Tuesday, 3 April 2018

On The Way Home (2)

Dalam satu hari, 24 jam, sekurang-kurangnya aku punya waktu satu jam untuk melamun: 30 menit perjalanan dari rumah ke kampus dan 30 menit perjalanan pulang.

Lagi-lagi lamunanku malam ini berputar tidak jauh-jauh dari pertemanan: manusia dan hubungan interaksi antar manusia. Selalu menarik, karena manusia itu makhluk kompleks. Kenapa tiba-tiba terpikir ini? Jadi ceritanya hari ini aku bertemu dengan banyak orang, orang penting maupun orang biasa saja. Akhir-akhir ini aku merasa orang-orang semakin blak-blakan menunjukkan kemauannya. Entah mungkin aku yang bertambah pintar dan peka membaca situasi, atau mereka yang semakin tidak smooth dalam memasukkan maksud dan kehendak mereka. Dari situ aku bisa menilai siapa pihak yang paling oportunis, dan memprediksi sikap apa yang akan  diambilnya selanjutnya. Bahkan bisa merasakan adanya ketegangan atau gesekan tak kasat mata macam listrik-listrik statis di film-film anime, yang muncul ketika tokohnya saling berseberangan. Haha

Kenapa sih manusia bisa saling nggak cocok begitu saja? Makin kesini kurasa manusia berteman hanya ketika merasa saling membutuhkan. Well, ini bahasannya akan panjang sih. Kayaknya mending aku bahas lain kali dalam postingan terpisah deh.

Sungguh receh dan maha tidak pentingnya topik ini, dibandingkan isu-isu global kemanusiaan atau isu lingkungan. Alih-alih memikirkan kemiskinan di Afrika, target-terget MDGs, tantangan pemanasan global dan perubahan iklim, dan lain sebagainya, aku justru memikirkan hal ini. Atau tidak perlu mengambil kasus jauh-jauh, topik ini menjadi tak penting dengan sendirinya ketika kita masih berurusan dengan hal-hal mendasar dalam hidup. Hal-hal mendasar itu macam apa? Macam besok mau makan apa, bukan karena bingung gak punya banyak referensi tempat makan (itu mah kelakuan orang-orang jaman sekarang 😝), tapi karena mungkin saja tidak ada yang bisa dimakan. 

Pemikiran ini terlintas ketika aku berhenti di perempatan Gramedia dan melihat seorang anak kecil yang masih berjualan koran selarut ini. Aku memperhatikan dia hanya mendatangi mobil-mobil dan berhenti lama di samping kaca. Aku langsung terpikir bahwa sebenarnya menjual koran hanyalah kamuflase. Siapa yang akan membeli koran selarut ini, dan apakah itu koran tadi pagi yang sudah hampir kadaluwarsa untuk di jual keesokan harinya, atau memang ada koran malam?

Melewati rute yang sama setiap harinya, mau tidak mau membuatku memperhatikan orang-orang yang kutemui di setiap persimpangan jalan. Bahkan ketika aku masih rajin naik transjogja setiap hari, aku sampai hapal dengan mbak-mbak dan mas-mas kondekturnya, juga petugas penjaga halte. Aku bahkan menyadari ketika mbaknya ganti sepatu, sepatunya baru bukan yang biasa dia pakai sehari-hari. Aku pernah memikirkan sebosan apa ya menjadi kondektur transjogja yang setiap berhenti di halte selalu mengucapkan kalimat yang sama. Coba bayangkan dalam satu hari, satu shift kerjanya, berapa kali bus itu akan mengulang rute yang sama, melewati halte yang sama, dan masih diulang setiap harinya. Di persimpangan Jalan Batikan, aku selalu mengamati ada seorang anak perempuan yang berjualan koran, berjilbab dengan tas selempangnya yang khas. Prediksiku masih usia SMP. Memangnya dia tidak bersekolah? Karena beberapa kali aku pernah lewat sana saat jam sekolahpun, dia selalu ada. Sepertinya dia menyukai warna ungu, sering kali aku mendapatinya memakai baju dan jilbab berwarna ungu.

Kembali pada topik pertemanan, seorang teman yang cukup sering bergonta-ganti pacar pernah mengeluhkan bahwa sebenarnya dia sudah lelah selalu memulai kembali dari nol. Harus berkenalan dengan orang baru,   pdkt lagi, tahap awal pacaran lagi, dst. Proses itu selalu berulang setiap dia berganti pacar. Hal itu tidak mengherankan, karena pada dasarnya manusia cenderung enggan keluar dari zona nyaman. Dalam hal ini, pacar lama adalah zona nyaman.

