya adalah tipologi bentuk kota atau konsep keruangan yang diperkenalkan oleh tokoh-tokoh ternama. Misalnya sebut saja Garden City nya Ebenezer Howard. Lalu Thomas Karsten yang hasil karya nya masih banyak ditemukan hingga saat ini di Indonesia. Lalu literatur tentang kota-kota di Indonesia yang merupakan kota bersejarah, dari sudut pandang sejarah kolonialisme dan tata ruang.

Hari-hari itu saya juga sempat mendatangi sebuah musikalisasi sastra di Taman Budaya. Dan mau tak mau saya membayangkan tempat ini di masa lalu ketika masih menjadi tempat dansa-dansi para bangsawan. Bayangpun saja pikiran saya sepenuh apa dengan hal yang campur aduk ini, mencoba menghubungkan, mencari benang merah, dan merekonstruksi seolah saya hidup pada jaman itu.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menemani dosen menghadiri rapat penyusunan KAK untuk suatu pekerjaan. Dalam suatu obrolan, beliau pernah bilang bahwa belajar yang asyik itu bukan belajar dari text book tapi belajar yang dipaksa karena tuntutan pekerjaan. Saya setuju sekali, salah satu yang saya pikir-pikir ulang kalau mau ambil s2, saya tau ilmu saya masih cetek dan saya butuh sekolah lagi, tapi ada suatu kekhawatiran bahwa ilmu itu tidak langsung bisa saya aplikasikan. Walaupun, tentu saja di dunia ini tidak ada perbuatan positif yang sia-sia. Kalau tidak langsung bisa terasa manfaatnya saat ini, pasti akan berguna di kemudian hari. Dosen saya menganjurkan mengambil semua pekerjaan sekalipun yang belum kita pahami, dengan catatan kita akan tercambuk untuk belajar dalam rangka menjaga kualitas dari nama yang kita bawa, sebut saja nama besar Gadjah Mada. Maka itulah yang saya lakukan, mengambil pekerjaan-pekerjaan yang tak terlalu saya pahami, agar supaya saya terpaksa belajar lagi.

Dalam kesempatan berbeda, dosen saya ini membahas tren generasi milenial dalam memandang hunian. Alih-alih menabung untuk membeli rumah, mereka justru menabung untuk piknik. Dalam hati lalu saya bersorak, well saya salah satunya. Generasi terdahulu memandang rumah sebagai tempat tinggal seumur hidup sedang generasi saat ini cederung pragmatis. Ketika masih sendiri tidak masalah tinggal di apartemen studio, begitu pula ketika masih berdua dengan pasangan. Ketika mulai memiliki anak, mereka bisa pindah ke apartemen atau rumah yang lebih besar. Akhir-akhir ini saya banyak membaca artikel yang mengabarkan bahwa generasi saat ini terancam tidak mampu membeli hunian dengan pendapatan mereka sendiri tanpa adanya subsidi dari pemerintah. Artikel nyinyir lainnya mengatakan bahwa salah satunya disebabkan gaya hidup anak sekarang yang suka nongkrong di kafe-kafe fancy, ketimbang nabung buat beli rumah. Tapi kemudian ada yang menganalisis fenomena ini sebagai bentuk pelarian karena rendahnya affordabilitas untuk membeli hunian, sehingga justru menghidupkan gaya hidup ngopi-ngopi cantik yang mana masih affordable buat mereka. Sementara itu di negara-negara establish, hunian pertama (rumah tinggal pertama, bukan sebagai investasi) sudah menjadi jaminan untuk warganya.

