Tuesday, 2 September 2014

Happy Birthday!

Saya tidak pernah terlalu mengapresiasi hari ulang tahun,
selain hanya merayakan dengan refleksi diri dan membuat daftar resolusi baru. 
 
Karena saya selalu mendapatkan kado –atau yang saya anggap sebagai kado ulang tahun, yang selalu indah.
 
Tahun 2011, ulang tahun ke- 18. Saya diterima di UGM, salah satu universitas paling bergengsi di negeri ini, dengan jurusan yang sesuai dengan passion saya. Urban and Regional Planning! Tidak ada kado lain yang saya harapkan selain tiket menuju masa depan yang lebih baik, right?

Tahun 2012, ulang tahun ke-19. Pertengahan tahun itu saya berkesempatan untuk jalan-jalan ke Nusa Tenggara Barat dalam sebuah ekspedisi bersama teman-teman satubumi, melihat tempat-tempat paling amazing yang pernah saya kunjungi. Tambora-Pulau Moyo-Pulau Satonda-Pulau Lombok. Selengkapnya bisa dibaca disini.

Tahun 2013, ulang tahun ke-20. Pertengahan tahun itu saya juga berkesempatan menginjakkan kaki di Bangkok, Thailand dalam sebuah Kuliah Kerja Perencanaan bersama teman-teman jurusan. Cerita tentang Bangkok, bisa dibaca disini.

Tahun 2014, ulang tahun ke-21. Pertengahan tahun ini saya tidak hanya berkesempatan merasakan kehidupan di perbatasan Indonesia selama kurang lebih 2 bulan dalam kegiatan KKN, saya juga menemukan keluarga baru, lingkaran baru yang begitu solid. Postingan cerita tentang KKN menyusul ya. Terimakasih Tuhan, salah satu kado ulang tahun terindah dalam hidupku :)
 
Dan ditengah lingkaran baru saya itu, yang tahu tanggal lahir saya dari fotokopi KTP yang dikumpulkan untuk membeli tiket kapal, mau repot-repot menceburkan saya ke laut, memberikan surprise dan juga ritual sederhana tiup lilin, kemudian satu persatu bergiliran memberikan doa secara personal diiringi tepuk satu jari, sebelum akhirnya minta ditraktir. Hahaha. Anyway, terimakasih banyak guys :)
 
 
Ini nih si tangan-tangan nakal

Terlalu banyak hal yang semestinya saya syukuri dalam hidup. Mungkin bagi orang lain kedengarannya biasa saja, tapi melihat perjalanan saya mendapat semua ini, dan memandang dari sudut pandang tertentu, rasanya sungguh berbeda. Saya memiliki rumah dimana kapanpun saya selalu bisa pulang, kendaraan bermotor yang mendukung mobilitas saya, keluarga yang selalu percaya dan memberikan dukungan pada apapun yang saya pilih, berbagai pengalaman dan kesempatan bersama teman-teman di lingkaran saya, dan juga berbagai fasilitas pendukung yang bersifat materi. Serta komponen penting yang sering kali terlupakan dan baru terasa ketika kita kehilangan: kesehatan, dan juga teman baik. Mungkin saya akan menjabarkan paragraf satu ini dalam sebuah postingan lagi.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? –QS. Ar Rahman: 13
 
 

Saturday, 24 May 2014

Integrasi Sistem Transportasi Kota Bangkok

Moda Transportasi di Bangkok
Bangkok merupakan salah satu potret kota besar di negara berkembang yang sukses dalam menyediakan sistem transportasi massal. Sistem transportasi Kota Bangkok saat ini tergolong mudah dan efisien dengan berbagai alternatif moda transportasi yang saling terintegrasi satu sama lain. Beberapa pilihan moda transportasi di Kota Bangkok antara lain adalah Bangkok Transit System (BTS Skytrain), Mass Rapid Transit (MRT) atau kereta bawah tanah, Buss Rapid Transit (BRT), Airport Rail Link (ARL), taxi, waterways atau water taxi, dan moda transportasi lokal yaitu tuktuk. Sebagai daerah tujuan wisata, hal ini sangat memudahkan wisatawan dalam melakukan mobilitas dari satu objek wisata ke objek wisata yang lain sehingga menjadi salah satu faktor pendorong berkembangnya pariwisata Bangkok yang selalu diminati wisatawan mancanegara. Selanjutnya, pembahasan ini akan lebih difokuskan pada moda transportasi BTS Skytrain dan Waterways.