Kurasa aku juga tipikal yang jauh lebih mudah jatuh cinta pada teman dekat yang sehari-hari bersama. Tresno jalaran seko kulino, kalo kata orang jawa. Dan cenderung kurang sepakat dengan yang 'dari mata turun ke hati'. Bagiku yang terakhir itu lebih seolah bersumber pada nafsu ketimbang kenyamanan yang melenakan. Tapi tunggu dulu, cinta itu banyak bentuknya kok. Ada eros, ludus, storge, pragma, mania, dan agape (percaya ndak, kalo literatur ini kudapatkan ketika mengerjakan soal reading nya ielts wkwk). Well, kurasa jenisku lebih kepada storge.

Menyikapi hal tersebut, memang alangkah jauh lebih menyenangkannya apabila bisa menikah dengan sahabat sendiri. Maka muncul hastag macam #temantapimenikah atau #marriedwithmybestfriend dan hastag-hastag senada lainnya.

Perasaan itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan, yang bisa kita kendalikan itu sikap kita. Mau mendewakan perasaan yang kadang bertentangan dengan logika, atau tetap membumi dengan berpijak pada realitas meski kadang terpaksa membunuh rasa, itu murni pilihanmu.

Btw kenapa endingnya malah ngomongin cinta sih? Auk ah. Namanya juga ngelamun, ngalor ngidul gak jelas jadinya.

Friday, 16 March 2018

Pelakor

Akhir-akhir ini istilah pelakor mulai sering terdengar, entah siapa yang pertama membuatnya. Pelakor di sini yang kumaksud adalah Perebut-Laki-Orang. Bukan Pecinta Lagu Korea, atau Pelaku Korupsi ya. Satu yang terakhir merupakan kesalahpahamanku selama ini mengenai istilah ini, hehe. Sudah sering dengar istilah satu ini, ngerti kalau istilah ini bermakna negatif tapi baru tau belum lama ini kepanjangan yang sesungguhnya.

Dibalik munculnya istilah pelakor, seolah mendeskreditkan bahwa perselingkuhan bersumber dari sosok perempuan yang kegatelan. Padahal kan namanya perselingkuhan itu kan antara dua orang, kalau salah satunya menolak kan pasti gak bakalan jadi. Lantas kenapa satu pihak bisa lebih disalahkan dari pihak yang lain?

Belum lama ini beredar video viral Bu Dendi nyawer pelakor, yang banyak banget dibuat meme atau video parodinya. Sumpah aku nggak ngerti lagi gimana perasaan si mbak pelakor itu (kalo masih punya perasaan sih). Maka kuhimbau pada semua perempuan di seluruh dunia, jangan lah jadi pelakor.

Lantas, bagaimana pandanganku tentang perselingkuhan? Oh itu termasuk kesalahan terbesar yang mungkin tak bisa kumaafkan. Kalau kamu menjalin hubungan serius denganku dan kamu berselingkuh, maka bhay! Tak ada ampun untuk urusan satu ini.

Dulu aku sempat rada gimana gitu sama kisah cintanya Re dan Rana dalam serial pertama Supernova. Rana berselingkuh dengan Re, dan cara mereka saling jatuh cinta itu menurutku kena banget ketimbang kisah cinta Rana dengan suaminya. Rasanya perselingkuhan mereka terasa benar. Dan justru setelah Arwin sang suami Rana mengikhlaskan Rana, Rana justru kembali ke pelukan Arwin.

Tapi semenjak aku melihat perselingkuhan benar-benar terjadi di dunia nyata, aku teramat geram untuk bisa melihat dari sudut pandang yang kulihat dari kisah Re dan Rana.

