Saya termasuk golongan manusia yang terlambat dalam belajar berkendara, baik belajar bersepeda, belajar mengendarai motor, bahkan mobil.
Sebenarnya secara teknis, saya sudah bisa mengendarai sepeda roda 2 semenjak entah kelas berapa SD. Tapi saya selalu bermasalah dengan rasa percaya diri dalam mempraktikkannya, padahal cuma muter-muter kampung bersama teman-teman sepantaran saya dalam neighborhood rumah tinggal saya. Saya selalu jadi pihak yang nebeng, dan teman-teman saya tak pernah berkeberatan memboncengkan saya mengingat berat badan saya yang tak seberapa, apalagi waktu saya SD.
Alhasil saya semakin tidak terlatih dalam bersepeda. Saya selalu berkelit bahwa dengan tidak mempunyai sepeda sendiri, wajar saja saya tidak terlalu mahir bersepeda karena tidak terbiasa. Ditambah tinggi badan saya yang tidak seberapa membuat saya cenderung enggan mencoba sepeda-sepeda ukuran besar yang kaki saya tidak sampai untuk menapak tanah. Sampai sekarang, saya masih merasa ngeri kalau diminta bersepeda di jalan raya yang ramai bersama kendaraan-kendaraan bermotor yang lain. Kalau di lingkungan perumahan, saya masih berani sih.
Berlanjut dalam belajar motor, ayah saya membekali teori-teori sederhana sebelum praktik. Ayah saya tipikal yang tidak mau mengajari anaknya dengan cara memboncengkan dalam satu motor, katanya nanti lama belajarnya, gak cepet bisa. Maka sedari awal kami selalu membawa motor sendiri-sendiri. Saya pegang motor sendiri, lalu ayah saya membuntuti saya dari belakang. Langkah awal belajar motor bersama ayah saya adalah dengan merasakan berat motor itu. Saya berada pada posisi siap mengemudi motor tapi mesin belum dinyalakan, lalu ayah saya memiringkan motor ke kanan dan ke kiri dan saya harus menahannya supaya motor tidak jatuh. Selanjutnya setelah saya sudah familiar dengan beban motor, kami berpindah ke jalan lurus yang panjang tapi sepi, contohnya adalah jalan masuk perumahan. Disini saya harus bolak balik untuk membiasakan diri dengan motor dan membiasakan belok kanan dan belok kiri.
Setelah dirasa cukup, barulah turun ke jalan raya. Turun ke jalan raya juga diawali jalan-jalan putar-putar kota pada jam sepi, misalnya pagi hari sebelum jam 6 pagi. Setelah melalui serangkaian latihan itu, baru saya berani bawa motor sendiri ke kampus. Awal mula bawa motor, saya selalu menghindari jam sibuk, sengaja pulang malam supaya jalanan lebih lega. Dan pada waktu itu saya masih belum bisa memindah persneling tanpa berhenti, jadi bahkan sering kali saya sengaja menunggu lampu hijau berganti merah supaya saya bisa istirahat sejenak. LOL. Metode yang dilatihkan ayah saya kepada saya itu cukup berhasil untuk saya, namun kelemahannya saya jadi kesulitan memboncengkan orang karena terbiasa sendiri.
Kemampuan berkendara saya meningkat semakin sering digunakan. Yeah, practice make perfect, right? Dulu kaki saya selalu gemetaran gak jelas setiap habis berkendara cukup jauh, misalnya dari rumah menuju kampus. Setelah sekian lama barulah saya sudah merasa nyaman berkendara pada jam berapapun, menuju tempat manapun. Well, kecuali jalan-jalan dengan kontur ekstrem. Tapi maksudnya, untuk berkendara dalam kota saya cukup oke lah. Saya sudah bisa berkendara dengan pikiran melayang kemana-mana tapi tetap dengan refleks yang baik.
Sampai sekarang saya tidak terbiasa berkendara dengan kaca helm tertutup, dengan masker dan sarung tangan, juga sambil mendengarkan musik melalui headset. Why? Dengan menutup kaca helm, pakai masker dan sarung tangan, juga pakai jaket tebal, saya merasa sedang berada dalam robot. Bayangan saya seperti saya sedang berada di dalam robot dan mengendalikan Megazord, robot raksasanya power ranger. Saya jadi kesulitan memperkirakan jarak di luar 'tubuh robot' dari dalam sini. Selain itu dengan menutup kaca helm atau menggunakan masker, ekspresi kita jadi tidak terlihat oleh pengguna jalan yang lain. Padahal menurut saya ekspresi atau gestur dalam berkendara itu cukup penting. Dan dalam berkendara, kita harus sebisa mungkin terbaca oleh pengguna jalan yang lain, attitude kita harus terduga.
Dalam salah satu lamunan saya di atas motor, saya pernah berpikir bahwa dalam berkendara kita bisa menjadi Alfa atau Beta. Hal ini terutama terlihat ketika kita akan menyeberang jalan. Sang Alfa bisa menunjukkan otoritasnya dengan menembakkan lampu jauh (untuk motor kopling dan mobil), atau bisa juga dengan membunyikan klakson, yang menandakan bahwa dia mau lewat duluan, silahkan yang lain beri jalan.
Saya sering mengamati ekspresi atau gestur pengguna jalan lain sebelum memutuskan akan menyeberang duluan atau justru mengalah. Saya harus tau dulu, disitu apakah saya Sang Alfa, Beta, atau bukan siapa-siapa.
