Tuesday, 15 October 2013

Nostalgia Takbiran

Takbiran, berasal dari kata takbir dan mendapat akhiran -an. Menurut KBBI takbiran adalah pujian kepada Allah dengan menyerukan takbir.

Entah, semenjak sejauh saya bisa mengingat, kampong kami –Kampong Gambiran, sudah memiliki tradisi mengadakan lomba takbir keliling antar masjid setiap malam Idul Fitri maupun malam Idul Adha. Yang masuk delinease nya adalah: masjid tepat di tenggara rumah saya yaitu Masjid Al Waahid, Masjid MWS yang terletak di belakang rumah saya berselang beberapa kompleks makam, Masjid Al Ma’un yang terletak paling selatan, Masjid Al Ikhlas pinggir sungai Gajahwong, Masjid An Nur di ujung utara sana, dan belakangan berdiri sebuah Mushola Purwo HS di belakang rumah Pak RW. Jadi semuanya ada 5 Masjid+1 Mushola. 

Takbir keliling ini hanya sebatas mengelilingi kampong kami dengan melewati semua masjid/mushola tsb dan kemudian finish di salah satu masjid, ada acara sebentar, dan ditutup dengan pengumuman juara. Sederhana.

Kemudian, kalau takbiran Idul Fitri, cenderung lebih meriah karena ada juga pembagian hadiah lomba disamping pembagian doorprize. Jadi, pada saat bulan puasa diadakan berbagai macam lomba kayak lomba hafalan surat pendek, lomba adzan, lomba bikin kaligrafi, lomba menggambar dan mewarnai, lomba CCA (Cerdas Cermat Agama Islam), lomba mendongeng, lomba nasyid, sampai lomba peragaan busana muslim. Terus ceritanya, karena yayasan Al Waahid punya TPA dan so pasti anak-anak Al Waahid kan ikutan TPA, jadi langganan juara CCA. Berhubung anak MWS ada yang jago nyanyi sama jago gambar jadi mereka juga langganan menang, dsb. Tapi ada juga masjid yang terkenal kalau anak-anaknya nakal soalnya kalau kalah lomba suka nggak terima terus berulah gitu deh. Ahaha, keinget masa kecil.

Kembali pada takbir keliling. Pada awalnya, yang menjadi penilaian lomba takbir keliling adalah kerapian barisan, kekompakan takbir, dan kreativitas dalam membuat lampion, kostum, maupun maskot takbiran. Kemudian saat ini berkembang dengan penambahan penilaian display yang lokasinya sengaja dipilih di tengah jalan besar dalam rute takbir keliling, yaitu di Jalan Perintis Kemerdekaan. Nah, dalam display ini yang ditampilkan bisa berupa drama singkat, atraksi, dsb sesuai dengan kesepakatan tema yang telah dirapatkan para panitia lomba takbir keliling yang sekaligus merupakan perwakilan tiap masjid/mushola.

Lucunya, meskipun yang diperebutkan hanya piala bergilir dan juga sedikit bingkisan –yang kami semua juga sudah bisa menebak: pasti berisi makanan-makanan ringan, sapu, serok, dan alat bersih-bersih lainnya –semua  orang tetap antusias dan totalitas. Ada lah yang namanya latihan takbiran, begadang tiap pulang tarawih buat bikin lampion, kostum, sama maskot, dan juga ada yang namanya mata-mata. Jadi tiap masjid/mushola pasti punya basecamp tuh, kadang ada aja mata-mata yang mau mencuri atau meniru ide atau konsep sebuah masjid. Contohnya begini, ketika suatu siang kami sedang berkumpul untuk menggagas koreografi display, salah satu teman saya yang baru datang bilang, 

“.. ya ampun, masjid X pake drumband loh, terus maskot mereka bentuk unta gitu. Tadi aku liat mereka latihan waktu mau otw kesini. Kita juga mesti pake alat musik biar nggak kalah kece dong...”  