Belum lama ini aku menonton serial netflix Black Mirror. Episode 3 season pertama bercerita tentang pasangan suami istri, yang mana sang suami merasakan gesture yang berbeda dari istrinya ketika berinteraksi dengan seorang laki-laki. Sebagaimana episode-episode Black Mirror yang lain, episode ini juga menceritakan efek buruk kemajuan teknologi. Dalam episode kali ini, setiap orang bisa menyimpan apa yang mereka lihat dan dengar dari mata dan telinga mereka layaknya kamera yang menyimpan video. Rekaman kejadian itu bisa mereka putar berulang-ulang dengan alat semacam remote, juga bahkan bisa ditayangkan via layar televisi layaknya menonton film. Sang suami yang peka dengan detail gesture sang istri, terus memutar memori ketika mereka sedang mengadakan makan malam bersama, lantas melakukan zoom-ing pada hal-hal detail layaknya detektif mencari petunjuk. Twist nya adalah ketika sang suami mendatangi selingkuhan istrinya, lantas memaksanya menghapus memori yang terekam bersama istrinya. Lalu dia memaksa sang istri mengaku dan memperlihatkan memori mengenai apa yang dilakukannya dengan sang selingkuhan. Kemajuan teknologi ini sungguh ironi, di satu sisi kita bisa terus mengingat segala hal dengan detail, baik hal baik maupun hal buruk. Tapi di sisi lain, bisa mengingat segala sesuatu dengan teramat jelas itu sangat menyiksa. Beruntunglah kita masih bisa lupa, kalau semua kejadian yang kita alami selalu masih sesegar seolah baru terjadi tadi pagi, bagaimana kita bisa move on?

Pernah dalam posisi menjadi pelakor? Alhamdulillah sih enggak, dan semoga nggak akan pernah. Pernah punya temen seorang pelakor? Pernah, dan walaupun kesal setangah mati tapi ku tetap berteman. Karena bagaimanapun kisah cinta itu urusan pribadi, yang penting sebagai teman yang baik kan kita sudah mengingatkan. Kalau ntar kamu masuk video viral macam video Bu Dendi, risiko ditanggung sendiri ya. Satu hal penting lainnya, kalo dia segampang itu meninggalkan pasangannya untuk berselingkuh denganmu, maka bukan nggak mungkin kan suatu hari nanti dia juga segampang itu meninggalkanmu untuk orang lain.

Btw ini kenapa ya aku tiba-tiba nulis tentang pelakor di malam jumat kliwon begini. Well, nggak ada maksud khusus sih. Hanya sebuah bentuk ekspresi, daripada tenggelam dalam keresahan. Right?


Tuesday, 6 March 2018

On The Way Home

Malam ini aku pulang dengan rute berbeda. Melewati Sagan dengan deretan kafe-kafe yang syahdu. Entah Sagan yang memang syahdu, atau ini hanya efek yang ditimbulkan paska hujan deras seharian.

Hari ini hujan ekstra deras mengguyur kotaku. Cuaca yang asyik, suara hujan yang ekstra berisik, dan udara yang sejuk ciamik. Cukup menyenangkan untuk dinikmati sendiri di lorong kosong lantai 2, depan ruang kantor yang sepi. Well, bisa terasa menyenangkan karena aku tak harus pergi kemanapun. Stay di kantor dengan perut kenyang dari katering siang ini. Dan masih bisa menyeduh segelas coklat panas di dalam kantor ketika hujan badai di luar sana, itu patut disyukuri.

Aku memiliki beberapa kawasan favorit di kotaku: Kotabaru, Sagan, dan Kotagede. Tak heran kawasan-kawasan tersebut menjadi kawasan favoritku, pada jamannya kawasan itu kan tempat tinggal konglomerat. Wajar saja terasa tertata apik dan elegan. Salah satu penandanya adalah bangunan-bangunan heritage, juga gardu listrik yang aku lupa namanya (gardu listriknya punya nama). Gardu listrik ini menandakan kawasan tersebut adalah kawasan elit karena dulu tak semua orang bisa menikmati listrik. Kotabaru dan Kotagede punya Babon Enim (ah, aku sudah ingat nama si gardu listrik).

Seorang teman pernah berkata, kita cenderung lebih memilih rute perjalanan yang melewati tempat-tempat kita bisa bernostalgia. Misalnya melewati mantan sekolah kita. Aku menghabiskan 6 tahun masa Sekolah Dasar di Sagan, pernah 3 tahun mengenyam pendidikan di Kotabaru, dan hampir 20 tahun tinggal bertetanggaan dengan Kotagede. Jadi bisa jadi aku menyukai kawasan-kawasan tersebut karena keelitannya (aku sudah menyukai kawasan ini sebelum aku menyadari bahwa kawasan-tersebut merupakan kawasan elit atau heritage), atau bisa jadi karena mereka memiliki memori tersendiri untukku, atau bisa jadi hanya karena aku suka tempat bersejarah. Seperti Kota Tua Jakarta, yang walaupun baru sekali kukunjungi namun sudah begitu melekat. Entahlah.

