Tuesday, 9 January 2018

Friendship

Suatu hari, tentor Bahasa Inggris saya mengajukan pertanyaan yang niatnya mau dipake buat menjelaskan tentang menemukan idea dalam writing: What do you think about friendship? Lalu kami sekelas harus memberikan jawaban yang berbeda. Ada yang menjawab friendship itu take and give, sharing, carrying, help each other, dan masih banyak lagi jawaban lainnya. 

Mendeskripsikan pertemanan itu rupanya cukup sulit ya. Saya sendiri bingung mendefinisikan teman itu apa. Seseorang yang selalu bersama, enggak harus. Seseorang yang saling mengerti dan memahami, belum tentu. Seseorang yang.. bahkan belum tentu orang, hewan peliharaan bisa jadi teman juga. Buku bacaan bisa jadi teman perjalanan juga. Jadi teman itu apa ya? Teman, ya teman. Apalagi sekarang ada yang namanya teman tapi gak cuma teman, macam friendzone, friends with benefit, skinship, dan entah apalagi. Ribet yak.

Friends with benefit. Well, ini sebuah frase dari budaya barat yang dulu semasa saya masih polos benar-benar saya terjemahkan secara harafiah. Saya mengartikan bahwa ini adalah sesuatu yang positif, bahwa pertemanan macam ini adalah pertemanan yang saling memberikan manfaat satu sama lain, misalnya sharing ilmu. Intinya simbiosis mutualisme lah. Saya baru tau belakangan kalau ternyata 'benefit' nya identik dengan satu itu. 

Skinship, istilah korea yang baru saya tau belakangan ini tapi udah beberapa lama melihat dan mengalami. Eits, jangan salah paham. Yang saya maksud di sini skinship versi indonesia lah. Seperti kata seorang teman, bersentuhan dengan sesama manusia itu menyenangkan. Walaupun no heart feeling, no desire, tapi sebaiknya ini jangan dicontoh ya. Wkwk

Pertemanan itu bisa kadaluwarsa kalo enggak di update. Kok bisa? Iya, bisa dong. Misalnya dulu waktu TK kita deket banget, udah soulmate banget lah, kemana-mana bareng, barang-barang kembaran, eh tapi udah hampir 20 tahun gak ketemu trus sekalinya ketemu udah canggung banget, obrolan gak ada yang nyambung, udah beda banget lah dari dulu. Nah, itu tandanya pertemanan kalian sudah kadaluwarsa. Menjaga pertemanan agar gak kadaluwarsa sebenernya cukup simple sih, keep kontak aja atau silaturahmi.

Dengan selalu keep kontak, masing-masing bakal tau kabar terbaru sang teman. Informasi itu tentunya bisa menjadi base memulai obrolan hingga menjadi topik obrolan yang asyik. Efeknya kalo pertemanan sampe kadaluwarsa, salah satu dari kalian akan merasa cuma dihubungi kalo lagi butuh aja. Gak enak kan, kayak begitu.

So, udah seberapa banyak pertemananmu yang kadaluwarsa? Tapi tenang aja, gak semua yang kadaluwarsa harus dibuang. Pertemanan kita masih bisa diselamatkan kok. Mari keep kontak setiap hari, mari mengupdate pertemanan agar tak merugi.

Btw ini ada satu gambar bagus dari Barbitch nya Sagita Suryoputri. Well, setuju banget sama diagram satu ini.





Friday, 5 January 2018

Adakah Kau Rindu Aku yang Dulu?

Lunglai
Tak berbunga, alih alih berbuah
Tak ada yang bisa kau petik padaku
Layu di musim meranggas yang tak bertepi

Hujan sebatas tempat sembunyi
Sunyi malam menjadi saksi
Lalu pagi berbisik,
Aku enggan begini

Adakah kau rindu aku yang dulu?

Bersinar merona bak mentari di tepian Toba
Menari riang selincah ombak samudera
Merebak mewangi seharum petricor sehabis hujan reda

Wednesday, 3 January 2018

Healing

Aku selalu membayangkan healing paling menyenangkan adalah duduk di sebuah ruang terbuka hijau, dengan pandangan luas, dengan angin yang semilir, diiringi playlist favorit. Atau kalau di kota ini tak bisa menemukan ruang terbuka yang tepat, setidaknya healing bisa dilakukan dengan berkeliling kota menggunakan transportasi umum, lalu mengamati setiap fenomena kota yang terlihat, tentunya masih ditemani playlist favorit.