Well, berhubung saya menulis ini sembari menunggu jam istirahat selesai, dan sholat jumat sudah selesai, maka saya cukupkan sekian saja. Anw, selamat Hari Jumat, semoga Jumatmu penuh berkah!
Friday, 7 October 2016
Monday, 1 August 2016
Di Balik Awal yang Baik
Ini merupakan awal bulan sekaligus awal pekan yang menyenangkan. Setelah sekian lama tidak kembali ke Bantul, hari ini saya memutuskan kembali ke Dinas PU Bantul untuk meminjam dokumen RDTR. Siapa sangka ternyata saya justru mendapatkan shp file nya juga. Just for your information, instansi biasanya pelit urusan yang satu ini. Mahasiswa yang se-major sama saya pasti udah pengalaman banget lah ya, jadi korban ribetnya birokrasi di negeri ini. Dari mulai ditolak dinas dengan berbagai alasan, diputer-puterin dari satu dinas ke dinas yang lain, sampai di php in masalah data. Intinya mencari data sekunder di instansi pemerintah, kalau anda sedang tidak beruntung, ribetnya bisa luar biasa. Tapi tidak dengan hari ini, sepertinya saya sedang beruntung. Thanks God, for this nice first day on August.
Saya bahkan beranggapan untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan, terkadang kita perlu melakukan semacam 'merayu'. OMG, don't call me bitch because of this crazy opinion. Yang saya maksud merayu disini adalah dengan berdandan dengan tak cukup sekedar rapi tapi juga menarik. Menggunakan baju yang memang kita tampak bagus mengenakan itu, mengusahakan matching dari atas sampai bawah. Atau bila perlu menggunakan sedikit sentuhan make up seperti bedak, eyeliner, lipstik menurut saya sudah cukup. But, it's work. Mungkin kalau saya tidak berjilbab, sekalian aja buka satu atau dua kancing kemeja bagian atas. Ini bukan bermaksud nakal atau menggoda, hanya demi mendapatkan data dengan mulus dan cepat aja. Prinsip ini tidak hanya berlaku untuk lawan jenis saja, toh semua orang baik perempuan ataupun laki-laki menilai seseorang pertama kali dari tampilan fisiknya.
Penampilan itu segalanya, minimal first impression kita harus bagus. Peduli amat sama impression ke sekian yang terus bakal berkembang seiring semakin seringnya interaksi dilakukan.
Mungkin ini bisa dianalogikan seperti IPK. Ada yang bilang IPK tinggi itu bukan segalanya, yang penting softskill kita. Tapi sebenarnya IPK bagus itu kan tiketnya. Tanpa IPK bagus, meskipun softskill kita bagus tetap saja kita tidak bisa diterima di perusahaan x, misalnya. Menurut saya begitu juga dengan penampilan fisik, fisik menarik itu bukan segalanya, tapi itu tiket. Tak heran semua teman-teman saya mendadak jadi cantik, dan semakin banyak klinik perawatan kecantikan bertebaran disana sini. Mungkin tuntutan cantik di lingkungan dewasa ini semakin meningkat.
Bahkan seorang teman laki-laki pernah secara lugas mengatakan bahwa dia pasti akan menuntut kecantikan dari istrinya siapapun itu nanti.
Cantik? Itu kan relatif. Dan lagi, ada yang lebih penting dari kulit yaitu isinya. Percuma cantik kalau gak punya inner beauty, percuma cantik kalau kelakuan minus, percuma cantik kalau gak diimbangi sama kecerdasan. So, jangan cuma sibuk mempercantik fisik, jangan lupa percantik attitude juga. Satu kertas tempelan di cermin saya yang tiba-tiba terlintas ketika menulis ini, bahkan dalam islam arti dari doa ketika bercermin adalah: ya Allah, sebagaimana Engkau berikan aku rupa yang baik, maka jadikanlah padaku akhlak yang baik.
Di luar itu semua, di luar tuntutan tampil cantik, saya tidak berniat berusaha memikat siapapun. Bukan begitu seharusnya perempuan bersikap? Bukan begitu tujuan adanya hijab?
Demikian, saya berharap skripsi yang penuh drama dan air mata ini segera terselesaikan. Kapan-kapan saya kisahkan drama penuh air mata itu, tapi tidak sekarang. Selamat malam!
Saturday, 30 July 2016
Anti Sosial
Menurut saya sebenarnya tidak ada manusia yang literally anti sosial. Semua orang pada dasarnya menyukai interaksi dengan sesamanya. Oke, bukan menyukai tapi lebih tepatnya membutuhkan interaksi dengan orang lain. Seorang teman pernah bilang sembari main pijet-pijetan tangan, 'Bersentuhan dengan sesama manusia itu menyenangkan, mon.'
Well ya, manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain berkaitan dengan sifat alamiahnya sebagai makhluk sosial. Dan ada yang namanya pembagian peran. Pembagian peran dalam masyarakat ini penting untuk mencapai efisiensi. Akan lebih efisien jika seseorang memilih suatu bidang untuk ditekuni, kemudian saling bertukar dengan yang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan dari jaman entah berantah aja masyarakat sudah mengenal yang namanya barter, yang sekarang berkembang jadi jual beli menggunakan uang.
Seorang partner diskusi saya pernah beride, mungkin di kehidupan yang akan datang sudah tidak akan ada lagi uang berbentuk fisik, semuanya jadi uang digital/uang elektronik. Ide ini muncul ketika kami harus menunggu cukup lama untuk dicarikan uang kembalian lantaran kami sama-sama tidak memiliki uang kecil untuk membayar. Sungguh efisien kalau semua pembayaran apapun tinggal gesek atau tap, gak ada lagi perlu mendengar kalimat sejenis 'duh, nggak ada uang kecil mbak'. Tapi repot juga ya kalo tiba-tiba listrik dan internet mati total, semua transaksi bisa pending.