Latar belakang dibangunnya BTS: Kemacetan dan Destinasi Wisata

Peningkatan kemacetan yang disebabkan tidak sebandingnya antara laju pertambahan kendaraan pribadi dengan laju pertambahan lebar jalan, menjadi permasalahan utama di banyak negara, tak terkecuali Kota Bangkok, Thailand. Pada awal tahun 1990-an, kemacetan di Kota Bangkok merupakan salah satu kemacetan yang tergolong cukup parah di dunia. Kemudian pemerintah Thailand merencanakan membangun moda transportasi massal yang efisien dengan teknologi canggih untuk mengurangi kemacetan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat, yaitu BTS Skytrain. BTS Skytrain adalah moda transportasi berupa kereta massal yang melintasi kota yang relnya berada diatas jalan layang. Namun Pada tahun 1992 terjadi konflik politik yang menyebabkan pembangunan BTS Skytrain ini sempat terhenti, sehingga BTS Skytrain ini baru mulai beroperasi di tahun 1999. 

Selain untuk mengurangi kemacetan dan untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat Bangkok, pembangunan BTS Skytrain ini juga bertujuan untuk memfasilitasi wisatawan yang berkunjung ke Bangkok. Tidak dapat dipungkiri bahwa transportasi merupakan komponen penting dalam pariwisata. Kemudian dalam rangka menunjang fasilitas pariwisata, setelah sukses dengan BTS Skytrain, pemerintah Thailand menggandeng swasta untuk membangun Mass Rapid Transit (MRT) dan Buss Rapid Transit (BRT).

Jalur dan Jangkauan BTS

Panjang rel Skytrain sekarang ini mencapai 55 km, menempuh 480 perjalanan, atau 1,100 km perhari. BTS SkyTrain saat ini memiliki 2 jalur, yaitu BTS Skytrain Silom Line dan BTS Skytrain Sukhumvit Line. BTS Skytrain Silom Line beroperasi dari National Stadium setelah Stasiun Siam dan berakhir di Ratchaphruek di bagian selatan, dan sesuai dengan jalur yang dilayaninya diberi kode South (S) dan diberi nomor dari S1, S2, dst. Sedangkan BTS Skytrain Sukhumvit Line beroperasi dari Mo Chit di ujung utara hingga Bearing di sisi timur, dan jalur layanannya diberi kode North (N), West (W), dan East (E).Kedua jalur tersebut bertemu di Stasiun Interchange, yaitu Stasiun Siam. Semua jalur ini terletak di kanan sungai Chao Phraya kecuali beberapa stasiun terakhir jalur S (S7, S8, S9, dan S10).



Gambar1. Peta Rute dan Jangkauan BTS Skytrain

Kondisi Pelayanan, Perawatan, dan Jam Operasional
Kondisi baik di stasiun maupun di dalam BTS Skytrain tergolong aman, nyaman dan bebas tindak kriminal. Di stasiun BTS Skytrain tersedia pula skybridges(jalur pejalan kaki) dan beberapa fasilitas pelengkap lainnya seperti smallshop, cafe, dan mesin ATM.





Gambar 2. Kondisi Peron BTS (atas) dan Kondisi di dalam BTS (bawah)
Sumber: Dokumentasi Pribadi 2013

Kerena itu rel diperiksa setiap hari setelah kereta tidak beroperasi lagi. Yaitu antara pukul 01.00 - 04.00, setelah itu pelayanan dapat beroperasi dengan normal kembali pada pukul 06.00. BTS Skytrain beroperasi dari pukul 06.00-24.00 setiap harinya. 