Pada jamannya angkatan setingkat di atas saya, Masjid Al Waahid berada pada jaman keemasan. Wuidih, kayak kerajaan aja punya jaman keemasan. Iya dong, kami dulu berturut-turut selalu menjadi juara karena maskot kami yang memang keren dan juga SDMnya yang banyak dan super kompak. Tapi roda selalu berputar, ada jaman keemasan berarti ada juga jaman kemunduran. Nah jaman kemunduran Al Waahid sepertinya bermula dari ketika angkatan saya memegang tampuk kepemimpinan. Saat itu kami sempat mengalami krisis kepemimpinan dan sekaligus merasa ditinggalkan ketika para angkatan atas mundur teratur dari barisan. Akhirnya kami pun ada yang lepas satu-satu tapi ada juga yang masih tetap bertahan menjadi pejuang tangguh yang memotori pergerakan. Saya sendiri termasuk yang lepas karena berbagai kesibukan akademik dan juga organisasi lain. Para pejuang tangguh, kalian hebat guys :)

Pada saat yang bersamaan, juga berkembang lomba takbir keliling di Kelurahan Pandeyan yang tingkatnya lebih oke ketimbang yang tingkat kampong saya itu. Setiap tahunnya, kampong kami selalu diundang untuk ikut memeriahkan takbiran di sana –dan sebenarnya kami juga mau banget. Akan tetapi selama ini kami terlalu asyik sendiri di kampong sendiri. Tapi mengingat rute takbiran yang lebih jauh dan jam bubar yang lebih larut, lalu bagaimana dengan nasib anak-anak kecil yang biasa ikut takbiran di kampong saya ini. Kasihan juga kalau mereka nggak kuat. Jadilah kami masih asyik di kampong sendiri. 

Suatu hari, masjid yang sudah langganan meraih piala bergilir lomba takbiran di kampong kami itu memutuskan nggak ikut lagi takbiran di Gambiran, mereka mau memenuhi undangan dari yang Kelurahan. Go international lah, kalau pinjam istilahnya artis-artis ibukota. So, kami para masjid yang merasa nggak kalah kece pun merasa terkhianati, situasi pun menjadi chaos. Ahaha, lebay.

Dan seiring perkembangan jaman, takbiran tak lagi sesuai dengan esensi awalnya: bertakbir mengumandangkan Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa- ilaaha- illallaahu wallaahu akbar. Allahu Akbar walillaahil- hamd . Tetapi yang barusan saya dengar justru mereka berteriak teriak mengelukan masjidnya dengan lagu-lagu suporteran yang juga diiringi drumband. Nah loh, ini supporter bayaran dari mana coba? 

Kemudian karena berbaur dengan seni dan kreativitas, hasil gubahannya juga macam-macam. Ada yang nada takbirannya jadi beraliran rock ditambah jingkrak-jingkrak gak jelas, ada yang beraliran keroncong ala pengamen malioboro, dan ada yang masih mempertahankan aliran lama yaitu kayak drumband pada umumnya. Itu baru musik penggiring, belom konsep display sama kostum. Pernah pas masih deketan sama erupsi merapi dulu itu, masjid kami bikin semacam gunungan yang nanti waktu display dibuka isinya kambing. Nggak gitu ngerti dulu filosofinya apaan, kalo sekarang dinalar sih mungkin selalu ada hikmah dari bencana erupsi, mungkin tanahnya jadi subur, terus tambang pasir menggelimang, intinya membawa kebaikan lah. Nah kebaikan itu disimbolkan dengan kambing buat kurban. Ahaha, maksa yaa..

Kenapa judulnya nostalgia? Nah, sempat disinggung sedikit di atas, bahwasanya saya gagal menjadi pejuang tangguh yang terus bertahan di arena penghabisan. Disamping faktor munculnya aliansi masjid tetangga yang cenderung lebih kompak dan berjiwa muda yang kemudian menjadi rival berat, ada juga faktor pengaruh komunitas lain yang terlanjur menjadi magnet tersendiri. Sehingga yak begitulah, saya lepas dan tak tahu jalan pulang kembali.