Hari ini kami bermain game uno hingga pukul 8 malam di kantor. Entah kenapa kami gemar sekali menghabiskan waktu di kantor hingga larut malam, atau sekedar makan malam bersama di luar dan mengobrol panjang ngalor-ngidul. Mungkin kami memang segerombolan orang-orang yang malas pulang, tentunya dengan alasan masing-masing yang tak perlu ditanyakan. Pak Bos bilang aku dan permainan uno ku sangat mudah ditebak, kelihatan banget pola permainannya. Mungkin aku memang terlalu lempeng dan lurus-lurus, kurang tricky.

Satu kartu canggih dalam permainan uno adalah kartu kosong, dimana fungsinya adalah menukar kepemilikan kartu. Hal itu mengingatkan kita bahwa dalam hidup ini, segala hal yang kita miliki itu hanya titipan. Memang harus diusahakan semaksimal mungkin, tapi juga harus siap kalau sewaktu-waktu diambil kembali. Kalau udah pernah main uno dan nyaris menang atau sedang merasa di atas angin karena memiliki deretan kartu dahsyat, lalu tiba-tiba ada yang mengeluarkan kartu emas yang menukar kepemilikan kartu, pasti tau dong rasanya sebagian duniamu runtuh ketika tak siap kehilangan sesuatu yang kau cintai di dunia ini.

Pada beberapa game, aku bisa menemukan sisi filosofis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya adalah permainan uno tadi. Selain itu, ketika main salah satu game nya Pou, yang mana kita diberi misi untuk menghilangkan permen di antara buah-buahan dengan cara menyamakan warna buah. Duh susah juga ya menjelaskan game satu ini. Aku mendapat beberapa filosofi hidup dengan bermain game satu ini. Pertama, kalau mau memenangkan banyak round kita harus fokus sama misi yang diberikan. Karena akan ada banyak buah-buahan yang menarik untuk dijadikan, untuk menambah koin. Tapi kalau kita tidak fokus pada misi, kita tidak akan pindah ke round berikutnya. Sementara itu, ada waktu yang terus bergerak dan ketika waktu habis maka game is over. Filosofi berikutnya, kadang kita terlalu fokus pada buah-buahan yang ada di sekitar misi. Padahal jalan kemenangan kadang berasal dari arah yang tak terduga. Sumpah ini bukannya sok bijak, tapi coba deh main game satu ini dan kau akan mengerti apa yang kumaksud. Heuheu

Apa inti dari tulisan ini? Ndak ada, just sharing aja tentang apa yang kupikirkan sepanjang perjalanan pulang. Btw 'tempat' itu salah satu variabel yang bisa dijadikan sebagai pemanggil ingatan buatku, selain tentunya musik dan aroma. Jadi aku bisa banget masih ingat pernah mengobrol tentang apa di tempat mana, atau musik tertentu mengingatkan pada masa-masa tertentu, juga bau tertentu mengingatkan pada orang-orang tertentu. Maka kadang aku menyimpan pemikiran-pemikiran di suatu tempat yang aku lewati dalam perjalanan, dan melanjutkan pemikiran itu ketika melewati tempat yang sama di hari yang berbeda. Akibatnya adalah, karena mengendarai kendaraan dengan mode auto pilot, seringkali lupa kalau mau mampir. Soalnya udah ada template rute ke rumah, atau rute ke kampus. Kapan-kapan aku share lagi deh, apa saja yang aku pikirkan dalam perjalanan pulang.


Sunday, 11 February 2018

Ayo Kita Kemana!

Kuingin berlibur ke luar angkasa
Melarikan diri dari bumi sejauh mungkin
Menjelajah hitam pekatnya langit yang tak tersentuh cahaya bintang

Aku ingin pergi keluar angkasa
Mengunjungi planet-planet yang tak kukenal
Berbincang dengan bintang-bintang
Berlari tanpa gravitasi
Lalu duduk bersantai di atas bulan memandangi bumi yang kian merapuh setiap harinya

Aku ingin pergi meninggalkan kota ini
Berkeliaran di kota asing
Bercengkerama dengan bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah kota itu
Menikmati laut dan gunungnya
Atau sekedar diam memandangi rinai hujan yang turun di balik jendela besar di sudut kota

Aku muak pada segala,
Maka biarkan aku pergi..

Saturday, 20 January 2018

IELTS

Sudah lama saya ingin memulai belajar IELTS, tapi baru belakangan ini memberanikan diri mengambil kursusnya. Untuk mengambil kursus inipun saya harus pemanasan dulu dengan mengambil short course TOEFL, hanya untuk tau sesungguhnya saya separah itu atau tidak. Dan ternyata, saya memang sepayah itu. 