Cara Mengakses BTS Skytrain
Tiket kereta BTS dapat dibeli di setiap stasiun, berupa tiket one-way, day pass (THB 100), atau monthly pass. One-way tiket harus dibeli dari mesin tiket menggunakan uang koin dengan menukarkan uang kertas ke uang koin di loket staff terlebih dahulu. Harga ditentukan sesuai jumlah stasiun yang Anda lalui, dapat dilihat langsung di samping mesin tiket.



Gambar 3. Tiket BTS Skytrain
Sumber: Dokumentasi Pribadi 2013

Waterways
Waterways merupakan moda transportasi air yang melewati Sungai Chao Phraya. Moda transportasi ini telah berkembang sejak dulu dan termasuk kearifan lokal yang bisa di adaptasi untuk sungai-sungai besar di Indonesia. Saat ini jalur waterways telah terintegrasi dengan jalur MRT di Stasiun Central Pier. Moda transportasi ini dapat dijadikan alternative karena terbebas dari macet dan kondisi pelayanannya yang tidak kalah dari transportasi darat.

Gambar 4. Moda Transportasi Waterways
Sumber: Dokumentasi Pribadi 2013



Gambar 5. Peta Jalur Moda Transportasi Waterways

Bentuk Integrasi Antar Moda Transportasi
Seperti telah disebutkan sebelumnya, system transportasi antar moda di Kota Bangkok telah terintegrasi dengan baik. Bentuk integrasinya adalah dengan adanya stasiun interchange untuk berganti moda atau berganti jalur seperti di Stasiun Siam, pengguna moda transportasi BTS Skytrain dapat berganti jalur dari BTS Skytrain Sukhumvit line dengan BTS Skytrain Silom line begitu juga sebaliknya. Selain itu, di Stasiun Sala Daeng dan Stasiun Asok, pengguna BTS Skytrain dapat berganti moda dengan MRT dan begitu juga sebaliknya. Sedangkan untuk interchange antara BTS Skytrain dengan waterways ada di Stasiun Central Pier. Sistem transportasi yang sudah saling terintegrasi seperti di Bangkok ini tentunya dapat dijadikan bahan referensi untuk di adaptasi di Indonesia demi tercapainya transportasi publik yang aman, nyaman, dan efisien. 


Gambar 6. Bentuk Integrasi Antar Moda Transportasi Di Bangkok




Thursday, 20 February 2014

Suatu Malam di Kota Jogja

Mungkin merasa jenuh dengan kehidupan masing-masing,
atau memang merindukan suasana malam kota jogja 
bersama obrolan dengan topik yang bisa jadi apa saja.

Berjalan kaki dari tugu jogja menuju deretan kopi joss di samping stasiun tugu. Mengobrol dengan topik yang random, dari gender, dopamin dan oksitosin, sampai geomorfologi pulau jawa, dan topik lain yang sudah tak ingat lagi.

Kemudian duduk-duduk di pinggiran tugu kota jogja, mengamati kendaraan yang masih saja melintas di tengah pagi buta. Kali ini mengobrol tentang hijab sembari mengamati mereka yang sibuk berfoto ria bersama ikon kota ini.

Bermotor sepanjang malioboro menuju km nol, mengitari alun-alun, seputaran kraton, hingga lelah. Dan kamipun memutuskan pulang.


Tuesday, 11 February 2014

Aku Tak Berhasil Menemukan Kotakku

Jadi ceritanya saya mau curhat.

Well, diantara seluruh masyarakat dunia yang selalu mengkotak-kotakkan segala sesuatu, contoh simple nya adalah blockade antara hitam dan putih. Mengapa harus hitam, mengapa harus putih? Maka tak akan ada ruang untuk si pecinta abu-abu seperti saya, baik secara konotasi maupun denotasi.

Dan kotak-kotak itu selalu ada dimana saja, kemanapun mata memandang dan kemanapun kaki melangkah. 

Dan tidak bisa dipungkiri, hampir selalu terjadi konflik, minimal konflik paradigma, antar kotak.