Friday, 4 October 2013

Feeling Afraid

Sebenarnya ketakutan itu apa sih?

Cuma perasaanmu aja kok.

Banyak orang bilang, 
“..sebenarnya ketakutan itu kan hanya berasal dari pikiran kita..”

Ketakutan itu, cara tubuh kita merespon sesuatu rangsangan/stimulant tertentu yang dirasa mengancam. Jadi bagus kok kalo kita masih bisa merasa takut, tandanya radar dalam tubuh kita masih bekerja memberi tahu kita akan ada sesuatu yang entah, hanya sedikit membuat kita merasa tidak nyaman atau bahkan mengancam.

Lalu mengapa harus ada bagian dari tubuh kita yang ikutan bereaksi saat kita ketakutan? Saya merasa tidak masalah dengan rasa takut ini, tapi sangat bermasalah dengan reaksi tubuh yang ditimbulkan. Well, karena otak kita sebegitu kerennya, dia mengirimkan sinyal ketakutan itu ke kelenjar-kelenjar penghasil hormon tertentu yang kemudian mensekresikan hormon sehingga munculah efek-efek tertentu.

Nah, masalahnya adalah ketika yang muncul adalah ketakutan atau kecemasan yang berlebihan atau tidak beralasan. Well, sebenarnya tidak ada ketakutan yang tanpa alasan, yang ada adalah kita yang tak bisa menerima kondisi tersebut tanpa kita sadari. Fenomena ini mungkin lebih dikenal dengan syndrome phobia atau trauma. Ada berbagai jenis phobia. Phobia ketinggian, phobia gelap, phobia ruang tertutup, bahkan nosophobia –ketakutan terserang penyakit.

Lalu trauma itu apa? Trauma adalah sebuah ketakutan yang tak terselesaikan, dalam artian pengalaman ketakutan yang selalu berulang yang dipicu oleh sebuah kondisi tertentu, karena pada awal mula terjadinya, pernah terjadi hal yang tak bisa diterima alam bawah sadar kita mengenai kondisi tersebut. Sehingga ketika di kemudian hari kondisi itu muncul, alam bawah sadar kita otomatis menolak karena tak ingin merasakan hal yang sama, yang pernah terjadi sebelumnya. Nah trauma itu bisa muncul dalam bentuk ketakutan dan kecemasan itu sendiri. Bayangkan saja seperti sebuah luka sayatan di permukaan kulit kita, sekalipun sudah kering dan sembuh ada yang menyisakan bekas bahkan lebih sensitif dibanding permukaan kulit yang lain.

Jadi, menurut saya kira-kira begini alurnya:
stimulant yg mengindikasikan ancaman (masa lalu) -ketakutan (masa lalu) -tak terselesaikan, tidak bisa diterima alam bawah sadar kita -stimulant yg sama (masa sekarang ) -ketakutan/kecemasan saat ini (disebut trauma) -menjadi berlebihan atau disorder (disebut fobia)

Kemudian hal yang sangat mengganggu adalah ketika ketakutan yang nggak terselesaikan ini merasuk ke dalam bawah sadar kita, dan muncul melalui mimpi-mimpi buruk yang menghantui tidur kita. Ini terjadi  karena kita tidak bisa mengalahkan rasa takut kita di dunia nyata. Dan menurut saya, tidur adalah masa paling jujur dalam periode hidup manusia. Tidur selalu apa adanya, tak bisa bersandiwara dan tak perlu bertopeng.

Kembali pada topik awal: ketakutan. Lalu bagaimana jika ketakutan yang muncul adalah ketakutan terhadap manusia lain? Saya pernah mendengar dari sebuah acara On The Spot, ada seorang yang dibuang sedari lahir, kemudian dirawat oleh binatang dan akhirnya ditemukan kembali oleh publik dan niatnya mau diselamatkan oleh sesama manusia, tapi dianya malah ketakutan karena nggak pernah liat manusia. Ironis bukan? Saya melihat tayangan ini dalam salah satu penantian saya di sebuah halte trans jogja, jadi nggak terlalu nyimak.