Sudah lama saya tidak merasa bodoh di kelas, dalam artian merasa tertinggal dan tertatih-tatih memahami materinya. Dan ini bagus untuk saya, karena selama ini hal semacam ini menjadi motivasi terbesar saya untuk belajar. Lagipula, tujuan saya ikut les kan supaya tercambuk. Kalau belajar sendiri di rumah, saya merasa kurang tercambuk sehingga lebih memilih menikmati serial netflix atau drama korea dan terutama tak bisa menjauh dari godaan kasur.

Saya yang masih awam sekali dengan IELTS, tidak menyangka bahwa IELTS berlipat-lipat kali lebih menantang daripada TOEFL. IELTS terdiri dari 4 bagian: reading, writing, speaking, dan listening, dengan jenis soal bukan pilihan ganda. 

Writing terdiri dari 2 bagian, writing task 1 dimana kita harus menganalisis dan mendeskripsikan diagram atau siklus; dan writing task 2 dimana kita diminta menulis essay tentang opini, bothside, maupun two part question. Pertanyaannya bisa sangat random. Saya pernah mendapat pertanyaan opini yang menyebutkan fakta bahwa di beberapa negara, elder populationnya tinggi. Menurutmu itu cenderung positif atau negatif, dan sebutkan alasannya. Juga pertanyaan tentang penyebab global warming dan bagaimana upaya yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasinya. Juga pertanyaan tentang university education yang membantu kita mendapat pekerjaan yang lebih baik, namun sebenarnya punya manfaat lebih luas bagi individu maupun sosial. Kita diminta mendiskusikan kedua sudut pandang beserta alasan pendukungnya. Well, ketika diminta menulis esai berbahasa indonesia dengan menjawab pertanyaan di atas saja sudah membuat kita memutar otak. Nah ini diminta menulis dalam bahasa inggris. Berhasil menulis dalam bahasa inggris formal tanpa kesalahan gramatikal saja sudah hebat. Nah ini, ada kriteria lain yang dinilai untuk bisa mendapat score yang tinggi. Semua secara transparan dijelaskan dalam band descriptor IELTS.

Maka mau tak mau, saya harus brainstorming. Karena langsung menulis tanpa brainstorming dan menyusun controlling idea dan supporting idea nya, akan membuat kita dihadapkan pada writer's block. Hal itu tentunya akan menghabiskan waktu kita yang tidak banyak. Writing task 1 diberi waktu 20 menit untuk menulis minimal 150 kata, sedangkan writing task 2 diberi waktu 40 menit untuk menulis minimal 250 kata. 

Kriteria lain yang saya sebutkan di atas adalah seberapa kompleks kalimat-kalimat yang kita buat, semakin kompleks semakin baik. Kalau bisa jangan selalu menggunakan present tense tapi dikombinasi dengan tenses lain. Harus bisa memparafrase kalimat pembuka, sebisa mungkin berbeda dengan kalimat pada soal walaupun memiliki maksud yang sama. Dan sebisa mungkin memperlihatkan variasi vocab.

Speaking terdiri dari 3 bagian: bagian pertama tentang informasi personal, bagian ke-2 tentang sebuah topik tertentu, dan bagian ke-3 diskusi lebih lanjut terkait topik sebelumnya. Lagi-lagi saya sering merasa tertodong dengan pertanyaan yang seringkali tak terduga. Seperti ketika saya diminta mendeskripsikan sebuah benda yang membantu saya dalam kegiatan sehari-hari, dalam 2 menit. Atau ketika diminta menceritakan tentang idola saya, padahal saya tak punya sosok idola. Atau apabila diminta menceritakan tentang suatu barang yang pernah kita beli lalu menyesal telah membelinya. Atau menceritakan tentang sebuah surat yang pernah kita terima. Atau diminta mendeskripsikan workspace idaman kita, atau diminta menjelaskan rekan kerja seperti apa yang kita inginkan, mendeskripsikan tempat menarik yang pernah dikunjungi, menceritakan memorable dinner, dsb. Sejujurnya saya kewalahan, untuk menjawab dalam bahasa indonesia saja saya membutuhkan jeda cukup panjang. 

Saya kangen ditodong pertanyaan-pertanyaan abstrak, yang tanpa tedeng aling-aling dan hanya membutuhkan jawaban spontan. Supaya saya terbiasa menjawab pertanyaan, refleks tanpa perlu berpikir lama. Seperti ketika kita sedang duduk-duduk sambil membaca koran, lantas ditanya menurutmu Tatjana Saphira cantik enggak, kenapa tuh? Atau ketika sedang makan bakso  tiba-tiba ditanya kamu pendukung teori flat earth atau bumi bulat, alasannya apa? Atau ketika kita sedang dalam perjalanan ke suatu tempat, ditanya menurutmu islam nusantara itu gimana? Atau tentang muslim rohingya dan pengungsi dari negara lain yang mencari suaka di negara kita. Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang sebenernya perlu dipikir tapi gausah dipikir-pikir banget.