Akan selalu ada seseorang yang tidak menyukai konflik dan cenderung menghindarinya seperti saya, atau lebih tepatnya tidak mau memilih kubu. Memang, orang-orang seperti itu cenderung aman dari serangan kubu manapun tapi sekaligus berarti tidak bisa ikut bersukacita bersama salah satu kubu apabila mereka menang. Karena kami bukan bagian dari mereka, bukan bagian dari siapapun. Ya, kami hanya penonton yang independent. Efeknya, tentu saja tak akan ada pembela bagi kami ketika kebetulan kami terserang ketika sedang menonton.

Maka dari itu, memilih kotak menjadi penting untuk menjamin seseorang punya komunitas yang peduli dan akan membelanya. Selain itu, toh setiap orang juga merasa butuh pengakuan atas eksistensinya. 

Seseorang pernah berkata, “..  jangan menghindari konflik..” 
Toh ada kok yang namanya konflik sehat, justru dengan mengkomunikasikannya, berkonflik, kemudian akan menyelesaikan masalah.

Nah, kembali pada diri sendiri, sanggupkah kita hidup tanpa kotak karena tak berhasil menemukan kotak yang benar-benar click dengan diri kita masing-masing? Ataukah kita mulai mau berdamai dengan memilih keberpihakan?



Friday, 7 February 2014

Kerja Serabutan

Ketika jamannya saya masih suka baca majalah bobo, baca novel, nonton film Indonesia apa sinetron gitu, atau kalau sekarang nonton drama korea, sering saya temukan sebuah setting yang ceritanya si tokoh utama berasal dari keluarga tidak mampu dan terpaksa harus bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Contoh yang saya ingat adalah si tokoh utama yang masih anak sekolahan membantu ibunya membuat makanan untuk kemudian dititipkan di kantin sekolahnya atau dijual langsung pada teman-temannya. Atau kalau yang berasal dari drama-drama korea, tokohnya itu kerja parttime tapi di lebih dari satu tempat, misalnya kafe, rumah makan, minimarket, dsb.

Kenapa kerja serabutan? Mungkin karena si tokoh yang bekerja itu bahkan sampai mau melakukan pekerjaan apapun terlepas dari rasa gengsi dan setidakmenyenangkannya pekerjaan itu demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Membabibuta melakukan pekerjaan apa saja yang masih bisa dikerjakan.

Kemudian saya jadi teringat akan kegiatan saya beberapa waktu yang lalu yang membuat saya menulis postingan ini. Beberapa waktu yang lalu saya harus nge-danus atau usaha mengumpulkan dana untuk suatu kegiatan kelompok yang dananya belum tercover sehingga menuntut kami memanfaatkan segala peluang bisnis yang ada. Dan ternyata danus itu sudah menjadi bagian hidup mahasiswa. Banyak cara nge-danus yang umum dilakukan mahasiswa, seperti jualan bunga pas wisudaan di GSP maupun di jurusan. Atau jualan jajanan pasar di kampus, bisa dititipin di kantin jurusan maupun dijajakan keliling-keliling. Kemudian ada juga yang suka ngamen di sunmor UGM atau buka stand Garage Sale yang isinya barang-barang jarahan lemari sendiri yang masih bagus dan layak jual. Dan yang juga nggak jarang dilakukan adalah jualan kaos dan sticker hasil desain sendiri.

Jualan jajanan pasar sama minuman di kampus, jualan Olive di GSP waktu SNMPTN. Karena baru pertama kali, nggak nyangka aja ternyata banyak juga saingannya. Dan mesti sabar nawarin jajanannya itu meskipun ditolak mulu, dan mesti tetep ramah meskipun capek.

Menjadi pekerja Document Center di acara Career Days UGM. Tugasnya cuma menerima orderan photo copy atau melayani yang mau beli alat tulis, dan menjadi kasir. Selama 2 hari dibayar Rp 200.000, 00. Malahan lebih besar daripada panitia Career Daysnya.