Tentunya apabila ketakutan itu masih berada pada ranah yang wajar dengan ukuran yang tepat, kita justru semestinya bersyukur masih memiliki radar yang baik. Karena radar ketakutan itu setipe sama hati nurani kita, kalau terlalu sering kita abaikan, seiring waktu maka kita nggak pernah bisa mendengarkan lagi bisikannya. Namun apabila ternyata ketakutan yang kita miliki mulai nyeleneh, sudah sepantasnya kita mulai mengabaikannya. Bisa dengan terapi atau hanya dengan bermodalkan sugesti. 


Friday, 9 August 2013

Lupa dan Eksistensi Manusia

Lupa. Hal yang manusiawi namun terkadang tak termaafkan.

Lupa tak menepati janji, lupa tanggal ulang tahun, lupa nama, lupa muka. Ah, masih biasa. Namun ketika teringat sebuah film, A Moment to Remember, jadinya sungguh tragis ketika seseorang yang dicintai justru lupa akan eksistensi orang yang mencintainya, dan justru mengingat orang tersebut sebagai mantan kekasihnya di masa lalu. Dan memang,eksistensi juga termasuk salah satu kebutuhan dasar manusia, setiap manusia toh tentu saja butuh dianggap ada.


Tapi toh seseorang bukan sengaja memilih untuk lupa, bukan? Lantas, berhak kah seseorang marah ketika orang lain lupa terhadap sesuatu yang menyangkut dirinya?

Katanya, manusia memang tempatnya salah dan lupa.

Dan justru karena kemampuan manusia untuk melupakan, yang memudahkan kita sebagai manusia untuk memaafkan kesalahan orang lain. Ya, dengan semakin cepat melupakan kejadian itu, semakin cepat melupakan hal yang membuat kita marah atau kesal kepada orang tersebut. Berarti dengan begitu, akan semakin cepat pula kita memaafkan dengan cara melupakannya.

Ketika saya masih sering berhaha-hihi dengan kedua teman saya yang menurut saya selalu bisa mengingat hal detil apapun, saya pernah mengungkapkan kekesalan saya yang sangat berbeda dari mereka perihal ini. Tapi teman saya itu jadinya tak pernah bisa marah terlalu lama kepada kami semua orang karena selalu teringat segala hal yang pernah dilakukan bersama, dan juga kebaikan apa saja yang pernah orang lain lakukan kepadanya. Tapi dengan begitu, berarti dia juga mengingat sama jelasnya setiap tingkah menyebalkan orang lain yang membuat dia marah. Ah, ternyata susah juga ya memiliki long-term memory.

Kembali pada topik bahasan sebelumnya. Tapi ternyata sangat mengerikan ketika tak hanya satu orang yang melupakan eksistensi kita. Menjadikan kita sebagai seorang nothing -bukan siapa siapa.

Seperti Bystander Effect menurut saya, semua orang saling berbagi tanggung jawab untuk saling, apa ya istilahnya, memperhatikan, menyayangi, atau mungkin sekedar menyadari keberadaan orang lain. Menurut saya akan lebih baik apabila setiap orang mempunyai komunitasnya masing-masing dimana mereka mendapat perhatian dari segelintir orang di sana. Namun sayangnya tak semua orang memiliki komunitas, dan ada komunitas yang terlalu besar sehingga setiap orangnya tak terlalu mengenal satu sama lain, otomatis keberadaan orang tertentu menjadi invisible, tak ada yang menyadari keberadaannya, alih-alih memperhatikan.

Sedikit intermezzo, dalam ilmu psikologi istilah Bystander Effect berarti efek yang bekerja pada semua orang dalam suatu kondisi untuk saling melempar tanggung jawab untuk menolong orang lain. Mungkin mirip hukum merawat jenazah kalo di agama islam, hukumnya kan fardlu kifayah: artinya jika sudah ada yang melakukannya maka gugurlah kewajiban untuk itu, tapi bila tidak ada yang melakukannya maka berdosalah semua orang di tempat tersebut.