Mungkin otak saya cuma kaget aja, udah lama gak dipake lantas diminta brainstorming. Jadi rupanya memang terjadi badai di dalam otak saya yang kalang kabut berusaha mencari jawaban. Tak heran setiap pulang les, saya merasa energi saya tersedot cukup banyak. Haha

Selain itu tentunya saya harus memperbanyak membaca dan berlatih, terutama dalam writing dan speaking. Seorang teman pernah menulis, untuk mendapatkan foto yang bagus kita bisa aja mengedit sedemikian rupa, tapi kita tidak bisa memanipulasi tulisan kita. Tulisan kita menggambarkan pikiran kita, tidak bisa kita manipulasi. Setuju sekali dengan pendapat teman saya itu, saya kadang menilai orang dari gaya tulisannya. Karena tulisan bisa menjelaskan kepribadian seseorang, sangat menjelaskan seperti apa pola berpikirnya, apa saja literatur bacaannya, dan lain sebagainya. 

Overall, belajar IELTS itu seru kok. Kapan-kapan kuceritain tentang reading sama listening nya. Lebih seru lagi kalo belajar bareng sama orang yang sama-sama mengejar  target dan asyik buat saling menertawakan kebodohan masing-masing, seperti teman-teman di kelas saya. Kadang seru loh punya teman yang bisa diajak menertawakan kebodohan kita bersama. Hehe

Pariwisata (Part 1)

Saya selalu penasaran, gimana ya perasaan orang-orang yang tinggal di kota destinasi wisata tapi tidak terlibat dalam kegiatan wisata. Misalnya Bali atau Malang (well, mungkin Batu lebih tepatnya) yang selalu menjadi tujuan wisata tak peduli musim liburan atau bukan.

Pasalnya sebagai warga Kota Yogyakarta yang notabene juga termasuk destinasi wisata, apalagi setelah boomingnya film AADC 2, musim liburan atau long weekend selalu menjadi hal yang tidak menyenangkan buat saya untuk bepergian kemanapun. Macet parah, dalam kota dan hampir seluruh jalan utama selalu macet dan dipenuhi bus pariwisata yang gede-gede itu. Apalagi Malioboro dan sekitarnya. Mending di rumah saja deh, menunggu semua keramaian itu surut dengan sendirinya begitu liburan usai.

Tapi libur panjang natal dan tahun baru kemarin menurut saya jauh lebih padat dari biasanya. Penasaran jumlah kunjungan wisatawan ke Jogja memang meningkat sebegitu drastisnya atau hanya perasaan saya saja lantaran liburnya yang lebih panjang dari biasanya. Dan mungkin karena orang-orang sengaja mengambil cuti menggabungkan long weekend natal dan long weekend tahun baru. Jadi rasanya liburnya nggak kelar-kelar.

Well, mungkin kota-kota yang menjadi destinasi wisata lainnya sudah dilengkapi infrastruktur yang memadai. Sedangkan jalanan Jogja masih tergolong kecil-kecil, banyak mobil saja udah bikin macet apalagi bus. Btw sorry oot, tiba-tiba keinget aja lagi on going baca salah satu novelny Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (sumpah, ini penulisnya ngakunya itu nama asli) yang mana mengambil sudut pandang dari sebuah bus dalam kota. Menarik, tapi mari kembali pada topik utama. Sehingga mungkin saja warga kota yang tidak terkait langsung dengan kegiatan pariwisata di kota tersebut tidak merasa terganggu dengan adanya wisatawan yang datang setiap hari.

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah artikel dari tirto.id yang menyebutkan bahwa kegiatan wisata merupakan salah satu kegiatan yang merusak bumi. Tirto menyoroti data perhitungan emisi yang dikeluarkan oleh pesawat untuk perjalanan wisata. 

Tapi sebenarnya saya cukup ragu ketika membicarakan isu lingkungan dan global warming. Ada yang bilang ini merupakan bentuk penjajahan baru terhadap negara-negara semacam Indonesia. Jadi mereka menggembor-gemborkan isu global warming, supaya kita menjaga lingkungan dengan mengurang emisi sehingga mereka bisa seenaknya buang emisi. Senior saya pernah menjelaskan mengenai konsep carbon trading, REDD+. Jadi masalah lingkungan ini sebenarnya sangat kontroversial. 