Tapi sebenarnya pemerintah kita, lewat PUPR sudah berupaya menyediakan perumahan lewat skema-skema yang saya masih gak terlalu paham. Oke, nanti belajar lagi tentang ini deh. Well, fokusnya tentu saja untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Di Sleman sendiri terjadi backlog perumahan bagi MBR namun surplus bagi kalangan atas. Herannya waktu dibilang surplus, ketika pengembang membangun tetep laris juga. Ada indikasi money laundry yang menyebabkan distorsi market, dan juga ulah appraisal sih ini. Kompleks banget emang ini Sleman, udah moratorium tapi tetep aja banyak kecolongan. Bahkan ada apartemen yang berada di daerah resapan air dan memotong urat air. Dosen saya bilang, sebagai anak Teknik sebenernya bisa aja asalkan menyiapkan rekayasa ruangnya untuk mengatasi permasalahan yang ada. Tapi lalu saya teringat kata-kata dosen Geomorfologi saya, manusia bisa aja merekayasa macam-macam tapi kalau struktur geologi dan geomorfologinya sudah begitu, pada saatnya dia akan kembali pada fitrahnya. Maksudnya apa? Misalnya bisa aja nih kita merekayasa membelokkan aliran sungai dengan bendung dan segala macamnya untuk kepentingan tata ruang kita saat ini, tapi pada saatnya nanti mungkin aja aliran sungai itu akan kembali sesuai aslinya dan menimbulkan banjir bandang di masa depan. Atau daerah yang terletak di atas patahan, ketika waktunya terjadi pergeseran lempeng ya siap-siap aja kena dampak gempa. Jadi faktor geologi-geomorfologi ini sebenernya ndak bisa ditawar-tawar sih kalau dari sudut pandang geografi. Tapi dari sudut pandang Teknik, ya gimanapun harus bisa rekayasa dong, kan anak Teknik. Mirip-mirip lah sama tarik ulur Arsitek dan Teknik Sipil. Kalau anak arsi mendesain bangunan terlalu realistis dengan struktur yang bisa dibangun oleh sipil, tentu desainnya akan biasa-biasa aja dan kurang all out. Disitulah kerja keras anak Teknik sipil, untuk mewujudkan mbuh piye carane supaya desain bangunan anak arsi bisa tetap berdiri dengan kokoh. Jadi sebenernya ke-multidimensi-an ilmu ini sangat menarik ya..

Lalu pengen bahas tentang film dan buku-buku yang belakangan ini saya baca juga sih, tapi ini aja udah kepanjangan. Sekian dulu sis and bro..


Friday, 14 September 2018

Mengunci Ingatan

Hari ini entah sudah berapa kali aku mendengar Mengunci Ingatan-nya Barasuara. Bermula dari pagi yang lesu, menggiringku membuka youtube untuk mencari secercah keriangan untuk memulai hari. Masih di atas tempat tidur, aku membuka home aplikasi youtube dan langsung menemukan cover version nya Mengunci Ingatan yang dibawakan oleh Kunto Aji. Tertarik untuk memutar, dan setelah itu justru ingin mendengarkan versi aslinya. Beranjak duduk di depan meja belajar, aku memutar lagu itu berulang kali sembari menyerap dalam-dalam.

Sembuhkan lukamu yang membiru
Serpihan hatimu yang berdebu

Lagu ini sesuai sekali dengan apa yang kurasakan saat ini. Begitu dalam, namun dinyanyikan dengan tanpa membuatku meneteskan air mata. Memang lebih baik begitu.

Pagimu yang terluka
Malammu yang menyiksa
Hal yang ingin kau lupa
Justru semakin nyata

Ah, untuk apa kita mengingat hal-hal yang tak pantas diingat? Oke, mungkin bukan tak pantas diingat tapi lebih kepada tak perlu diingat-ingat lagi. Untuk apa aku masih mengingat hal-hal mendetail, semacam ingatan yang menyergap ketika tak sengaja melintasi suatu tempat. Kita pernah makan di tempat itu pada suatu siang di hari Jumat, bahkan aku juga ingat baju apa yang kukenakan saat itu. Buat apa? Bukan mauku, tapi teringat begitu saja. Lalu harus apa?

Sampah memori. Andai membersihkan pikiran semudah menghapus file cache dari memori handphone.

Lalu sesiangan ini aku mengerjakan powerpoint ditemani playlist yang lagi-lagi masih Barasuara, dan berlanjut dengan lagu-lagu sejenis. Diantaranya adalah Kisah dari Selatan Jakarta-nya White Shoes and The Couples Company, Berdistraksi-nya Danilla, dan Waktu Yang Salah yang dibawakan Fiersa Besari ft Tantri. Ketiga lagu tersebut merupakan lagu yang cocok untuk berdansa dansi berdua saja dalam kemelankolisan yang amat dalam. Romantis dan menenangkan. Atau minimal kalau belum ada yang bisa diajak berdansa dansi, lagu-lagu tsb bisa didengarkan sendirian saja di dalam kamar dengan menggunakan headset/earphone. Niscaya akan tercipta suatu rasa tersendiri.

Jam satu siang aku keluar dari kantor, memenuhi janji dengan pihak pemberi pekerjaan yang lain. Lalu kembali lagi ke kantor jam 4 sore. Iseng membuka IG story, ada seorang teman yang sharing tentang cover lagu Mengunci Ingatan oleh Kunto Aji. Video yang kutonton tadi pagi begitu bangun tidur.

Sembari menunggu proses print handout powerpoint untuk presentasi esok pagi, aku lagi-lagi membuka youtube. Kali ini memutuskan menonton shortmovie Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode. Lagu ini lagi. Rupanya lagu ini pun menjadi ost film ini. Maka di sinilah aku, mendekati pukul 8 malam teronggok di lantai pojok CITS lagi-lagi mendengarkan Mengunci Ingatan di akhir short movie tersebut, sebagai ost.