Salah satu contoh Bystander Effect adalah ketika terjadi sebuah kecelakaan di jalan raya, maka setiap pengguna jalan dan semua orang yang sedang berada di tempat tersebut akan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menolong sang korban kecelakaan. Karena setiap orang berpikir, ah biar orang lain saja yang memanggil ambulance toh di sini ada banyak orang, maka tidak akan ada yang tergerak untuk menolong si korban. Nah, Bystander Effect ini akan hilang ketika ada yang secara personal memanggil kita, atau meminta tolong secara langsung kepada kita.

Terkadang ketika saya merasa lelah dengan semua orang yang melupakan saya, saya kembali menekuri pemikiran di atas. Toh saya juga sering tak sengaja lupa identitas seseorang yang pernah saya kenal tempo dulu. Karena mengenal seseorang bagi saya bermula dari mengenal karakter dan peran orang tersebut, kemudian setelahnya baru mengenal nama.

Dan mengingat bahwa di dunia ini ada sistem yang menjaga nggak ada yang bisa nggak seimbang, maka langkah pertama yang semestinya dilakukan ketika berharap dianggap ada adalah dengan menghargai eksistensi orang lain. Mulai mencoba mengenal orang lain yang tadinya kita anggap sebagai orang asing. Dan ketika ternyata kita masih merasa tak pernah dianggap ada, tak perlu khawatir :)

Selain itu, ketika semua hal duniawi memporakporandakan perhatian kita, kita terkadang lupa bahwa kita masih memiliki kontrak hidup dengan-Nya. Ya, kontrak untuk terus hidup dan beribadah kepada-Nya. Saya pun mendesah, manusia memang tempatnya lupa.


Monday, 15 July 2013

Ambulance, not my mine.

Hai. Hari ini aku kembali mengunjungi tempat itu dan kembali menunggu seseorang hingga batas waktu yang sama: pukul 22.00 sebelum kemudian memutuskan pulang dengan perasaan yang entah, mungkin lebih baik atau sama saja. Padahal ketika orang yang dinantikan datang, aku toh juga belum tau akan berkisah dari mana. Selalu begitu.

Di dunia ini, aku hanya bisa berkisah pada dua sosok manusia. Kisah yang menyublimkan segala perasaan melalui gesture atau ekspresi, entah bahagia yang membuncah setelah berhaha hihi dengan kawan lama, perasaan excited setelah menemukan hal atau sosok baru yang begitu mempesona, atau justru kekosongan. Ya, intinya seluruh hingar bingar di sudut hati.

Mereka bukan seorang motivator, bukan psikolog, bukan therapis, bukan pula pendengar yang baik. Mereka hanyalah dua teman yang baik, tapi cukup untuk memicu ketergantungan tersendiri untuk terus bersandar. Aku tak tahu apakah ini kabar baik atau buruk, karena kemudian akibatnya ketika dua teman yang baik ini tidak berada pada waktu, tempat, dan keadaan yang tepat dan tak ada yang mampu menggantikan kedua sosoknya, maka yang ada hanya mendung, mendung, dan terus mendung..

Karena bagiku orang-orang yang memampang kisahnya di dunia manapun, tak ubahnya seorang pelacur yang menawarkan dirinya, atau seorang pengemis yang meminta minta kepada setiap orang yang lewat. Ya, mungkin memang tak se-ekstrem demikian.

Aku hanya lupa bahwa kedua sosok itu pernah berbisik, “Helooo, I’m not your ambulance..”  dalam sebuah lagu yang mendesau di atas lincak.



Dalam pelarian hati, 
yang menunggu hujan membasuh segala keresahanku.