Kembali pada interaksi sosial, akan sangat merepotkan kalau kita harus memenuhi kebutuhan dari ujung kaki sampai ujung rambut, dengan produksi sendiri. Mungkin ada yang gak sepakat ya, soalnya ada juga konsep masyarakat madani. Tapi kan itu masyarakat, yang bermakna kumpulan orang, bukan satu orang. Dalam masyarakat madani juga pasti dibutuhkan interaksi sosial. Selain itu setiap negara agraris pasti menginginkan menjadi negara swasembada pangan. Artinya minimal bisa memenuhi kebutuhan pangan domestik tanpa impor, ya dengan memproduksi sendiri. Dan lagi-lagi ini negara, yang jelas terdiri dari lebih dari satu orang.
Di atas saya baru membicarakan urusan fungsional, kebutuhan interaksi karena mayoritas kebutuhan fisik di luar sex. Saya bingung mengkategorikan sex termasuk kebutuhan fisik atau bukan. Apapun itu, ada banyak lainnya yang mengakomodasi kebutuhan lainnya, kebutuhan batin misalnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan yang dari ujung kaki sampai ujung rambut itu, seorang perlu berinteraksi dengan sesamanya bahkan hanya untuk berbincang. Everyone needs to comfort others, begitu juga sebaliknya. Dan yang kali ini mendorong saya untuk menulis ini, kebutuhan akan eksistensi.
Istilah anti-sosial yang kerap digunakan saat ini lebih merujuk pada yang gak punya atau gak aktif sosmed, yang jarang mau ikutan kongkow, yang jarang mau diajakin ngegahol party-party gitu, yang anak rumahan banget lah.
Adapun orang yang dianggap anti sosial, biasanya karena mereka merasa tidak nyaman berinteraksi dengan sesamanya. Dan ketidaknyamanan ini pasti dipicu alasan tertentu dibaliknya. Dan kemungkinan besar dari lubuk hati yang terdalam, ada keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain. Hanya saja terkadang keinginan itu terkubur oleh ketidaknyamanan atau memang sengaja dikubur dalam-dalam.
Salah satu alasannya mungkin ketidakmampuan menyamai frekuensi pembicaraan ataupun gaya hidup lingkungan tersebut. Ketidakmampuan ini bisa disebabkan bermacam-macam, seperti finansial hingga intelektual. Intinya tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Sudah bukan rahasia umum bahwa mereka yang berbeda, tidak mendapat tempat di masyarakat. Masyarakat menyukai homogenitas. Seperti data dalam penelitian deduktif kuantitatif, jika ada yg terlalu berbeda atau yang sering disebut sebagai outsider, maka alangkah baiknya data tsb dibuang dan tidak dimasukkan dalam penelitian karena akan merusak statistik. Untuk itu ada juga penelitian induktif kualitatif, untuk mengakomodasi para outsider yg tersisih ini. Padahal mungkin saja sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar anti mainstream dan berbeda. Mereka mungkin belum ketemu aja sama yang sealiran, sehingga mereka selalu dianggap outsider.
Sebenarnya postingan ini bisa lebih panjang dengan membahas sebenarnya sosial itu apa, membahas perkembangan sosial di beberapa tempat yang berbeda, juga mungkin mengutip pendapat para ahli. Sosial dan humanity memang selalu menarik untuk diamati dan didiskusikan, karena laboratoriumnya sangat besar. Seluruh kota ini bisa kok, dijadikan laboratorium pengamatan. Tapi cukup, malam ini toh saya menulis hanya untuk meredakan serangan rutin confusion. Selamat malam minggu!
Well ya, manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain berkaitan dengan sifat alamiahnya sebagai makhluk sosial. Dan ada yang namanya pembagian peran. Pembagian peran dalam masyarakat ini penting untuk mencapai efisiensi. Akan lebih efisien jika seseorang memilih suatu bidang untuk ditekuni, kemudian saling bertukar dengan yang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan dari jaman entah berantah aja masyarakat sudah mengenal yang namanya barter, yang sekarang berkembang jadi jual beli menggunakan uang.
Seorang partner diskusi saya pernah beride, mungkin di kehidupan yang akan datang sudah tidak akan ada lagi uang berbentuk fisik, semuanya jadi uang digital/uang elektronik. Ide ini muncul ketika kami harus menunggu cukup lama untuk dicarikan uang kembalian lantaran kami sama-sama tidak memiliki uang kecil untuk membayar. Sungguh efisien kalau semua pembayaran apapun tinggal gesek atau tap, gak ada lagi perlu mendengar kalimat sejenis 'duh, nggak ada uang kecil mbak'. Tapi repot juga ya kalo tiba-tiba listrik dan internet mati total, semua transaksi bisa pending.
Kembali pada interaksi sosial, akan sangat merepotkan kalau kita harus memenuhi kebutuhan dari ujung kaki sampai ujung rambut, dengan produksi sendiri. Mungkin ada yang gak sepakat ya, soalnya ada juga konsep masyarakat madani. Tapi kan itu masyarakat, yang bermakna kumpulan orang, bukan satu orang. Dalam masyarakat madani juga pasti dibutuhkan interaksi sosial. Selain itu setiap negara agraris pasti menginginkan menjadi negara swasembada pangan. Artinya minimal bisa memenuhi kebutuhan pangan domestik tanpa impor, ya dengan memproduksi sendiri. Dan lagi-lagi ini negara, yang jelas terdiri dari lebih dari satu orang.