Healing paling menyenangkan lainnya adalah duduk bersamamu, mengobrol tentang apa saja, tak peduli lingkungan sekitar. Entah di lesehan angkringan pinggir jalan, entah di kafe-kafe hits, entah di sepanjang perjalanan kita menuju suatu tempat, entah dimana saja.

Semua orang punya teknik healing masing-masing untuk menghadapi toxic life masing-masing. Ada begitu banyak healing yang bisa dilakukan: berenang, jogging, knitting, hairspa, bahkan menulis juga termasuk healing. Tapi healing favoritku masih kamu. Padahal kamunya udah gatau dimana. Kok jadi sedih sih? Emang. Yawdahlahyah kita akhiri saja tulisan ini lalu tidur!

Eits, bukan ini tujuanku menulis ini.

Akhir-akhir ini begitu banyak manusia depresi baik yg berakhir bunuh diri maupun yg masih terselamatkan, baik artis maupun orang terdekat di lingkaran kita. Ada apa dengan dunia kita, mengapa banyak sekali orang depresi? Well ya, mungkin memang karena tuntutan hidup sekarang ini semakin menggila.

Kata seorang teman, fangirling itu juga salah satu kegiatan untuk mengusir stres. Terutama di korea, dimana tuntutan kecantikan dan tuntutan di dunia hiburan jauh lebih parah ketimbang di negeri ini.

Sebenarnya saya sudah gatal ingin menulis ini bahkan semenjak Chester nya Linkin Park meninggal karena bunuh diri, juga mantan pacarnya Awkarin, juga managernya JKT48, juga yg belum lama ini Jonghyun nya Shinee. Tidak cuma artis, seorang teman yg terlihat depresi juga sampai kehilangan suaranya. Seorang teman yang lain, memilih rokok sebagai pelariannya. Dan seorang kenalan lainnya bahkan sampai mendatangi psikiater dan divonis mengidap depresi sedang (bahkan bukan depresi ringan coy!)

What doesn’t kill you, makes you stronger. Bodo amat sama pepatah satu itu, masa saya harus menunggu sampai mereka mati untuk tau apakah mereka akan menjadi lebih kuat atau justru sebaliknya.

So, aku kamu dan siapapun kita pasti butuh healing. Gak harus berupa piknik asik di akhir pekan, bisa juga kegiatan yg bisa dilakukan setiap hari sesederhana berenang di sore hari sepulang kerja misalnya, atau menulis apapun sebelum beranjak tidur, atau apapun kegiatan yg kita suka dan merasa lebih damai setelah melakukannya. Maka temukan healing favoritmu, ciptakan support system terbaikmu, dan berusahalah untuk tidak depresi. Cheers.


Tuesday, 2 January 2018

Blur

Salah satu hal paling tidak menyenangkan di dunia ini adalah kehilangan fokus. 

Kehilangan fokus bisa menyebabkan menuangkan sampo ke tangan alih-alih sabun cair, padahal awalnya gak berniat keramas. Bisa juga menyebabkan mau kemana malah belok kemana, jadi harus muter-muter dulu. Dan entah masih banyak lagi.

Akhir-akhir ini saya banyak sekali melakukan kebodohan. Dan kebodohan paling hakiki adalah kehilangan simcard yang baru dibeli buat pasang paket data 3 bulan ke depan. Padahal selama ini selalu kikir banget soal pengeluaran buat pasang paket internet, teramat sangat gak rela beli lagi. Harga perdana paket datanya sama kayak tarif hairspa di Larissa, lah mending buat nyalon ya.

Setelah sebelumnya salah naik gojek (salah driver). Jadi si bapak gojek itu bukan gojek yang saya order. Jangan heran, pokoknya bisa aja laah, kalau saya mah. Lalu gabisa cetak kartu ujian sampe frustasi padahal salah masukin nomer doang (yang harusnya nomer ujian malah dimasukin nomer registrasi); dan ketemuan teman buat ambil barang trus ternyata barangnya malah ketinggalan di tempat ketemuan.

Bahkan sesederhana bengong dulu beberapa detik di depan mushola sambil mengamati gerombolan sandal dan sepatu. Lupa tadi pake alas kaki apa.