Selain itu ada yang namanya statistic lies, dimana data statistik diputar balik penyajiannya sehingga menimbulkan persepsi tertentu. Data statistiknya tidak salah, jumlah-jumlahnya sesuai dengan yang sesungguhnya, namun pengolahan datanya disetir sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu fakta yang diinginkan.

Bagaimanapun, menurut saya wisata itu merupakan kegiatan tersier. Sebagaimana segala hal yang bersifat tersier, tidak heran bahwa wisata cenderung mahal dan menyasar masyarakat golongan tertentu yang mampu membayar. Turunannya, biasanya orang mau membayar mahal asalkan memuaskan. Mungkin hal itu juga menjelaskan perilaku masyarakat yang cenderung seenaknya ketika berwisata, misalnya buang sampah sembarangan: kan saya udah bayar nanti juga ada petugas yang bersih-bersih. Nah, ketika ada dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan ini, tapinya tidak ingin menghentikan kegiatan ini, maka mungkin bisa diatasi dengan semakin membatasi jumlah orang yang bisa mengaksesnya. Hal ini bisa dilakukan dengan menaikkan tarif, atau menyebarkan isu bahwa dengan berwisata anda turut merusak lingkungan. Ha!

Kendati demikian tak bisa dipungkiri bahwa berwisata juga merupakan kebutuhan setiap manusia. Toh wisata tidak harus mewah, banyak piknik murah meriah yang tak kalah membahagiakan. Salah satunya adalah wisata alam. Bahkan ya, dalam kunjungan saya beberapa waktu lalu ke Tebing Breksi, mereka hanya memungut biaya parkir dan tarif masuk seikhlasnya. Saya sering kali merasa senang tinggal di kota ini, yang orang-orangnya tidak oportunis memanfaatkan momen yang lagi ngehits. Begitu juga ketika beberapa tahun yang lalu semua orang latah naik gunung akibat film berjudul 5 Cm. Gunung Andong di Magelang yang super duper ngehits itu karena cenderung mudah bagi pemula, selalu ramai dikunjungi weekdays maupun weekend, masyarakatnya sadar wisata dengan menyediakan rumah-rumah mereka sebagai basecamp, mengelola parkir dengan baik, juga mulai membuka usaha jualan makanan dan minuman dingin di sepanjang jalan. Namun satu yang membuat saya senang, mereka tetap menerapkan tarif normal seperti kalau kita jajan dimana-mana. Padahal kalau mereka berniat mengeruk untung sebanyak mungkin, memanfaatkan fenomena ini juga bisa aja. Seperti misalnya yang jualan air mineral 600ml seharga 10 ribu rupiah. Adaaa tempat-tempat yang begitu, dan aku bersyukur Jogja dan sekitarnya tidak begitu.

Berbicara tentang pariwisata, ada beberapa hal yang cukup menggelitik. Salah satunya mengenai latah desa wisata, termasuk salah satunya di kampung saya. Saya merasa kadang-kadang mereka mengunik-unikan diri supaya punya nilai jual. Di kampung saya ada semacam pawai atau festival, atau apapun lah itu dimana kami akan berarak-arak mengenakan kostum tertentu. Ada perebutan pendanaan di sini, dimana kampung saya dan kampung sebelah ingin menjadi desa wisata agar mendapat dana kampung wisata dari atas. Saya sendiri sebagai warga (bukan asli) kampung ini, terkadang bingung apakah kami punya selling point?

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman, desa wisata yang sustain itu seharusnya menjadikan kegiatan wisata hanya sebagai kegiatan sampingan sehingga mereka tidak mengalami ketergantungan secara ekonomi dari sektor ini. Tapi yang sering terjadi, kebudayaan yang dijual di desa wisata cenderung buatan (branding) dan bukan merupakan value yang murni dari hasil budaya mereka. Waktu itu saya menceritakan kunjungan saya ke Kampung Adat Waerebo di Flores. Well, kapan-kapan saya ceritakan dalam postingan lain.

Setiap kegiatan pasti ada trade off nya, namun apakah sebanding? Yang banyak terjadi, justru alamnya rusak setelah dilakukan kegiatan wisata alam. Alih-alih menyejahterakan masyarakat, kadang kerusakan sosio kulturalnya tidak sebanding.