Di atas saya baru membicarakan urusan fungsional, kebutuhan interaksi karena mayoritas kebutuhan fisik di luar sex. Saya bingung mengkategorikan sex termasuk kebutuhan fisik atau bukan. Apapun itu, ada banyak lainnya yang mengakomodasi kebutuhan lainnya, kebutuhan batin misalnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan yang dari ujung kaki sampai ujung rambut itu, seorang perlu berinteraksi dengan sesamanya bahkan hanya untuk berbincang. Everyone needs to comfort others, begitu juga sebaliknya. Dan yang kali ini mendorong saya untuk menulis ini, kebutuhan akan eksistensi.
Istilah anti-sosial yang kerap digunakan saat ini lebih merujuk pada yang gak punya atau gak aktif sosmed, yang jarang mau ikutan kongkow, yang jarang mau diajakin ngegahol party-party gitu, yang anak rumahan banget lah.
Adapun orang yang dianggap anti sosial, biasanya karena mereka merasa tidak nyaman berinteraksi dengan sesamanya. Dan ketidaknyamanan ini pasti dipicu alasan tertentu dibaliknya. Dan kemungkinan besar dari lubuk hati yang terdalam, ada keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain. Hanya saja terkadang keinginan itu terkubur oleh ketidaknyamanan atau memang sengaja dikubur dalam-dalam.
Salah satu alasannya mungkin ketidakmampuan menyamai frekuensi pembicaraan ataupun gaya hidup lingkungan tersebut. Ketidakmampuan ini bisa disebabkan bermacam-macam, seperti finansial hingga intelektual. Intinya tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Sudah bukan rahasia umum bahwa mereka yang berbeda, tidak mendapat tempat di masyarakat. Masyarakat menyukai homogenitas. Seperti data dalam penelitian deduktif kuantitatif, jika ada yg terlalu berbeda atau yang sering disebut sebagai outsider, maka alangkah baiknya data tsb dibuang dan tidak dimasukkan dalam penelitian karena akan merusak statistik. Untuk itu ada juga penelitian induktif kualitatif, untuk mengakomodasi para outsider yg tersisih ini. Padahal mungkin saja sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar anti mainstream dan berbeda. Mereka mungkin belum ketemu aja sama yang sealiran, sehingga mereka selalu dianggap outsider.
Sebenarnya postingan ini bisa lebih panjang dengan membahas sebenarnya sosial itu apa, membahas perkembangan sosial di beberapa tempat yang berbeda, juga mungkin mengutip pendapat para ahli. Sosial dan humanity memang selalu menarik untuk diamati dan didiskusikan, karena laboratoriumnya sangat besar. Seluruh kota ini bisa kok, dijadikan laboratorium pengamatan. Tapi cukup, malam ini toh saya menulis hanya untuk meredakan serangan rutin confusion. Selamat malam minggu!
Wednesday, 27 July 2016
Murdering Confusion From My Mind
Saya sedang butuh banyak racun sebagai penawar rasa. Misalnya
playlist yang sama sekali asing ditelinga ketika sedang mengerjakan pekerjaan
yang literally membosankan dan bikin baper. Udah membosankan, eh tiba-tiba
terlintas dalam pikiran: akankah yang sedang saya lakukan saat ini bermanfaat? Setelah
ini selesai apakah ini akan terpakai? Hal seperti itulah yang membuat
pengerjaan yang harusnya mudah menjadi berjalan sangat lambat. Menyebalkan
bukan? Makanya diperlukan pengalih perhatian sejenis sealbum penuh lagunya Pure
Saturday, yang entah darimana saya dapatkan tiba-tiba ada di folder Leisure di
laptop. Ternyata mendengarkan lagu-lagu ini cukup membuat saya adem dan minim emosi.
Mungkin karena sebelumnya saya tidak pernah mendengarkan lagu-lagu ini sehingga
tidak ada memori yang terbangkitkan ketika mendengar lagu-lagu ini. Mengapa
mendengarkan lagu-lagu yang tidak sarat memori itu penting? Well karena saya
orangnya baperan, sungguh mengganggu ketika mendadak baper di saat harus
produktif.
Selama ini saya terbiasa hidup penuh racun. Saya membiarkan
diri saya atau lebih tepatnya pikiran saya teracuni oleh segala hal yang
bersentuhan dengan saya. Sesederhana apa yang saya lihat di sepanjang jalan
menuju kampus, atau sesederhana berita di koran pagi itu. Dan ketika saya
kehabisan stock racun pikiran karena semakin sedikit yang men-supply saya
racun-racun pikiran ini, saya mulai sakaw. Tidak ada lagi kalimat-kalimat dari
para dosen yang menjadi newsfeed otak saya untuk melakukan brainstorming, lantaran
saya sudah hampir dua tahun vakum kegiatan perkuliahan.Tidak ada lagi diskusi
atau seminar-seminar dengan topik yang saya minati yang bisa saya datangi
begitu saja. Tidak ada lagi obrolan random di lincak mengenai isu hangat
nasional bahkan internasional. Tidak ada lagi partner diskusi mengenai hal-hal
abstrak. Tidak ada lagi orang yang rutin bertanya mengenai keseharian hidup
saya dan bercerita tentang keseharian hidupnya. Tidak ada lagi, sungguh tidak
ada lagi supply racun bagi pikiran dan curiousity saya.