Mengunci ingatanmu
Menahan masa lalu
Memori yang membisu
Harapan yang berdebu
Sembuhkan lukamu
Serpihan hatimu

Ah, aku sudah overdosis..


***
Btw shortmovie nya bagus, walaupun sebenernya itu iklan mobil sih tapi ku tetap enjoy-enjoy aja menonton. Suka aja, selain karena memang pemerannya adalah mbak-mbak cantik idolakuh, wkwk.

Thursday, 6 September 2018

Reply

Aku menghabiskan sesorean ini berhadapan dengan laptop, berusaha menyelesaikan pekerjaan yang walaupun sudah dikerjakan setiap hari namun tak kunjung beres. Sengaja aku datang ke tempat ini: mencari suasana, mengusir suntuk. Mungkin sekaligus refreshing.

Aku suka tempat ini, bangunan berdinding kaca yang membuat kesan setengah outdoor, dengan banyak pepohonan di luarnya, juga interiornya yang modern dan fresh. Aku duduk di tempat favoritku seperti biasa, di samping jendela di dalam sebuah kafe kecil yang terletak di pedalaman kotaku, bukan di pinggiran jalan besar.

Handphone ku berdering, telepon dari seorang kawan lama. Salah satu sahabat terbaikku.

'Halo, kenapa mas?' Sapaku seperti biasa.

'Lagi dimana dek? Lagi sibuk yah?'

'Eh, enggak kok. Kenapa mas?'

'Ah bohong nih, pasti lagi sibuk kan? Sibuk terus nih..'

'Enggak kok, yeee..' ujarku sambil menutup laptop. Aku memang mulai jenuh, pas sekali dia menelepon.

'Eh bentar lagi aku mau ngelamar orang nih..' ujarnya tiba-tiba.

Hening. Aku terdiam sejenak, kaget luar biasa. 'Oh iyaaa? Waaaah, siapa mas? Kapan lamarannya?' seruku bertubi-tubi.

Aku tau suatu hari, ini akan terjadi. Dia adalah teman yang sudah kukenal hampir sepuluh tahun lamanya, yang kemudian belakangan menjadi sahabatku dalam berbagi segala hal. Tapi tentu aku juga harus berbahagia untuknya, bukan.

'Rahasia..', jawabnya.

'Loh, kok gitu? Trus ngapain nelpon kalo gak mau ngasih tau yeeee..' Aku benar-benar penasaran, karena yang kutau akhir-akhir ini dia tak dekat dengan seorangpun wanita. Ternyata aku sudah kecolongan, seperti dulu, dan selalu begitu. Selalu terlambat tau tentang kisah percintaannya.

'Gapapa dong, biar kamu siap-siap aja. Kan abis ini belom tentu kita bisa temenan kayak biasanya, belom tentu kita bisa telponan kayak gini juga..'

Aku merasa sesak, bagaimana mungkin bisa kubayangkan.. 'Ahahaa.. iya..'

'Eh udah dulu ya, aku mau pergi nih..'

Dan telepon terputus begitu saja. Aku setengah mati menahan air mataku tumpah, tak perlu lah aku menjadi bahan tontonan semua orang. Memang, sudah lama aku memendam rasa padanya. Bisa berteman akrab dengannya saja aku sudah merasa senang. Tak pernah kutau dan tak ingin juga mencari tau, apakah bahkan dia tau tentang perasaanku. Dadaku sesak, sangat sesak. Akhirnya salah satu teman terbaikku akan menikah.

Air mata yang kutahan-tahan itu akhirnya jatuh juga, aku menangis dalam diam. Tak perlu lah ada yang tau bahwa aku sedang menangis, cukup aku saja seorang.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Dia, teman terbaikku yg baru saja meneleponku tadi, datang dengan dua cup gelato di tangannya. Masing-masing berisi dua skup dengan dua varian rasa berbeda, salah satunya favoritku.

Aku kaget luar biasa, bagaimana mungkin dia mendadak muncul di kota ini, dan bisa tepat di tempat ini pula. Bukankah dia seharusnya sedang berada di kota lain? Dan terutama, bagaimana pula kusembunyikan wajah sendu patah hatiku ini?

'Loh mas, kok di Jogja?' ujarku terbata.

'Ahahaa iya nih, lagi pulang aja.'

'Tapi kok bisa ada di tempat ini juga?' Masih heran aku dibuatnya, atas kemunculannya yang mendadak itu.

'Bisa dong, lagian ini kan neighborhood rumahku. Harusnya aku dong yang nanya, km ngapain nyampe sini dek..'

