Laki-laki menuntut
perempuan sempurna, jauh lebih daripada perempuan menuntut kesempurnaan dari
seorang laki-laki.
Ukuran kewanitaan dari seorang perempuan
memang jauh lebih banyak dari ukuran kepriaan seorang lelaki. Bahkan istilah
kewanitaan sangat lazim terdengar, sementara istilah 'kepriaan' rasanya tak
pernah ada. Mungkin lebih akrab ditelinga dengan istilah kejantanan pria, kali
ya. Tapi rasanya kata jantan lebih berasosiasi dengan dunia seks, ketimbang
asosiasi peran pria sebagai laki-laki dewasa. Rasanya kebanyakan orang sepakat
bahwa wanita idaman adalah wanita yang cantik parasnya, anggun lakunya, halus
perkataannya, bisa memasak, bisa menjahit, bisa mengurus rumah tangga, cerdas
mendidik anak, dan manja sekaligus mandiri. Sementara itu sebagian perempuan
menyatakan bahwa lelaki idaman hanyalah
lelaki yang mapan secara ekonomi, serta dapat dijadikan imam ditunjukkan dengan
akhlak dan ibadahnya yang baik. Nah, kan!
Akhir-akhir ini topik tentang wanita sering
muncul ke permukaan seputar saya berada.
Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara
pembacaan puisi bertemakan wanita yang diselenggarakan teater lilin di
Indiecology Cafe. Ada sebuah puisi yang begitu menarik perhatian saya, berjudul
Nyanyian Angsa karya W.S. Rendra. Puisi ini bercerita tentang wanita pekerja
seks yang terkena penyakit menular seksual. Dia diusir dari rumah pelacuran.
Dia miskin dan tidak bisa membayar pengobatan. Dia harus menanggung semua
penderitaannya sendiri akibat keputusannya melacur. Padahal bukankah tidak ada
wanita manapun yang bersedia menjadi pelacur jika tidak terhimpit tuntutan
ekonomi?
Kutipan puisi tersebut bisa dibaca di sini.
Lalu beberapa hari yang lalu saya juga tak
sengaja mampir ke Bentara Budaya dan melihat pameran fotografi yang mengambil tema
serupa, karya anak-anak Kolase Debrito.
Wanita itu makhluk yang istimewa. Bahkan Tuhan
menurunkan sebuah surat khusus dalam kitab suci Alquran, Surah An Nisa yang
artinya perempuan.
Berbicara tentang wanita tidak pernah terlepas
dari topik emansipasi, kemudian berkembang menjadi tarik ulur peran wanita
sebagai ibu (rumah tangga) dengan peran wanita sebagai tulang punggung keluarga.
Sosok wanita sebagai tulang punggung keluarga bisa muncul sebagai wanita karier
baik yang melakukan pekerjaan yang bersifat universal atau wanita melakukan
pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki seperti menjadi supir bus,
pembantu rumah tangga, Tenaga Kerja Wanita di luar negeri, bahkan pekerja seks
komersial.
Berhubung saya tidak bisa menemukan sumber yang menjelaskan emansipasi
menurut R.A. Kartini, saya mengambil sumber KBBI saja. Emansipasi (n) menurut
KBBI: 1. pembebasan dari perbudakan; 2. Persamaan hak di berbagai aspek
kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria).
Dulu seorang istri dikenal dengan sebutan
'konco wingking' atau artinya 'teman belakang' yang hanya bertugas masak di
dapur dan tidak pernah dilibatkan diskusi topik-topik penting di ruang tamu.
Perempuan dulu tidak boleh bersekolah, kecuali mereka yang ningrat. Bahkan
peran wanita didiskreditkan dengan singkatan 3 M (Masak, Macak, Manak).
Saat ini wanita sudah diperbolehkan
bersekolah, bekerja, dan menduduki jabatan pemerintahan. Emansipasi wanita saat
ini lebih diartikan bahwa wanita tak hanya bisa setara dengan pria dan memegang
jabatan-jabatan penting di pemerintahan, tapi justru bisa mengungguli pria.