Ternyata perjalanan itu masih kurang panjang untuk mengusir kegundahan hati. Haruskah kita terus berlari hanya untuk mendamaikan hati yang resah, ataukah langit mulai berbaik hati mau menjatuhkan rintik hujan pengganti mendung yang berketerusan ini?

Helooo My Mood Booster, where have you gone?



Sunday, 19 May 2013

Survey

Berbicara tentang dunia perkuliahan, sebenarnya saya kangen sama yang namanya survey lapangan. Meskipun yah dulu pas semester awal-awal dikit mengeluh terutama karena gerahnya berpanas panasan di tengah kota, entah di tepi jalan raya atau justru blusukan di permukiman dengan gang yang sempit. Sampai ada guyonan tentang anak PWK, “..kamu kuliah apa mbajak sawah e, kok jadi item begitu..”

Masa-masa semester satu.

Survey Studio. Keinget janjian survey pagi buta jam 5 pagi –buat dapetin foto penampang jalan, foto façade, sama mengukur lebar jalan pakai meteran –tapi namanya juga jam karet, baru pada kumpul jam 7 kurang. Jadilah kami mengukur lebar jalan gejayan sebelum ringroad pada jam segitu dan mesti teriak teriakan “.. awas ada mobil.. cepet cepet sekarang lari ke seberang mumpung sepi.. “ dan juga diiringi klakson kendaraaan yang sliweran lewat.
Tim Studio Satu

Survey tentang elemen pembentuk kota menurut Kevin Lynch di Kecamatan Gondokusuman yang berakhir jalan-jalan ke Galeria Mall.haha :)

Survey ke TPA Piyungan yang segitu jauhnya dari kawasan UGM dan nggak mendapat penjelasan apapun karena lupa membawa surat survey.

Dan juga masa-masa semester dua, yang masih dapat kawasan amatan studio di Kota Yogyakarta. Kebetulan dapat Kelurahan Sosromenduran trus blusukan dari pasar kembang sampai kampung internasional, jalan-jalan keluar masuk Stasiun Tugu dan blusukan sampai permukiman di tepi-tepi relnya.

Trus survey Ndalem di Jeron Beteng. Ternyata sudah banyak Ndalem yang beralih fungsi dari fungsi aslinya karena dijual oleh pemiliknya, ada yang sudah menjadi tempat makan/resto, wisma/penginapan, malah ada yang jadi universitas. Tapi hampir semua masih mempertahankan bentuk aslinya kok. Beruntung, Ndalem amatan saya, Ndalem Purbonegaran, masih difungsikan sebagai Ndalem dalam artian rumah. Kami diijinkan berkeliling di kompleks Ndalem, dan bahkan masuk ke rumah utama hingga masuk kamar tidur. Dan saya cukup tercengang melihat perpaduan yang kontras mengenai desain tradisional bangunan yang kejawen dan juga tambahan perabotan modern di dalamnya seperti kulkas dan springbed. Selengkapnya mengenai Ndalem, postingannya menyusul ya.


Pintu Gerbang Ndalem Purbonegaran

Semester tiga, masanya bolak balik Jogja-Purworejo karena ada aja data yang ketinggalan setelah selama seminggu menginap untuk survey disana. Para cowok-driver-studio-purworejo, kalian hebat guys :)


Mampir bangunan cagar budaya yang udah nggak dipakai, Stasiun Purworejo

Tim Purworejo. 
Ceritanya anak2 kota yang 'gumun' liat sawah.hahahaa peace meeen :)

Dan akhirnya survey pertama di semester empat, survey lapangan ke Kecamatan Kraton, yeah tentu saja sekalian main-main. Survey yang rencananya paling lama makan waktu satu jam jadi makan waktu sekitar 3 sampai 4 jam karena mampir muter-muter Tamansari sama ada insiden ban bocor. Tamansari masih nggak terlalu berubah sejak terakhir kali saya ke sana, selalu menarik untuk belajar komposisi fotografi. Postingan tentang Tamansari menyusul ya.