Belum sempat kujawab, dia sudah bertanya lagi. 'Eh km nangis ya? Km nangis abis aku telpon? Ahahaaa..' akhirnya dia sadar juga dan malah sibuk menertawakan aku. 'Aku tadi lagi lewat sini, terus ngeliat kamu, trus iseng jd pengen mampir..' jelasnya.

Ternyata aku memang dikerjainya, dia sudah duluan melihatku lalu pura-pura menelepon sebelum mendatangiku langsung. Kurang ajar betul, dimana harus kusembunyikan mukaku ini.

'Heh! Nyebelin, ngerjain orang nih ya. Jadi km tuh beneran mau lamaran enggak nih mas?'

'Jadi dong, kalo diterima..' jawabnya mantap.

'Loh, emang belom bilang? Siapa sih, aku penasaran banget tauk..'

'Seriusan, kamu belom tau?' tanyanya dengan raut heran sembari duduk menjajariku.

'Aku kenal?'

'Kenal'

'Siapa deh? Aku belom denger gosip apapun nih. Lulusan sekolah kita juga?'

Dia hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Aku makin penasaran, pikiranku mengembara pada mantan-mantannya di masa lalu. Dia memang beberapa kali berpacaran dengan anak satu sekolah kami.

'Siapa sih? Angkatanku atau angkatanmu mas?'

'Angkatanmu.'

Aku mulai berprasangka. 'Jangan bilang, km balikan sama si itu ya?' kataku menyebutkan nama salah satu mantannya sambil menyipitkan mata.

Dia hanya menggeleng, masih dengan senyum jenakanya. Oh god, sebentar lagi aku tak akan bisa memandangi senyum ini lagi.

Siapa lagi? Setauku mbak itu adalah satu-satunya mantannya di angkatanku. Aku kehabisan ide, tak tau hendak menebak siapa lagi.

'Siapa?' tanyaku pasrah, tanpa bayangan dalam benakku.


'Kamu'


Aku terhenyak, hanya mampu terdiam beberapa saat. Lantas bertanya, 'Kenapa?'

'Masih inget obrolan kita di Jakarta waktu itu?'

'Yang mana? Yang aku tanya, lebih pilih nabung buat nikah atau nabung buat jalan-jalan?'

'Iya'

'Jangan bilang, kamu ngajakin aku nikah karena udah bosen solo travelling? Biar ada temen jalan?'

'Iya dong, kan jawaban kita udah sama. Jadi gimana?'

'You don't need to ask', kataku dengan senyum mengembang, sambil menyendok gelatoku. Tiba-tiba sore ini menjadi indah sekali.



***
Sesekali nulis drama picisan kek di atas boleh dong. Terinspirasi dari suatu sore yang syahdu di sebuah coworking space di kotaku. Juga mungkin efek membaca kisah Minke dan Annelies.

Tuesday, 10 July 2018

10 Jam di Surabaya

Well, perjalanan ini terjadi karena semaju apapun teknologi, bagaimanapun juga ada hal-hal yang tidak bisa hanya dibicarakan via telepon. Dua hari sebelum hari ini, dia membelikan saya tiket kereta api Turangga yang hanya tersisa satu tiket. Saya jarang sekali naik kereta eksekutif, namun berhubung tiket kereta ekonomi sudah habis terjual dan kebetulan ada kereta dengan jam yang bagus, maka saya ambil saja peluang ini dan berangkat dari Stasiun Tugu pukul 03.30 AM. So, the adventures begin here.

Kereta yang saya naiki adalah kereta baru, yang luarnya silver-silver gitu trus dalamnya tempat duduknya warna biru bagus. Berasa naik pesawat gitu, haha. Sebut saja saya norak karena jarang banget naik kereta eksekutif. Diluar fasilitasnya yang gak perlu diragukan, ada beberapa hal yang saya amati. Seragam mbak dan masnya yang kasual: kaos polo putih, celana khaki, sepatu sport putih. Kedatangan dan keberangkatan yang ontime banget dan selalu memberikan informasi apabila terjadi keterlamabatan, bahkan cuma telat 4 menit aja diumumin cobaa. Nada bicara pemberitahuan/informasi yang lebih menyenangkan dan menggemaskan. Dan yang saya bingungkan, kenapa di kereta ekonomi gak dibikin gini sekalian ya, kalau udah ada rekamannya kan apa susahnya tinggal diputer di kereta ekonomi juga. Apakah alasannya semata karena yg rela bayar mahal memang harus mendapat perlakuan yg super istimewa? Termasuk cara bicara yg super ramah, padahal ramah itu gratis loh tinggal dilakukan aja kan ye..

