Wednesday, 20 July 2016

Kita Masih Teman, Kan?

Beberapa waktu yang lalu saya berkumpul kembali bersama dua orang sahabat baik saya waktu SMA. Sudah sekitar setahun ini saya tak bersua dengan keduanya. Salah satunya baru pulang dari Eropa, dan satu yang lain sudah menjadi guru yang bergelar ustadzah di sekolah islami. Sejak menginjak bangku perkuliahan, kami memang sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing di tiga kampus yang berbeda. Kami masing-masing memiliki lingkaran pertemanan baru yang mungkin hampir sepenuhnya berbeda.

Tapi ternyata ketika kami memutuskan untuk bertemu kembali, saya masih merasakan dorongan yang menyebabkan kami berteman. Ternyata persahabatan kita tidak kadaluarsa. Just for your information, kami bertiga tidak pernah satu kelas selama SMA, dan juga kami bukan teman TK-SD-SMP. Dari segi kepribadian jelas beda, lingkungan pergaulan beda, gaya hidup beda. Lalu apa yang menyatukan kami? Sayapun tak tau. Just because.

Teman saya yang lain pernah mengatakan bahwa landasan pertemanan dibangun dari kebutuhan akan sesuatu. Maka akan dikenal teman yang datang hanya ketika dia butuh saja, dan yang selalu ada saat senang dan susah.

Saya setuju dengan pernyataan teman saya, meskipun saya tetap akan mengucapkan kalimat tersebut dengan nada datar biasa, bukan nada nyinyir. Menurut saya, setiap pertemanan pasti selalu mengandung kepentingan, sekecil apapun maksud yang tersembunyi tersebut. Minimal sesederhana pentingnya memiliki teman ngobrol.

Tapi bukankah memang demikian, buat apa berteman dengan orang yang hanya akan merugikan kita? Meskipun begitu, saya percaya bahwa setiap manusia itu tidak pernah selalu murni jahat atau sepenuhnya murni baik hati. Memangnya tokoh sinetron! Berdasarkan keyakinan saya di atas, menurut saya tidak ada teman yang hanya akan merugikan kita, suatu hari entah kapan pasti pertemanan itu saling menguntungkan kok. Dan kepentingan-kepentingan yang terselip itu tidak bisa dikotak-kotakkan hanya menjadi hitam dan putih. Jahat atau baik itu kan persepsi, tergantung dari sudut mana menilainya.

Misalnya si A berteman dengan si juara kelas agar ikutan jadi pintar menghitung matematika, disamping itu si A juga berteman dengan si anak hits biar ketularan jadi anak gaul kekinian. Lantas apakah si A telah menjahati si juara kelas dan si anak hits?

Terkadang yang lebih bisa selalu merasa dimanfaatkan sama yang lebih nggak bisa. Padahal nggak semua yang lebih nggak bisa hanya mengambil keuntungan dengan berteman sama yang lebih bisa.

Biasanya perempuan selalu memiliki minimal seorang sahabat. Tapi sepertinya saya tidak termasuk salah satunya. Bukan saya, yang memutuskan hubungan pertemanan atau sengaja menjadi anti sosial, tapi itu terjadi begitu saja. Menurut saya sebuah pertemanan itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Pertemanan itu hubungan yang terjadi secara alami dan naluriah, dan tanpa perlu diawali oleh pertanyaan sejenis, 'mau nggak kamu jadi temenku?' selayaknya dua orang sejoli yang akan menjalin hubungan lebih dari pertemanan. Pertemanan bisa terjadi karena kesamaan hobi, kesamaan rutinitas, kesamaan selera dalam memilih makanan, pakaian, atau karena bisa ngobrol asyik aja. Dan walaupun memiliki berbagai kesamaan tidak lantas menjadikan dua pribadi otomatis berteman akrab. Saya sendiri tidak bisa menjabarkan bilamana seorang individu bisa cocok berteman dengan individu yang lain, dan tidak bisa cocok dengan individu yang lainnya. Pertemanan itu terjadi begitu saja.

Sejujurnya saya menulis topik random ini karena saya merindukan teman-teman lama saya yang entah kemana, atau justru saya yang entah dimana hingga tak bersama mereka. Dan ternyata saya juga merindukan teman-teman yang hampir setiap hari masih bisa saya temui tapi tetap saja saya rindukan karena walau dekat terasa jauh. Toh yang dirindukan itu kan momen, bukan person.



Monday, 30 May 2016

Kecelakaan

Pagi ini aku melihat kecelakaan kendaraan bermotor di jakal bawah, sekitar jam 7 pagi. Aku tidak melihat pasti kejadiannya, yang jelas korbannya adalah dua motor. Satu bapak tergeletak ditengah jalan, lalu ada anak kecil berseragam sekolah yg menangis dipinggir jalan sambil memegangi kakinya yg terluka. Dan ada satu orang lainnya.

Kecelakaan di persimpangan tugu pal putih kemarin pagi saja belum selesai menerbitkan kengerian di benakku. Pagi ini aku sudah melihat langsung kecelakaan lainnya. Sebenarnya Tuhan hendak mengatakan apa padaku? Aku tidak melihat langsung kecelakaan di tugu kemarin pagi, tapi melihat foto dan deskrisinya di timeline sosial media saja sudah membuatku merinding. Sebuah mobil avanza setelah menabrak motor, membanting stirnya ke pembatas jalan dan menabrak loper koran hingga terjepit di bawah mobil. Itu saja, aku belum mencari tahu berita selengkapnya. Aku sudah merasa cukup ngilu. 