Menjadi panitia Career Days UGM. Nah karena tahun sebelumnya saya berada di lingkungan Career Days bukan sebagai panitia, tahun depannya saya memutuskan mengikuti tahapan seleksi untuk menjadi panitia Career Days. Banyak kok manfaat yang bisa di dapat dengan ikut kepanitiaan ini, dan yang jelas dapat uang saku.haha

Menjadi tukang parkir ketika ada acara Rossie goes to Campus yang mengundang Sheila on7 di fakultas teknik UGM. Jadi ceritanya ini bagian dari danusnya organisasi saya. Lumayan lah, satu malam satu orang dapat seratus ribu. Tugasnya jaga portal, mengecek KTM mahasiswa yang parkir di dalam, soalnya ini termasuk acara intern teknik, mengarahkan mereka untuk parkir di jurusan masing-masing, menulis plat nomer di karcis parkir, dan pas bubaran mengecek karcis parkirnya, dicocokkan sama plat nomernya. Dan itu harus dilakukan dengan ekstra cepat, mengingat ramenya kondisi pas bubaran konser. Dan untungnya nggak ada kasus kehilangan dan semacamnya waktu itu. Ternyata jadi tukang parkir itu nggak segampang keliatannya.

Input data dan seleksi job seeker nya Pertamina yang berkasnya banyak banget itu. Ini masih berhubungan sama ECC UGM yang ngadain Career Days.  Jadi kami udah dikasih form checklist kelengkapan berkasnya, yang berkasnya nggak lengkap langsung gugur. Trus posisi tertentu hanya menerima pelamar laki-laki, atau untuk posisi tertentu rata-rata nilai raportnya harus berapa, dsb. Kami suka ketawa-ketawa sendiri kalau menemukan hal-hal aneh kayak menemukan alat tes pengguna narkoba yang herannya ikut dikirim, atau kalau pas fotonya keliatan banget editannya biar keliatan good looking, dsb.haha

Menjadi asisten dosen Mata Kuliah Metode dan Teknik Rencana Kota yang kerjaannya membuat bahan ajar untuk mata kuliah tersebut, dengan dosen mata kuliah yang suka banget brainstorming. Jadilah terus terusan minta direvisi dengan ide yang macam-macam.

Lalu belakangan ini saya parttime di swalayan Kopma UGM dengan bayaran yang sebenarnya menurut saya antara insentif yang di dapat dengan waktu yang saya habiskan nggak seimbang. Jadi untuk setiap jam yang harus saya habiskan di sana, saya hanya di bayar dua ribu enam ratus rupiah. Menjadi HANYA karena dibandingkan sejuta aktivitas lain yang bisa saya lakukan yang tentu saja lebih bermanfaat untuk pengembangan diri seperti membaca buku, mengerjakan tugas, bersosialisasi dengan teman, nonton film, main sama jalan-jalan, olahraga jogging, dan aktivitas lainnya. Kalau pas jaga di penitipan barang harus mengucapkan greeting sama customer seperti “Terimakasih, selamat datang kembali..“ dengan senyum mengembang. Berhubung jadwal parttime ini sangat fleksibel, lumayan kok kalau berniat mengumpulkan uang dikit-dikit.


Semoga ketika sebuah mimpi terwujud, pengalaman kerja serabutan tadi berguna kalau mau kerja parttime di sela kehidupan perkuliahan di luar sana :)



Tuesday, 15 October 2013

Nostalgia Takbiran

Takbiran, berasal dari kata takbir dan mendapat akhiran -an. Menurut KBBI takbiran adalah pujian kepada Allah dengan menyerukan takbir.

Entah, semenjak sejauh saya bisa mengingat, kampong kami –Kampong Gambiran, sudah memiliki tradisi mengadakan lomba takbir keliling antar masjid setiap malam Idul Fitri maupun malam Idul Adha. Yang masuk delinease nya adalah: masjid tepat di tenggara rumah saya yaitu Masjid Al Waahid, Masjid MWS yang terletak di belakang rumah saya berselang beberapa kompleks makam, Masjid Al Ma’un yang terletak paling selatan, Masjid Al Ikhlas pinggir sungai Gajahwong, Masjid An Nur di ujung utara sana, dan belakangan berdiri sebuah Mushola Purwo HS di belakang rumah Pak RW. Jadi semuanya ada 5 Masjid+1 Mushola. 