Bertemu penjual manisan

Tim Survey Kecamatan Kraton



Friday, 3 May 2013

Mendung

Hari yang kelabu, tak terik tapi tak juga hujan.
Mendung seolah menunggu waktu yang tepat untuk meneteskan air.
Membuat orang-orang resah ketika ingin bepergian, dan membuat anak-anak antusias menunggu hujan untuk bermain-main  bersamanya, dan mungkin demi melihat pelangi setelahnya.

Tapi hujan tak kunjung datang.

Hanya mendung, dan terus mendung. 

Di luar konteks keindahan hujan, aku merindukan hujan. Hujan yang menghapus mendung yang meresahkan. Tak apalah basah saat ini, toh ada selimut hangat dan juga secangkir coklat panas yang menunguku di rumah.

Teruntuk hujan, cepatlah datang menjemput segala keresahanku, 
dan membuaiku dalam kedamaianmu.



Tuesday, 23 April 2013

Be Brave :)

Tak pernah menyesal pada sesuatu, ah atau tepatnya seseorang yang membuat saya berada di sini.

Dan mungkin memang tak ada yang perlu disesalkan, toh memang selalu ada harga yang harus dibayar untuk semua yang kita dapat. Dan mungkin harga yang bisa saya bayar tak pernah sebanding dengan apa yang saya dapat. Teringat kata-kata dari seorang teman di sebuah obrolan atau tepatnya curhatan di tengah malam itu.

“..langkah pertama yang paling benar untuk membalas sebuah kebaikan adalah dengan menerima kebaikan itu sendiri. Kan jadi salah kalo niatnya mutusin pacar gara gara si pacar yang terlalu baik ke kita dan kita nya nggak merasa sanggup buat kasih feed back..”

Analogi yang kena banget, walopun menurutku tentu saja nggak bisa dianalogikan begitu..

Jadi mengapa saya suka naik gunung?

Selain masalah pemandangan, sebenarnya berawal dari sebuah pelarian. Dan saya menemukan sebuah kedamaian di atas ketinggian itu, sejenak melupakan masalah duniawi dan menghilang dari peredaran karena memang tak ada sinyal di tempat setinggi itu. Ah ya, pengecualian di puncak Gunung Tambora yang masih bisa telponan pake sinyal telkomsel. Dan juga segala kondisi ekstrem atau kesulitan yang membuat saya menjadi bersyukur ketika kembali ke peradaban.

Misalnya ketika merasa sangat gerah di rumah, rasanya tak lagi ingin mengeluh ketika teringat dingin yang sangat menusuk ketika saya pertama kali naik Merapi, atau dinginnya Lawu. Dan ketika dulu saya sangat malas sekedar untuk menghangatkan air dengan kompor gas di rumah, ketika mengingat repotnya memasak di atas gunung, rasanya memasak apapun di rumah menjadi sangat menyenangkan. Lalu teringat ketika ngebela-belain menyentuh air yang dinginnya begitu untuk sholat di atas gunung, atau harus bertayamum karena keterbatasan air, maka saya mempertanyakan diri saya sendiri ketika malas sholat di tempat yang lebih mudah. Dan ketika saya malas sekali keluar rumah padahal sekadar melangkah ke warung sebelah untuk membeli sesuatu, rasanya jadi ringan ketika teringat begitu mudahnya mendapat barang apapun di jam berapapun karena ada indomaret yang buka 24jam disini , dibandingkan ketika saya  berada di Sumbawa waktu itu.


Di Merbabu

Pada intinya, naik gunung itu mengikis sifat pemalas saya, dan menumbuhkan rasa bersyukur terhadap hidup.

Puncak pertama: Puncak Lawu (3265 mdpl). Cerita selengkapnya bisa dibaca disini.

Puncak Merbabu (3145 mdpl), ketika pendakian massal dalam rangka ultah SATUBUMI tahun 2012.

Puncak Merbabu di kesempatan yang lain, dengan  jalur yang berbeda dan cenderung lebih ekstrem.