Well, salah satu kebodohan saya yang lain adalah salah wilayah survey lapangan. Jadi seharusnya saya survey daerah X, tapi yang saya justru survey daerah Y. Sejujurnya ini memang fatal. Untung kali ini bisa dicover sama google street view. Oh god, terimakasih sekali atas kemajuan teknologi saat ini. Gak kebayang deh, kalau kesalahan ini terjadi ketika saya diminta meliput suatu acara di luar negeri. Pertama, acaranya cuma berlangsung sekali. Sekalinya saya salah meliput acara lain, gak ada lagi acara ulangan yang bisa saya liput. Pun, apabila saya bisa meliput ulang karena acaranya berlangsung beberapa hari, saya belom tentu punya uang untuk kembali lagi ke luar negeri untuk menebus kesalahan pribadi saya (anggaplah tiket sebelumnya dibayarin kantor). Jadi ini memang fatal. (Btw ini drama banget ya analogi yang saya ambil)

Tapi lantas, apakah saya menjadi trauma kalau diminta jadi surveyor? Tidak boleh. Mungkin rada gak nyambung ya, tapi saya tiba-tiba teringat kutipan anonim: kamu boleh patah hati, tapi jangan tutup hatimu. Menurut saya, semua kebodohan dan kesalahan yang terjadi bukan untuk terus menerus disesali berlarut-larut, tapi harus dipertanggungjawabkan dan dijadikan pelajaran berharga agar kelak tak terulang lagi (semoga).

Yang patut disyukuri, tidak pernah separah kejadian dalam film A Moment to Remember, beli sesuatu di minimarket trus bayar eh barangnya ketinggalan di kasir. Kalau sudah begitu, lebih baik saya pulang saja sebelum melakukan kesalahan konyol lainnya. Tapi tenang saja, tidak setiap hari saya begitu.

Menjadi seorang saya yang sering kali tidak fokus saja sudah sangat melelahkan. Maka saya heran dengan mereka yang dengan sengaja mengurangi level fokus dan tingkat kesadaran mereka dengan mengonsumsi hal-hal yang menimbulkan dampak demikian. Rasanya ingin berteriak di depan muka mereka, MBOK SINI TUKERAN! Saya yang kadang punya pikiran berkabut saja mati-matian menjernihkan pikiran. Nah situ, malah sengaja bakar-bakar. Kan kesel ya, saya. Saya bohong kalau mengatakan no offense, saya memang ofensif.

Btw tau nggak, kenapa akhirnya hari ini saya memutuskan memilih topik ini? Jadi hari ini saya menyadari bahwa saya baru saja melakukan kebodohan lagi. Petang ini dalam obrolan lincak, ada seorang teman yang sambil lalu menanyakan perihal hasil seleksi pegawai kontrak non PNS DIY yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu. Dan saya menceritakan bahwasanya tidak ada kejelasan pengumuman. Kata temen saya yang lain sih, jangan berharap pada seleksi daerah macam ini karena toh seleksinya pasti hanya formalitas karena tetap saja sudah titipan. Lalu teman saya yg bertanya di lincak bilang kalau adeknya lolos. Nah, lalu saya langsung browsing pengumumannya dong. Dan saya tersadar, rupanya saya melewatkan pengumumannya. HAHAHA

Jadi kenapa ini bisa terjadi? Ceritanya begini, pemprov DIY mengadakan rekruitmen dengan timeline nya sangat padat, dimana pengumuman rekruitmen baru di publish awal Desember, dua hari kemudian pendaftaran online, dan sehari kemudian memasukkan berkas ke kantor, proses rekruitmen berakhir pada akhir Desember. Singkat cerita, dijadwalkan pengumuman seleksi Tes Kompetensi Dasar (TKD) tgl 19 Desember. Lalu saya sudah memantau web sedari tanggal-tanggal itu hingga liburan natal. Dan memang ada berita yang mengabarkan pengumumannya mundur hingga waktu yang tidak ditentukan, jadi harus sering-sering cek website. Saya terus memantau dan bahkan browsing via google kalau-kalau ternyata saya salah website.