Sejauh ini saya hanya berhasil meracuni diri saya dengan
membuat beberapa mini project. Salah satunya adalah belajar merajut, mumpung
ada teman yang dengan senang hati dan penuh kesabaran bersedia mengajari saya.
Masih banyak racun-racun yang sudah masuk list untuk segera
dihirup dan dihayati. Diantaranya banyak belajar mengenai hal-hal baru seperti
menyetir mobil dan berenang, atau belajar hal-hal (yang mereka sebut keahlian wajib
perempuan) sejenis menjahit dan memasak. Menghabiskan setumpuk novel dan majalah
NatGeo. Jalan-jalan dan mengunjungi event seni di kota ini. Project bikin Daily
Journal yang hingga hari ini tidak kunjung jalan karena saya kehilangan
kemampuan menulis. Project bikin totebag kanvas sebagai target pertama belajar mesin
jahit. Project belajar bahasa prancis dan belajar bahasa inggris lagi. Project
jogging at least tiap minggu pagi. Dan beberapa project untuk mendekatkan diri
pada sang pencipta. Sungguh, berhubungan dengan sang pencipta merupakan penawar
rasa tersendiri.
Saya masih sangat kesulitan dalam belajar menyetir mobil,
dan saya masih sangat bisa baper dengan aktivitas belajar mobil ini. Jangan
tanya kenapa. Jadi untuk sementara sampai saya bisa menguasai diri saya
sendiri, saya memutuskan untuk berhenti belajar nyetir dulu.
Sebenarnya seberapa pahitnya rasa yang saya telan sih,
sampai sudah sebanyak itu racun yang saya jejalkan pada diri saya tapi rasanya
selalu kurang. Mungkin saya memang sedang kecanduan, jadi dosisnya memang
selalu nagih buat ditambah. Well, saya mungkin kecanduan asmara. Padahal asmara
toh termasuk racun yang saya coba untuk menawar rasa. Dan ternyata racun yang
satu ini berdampak lebih mengerikan daripada rasa yang sedang berusaha saya
tawar itu sendiri. Saya menyesal coba-coba.
It’s look like i’m so hopeless and helpless but why i still
do every single that fuck things? Padahal seorang yang sedang merasa terpuruk
cenderung tidak melakukan hal-hal yang berkaitan dengan masa depan. Untuk apa
saya belajar ini itu bila katakanlah saya tidak ingin hidup di dunia ini? Saya
juga tidak mengerti, nyatanya saya merasa perlu menyibukkan diri dan pikiran
saya dengan hal-hal yang positif.
Satu lagi, saya akui saya belum bisa berdamai dengan diri
saya sendiri. Saya masih selalu merasakan desiran ketika berhubungan dengan
sesuatu yang tidak pernah saya miliki atau gagal saya dapatkan. Seperti ketika
saya berinteraksi dengan para mahasiswa kedokteran karena saya tidak berhasil
menjadi salah satu dari mereka. Atau ketika berinteraksi dengan perempuan yang
mampu memenangkan hati seorang lelaki yang pernah saya dambakan. Atau ketika
teman saya mencibir hal yang baru saya dapatkan saat ini lantaran dia sudah
mendapatkannya dari dulu dan sudah bosan kemudian meninggalkannya. Prek! Rasanya
seperti sedang memacari mantan pacarnya temen deket kita. Oke, secara
sederhananya semua itu bisa digantikan oleh satu kata: cemburu. Tapi tenang
saja, saya tidak akan pernah membiarkan rasa cemburu mengiris hati ini berkembang
menjadi something like iri dengki membunuh jiwa. Caranya? Dengan sejuta racun,
biarlah kuluruh rasa.
Wednesday, 20 July 2016
Kita Masih Teman, Kan?
Beberapa waktu yang lalu saya berkumpul kembali bersama dua orang sahabat baik saya waktu SMA. Sudah sekitar setahun ini saya tak bersua dengan keduanya. Salah satunya baru pulang dari Eropa, dan satu yang lain sudah menjadi guru yang bergelar ustadzah di sekolah islami. Sejak menginjak bangku perkuliahan, kami memang sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing di tiga kampus yang berbeda. Kami masing-masing memiliki lingkaran pertemanan baru yang mungkin hampir sepenuhnya berbeda.
Tapi ternyata ketika kami memutuskan untuk bertemu kembali, saya masih merasakan dorongan yang menyebabkan kami berteman. Ternyata persahabatan kita tidak kadaluarsa. Just for your information, kami bertiga tidak pernah satu kelas selama SMA, dan juga kami bukan teman TK-SD-SMP. Dari segi kepribadian jelas beda, lingkungan pergaulan beda, gaya hidup beda. Lalu apa yang menyatukan kami? Sayapun tak tau. Just because.
Teman saya yang lain pernah mengatakan bahwa landasan pertemanan dibangun dari kebutuhan akan sesuatu. Maka akan dikenal teman yang datang hanya ketika dia butuh saja, dan yang selalu ada saat senang dan susah.
Saya setuju dengan pernyataan teman saya, meskipun saya tetap akan mengucapkan kalimat tersebut dengan nada datar biasa, bukan nada nyinyir. Menurut saya, setiap pertemanan pasti selalu mengandung kepentingan, sekecil apapun maksud yang tersembunyi tersebut. Minimal sesederhana pentingnya memiliki teman ngobrol.