Takbir keliling ini hanya sebatas mengelilingi kampong kami dengan melewati semua masjid/mushola tsb dan kemudian finish di salah satu masjid, ada acara sebentar, dan ditutup dengan pengumuman juara. Sederhana.

Kemudian, kalau takbiran Idul Fitri, cenderung lebih meriah karena ada juga pembagian hadiah lomba disamping pembagian doorprize. Jadi, pada saat bulan puasa diadakan berbagai macam lomba kayak lomba hafalan surat pendek, lomba adzan, lomba bikin kaligrafi, lomba menggambar dan mewarnai, lomba CCA (Cerdas Cermat Agama Islam), lomba mendongeng, lomba nasyid, sampai lomba peragaan busana muslim. Terus ceritanya, karena yayasan Al Waahid punya TPA dan so pasti anak-anak Al Waahid kan ikutan TPA, jadi langganan juara CCA. Berhubung anak MWS ada yang jago nyanyi sama jago gambar jadi mereka juga langganan menang, dsb. Tapi ada juga masjid yang terkenal kalau anak-anaknya nakal soalnya kalau kalah lomba suka nggak terima terus berulah gitu deh. Ahaha, keinget masa kecil.

Kembali pada takbir keliling. Pada awalnya, yang menjadi penilaian lomba takbir keliling adalah kerapian barisan, kekompakan takbir, dan kreativitas dalam membuat lampion, kostum, maupun maskot takbiran. Kemudian saat ini berkembang dengan penambahan penilaian display yang lokasinya sengaja dipilih di tengah jalan besar dalam rute takbir keliling, yaitu di Jalan Perintis Kemerdekaan. Nah, dalam display ini yang ditampilkan bisa berupa drama singkat, atraksi, dsb sesuai dengan kesepakatan tema yang telah dirapatkan para panitia lomba takbir keliling yang sekaligus merupakan perwakilan tiap masjid/mushola.

Lucunya, meskipun yang diperebutkan hanya piala bergilir dan juga sedikit bingkisan –yang kami semua juga sudah bisa menebak: pasti berisi makanan-makanan ringan, sapu, serok, dan alat bersih-bersih lainnya –semua  orang tetap antusias dan totalitas. Ada lah yang namanya latihan takbiran, begadang tiap pulang tarawih buat bikin lampion, kostum, sama maskot, dan juga ada yang namanya mata-mata. Jadi tiap masjid/mushola pasti punya basecamp tuh, kadang ada aja mata-mata yang mau mencuri atau meniru ide atau konsep sebuah masjid. Contohnya begini, ketika suatu siang kami sedang berkumpul untuk menggagas koreografi display, salah satu teman saya yang baru datang bilang, 

“.. ya ampun, masjid X pake drumband loh, terus maskot mereka bentuk unta gitu. Tadi aku liat mereka latihan waktu mau otw kesini. Kita juga mesti pake alat musik biar nggak kalah kece dong...”  

Pada jamannya angkatan setingkat di atas saya, Masjid Al Waahid berada pada jaman keemasan. Wuidih, kayak kerajaan aja punya jaman keemasan. Iya dong, kami dulu berturut-turut selalu menjadi juara karena maskot kami yang memang keren dan juga SDMnya yang banyak dan super kompak. Tapi roda selalu berputar, ada jaman keemasan berarti ada juga jaman kemunduran. Nah jaman kemunduran Al Waahid sepertinya bermula dari ketika angkatan saya memegang tampuk kepemimpinan. Saat itu kami sempat mengalami krisis kepemimpinan dan sekaligus merasa ditinggalkan ketika para angkatan atas mundur teratur dari barisan. Akhirnya kami pun ada yang lepas satu-satu tapi ada juga yang masih tetap bertahan menjadi pejuang tangguh yang memotori pergerakan. Saya sendiri termasuk yang lepas karena berbagai kesibukan akademik dan juga organisasi lain. Para pejuang tangguh, kalian hebat guys :)