Saya bertemu dengan dia di Surabaya sekitar pukul 9 pagi, dia sendiri dari Jember naik Ranggajati. Kami menghubungi beberapa rental motor dan pada akhirnya kami memutuskan tidak jadi menyewa motor. Berhubung saya sudah lapar, saya mengusulkan mencari sarapan sambil jalan kaki ke arah Unair. So, kami berjalan melalui gang-gang kecil menuju Jalan Dharmawangsa. Berhubung dia pernah tinggal beberapa bulan di kota ini dan tinggal di sekitar RS.Soetomo maka kami tidak kesulitan mencari jalan tembusan ini.

Sampailah kami di Jalan Dharmawangsa, dan menemukan suatu tempat makan chinese food. Berhubung saya sudah lapar sedari tadi maka langsung saja kami masuk dan memesan makanan. Dan ternyata dia lupa kalau porsi makan disini ekstra banyak, bahkan satu nasi goreng ayam yang dimakan berdua pun masih belum berkurang setengahnya. Lalu tercetus ide untuk membungkus nasi goreng itu dan membagikannya ke jalanan. So, itulah yang kami lakukan sembari menyusuri jalan melanjutkan perjalanan menuju Unair.

Setelah jalan kaki yang rasanya sih nggak jauh (karena sambil ngobrol seru, mungkin), sampailah kami di Unair kampus B. Kami memutuskan masuk dan mencari sebuah jurusan, hanya untuk melihat sekeliling aja. Setelah itu kami sholat dhuhur di masjid sebelah Fakultas Ekonomi dan Bisnis lalu kembali melanjutkan perjalanan. Sebenernya mau kemana sih kami?

Well, sebenernya kami ke Surabaya hanya untuk bertemu namun berkedok mencari kost. Maka disinilah kami, di daerah Karangmenjangan menyusuri gang V sampai gang I mencari rumah-rumah yang bertuliskan terima kost putri. Setelah melihat-lihat beberapa kamar di beberapa rumah berbeda, juga menghubungi beberapa kontak yang tertulis di bawah tulisan 'TERIMA KOST PUTRI' yang kami temukan, kami memutuskan untuk rehat sejenak. Kebetulan di seberang jalan terdapat sebuah coffe shop yang terlihat menjanjikan namun sepi pengunjung. Namanya Sareh (cmiiw, lupa namanya), jualannya makanan dan minuman aceh tapi jual beberapa snack dan minuman lain juga. Kafenya lumayan bagus, interiornya tergolong instagramable, mas-mas yang jaga juga ramah, dan terutama ber AC -sangat cocok buat ngadem di tengah teriknya Surabaya yang punya image panas. Harganya juga cocok di kantong mahasiswa. Entah kenapa sepi, mungkin karena masih musim liburan atau mungkin aja baru rame menjelang malam seperti coffe shop kebanyakan.

Karena sebelumnya kita bahas tentang film, jadilah kami memutuskan nonton Kulari ke Pantai. Pertama pengen nonton film ini karena ada yang bilang ini film anak-anak sekualitas Petualangan Sherina jaman dulu. Berhubung saya suka sekali Petualangan Sherina, bahkan menginspirasi saya untuk mengunjungi tempat-tempat itu: Boscha dan perkebunannya Pak Ardiwilaga, wkwk. Maka kami mencari jadwal nonton yang pas dan pada akhirnya kami memutuskan ke Ciputra World.

Daerah sekitar dan menuju Ciputra World merupakan daerah yang asing bagi kami berdua. Kalau mengikuti cerita jalan-jalan ke Surabaya saya yang lalu, tau dong kalo selama ini kami mainnya hanya sekitaran Gubeng, mentok-mentok sampai Tunjungan Plaza atau House of Sampoerna. Tentang film Kulari ke Pantai, saya ceritakan di postingan terpisah ya. Yang jelas film ini really make my day!

Setelah nonton, kami sholat ashar masih di lantai yang sama. Dan ketika cek ketersediaan tiket pulang (karena kami tak berencana menginap di kota ini), kereta ke Jogja hari ini hanya tersisa 7 tiket. Setengah panik, kami langsung order gojek di samping happy puppy (ini penting banget ditulis biar besok-besok kalo kesini lagi inget dimana harus order gojek, wkwk) dan melaju menuju Stasiun Gubeng Baru. Tiket yang tersisa hari ini adalah Kereta Sancaka Tambahan yang berangkat pukul 6.15 PM. Ada satu kereta lagi, Mutiara Timur pukul 7.00 PM kalau nggak salah, dan itu tiketnya sudah lama habis.