Tapi bukankah memang demikian, buat apa berteman dengan orang yang hanya akan merugikan kita? Meskipun begitu, saya percaya bahwa setiap manusia itu tidak pernah selalu murni jahat atau sepenuhnya murni baik hati. Memangnya tokoh sinetron! Berdasarkan keyakinan saya di atas, menurut saya tidak ada teman yang hanya akan merugikan kita, suatu hari entah kapan pasti pertemanan itu saling menguntungkan kok. Dan kepentingan-kepentingan yang terselip itu tidak bisa dikotak-kotakkan hanya menjadi hitam dan putih. Jahat atau baik itu kan persepsi, tergantung dari sudut mana menilainya.
Misalnya si A berteman dengan si juara kelas agar ikutan jadi pintar menghitung matematika, disamping itu si A juga berteman dengan si anak hits biar ketularan jadi anak gaul kekinian. Lantas apakah si A telah menjahati si juara kelas dan si anak hits?
Terkadang yang lebih bisa selalu merasa dimanfaatkan sama yang lebih nggak bisa. Padahal nggak semua yang lebih nggak bisa hanya mengambil keuntungan dengan berteman sama yang lebih bisa.
Biasanya perempuan selalu memiliki minimal seorang sahabat. Tapi sepertinya saya tidak termasuk salah satunya. Bukan saya, yang memutuskan hubungan pertemanan atau sengaja menjadi anti sosial, tapi itu terjadi begitu saja. Menurut saya sebuah pertemanan itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Pertemanan itu hubungan yang terjadi secara alami dan naluriah, dan tanpa perlu diawali oleh pertanyaan sejenis, 'mau nggak kamu jadi temenku?' selayaknya dua orang sejoli yang akan menjalin hubungan lebih dari pertemanan. Pertemanan bisa terjadi karena kesamaan hobi, kesamaan rutinitas, kesamaan selera dalam memilih makanan, pakaian, atau karena bisa ngobrol asyik aja. Dan walaupun memiliki berbagai kesamaan tidak lantas menjadikan dua pribadi otomatis berteman akrab. Saya sendiri tidak bisa menjabarkan bilamana seorang individu bisa cocok berteman dengan individu yang lain, dan tidak bisa cocok dengan individu yang lainnya. Pertemanan itu terjadi begitu saja.
Sejujurnya saya menulis topik random ini karena saya merindukan teman-teman lama saya yang entah kemana, atau justru saya yang entah dimana hingga tak bersama mereka. Dan ternyata saya juga merindukan teman-teman yang hampir setiap hari masih bisa saya temui tapi tetap saja saya rindukan karena walau dekat terasa jauh. Toh yang dirindukan itu kan momen, bukan person.
Tapi ternyata ketika kami memutuskan untuk bertemu kembali, saya masih merasakan dorongan yang menyebabkan kami berteman. Ternyata persahabatan kita tidak kadaluarsa. Just for your information, kami bertiga tidak pernah satu kelas selama SMA, dan juga kami bukan teman TK-SD-SMP. Dari segi kepribadian jelas beda, lingkungan pergaulan beda, gaya hidup beda. Lalu apa yang menyatukan kami? Sayapun tak tau. Just because.
Teman saya yang lain pernah mengatakan bahwa landasan pertemanan dibangun dari kebutuhan akan sesuatu. Maka akan dikenal teman yang datang hanya ketika dia butuh saja, dan yang selalu ada saat senang dan susah.
Saya setuju dengan pernyataan teman saya, meskipun saya tetap akan mengucapkan kalimat tersebut dengan nada datar biasa, bukan nada nyinyir. Menurut saya, setiap pertemanan pasti selalu mengandung kepentingan, sekecil apapun maksud yang tersembunyi tersebut. Minimal sesederhana pentingnya memiliki teman ngobrol.
Tapi bukankah memang demikian, buat apa berteman dengan orang yang hanya akan merugikan kita? Meskipun begitu, saya percaya bahwa setiap manusia itu tidak pernah selalu murni jahat atau sepenuhnya murni baik hati. Memangnya tokoh sinetron! Berdasarkan keyakinan saya di atas, menurut saya tidak ada teman yang hanya akan merugikan kita, suatu hari entah kapan pasti pertemanan itu saling menguntungkan kok. Dan kepentingan-kepentingan yang terselip itu tidak bisa dikotak-kotakkan hanya menjadi hitam dan putih. Jahat atau baik itu kan persepsi, tergantung dari sudut mana menilainya.
Misalnya si A berteman dengan si juara kelas agar ikutan jadi pintar menghitung matematika, disamping itu si A juga berteman dengan si anak hits biar ketularan jadi anak gaul kekinian. Lantas apakah si A telah menjahati si juara kelas dan si anak hits?
Terkadang yang lebih bisa selalu merasa dimanfaatkan sama yang lebih nggak bisa. Padahal nggak semua yang lebih nggak bisa hanya mengambil keuntungan dengan berteman sama yang lebih bisa.
Biasanya perempuan selalu memiliki minimal seorang sahabat. Tapi sepertinya saya tidak termasuk salah satunya. Bukan saya, yang memutuskan hubungan pertemanan atau sengaja menjadi anti sosial, tapi itu terjadi begitu saja. Menurut saya sebuah pertemanan itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Pertemanan itu hubungan yang terjadi secara alami dan naluriah, dan tanpa perlu diawali oleh pertanyaan sejenis, 'mau nggak kamu jadi temenku?' selayaknya dua orang sejoli yang akan menjalin hubungan lebih dari pertemanan. Pertemanan bisa terjadi karena kesamaan hobi, kesamaan rutinitas, kesamaan selera dalam memilih makanan, pakaian, atau karena bisa ngobrol asyik aja. Dan walaupun memiliki berbagai kesamaan tidak lantas menjadikan dua pribadi otomatis berteman akrab. Saya sendiri tidak bisa menjabarkan bilamana seorang individu bisa cocok berteman dengan individu yang lain, dan tidak bisa cocok dengan individu yang lainnya. Pertemanan itu terjadi begitu saja.