Pada saat yang bersamaan, juga berkembang lomba takbir keliling di Kelurahan Pandeyan yang tingkatnya lebih oke ketimbang yang tingkat kampong saya itu. Setiap tahunnya, kampong kami selalu diundang untuk ikut memeriahkan takbiran di sana –dan sebenarnya kami juga mau banget. Akan tetapi selama ini kami terlalu asyik sendiri di kampong sendiri. Tapi mengingat rute takbiran yang lebih jauh dan jam bubar yang lebih larut, lalu bagaimana dengan nasib anak-anak kecil yang biasa ikut takbiran di kampong saya ini. Kasihan juga kalau mereka nggak kuat. Jadilah kami masih asyik di kampong sendiri. 

Suatu hari, masjid yang sudah langganan meraih piala bergilir lomba takbiran di kampong kami itu memutuskan nggak ikut lagi takbiran di Gambiran, mereka mau memenuhi undangan dari yang Kelurahan. Go international lah, kalau pinjam istilahnya artis-artis ibukota. So, kami para masjid yang merasa nggak kalah kece pun merasa terkhianati, situasi pun menjadi chaos. Ahaha, lebay.

Dan seiring perkembangan jaman, takbiran tak lagi sesuai dengan esensi awalnya: bertakbir mengumandangkan Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa- ilaaha- illallaahu wallaahu akbar. Allahu Akbar walillaahil- hamd . Tetapi yang barusan saya dengar justru mereka berteriak teriak mengelukan masjidnya dengan lagu-lagu suporteran yang juga diiringi drumband. Nah loh, ini supporter bayaran dari mana coba? 

Kemudian karena berbaur dengan seni dan kreativitas, hasil gubahannya juga macam-macam. Ada yang nada takbirannya jadi beraliran rock ditambah jingkrak-jingkrak gak jelas, ada yang beraliran keroncong ala pengamen malioboro, dan ada yang masih mempertahankan aliran lama yaitu kayak drumband pada umumnya. Itu baru musik penggiring, belom konsep display sama kostum. Pernah pas masih deketan sama erupsi merapi dulu itu, masjid kami bikin semacam gunungan yang nanti waktu display dibuka isinya kambing. Nggak gitu ngerti dulu filosofinya apaan, kalo sekarang dinalar sih mungkin selalu ada hikmah dari bencana erupsi, mungkin tanahnya jadi subur, terus tambang pasir menggelimang, intinya membawa kebaikan lah. Nah kebaikan itu disimbolkan dengan kambing buat kurban. Ahaha, maksa yaa..

Kenapa judulnya nostalgia? Nah, sempat disinggung sedikit di atas, bahwasanya saya gagal menjadi pejuang tangguh yang terus bertahan di arena penghabisan. Disamping faktor munculnya aliansi masjid tetangga yang cenderung lebih kompak dan berjiwa muda yang kemudian menjadi rival berat, ada juga faktor pengaruh komunitas lain yang terlanjur menjadi magnet tersendiri. Sehingga yak begitulah, saya lepas dan tak tahu jalan pulang kembali.



Friday, 4 October 2013

Feeling Afraid

Sebenarnya ketakutan itu apa sih?

Cuma perasaanmu aja kok.

Banyak orang bilang, 
“..sebenarnya ketakutan itu kan hanya berasal dari pikiran kita..”

Ketakutan itu, cara tubuh kita merespon sesuatu rangsangan/stimulant tertentu yang dirasa mengancam. Jadi bagus kok kalo kita masih bisa merasa takut, tandanya radar dalam tubuh kita masih bekerja memberi tahu kita akan ada sesuatu yang entah, hanya sedikit membuat kita merasa tidak nyaman atau bahkan mengancam.