Sesampainya saya di stasiun, saya langsung setengah lari-lari ke loket go show. Dan setelah sampai pada antrean saya, saya masih mendapatkan tiket itu, Alhamdulillah. Tinggal 2 tiket, dan langsung habis dibeli oleh bapak-bapak di belakang saya. Merasa beruntung sekali saya hari itu, tidak harus menghadapi kenyataan terburuk: naik bus. Perjalanan darat dengan menggunakan bus bisa mencapai 7-8 jam, dengan kereta eksekutif cukup lima setengah jam saja. Tapi kereta saya cukup berbeda dengan kereta saya tadi pagi, walaupun sama-sama eksekutif ya. Mungkin karena ini kereta tambahan, dan mungkin juga karena ini gerbong terakhir. Tidak ada selimut, tidak ada petugas yang lalu lalang menawarkan makanan, tidak ada lampu soft yang remang-remang asyik, dan tidak ada fullmusic videoklip Raisa. Dengan ini, berakhirlah petualangan saya hari ini. Btw ini berasa abis main seharian sampe kemalaman lalu esoknya sudah kembali bekerja, gak berasa abis keluar kota.wkwk


Monday, 11 June 2018

Pariwisata (Part 2)

Beberapa waktu yang lalu (mungkin tepatnya awal tahun ini) saya dan beberapa teman memutuskan jalan-jalan cantik eksplor Mangunan tapi mampir dulu ke Imogiri.

Well, kami ke makam raja-raja di Imogiri. Ini sebenarnya adalah kunjungan saya kesekian kali, tapi karena sepertinya terakhir kali ke sini waktu SMA jadi tidak masalah mengunjungi tempat ini lagi. Sebenarnya selama ini cukup heran mengapa ada yang namanya wisata religi atau wisata pesanggrahan. Bagaimana mungkin kuburan menjadi tempat yang menarik untuk berwisata? Lalu ketika saya menginjakkan kaki di kompleks makam raja di Imogiri, saya memang menemukan ketertarikan dan kesadaran bahwa tempat ini memang menarik untuk dikunjungi. Setelah mendaki kurang lebih 409 anak tangga (kata abdi dalem yang jaga), saya tertarik melihat gapura dan pintu menuju makam yang dihias oleh ukiran kuno. Ke kanan adalah deretan makam Sri Sultan Hamengkubuwana dan ke kiri adalah deretan makam Sri Susuhunan Pakubuwono. 

Lalu hal lain yang mengusik saya adalah, kenapa hanya makam saja dibuat sebagus ini. Bahkan Taj Mahal di India dan Piramid di Mesir yang masuk dalam situs keajaiban dunia yang dilindungi unesco juga merupakan makam. Well, pastinya itu untuk menghormati dan menghargai orang-orang yang dianggap penting. Tapi tidakkah cukup menjadikan makam se-syahdu dan se-khidmat Taman Makam Pahlawan di Jalan Kusumanegara? Kadang saya berpikir, kalau saya sudah tiada apa yang akan orang ingat dari saya. Tapi kalo ndak salah, dalam islam kan memang tidak boleh membangun bangunan di atas makam. Bahkan tidak perlu pakai kijing, cukup segundukan tanah dengan papan nama. Sepertinya kalau ndak salah supaya kita tidak terus-terusan mengingat yang sudah tiada, tapi tetap merawat makam secara tidak berlebihan. Cmiiw.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke persawahan Sukorame yang sedang hits itu. Sekarang segala wisata rupanya memang dirancang supaya bagus buat foto-foto, instagramable lah.

Setelah itu kami ke wisata hutan pinus Rumah Hobbit Seribu Batu Songgolangit, lalu ke Pintu Langit Dahromo, dan nongkrong cantik di Kedai Ngisor yang terletak di bukit Pathuk, Gunungkidul. Sejujurnya saya sudah terlalu muak dengan spot-spot foto ala-ala yang sangat banyak tersebar di semua lokasi wisata hutan pinus (dan mungkin juga semua wisata alam lainnya). Well, mungkin karena saya sudah pernah menyusuri sebagian besar dan merasa bosan.

Dulu saya punya kebiasaan berwisata hingga kelelahan, menyusun ittenerary sepadat mungkin karena tidak ingin melewatkan objek wisata menarik. Dan rupanya ini tidak baik, lebih baik memilih satu atau dua objek saja lalu menghabiskan waktu sepuasnya di sana. Berangkat pagi, pulang malam dengan badan pegal, mandi lantas tidur nyenyak untuk jalan-jalan hari berikutnya. Seperti ketika saya ke Bandung, ke Malang, ke Singapura, bahkan jalan-jalan ke hutan pinus dan ke pantai libur natal tahun lalu..

Tapi iya sih, salah satu motivasi saya rutin berolahraga adalah supaya saya kuat jalan-jalan kemanapun kalau mendadak ada yang ngajakin. Harus rajin jogging supaya kalau mendadak ada yang nodong, 'yuk ke Semeru' bisa langsung mengiyakan tanpa khawatir akan menyusahkan tim dengan kondisi badan yang tidak fit.