Kebetulan kakak saya pulang ke Jogja pada saat longweekend natal, lalu saya terdistraksi dengan acara jalan-jalan hingga tgl 28 Desember. Lalu sudah masuk liburan tahun baru, sehingga saya berpikir tidak mungkin seleksi selanjutnya diadakan pada hari libur. Lalu saya melupakannya begitu saja, hingga hari ini. Dan baru tadi saya menemukan pengumumannya baru di launching tgl 26 Desember dengan jadwal tes selanjutnya tgl 27-28 Desember. Oke, baiklah saat itu saya pasti sedang sibuk jalan-jalan ke Hutan Pinus Imogiri, Candi Ijo, dan Tebing Breksi. Wkwk

Pesan moralnya, namanya rejeki kan udah ada yang mengatur ya, jadi kalau saya melewatkan pengumuman ini ya mungkin saja memang bukan rejeki saya kan ya. Dan sepertinya saya memang tidak lolos seleksi. Kendati demikian, digantung tanpa kepastian itu sangat tidak menyenangkan. Saya sempat uring-uringan karena tidak ada kejelasan dari lowongan-lowongan pekerjaan yang saya apply. Maka pesan moral ke-2, kalau gak suka digantung ya jangan menggantung. Apalagi menggantungkan perasaan orang lain, sakit mas!

Well, beberapa bagian dari tulisan ini sudah sempat saya post di twitter. Anggaplah ini versi lengkapnya. Haha

Page 1 of 365

Well, saya mau ikut-ikutan challenge menulis semacam #30HariBercerita atau apapun itu, demi menghidupkan kembali blog ini setelah sekian lama mati suri. Mau sependek apa dan se-nggak penting apa tulisannya, nanti dulu deh. Yang terpenting adalah konsisten menulis. Karena lagi gak punya topik menarik untuk dibahas, saya mau membahas film yang baru saya tonton semalam aja. Judulnya Bad Genius, film Thailand tahun 2017. Cukup recommended ditonton sih, menurut saya.

Film ini bercerita tentang seorang penerima beasiswa yang super pintar lalu membisniskan contekan ke teman-teman sekelasnya dengan bayaran mahal. Berawal hanya membantu sang teman dekat, lalu pihak yang diberi contekan ketagihan menyontek. Konflik berlanjut ketika mereka bukan hanya menyontek untuk ujian sekolah tapi juga untuk ujian masuk universitas! Gila banget, mereka gak mikir apa, kalo berhasil masuk Boston dengan cara curang memangnya mereka bisa survive di sana. Dalam artian, seleksi masuk memang ditujukan untuk menjaring orang-orang yang kompeten belajar di sana. Soal ujian di perguruan tinggi itu essay coy, bukan pilhan ganda.

Film ini mengingatkan pada cerita seorang teman yang juga merupakan penerima beasiswa, dimana dia bersama teman-teman penerima beasiswa lainnya saling bekerja sama memberikan contekan ujian pada teman-teman non beasiswa hanya supaya mereka semua bisa lulus.

Lalu saya juga jadi teringat beberapa teman saya dulu yang menjelang Ujian Nasional bukannya sibuk belajar justru sibuk mencari handphone paling kecil dan tipis, yang tentu saja kita tahu untuk apa.

Dulu jaman SMA, saya banyak menemukan tulisan bernada iklan layanan masyarakat yang intinya: menyontek itu akar dari korupsi, kalo dari mudanya udah suka menyontek gak heran kalo kedepannya jadi koruptor. Dan juga secara logika, ketika kita berhasil lulus dengan cara menyontek lalu ijazahnya kita gunakan untuk mencari pekerjaan, apakah nantinya pekerjaan kita barokah?

Saya tidak munafik, saya tentu saja juga pernah menyontek dan memberikan contekan. Lalu sikap saya tentang contek menyontek ini? Sesekali boleh aja asal gak kelewatan. Batas kelewatan itu yang gimana? Tanya aja hatimu, dia tau kok.