Mungkin seharusnya dilakukan semacam pembatasan jumlah pengunjung untuk wisata alam, sesuai dengan daya dukung dan daya tampungnya sehinggga tidak over capacity yang berujung merusak. Tapi sepertinya cukup susah mengukur daya dukung dan daya tampung untuk wisata alam. 

Berbicara mengenai pariwisata selalu menarik, sama menariknya dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata itu sendiri. So, ini bisa jadi alternatif pilihan s2 saya selain manajemen transportasi dan socio spatial planning. Hmm.

Wajah Baru Bantul

Saya bukan warga Bantul, tapi sudah sangat familiar dengan sepanjang Jalan Raya Bantul yang adem itu. Dari sepanjang depan Masjid Agung Manunggal ke selatan hingga simpang Gose. Ke-familiar-an ini saya dapatkan semasa skripsi, bolak-balik survey yang penuh drama dan air mata. Akan saya ceritakan perihal survey ini di postingan berbeda.

Sudah lama saya tak berkunjung ke Bantul kota, mentok-mentok sampe Jalan Parangtritis doang. Dan baru beberapa hari yang lalu saya kembali ke Bantul dalam rangka menemani seorang teman untuk mengurus ijin penelitian. 

WOW, dan saya terperangah pada perubahan yang terjadi. Bantul sudah tak seperti yang saya kenal dulu. Well, mengambil penelitian di Bantul, terutama tentang penataan ruangnya, tentu saja membuat saya sudah pernah mendengar rencana penebangan pohon yang merusak aspal di sepanjang Jalan Bantul itu. Pun juga rencana penataan kawasan yang saya baca di dokumen RTBL Bantul yang berhasil saya dapatkan serta di dokumen RDTR Bantul. Tapi melihat langsung implementasinya tetap saja membuat saya tercengang. 

Sebegitu besarnya efek penataan kawasan terhadap citra yang ditimbulkan. Selama ini setiap saya berkunjung ke tempat-tempat yang masih asing bagi saya, saya berusaha merasa-rasakan citra kawasan/kota tersebut. Bagaimana sense of place nya, rasa apa yang ditimbulkan tempat baru tersebut bagi orang asing seperti saya. Lalu saya catat baik-baik dalam memori. Kadang bahkan saya merasakan ada sense yang sama pada tempat yang berbeda, misalnya sepanjang Jalan Jenderal Sudirman (jalan favorit saya di Kota Jogja) sense nya hampir sama dengan Jalan RE Martadinata di dekat Mall BIP, Bandung.

Pertama kali menyusuri Bantul setelah penataan, menurut saya rasanya seperti menyusuri Malioboro pasca penataan. Pandangan lebih luas, tidak terhalang oleh pepohonan. Masing-masing bangunan lebih terlihat, dengan fungsi-fungsinya. Jalan yang tadinya terbagi 4 ruas menjadi lebih luas setelah dijadikan 2 ruas. Pedestrian lebih apik, bersih, dan luas. Juga terdapat pergantian dan penambahan street furniture, yang biasanya memang dijadikan sebagai penanda kawasan. 

Secara umum penataan kawasan memang menjadikan fisik kawasan terlihat lebih baik dan lebih rapi secara visual. Akan tetapi saya menyayangkan citra kawasan yang ikut berubah dengan adanya perubahan ini. Saya sangat menyukai Bantul yang dulu, yang asri, yang mendamaikan ketika menyusuri sepanjang jalan depan Masjid Agung Manunggal ke selatan. Bahkan saya punya spot favorit buat rehat setelah lelah survey seharian. Biasanya saya ngadem di sebuah tempat makan yang jual es kelapa muda, jus, dan minuman dingin lainnya, yang terletak di jalur lambat deretan komersil antara Perpustakaan Bantul hingga Bank BRI. Di situ adem banget dengan adanya pepohonan yang sekarang sudah tidak ada lagi. Well, ketika melewati tempat itu lagi, saya sudah tidak berkeinginan untuk mampir. Mungkin saya harus mencari spot favorit lain di Bantul.

Ini bukan tentang benar dan salah, hanya masalah suka dan tidak suka saja. Saya lebih suka Bantul yang dulu, meskipun saya lebih suka Malioboro yang sekarang. Menata kawasan, kota, maupun wilayah selalu dilematis memang. Bagaimanapun penataan ruang tetap perlu dilakukan, sesuai dengan tujuan penataan ruang dalam UU nomor 26 tahun 2007: menciptakan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

Kurang lebih beginilah wajah baru Bantul yang berhasil saya potret dari atas kendaraan. Ingin merasakan sendiri? Silahkan berkunjung :)