Btw sebenarnya saya berniat memasukkan beberapa foto dalam postingan ini, tapi berhubung saya malas sekali memilah foto jadi nanti saja diedit postingannya dengan tambahan foto ya. Lagi-lagi ini tulisan lama dan tidak up to date. Sudah memasuki musim liburan lagi, semoga saya bisa konsisten menulis dan posting tulisan baru. Teaser untuk postingan jalan-jalan berikutnya, saya akan posting cerita backpackeran ke ibukota Bulan April lalu yang sudah dibuat draft nya. Selamat berlibur!

Monday, 21 May 2018

Show Off


Sharing is caring. Akhir-akhir ini saya memikirkan bagaimana caranya berbagi di sosial media tanpa melibatkan unsur pamer. Karena bagaimanapun toh itulah tujuan sosial media diciptakan: untuk bersosialisasi, berlomba-lomba menjadi makhluk paling sosialita. Akhir-akhir ini saya banyak mendengar istilah ‘budak-budak instagram’ atau seseorang yang minta difotoin demi ‘ngasih makan instagram’. Well, istilah ‘ngasih makan instagram’ sebenernya ada benarnya juga sih, karena istilah ‘newsfeed’ dan ‘feed’ like feeding my pet, ngasih makan hewan peliharaan. Ngomong apa sih gue, wkwk.

Dan parahnya dalam urusan agama, juga dipamerkan. Misal lagi tarawih di masjid apa, atau lagi ikut kajiannya ustadz siapa. Padahal supaya tidak menjadi riya’, dalam urusan ibadah sebaiknya kan hanya rahasia antara kau dan Dia.

Seorang teman pernah bilang bahwa instagram merupakan platform paling toxic karena semua orang mengupload kesuksesan mereka di sana. Lantas apakah ini salah? I mean baik si peng-upload maupun si follower yang baperan (duh). Tentu tidak. Saya sendiri pernah begitu sesak dengan satu platform, sebut saja Path, yang mana dulunya merupakan platform favorit hingga saya tak pernah tak bisa merasa sakit hati setiap scrolling Path dan akhirnya memutuskan untuk uninstall. Kenapa sakit hati? Well, mungkin karena Path kan memang bersifat daily life gitu kan, lalu saya mendapati diri saya merasa envy setiap melihat pergerakan teman-teman saya yang bahkan tanpa mereka sengaja update, tapi menunjukkan bahwa mereka arrive in mana. Atau sesederhana mereka hangout di kafe mana tanpa mengikutsertakan dirimu. Hal-hal sekecil itu di saat yang tidak tepat ternyata mampu memporakporandakan perasaan ya. Ah, mungkin saya saja yang lemah. Setelahnya saya merasa lebih damai. Dan ternyata tak hanya saya seorang yang mengalami hal serupa, banyak orang di sekitar saya yang juga demikian.

Seperti kata Fiersa Besari dalam sebuah update-an di salah satu sosial medianya, tidak perlu menggali apabila tak sanggup menghadapi. Well, kadang kita tak perlu tau kehidupan orang lain, kalau ternyata kita justru sakit hati saat mengetahuinya. Gak usah stalking mantan lah kalau gak siap mengetahui bahwa dia jauh lebih bahagia setelah berpisah denganmu. Terus tiba-tiba terngiang lagunya Ed Shereen, i know i was happier with you.. Nah, ini lain lagi. Hahaa

Lalu mengenenai perhelatan-perhelatan seni yang kini tak pernah sepi dari ‘budak-budak instagram’. Saya pernah melihat share-share an yang intinya dia sedih banyak karya lukisnya yang rusak setelah pameran, yang tidak lain dan tidak bukan rusak karena manusia-manusia yang hanya peduli fotonya terlihat bagus di instagram.