Lalu isu plagiarism yang sudah menjadi isu mahasiswa sekarang ini. Skripsi atau penelitian seseorang dikatakan tidak plagiat selama mengambil fokus, lokus, dan metode yang berbeda dari skripsi atau penelitian yang sudah ada. Minimal salah satunya berbeda, maka bisa dikatakan tidak plagiat. Selain plagiat yang jelas-jelas nyata plagiat, misalnya mengutip tanpa mencantumkan sumber, ada juga plagiat yang masih dalam bentuk ide. Tapi berhubung gagasan itu tidak memiliki hak cipta, maka sepertinya masih sah saja plagiat dalam bentuk ide. Seseorang pernah bilang, toh di dunia ini tidak ada ide yang benar-benar otentik. Akui saja, dengan terinspirasi dari buku, film, maupun dari lingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari sudah bukti bahwa ide itu sudah ada, hanya saja belum diklaim dan belum direalisasikan menjadi sebuah karya. Tapi tetap saja idenya tidak otentik tercipta dari pikiran kita semata. Well, selama masih etis sih silahkan saja mencuri ide dari mana saja dan jadilah orang pertama yang mengaplikasikan ide tersebut menjadi karya nyata.

Satu lagi, film ini mengingatkan saya pada sosok yang belum lama ini ramai di pemberitaan: Dwi Hartanto dan seluruh kebohongan prestasinya. Kita tidak meragukan bahwa dia pasti cerdas dengan bisa menempuh program doktoral di TU Delft Belanda, namun kita menyayangkan saja atas sikapnya yang tidak etis.

Well prestasi itu penting, tapi di atas itu semua etika jauh lebih penting. Begitu sih yang ditanamkan dosen pembimbing saya. Oh iya, saya masih berhutang cerita tentang dibalik terbitnya Si Buku Biru aka skripsi saya. Masih berupa draft kasar banget, semoga saja tulisan satu itu bisa segera saya posting di #30HariBercerita. So, tunggu saja..

Tuesday, 31 October 2017

Post Graduation Syndrome

Sebenarnya sungguh sangat terlambat bagi saya untuk menulis ini, setelah graduasi berselang lima bulan lalu. Tapi biarlah, toh ini bukan koran yang harus selalu menyajikan informasi terkini. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, ingin kabar aktual dari saya silahkan japri. Heuheu

Setiap orang yang pernah bersekolah tentunya pernah mengalami masa seperti ini. Faktor pembedanya adalah seberapa lama masa ini bertahan, atau seberapa dalam sindrom ini mengobrak-abrik rasa dan kehidupan seseorang. Lantas sebenarnya apa sih definisi dari post graduation syndrome? Seorang teman pernah menulis bahwa istilah post graduation syndrome mengacu pada istilah post power syndrome. Mudahnya, istilah post power syndrome menggambarkan kondisi poltisi yang baru turun dari masa jabatan dan masih mendamba kekuasaan seperti ketika masih menjabat. Jadi kurang lebih istilah post graduation syndrome bermakna sindrom yang mendera orang-orang seusai diwisuda.

Well, sejujurnya saya tidak tahu apakah istilah ini memang benar adanya atau hanya istilah yang diciptakan manusia-manusia jaman sekarang untuk mendeskripsikan apa yang mereka rasakan. Sebagian orang mengalami kebingungan dan/atau kekosongan setelah ceremony graduasi yang penuh hingar bingar kebahagiaan, setelah sebelumnya bersusah payah mengusahakan kelulusan. Lantas menjadi hampa setelah hingar bingar ini berlalu, lalu dihadapkan pada berbagai pilihan sulit yang berkaitan dengan masa depan. Pertanyaan macam ‘setelah ini mau kemana’ atau ‘planning selanjutnya apa?’ akan menjadi pertanyaan template yang muncul baik dari diri sendiri maupun dari orang sekitar. Kita dihadapkan pada pilihan mencari pekerjaan, melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya, bahkan menikah.

No offense, saya menjumpai banyak dari mereka yang kemudian memilih lanjut S2 sebagai pelarian ketika tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Walaupun demikian, sebagian yang lain murni ingin belajar.

Post graduation syndrome kian menjadi bagi saya, ketika satu persatu teman-teman saya melanjutkan kehidupan mereka masing-masing dengan pindah ke kota lain. Mengingat kejayaan masa lalu (kayak pernah jaya aja), saya merasa lately kehidupan saya menjadi kurang berwarna. Saya merasakan kemunduran, terutama setelah beberapa kali apply pekerjaan dan ditolak. Bagaimanapun segala bentuk penolakan memiliki dampak tersendiri secara psikologis, sekecil apapun, disadari maupun tak disadari.