Danau Taman Hidup, Argopuro

Puncak Tambora (2820 mdpl).

Dan juga perjalanan naik gunung yang nggak sampai puncak atau hanya berniat bermain-main atau ‘pindah tidur’ di hutan. Pendakian Merapi via selo (selengkapnya bisa dibaca disini) dan juga latihan navdar di Ungaran.

Caving.

Ketertarikan saya yang lain di dunia yang satu ini. Walopun belum pernah masuk goa vertical, tapi ketika melihat keindahan ornament goa, stalagtit dan stalagmit yang begitu rapuh. Juga perlakuan senior saya yang begitu ‘menyayangi’ goa, “..sayang kan, untuk tumbuh stalagtit berapa centimeter aja butuh waktu berapa lama. Masa kita gampang aja matahin gitu..”


Pintu Masuk Goa

Ornamen Goa


Genangan air di dalam Goa

Kemudian rafting, dimana pada awalnya saya nggak ngerti apa yang di cari dari kegiatan ini. Entah mau mencari jeram atau justru menghindari jeram. Pertama kalinya saya rafting, di Elo langsung nyobain 2 trip dan konsepnya latihan, bukan funraft. Wow, pada saat itu saya langsung beranggapan bahwa ternyata rafting lebih meremukkan badan ketimbang naik gunung. Sepulang dari rafting, saya kebingungan mencari titik pusat linu karena rasanya seluruh badan dari pinggang ke atas serasa remuk redam dan akhirnya mengoleskan counterpain bagaikan mengoleskan handbody.hoho

Rafting Elo

Beberapa kali rafting masih di Elo dan kemudian beberapa waktu yang lalu mencoba rafting di sungai dengan karakteristik yang berbeda, Serayu. Berawal dari menghadiri sebuah presentasi mengenai ekspedisi pemetaan Sungai Serayu, saya bersama beberapa teman tertarik untuk mencoba dan merasakan sendiri mengarungi sungai serayu yang katanya cukup menantang ini. Elo termasuk antara sungai dengan grade 2-3, sedangkan Serayu termasuk grade 4. Maka berangkatlah kami bersepuluh menuju basecamp Serayu di wonosobo. Hmm, ternyata jauh juga ditempuh dengan naik motor.

Jeram di Serayu jauh lebih banyak dan lebih menantang dari Elo. Ada jeram selamat datang, jeram tangga, jeram double drop, jeram S, jeram watukodok, dan jeram-jeram lainnya, diakhiri dengan jeram dwi. Beberapa jeram dinamakan sesuai bentuk fisiknya yang menyerupai tangga dan ada juga yang dinamakan seperti nama orang yang pernah meninggal di jeram tersebut.

Dan saya menemukan sebuah kedamaian di antara sekian banyak jeram di sana. Di antara pandangan yang terbuka lebar, dan pepohonan di tepian sungai. Di area flat di antara sekian jeram. Perasaan tenang dan damai.

Panjat tebing.

Nah, ini merupakan kegiatan yang tidak terlalu menarik bagi saya. Walaupun nggak nolak ketika di ajakin manjat di Siung atau sekedar jadi tim daratnya anak-anak panjat di Samigaluh. Karena memanjat selalu membutuhkan otot atau teknik, dan lebih bagus kalau punya keduanya.

Panjat tebing di Siung

Kembali pada sesuatu yang menjadi topik utama tulisan ini, mungkin boleh meminjam istilah Oppurtunity Cost dari mata kuliah ekonomi. Tentu saja akan ada biaya yang harus dikorbankan karena pilihan yang kita ambil. Dan biaya yang dimaksud disini tak hanya mengacu pada finansial, tapi juga waktu, kesempatan, dan yang lain-lain. Be brave, untuk melakukan kegiatan-kegiatan seru di atas, dan untuk menanggung segala konsekuensi dari pilihan kita memilih berkecimpung di dunia yang satu ini :)

Be Brave, Latihan SRT di selasar KPFT :)