Suatu hari di sebuah acara radio, tim Artjog datang untuk mempromosikan event ini ke khalayak masyarakat. Mereka membagikan enam tiket gratis kepada tiga pemenang beruntung, syaratnya adalah mengajukan pertanyaan apapun terkait Artjog. Nah, di sini yang menarik. Berdasar pantauan saya dari twitter, pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru aneh-aneh. Ada yang menanyakan kontribusi Artjog terhadap peningkatan kreativitas para pekerja seni di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Ada juga yang menanyakan apakah pengunjung wanita diharuskan mengenakan kacamata besar dan tas goodybag. Satire abis ya. Lalu ada yang menanyakan sasaran pasar (target market) Artjog dengan harga tiket yang tidak bisa dikatakan murah. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengandung kritik menarik. Saya sendiri sudah tidak pernah ke Artjog setelah harga tiket masuknya yang menurut saya tidak lagi sesuai dengan kantong saya. Lagian untuk men-supply kebutuhan saya akan seni, masih banyak perhelatan seni gratisan di kota ini. Berarti saya memang bukan target market dari Artjog ya. Haha. Sebenarnya bukan karena nggak sanggup bayar sih, kalau dibayarin sekalipun saya masih mikir dua kali kalau diajak ke Artjog (tapi ini tergantung siapa yang ngajakin sih, hehe). Karena, pertama, saya gak ngerti-ngerti amat tentang seni, cuma suka aja datang dan mengapresiasi, melihat-lihat dan mencoba mengerti, dan juga karena katanya seni itu menyehatkan. Ke-2, Melihat popularitas Artjog akhir-akhir ini saya menjadi malas untuk menjadi satu dari sekian banyak yang berjubel di dalam sana. Menurut saya, seni itu bukan untuk dinikmati secara rebutan. Seperti sholat, kita butuh kekhusyukan tersendiri untuk mendapatkan efek maksimal. Dan ke-3, mungkin saya merasa tidak sebanding aja antara kepuasan yang saya dapatkan versus harga tiket yang harus dibayarkan.

Saya jadi teringat, salah satu preferensi saya memilih mall untuk tempat nongkrong ketika melewati waktu maghrib adalah kondisi mushola di mall tersebut. Malas banget kalau mau sholat aja mesti mengantre, berdesak-desakan, terburu-buru karena udah ada yang ngantre di belakang kita, dsb. Sejauh ini dalam urusan mushola, menurut saya mall ter-oke di kota saya adalah JCM yang mana mushola nya ada di tiap lantai jadi ketika maghrib pun tak akan terlalu ramai. Well, begitu juga dengan pameran seni dan toko buku atau perpustakaan, juga tempat wisata alam. Saya rasa tempat-tempat tersebut sejatinya tidak cocok dalam keadaan ramai.

Entah, mungkin selama ini saya terlanjur mendapat privilage dengan mendatangi tempat-tempat tersebut dalam keadaan sepi sebelum menjadi se-mainstream sekarang. Dulu ketika hiking, kami bahkan selalu menyapa dan di sapa oleh siapapun yang kami temui di atas gunung. Minimal menanyakan dari mana, atau sekedar saling memberi semangat ketika berpapasan saat hendak naik/turun. Kalau sekarang, rasanya sudah malas saking banyaknya orang, bahkan harus mengantre dan tak bisa memilih jalur dengan leluasa. Juga privilage ketika bisa camping di pantai yang berasa pantai pribadi karena hanya kami satu-satunya pengunjung di sana. Kalau sekarang, jangan harap menjadi satu-satunya pengunjung, dapat tempat aja udah alhamdulillah ya.

Lalu tentang musik indie, musik folk, film indie, dan hal apapun berbau indie. Indie berasal dari kata independent, artinya segala proses penciptaannya hingga rekamannya tidak dilakukan dengan menggunakan label rekaman yang sudah besar. Mungkin karena pengaruh lingkungan, akhir-akhir ini saya mulai tertarik pada musik-musik indie. Bukan karena indie nya, tapi perasaan yang ditimbulkan dari pengalaman yang berbeda. Maksudnya, ketika kita terbiasa mendengarkan musik-musik pop yang banyak ditayangkan di media televisi atau di radio, ketika kita mendengarkan musik dengan tambahan instrumen yang berbeda, atau yang dinyanyikan secara tidak biasa, akan melahirkan perasaan yang berbeda pula. Lalu ada kritikan yang mana muncul dalam sebuah meme, tentang atribut yang dipakai mereka yang datang ke acara-acara indie gratisan. Seolah kalau kamu pendengar musik indie, kamu perlu mengabarkan pada seluruh dunia kalau selera musikmu berbeda.

Dalam sebuah pameran seni yang lain, sebut saja Biennale, saya mendapati banyak tulisan menarik yang kalo ndak salah ditulis oleh Farid Stevy nya FSTVLST (eh bener gak nih tulisannya?). Salah satunya berinti semua orang ingin terlihat beda, dan karena SEMUA ingin berbeda malah jadinya SAMA SEMUA. See?

Saya jadi ingin menelaah lebih lanjut, mengapa pada dasarnya setiap orang ingin berbeda dari orang yang lain? Mungkin karena ada dorongan untuk eksis, untuk dianggap ada, untuk menjadi trendsetter. Lalu apa yang mendasari keinginan-keinginan tersebut? Mari kita bahas lain waktu. Paling tidak dengan menulis ini, dan dibantu kopi yang saya minum sahur tadi, misi saya untuk tidak tidur lagi setelah subuh tercapai. Yeaaaaay :)