Sampai sekarang saya masih beranggapan bahwa pekerjaan (terutama di bidang saya) itu ada banyak sekali, apabila memang tak terlalu picky. Kendati demikian, masih ada saja teman saya yang menganggur. Kenapa saya bisa bilang begitu? Well, saya dan teman-teman saya pernah mengerjakan beberapa project sekaligus sampai rasanya hampir keteteran. Padahal sebenarnya bisa saja pekerjaan itu dibagi dengan orang lain. Tapi nyatanya, tidak semua orang mau mengerjakan pekerjaan macam ini. Alasannya bermacam-macam, dari honor yang tidak seberapa hingga masalah idealisme.

Hanya berselang beberapa hari setelah ceremony graduasi, saya memasukkan lamaran pekerjaan di suatu konsultan di kota tetangga. Namun sebelum pengumuman, saya ditelpon teman dan ditawari membantu proyek dosen. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya memilih mengambil proyek ini dan melepas panggilan wawancara yang datang beberapa hari setelah saya mengiyakan proyek ini. Bertemu dengan orang-orang baru dengan karakter yang menyenangkan, dengan sendirinya menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. Bersama mereka, saya betah lembur hingga malam. Meskipun belum memiliki sistem kerja yang ideal, saya enjoy bersama mereka. Toh seberat apapun pekerjaan selama kita bersama partner kerja yang menyenangkan, bukan masalah kan?

Berbicara tentang project-project yang pernah saya bantu pengerjaannya, ada beberapa yang cukup menyentil. Beberapa teman mengatakan bahwa saya ini tipikal yang idealis atau sok idealis malahan. Contohnya saja ketika kami diminta membuat justifikasi pemilihan lokasi untuk suatu pembangunan, dimana eksistingnya lokasi pembangunannya merupakan sawah produktif. Atau ketika kami diminta melakukan kajian pemekaran kecamatan namun konfigurasi desanya sudah ditentukan secara top down demi mendukung politic will. Segitu saja saya sudah merasa resah dan penuh dosa. Atau ketika ada beberapa rekan kerja yang saling membicarakan keburukan rekan kerja lain di belakang, saya sudah merasa muak dan jengah.

Well, selamat datang di dunia kerja yang penuh tantangan dan senggol-bacok. Lagi-lagi mengutip kata teman, yang terpenting kita mau berproses beradaptasi dengan lingkungan sekitar sehingga kita akan terbiasa dan bisa bertahan menghadapi gempuran faktor penyebab depresi. Oh iya, bahasan mengenai stres dan depresi yang akhir-akhir ini begitu mewabah di generasi kita, akan saya posting menyusul. 

Saturday, 5 August 2017

Jalan Pulang

Ini hanyalah salah satu kisah di perjalanan pulang. Akhir-akhir ini tiap malem aku selalu ngelewatin lampu merah yang rada koplak. Ceritanya di perempatan itu emang lagi ada pekerjaan gorong-gorong, jadi salah satu ruas jalan emang ditutup menjadikan yang semula perempatan menjadi semacam pertigaan.

Akibatnya traffic light disitu kayaknya emang jadi eror. Ruas jalan dari arah biasa aku dateng gak pernah kedapetan ijo. Selalu merah ditunggu sampe semua orang lelah menanti tetep gak berganti menjadi ijo. So, semacam ada kesepakatan tak terucap ketika semua orang sampai pada batas penantian. Lalu kami melajukan kendaraan masing-masing, menerobos lampu merah yang tak pernah beranjak menjadi hijau. Dan itu selalu berulang setiap harinya.

Sempat kepikiran mencoba rute pulang yang beda, biar bisa dateng dari arah yang berbeda. Soalnya penasaran, dari arah berlawanan eror juga apa enggak. Tapi berhubung tiap pulang selalu mode auto pilot (otomatis lewat jalur biasa, soalnya sambil ngelamun), selalu kelupaan buat menjajal rute baru.

Tapi traffic light itu sekarang udah bener kok. Cuma ngerasa bodoh aja setiap terjebak di lampu merah itu, padahal udah pengalaman tiap hari. Sama hal nya dengan tiap hari pulang lewat jalan yang sama tapi selalu lupa menghindari jalan berlubang yang sama. Keledai aja gak jatuh dua kali di lubang yang sama. LOL