Sejujurnya saya menulis topik random ini karena saya merindukan teman-teman lama saya yang entah kemana, atau justru saya yang entah dimana hingga tak bersama mereka. Dan ternyata saya juga merindukan teman-teman yang hampir setiap hari masih bisa saya temui tapi tetap saja saya rindukan karena walau dekat terasa jauh. Toh yang dirindukan itu kan momen, bukan person.
Monday, 30 May 2016
Kecelakaan
Pagi ini aku melihat kecelakaan kendaraan bermotor di jakal bawah, sekitar jam 7 pagi. Aku tidak melihat pasti kejadiannya, yang jelas korbannya adalah dua motor. Satu bapak tergeletak ditengah jalan, lalu ada anak kecil berseragam sekolah yg menangis dipinggir jalan sambil memegangi kakinya yg terluka. Dan ada satu orang lainnya.
Kecelakaan di persimpangan tugu pal putih kemarin pagi saja belum selesai menerbitkan kengerian di benakku. Pagi ini aku sudah melihat langsung kecelakaan lainnya. Sebenarnya Tuhan hendak mengatakan apa padaku? Aku tidak melihat langsung kecelakaan di tugu kemarin pagi, tapi melihat foto dan deskrisinya di timeline sosial media saja sudah membuatku merinding. Sebuah mobil avanza setelah menabrak motor, membanting stirnya ke pembatas jalan dan menabrak loper koran hingga terjepit di bawah mobil. Itu saja, aku belum mencari tahu berita selengkapnya. Aku sudah merasa cukup ngilu.
Tuhan memberitahuku banyak hal dengan cara tidak biasa. Sepertinya kali ini Tuhan ingin menyampaikan pesan padaku: hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut! Betapa romantisnya Dia padaku.
Menurutku, selain faktor x dari Tuhan, penyebab kecelakaan lalu lintas bisa dikategorikan menjadi 2: pertama kurangnya kapasitas pengendara, dan yang kedua ketergesaan atau kecerobohan.
Dulu waktu awal-awal aku mengendarai motor di jalan raya, aku pernah jatuh hanya karena aku belum benar-benar bisa mengendalikan motor pada lalu lintas yang padat. Lalu saat aku sudah bisa mengendalikan motor dengan baik dan benar, aku pernah jatuh karena tergesa-gesa lantaran tidak ingin kehujanan di jalan. Bagiku berkendara di jalanan itu hanya masalah pengendalian diri.
Aku tidak akan menyalahkan pengendara yang melaju dengan kecepatan tinggi, asalkan tidak hilang kendali. Asalkan tidak merugikan orang lain, menurutku semua orang bebas melakukan apapun. Itu saja, selamat pagi!
Kecelakaan di persimpangan tugu pal putih kemarin pagi saja belum selesai menerbitkan kengerian di benakku. Pagi ini aku sudah melihat langsung kecelakaan lainnya. Sebenarnya Tuhan hendak mengatakan apa padaku? Aku tidak melihat langsung kecelakaan di tugu kemarin pagi, tapi melihat foto dan deskrisinya di timeline sosial media saja sudah membuatku merinding. Sebuah mobil avanza setelah menabrak motor, membanting stirnya ke pembatas jalan dan menabrak loper koran hingga terjepit di bawah mobil. Itu saja, aku belum mencari tahu berita selengkapnya. Aku sudah merasa cukup ngilu.
Tuhan memberitahuku banyak hal dengan cara tidak biasa. Sepertinya kali ini Tuhan ingin menyampaikan pesan padaku: hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut! Betapa romantisnya Dia padaku.
Menurutku, selain faktor x dari Tuhan, penyebab kecelakaan lalu lintas bisa dikategorikan menjadi 2: pertama kurangnya kapasitas pengendara, dan yang kedua ketergesaan atau kecerobohan.
Dulu waktu awal-awal aku mengendarai motor di jalan raya, aku pernah jatuh hanya karena aku belum benar-benar bisa mengendalikan motor pada lalu lintas yang padat. Lalu saat aku sudah bisa mengendalikan motor dengan baik dan benar, aku pernah jatuh karena tergesa-gesa lantaran tidak ingin kehujanan di jalan. Bagiku berkendara di jalanan itu hanya masalah pengendalian diri.
Aku tidak akan menyalahkan pengendara yang melaju dengan kecepatan tinggi, asalkan tidak hilang kendali. Asalkan tidak merugikan orang lain, menurutku semua orang bebas melakukan apapun. Itu saja, selamat pagi!
Tuesday, 19 April 2016
Attention, please!
Mengapa kita perlu mengungkapkan rasa sayang kita pada orang lain?
Karena tidak semua orang sadar bahwa dirinya disayangi.
Karena tidak semua orang sadar bahwa dirinya disayangi.
Toh pada dasarnya semua orang butuh diperhatikan. Maka ketika seseorang atau sekelompok orang merasa tidak diperhatikan, mereka akan berusaha mencari perhatian. Apabila cara damai gagal menarik perhatian, mereka beralih menggunakan cara rusuh, dan bila keduanya juga tidak mempan, masih ada cara ke-3 yaitu aksi dramatis melankolis untuk menarik simpati seluruh dunia. Itu menurut saya.