Kemudian para wanita mulai meninggalkan peran pokoknya, maka tak jarang wanita
modern yang menjelma kaum urban tak lagi bisa memasak, atau lihai menggendong
anak mereka sendiri. Alih-alih menikah dan mengurus rumah tangga, mereka lebih
suka bercengkerama dengan laptop di dalam gedung pencakar langit, mengejar
karier setinggi gedung tempat mereka bekerja. Mereka bersekolah tinggi dan berkarier
hebat mengatasnamakan emansipasi. Lalu melupakan peran alami mereka sebagai
wanita. Tentu tak semua perempuan modern demikian.
Rasanya ini mirip-mirip kasus para buruh yang
tertindas karena kapitalisme, kemudian ketika dibela mereka justru sering
mengadakan demo menuntut kenaikan gaji yang tidak rasional besarnya. Kurang
ajar sekali, yang tadinya tertindas sekarang jadi ngelunjak!
Saya bukan menolak emansipasi, toh saya
termasuk penikmat emansipasi dimana saya bisa bersekolah tinggi dan saya juga
memiliki keinginan bekerja. Hanya saja, menurut saya pembagian peran itu perlu.
Seperti pembagian kerja yang dikenal dalam dunia kerja, spesialisasi akan lebih
meningkatkan produksi baik dari segi kualitas maupun kuantitas, ketimbang semua
pekerjaan dari sektor hulu ke hilir dilakukan oleh satu orang yang sama.
Contohnya ketika kita akan memproduksi sebuah kursi, akan lebih mudah ketika
ada yg khusus menebang pohon menjadi kayu di hutan, ada yg khusus menggergaji
balok-balok kayu dan menghaluskannya, ada yg khusus menyusun balok kayu dan
menambahkan paku agar terbentuk kursi, ada yg khusus mengecat, dst.
Jadi menurut teori ekonomi, akan lebih
menguntungkan sebuah wilayah memproduksi satu komoditas unggulan mereka dan
menjualnya ke luar daerah tsb untuk membeli komoditas lainnya ketimbang
memproduksi semua komoditas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Duh, lagi-lagi
tulisan saya melantur kemana-mana. Intinya saya hanya ingin bilang bahwa
perempuan memang seharusnya berperan demikian sesuai dengan kodratnya. Toh
terpilihnya peran wanita tentunya sudah disesuaikan dengan karakter perempuan,
makhluk ciptaan Tuhan.
Memang seharusnya perempuan lah yang mengurus
anak, karena mereka yg melahirkan anak sehingga perempuan memiliki sisi keibuan
jauh lebih besar dari laki-laki. Katanya, perempuan itu multi tasking makanya
perempuan sejak jaman dahulu kala diberi peran yg sedemikian rupa banyaknya.
Tapi kadang perempuan modern lupa bahwa pemilihan peran yg sudah ditentukan
dari entah peradapan jaman kapan, memang sudah diatur sesuai kecocokan fisik,
psikologi, dan lain-lain.
Bagaimana jika peran wanita ditukar menjadi
peran laki-laki? Bisa saja, jika dilatih. Toh sekarang chef dan koki terkenal
didominasi laki-laki. Ada juga pembantu rumah tangga laki-laki. Tapi tetap saja,
ibarat berbakat melukis dipaksa belajar bermain musik.
Sebenarnya ini tulisan lama yang mengendap di
folder Draft di laptop saya, dan saya kehilangan hasrat melanjutkan tulisan ini,
maka saya publish saja seadanya. Mungkin akan saya lanjutkan ketika saya sudah
berhasrat menulis lagi tentang topik ini, karena topik mengenai wanita itu
sangat luas. Saya belum menyentuh isu feminisme yang hingga saat ini belum saya
pahami. Saya belum membahas mengenai wanita yang sering dipersalahkan karena
mengundang hasrat lelaki untuk melakukan pelecehan seksual. Tapi mungkin lain
kali saja.