Lalu mengapa harus ada bagian dari tubuh kita yang ikutan bereaksi saat kita ketakutan? Saya merasa tidak masalah dengan rasa takut ini, tapi sangat bermasalah dengan reaksi tubuh yang ditimbulkan. Well, karena otak kita sebegitu kerennya, dia mengirimkan sinyal ketakutan itu ke kelenjar-kelenjar penghasil hormon tertentu yang kemudian mensekresikan hormon sehingga munculah efek-efek tertentu.

Nah, masalahnya adalah ketika yang muncul adalah ketakutan atau kecemasan yang berlebihan atau tidak beralasan. Well, sebenarnya tidak ada ketakutan yang tanpa alasan, yang ada adalah kita yang tak bisa menerima kondisi tersebut tanpa kita sadari. Fenomena ini mungkin lebih dikenal dengan syndrome phobia atau trauma. Ada berbagai jenis phobia. Phobia ketinggian, phobia gelap, phobia ruang tertutup, bahkan nosophobia –ketakutan terserang penyakit.

Lalu trauma itu apa? Trauma adalah sebuah ketakutan yang tak terselesaikan, dalam artian pengalaman ketakutan yang selalu berulang yang dipicu oleh sebuah kondisi tertentu, karena pada awal mula terjadinya, pernah terjadi hal yang tak bisa diterima alam bawah sadar kita mengenai kondisi tersebut. Sehingga ketika di kemudian hari kondisi itu muncul, alam bawah sadar kita otomatis menolak karena tak ingin merasakan hal yang sama, yang pernah terjadi sebelumnya. Nah trauma itu bisa muncul dalam bentuk ketakutan dan kecemasan itu sendiri. Bayangkan saja seperti sebuah luka sayatan di permukaan kulit kita, sekalipun sudah kering dan sembuh ada yang menyisakan bekas bahkan lebih sensitif dibanding permukaan kulit yang lain.

Jadi, menurut saya kira-kira begini alurnya:
stimulant yg mengindikasikan ancaman (masa lalu) -ketakutan (masa lalu) -tak terselesaikan, tidak bisa diterima alam bawah sadar kita -stimulant yg sama (masa sekarang ) -ketakutan/kecemasan saat ini (disebut trauma) -menjadi berlebihan atau disorder (disebut fobia)

Kemudian hal yang sangat mengganggu adalah ketika ketakutan yang nggak terselesaikan ini merasuk ke dalam bawah sadar kita, dan muncul melalui mimpi-mimpi buruk yang menghantui tidur kita. Ini terjadi  karena kita tidak bisa mengalahkan rasa takut kita di dunia nyata. Dan menurut saya, tidur adalah masa paling jujur dalam periode hidup manusia. Tidur selalu apa adanya, tak bisa bersandiwara dan tak perlu bertopeng.

Kembali pada topik awal: ketakutan. Lalu bagaimana jika ketakutan yang muncul adalah ketakutan terhadap manusia lain? Saya pernah mendengar dari sebuah acara On The Spot, ada seorang yang dibuang sedari lahir, kemudian dirawat oleh binatang dan akhirnya ditemukan kembali oleh publik dan niatnya mau diselamatkan oleh sesama manusia, tapi dianya malah ketakutan karena nggak pernah liat manusia. Ironis bukan? Saya melihat tayangan ini dalam salah satu penantian saya di sebuah halte trans jogja, jadi nggak terlalu nyimak.


Tentunya apabila ketakutan itu masih berada pada ranah yang wajar dengan ukuran yang tepat, kita justru semestinya bersyukur masih memiliki radar yang baik. Karena radar ketakutan itu setipe sama hati nurani kita, kalau terlalu sering kita abaikan, seiring waktu maka kita nggak pernah bisa mendengarkan lagi bisikannya. Namun apabila ternyata ketakutan yang kita miliki mulai nyeleneh, sudah sepantasnya kita mulai mengabaikannya. Bisa dengan terapi atau hanya dengan bermodalkan sugesti.