Akhir-akhir ini #dipasungsemen ramai diperbincangkan masyarakat di dunia maya dan hadir pula dalam obrolan nyata di tempat-tempat nongkrong mahasiswa. Aksi 9 petani perempuan yang rela kedua kakinya dipasung semen, menyentuh sisi kemanusiaan manusia yang masih memilikinya. Bisa jadi aksi mereka tulus mencari perhatian seantero nusantara, hingga mereka didengar presiden dan dibela hak-haknya. Bisa jadi juga mereka dicekoki pihak LSM dan lembaga-lembaga berkepentingan yang memanfaatkan kepolosan para petani desa untuk mencapai kepentingan mereka. Saya tidak tahu mana yang benar, karena semua hal saat ini selalu ditumpangi kepentingan politik. Bahkan katanya, saat ini sudah susah dibedakan mana aktivis lingkungan yang memang peduli pada bumi dan ekologisnya dengan mana yang menggembor-gemborkan aksi anti global warming demi kepentingan sendiri.
Senior saya pernah bercerita mengenai konsep REDD+ dan carbon trading yang intinya Indonesia sebagai negara yang berada pada belahan bumi beriklim tropis tidak boleh mengurangi luasan hutan, bertanggungjawab mengimbangi emisi karbon dari negara-negara industri dengan hutan-hutan hujan tropisnya yang lebat. Terdapat kesepakatan bahwa setiap negara memiliki batasan maksimal emisi karbon, apabila negara tersebut mengeluarkan emisi karbon lebih dari batasan yang ditentukan maka negara tersebut harus membayar pada negara yang emisi karbonnya kurang dari ambang batas maksimal. Terkadang saya merasa ini bentuk baru dari penjajahan. Neo-imperialism. Mereka para negara maju terus mengembangkan industri mereka hingga makin maju, sedangkan negara berkembang dilarang mengembangkan industrinya dengan dalih menjaga keseimbangan alam. Meskipun negara maju membayar biaya kelebihan emisi pada negara berkembang, namun saya rasa seberapapun jumlah yang mereka bayar tetap tidak mengubah negara berkembang menjadi negara maju.
Hal ini seperti sebuah keluarga yang miskin dimana sang kakak menyuruh sang adik untuk berhemat agar mereka berdua bisa makan layak 3 kali dalam sehari, namun disisi lain ternyata sang kakak menyuruh sang adik berhemat demi kepentingannya sendiri supaya dia bisa membeli barang-barang branded.
Kembali pada kebutuhan manusia akan perhatian, manusia yang kelewat frustasi parah dan haus perhatian bahkan rela bunuh diri untuk mengundang simpati massa. Mereka yang demikian, biasanya sengaja bunuh diri di keramain seperti melompat dari lantai atas Mall.
Hari ini saya membaca koran yang memberitakan Mohamed Bouazizi, seorang pemuda Tunisia yang bunuh diri dengan membakar dirinya di keramaian pasar karena putus asa terhadap hidupnya, akibat perlakuan semena-mena dari rezim diktator yang tengah berkuasa. Tapi kemudian aksi tersebut justru menyulut kemarahan masyarakat luas pada rezim yang saat itu sedang berkuasa dan mendorong pemberontakan revolusioner. Bahkan aksi bunuh diri Bouazizi justru menjadi simbol perlawanan terhadap rezim diktator, tak hanya di Tunisia tapi juga merembet di negara-negara sekitarnya.
Saya pernah membaca novel percintaan karangan Mira W. Ceritanya ada sepasang kekasih, kemudian si laki-laki ternyata jatuh cinta pada sahabat si perempuan. Dan ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, sang sahabat perempuan juga mencintai pacar sahabatnya. Perempuan yang dikhianati ini lalu melakukan bunuh diri, namun gagal. Dia terus mengancam pasangan yang sama-sama sedang jatuh cinta itu untuk berpisah bila tidak ingin dirinya bunuh diri lagi. Nah, disini kadang saya merasa itu merupakan perbuatan curang. Atas dasar humanisme, yang mana berada di atas kepentingan cinta dan kepentingan apapun, tentu saja segala keinginannya akan mudah terpenuhi.
Seperti hal nya aksi demonstrasi yang sudah menyentuh sisi humanisme, aksi penyiksaan diri yang bisa berbuntut pada kematian, aksi mogok makan, dsb, mungkin akan lebih cepat terpenuhi tuntutannya, dengan terpaksa tapi.
Menurut saya agak kurang fair menuntut sesuatu dengan cara menekan sisi humanisme seseorang/publik. Masih ada banyak cara lain yang lebih berkelas, menurut saya, seperti berdialog atau melakukan kajian analisis untuk pengambilan keputusan yang melibatkan kepentingan banyak pihak. Namun ketika segalanya selalu diputuskan sepihak, dan kepentingan mereka yang lemah tidak lagi di dengar, mungkin mencari perhatian dengan drama melankolia menjadi satu-satunya alternatif yang bisa digunakan.
Sekali lagi, tidak semua orang sadar bahwa dirinya diperdulikan. Sebaiknya kita mulai mengungkapkan kepedulian kita pada orang-orang di sekitar kita sebelum mereka mencari perhatian dengan caranya masing-masing. Tidak perlulah kita menunggu datangnya drama melankolia yang lain. Ketika semua pihak sadar bahwa kepentingannya tidak diabaikan, mungkin tidak akan ada lagi drama. Hingga semua orang jenuh, muak dengan keseimbangan dan mulai merindukan drama kehidupan lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)