Tuhan memberitahuku banyak hal dengan cara tidak biasa. Sepertinya kali ini Tuhan ingin menyampaikan pesan padaku: hati-hati di jalan,  jangan ngebut-ngebut! Betapa romantisnya Dia padaku.

Menurutku, selain faktor x dari Tuhan, penyebab kecelakaan lalu lintas bisa dikategorikan menjadi 2: pertama kurangnya kapasitas pengendara, dan yang kedua ketergesaan atau kecerobohan. 

Dulu waktu awal-awal aku mengendarai motor di jalan raya, aku pernah jatuh hanya karena aku belum benar-benar bisa mengendalikan motor pada lalu lintas yang padat. Lalu saat aku sudah bisa mengendalikan motor dengan baik dan benar, aku pernah jatuh karena tergesa-gesa lantaran tidak ingin kehujanan di jalan. Bagiku berkendara di jalanan itu hanya masalah pengendalian diri.

Aku tidak akan menyalahkan pengendara yang melaju dengan kecepatan tinggi, asalkan tidak hilang kendali. Asalkan tidak merugikan orang lain, menurutku semua orang bebas melakukan apapun. Itu saja, selamat pagi!

Tuesday, 19 April 2016

Attention, please!

Mengapa kita perlu mengungkapkan rasa sayang kita pada orang lain?

Karena tidak semua orang sadar bahwa dirinya disayangi.

Toh pada dasarnya semua orang butuh diperhatikan. Maka ketika seseorang atau sekelompok orang merasa tidak diperhatikan, mereka akan berusaha mencari perhatian. Apabila cara damai gagal menarik perhatian, mereka beralih menggunakan cara rusuh, dan bila keduanya juga tidak mempan, masih ada cara ke-3 yaitu aksi dramatis melankolis untuk menarik simpati seluruh dunia. Itu menurut saya.

Akhir-akhir ini #dipasungsemen ramai diperbincangkan masyarakat di dunia maya dan hadir pula dalam obrolan nyata di tempat-tempat nongkrong mahasiswa. Aksi 9 petani perempuan yang rela kedua kakinya dipasung semen, menyentuh sisi kemanusiaan manusia yang masih memilikinya. Bisa jadi aksi mereka tulus mencari perhatian seantero nusantara, hingga mereka didengar presiden dan dibela hak-haknya. Bisa jadi juga mereka dicekoki pihak LSM dan lembaga-lembaga berkepentingan yang memanfaatkan kepolosan para petani desa untuk mencapai kepentingan mereka. Saya tidak tahu mana yang benar, karena semua hal saat ini selalu ditumpangi kepentingan politik. Bahkan katanya, saat ini sudah susah dibedakan mana aktivis lingkungan yang memang peduli pada bumi dan ekologisnya dengan mana yang menggembor-gemborkan aksi anti global warming demi kepentingan sendiri.

Senior saya pernah bercerita mengenai konsep REDD+ dan carbon trading yang intinya Indonesia sebagai negara yang berada pada belahan bumi beriklim tropis tidak boleh mengurangi luasan hutan, bertanggungjawab mengimbangi emisi karbon dari negara-negara industri dengan hutan-hutan hujan tropisnya yang lebat. Terdapat kesepakatan bahwa setiap negara memiliki batasan maksimal emisi karbon, apabila negara tersebut mengeluarkan emisi karbon lebih dari batasan yang ditentukan maka negara tersebut harus membayar pada negara yang emisi karbonnya kurang dari ambang batas maksimal. Terkadang saya merasa ini bentuk baru dari penjajahan. Neo-imperialism. Mereka para negara maju terus mengembangkan industri mereka hingga makin maju, sedangkan negara berkembang dilarang mengembangkan industrinya dengan dalih menjaga keseimbangan alam. Meskipun negara maju membayar biaya kelebihan emisi pada negara berkembang, namun saya rasa seberapapun jumlah yang mereka bayar tetap tidak mengubah negara berkembang menjadi negara maju.

Hal ini seperti sebuah keluarga yang miskin dimana sang kakak menyuruh sang adik untuk berhemat agar mereka berdua bisa makan layak 3 kali dalam sehari, namun disisi lain ternyata sang kakak menyuruh sang adik berhemat demi kepentingannya sendiri supaya dia bisa membeli barang-barang branded.

Kembali pada kebutuhan manusia akan perhatian, manusia yang kelewat frustasi parah dan haus perhatian bahkan rela bunuh diri untuk mengundang simpati massa. Mereka yang demikian, biasanya sengaja bunuh diri di keramain seperti melompat dari lantai atas Mall. 

Hari ini saya membaca koran yang memberitakan Mohamed Bouazizi, seorang pemuda Tunisia yang bunuh diri dengan membakar dirinya di keramaian pasar karena putus asa terhadap hidupnya, akibat perlakuan semena-mena dari rezim diktator yang tengah berkuasa. Tapi kemudian aksi tersebut justru menyulut kemarahan masyarakat luas pada rezim yang saat itu sedang berkuasa dan mendorong pemberontakan revolusioner. Bahkan aksi bunuh diri Bouazizi justru menjadi simbol perlawanan terhadap rezim diktator, tak hanya di Tunisia tapi juga merembet di negara-negara sekitarnya.

Saya pernah membaca novel percintaan karangan Mira W. Ceritanya ada sepasang kekasih, kemudian si laki-laki ternyata jatuh cinta pada sahabat si perempuan. Dan ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, sang sahabat perempuan juga mencintai pacar sahabatnya. Perempuan yang dikhianati ini lalu melakukan bunuh diri, namun gagal. Dia terus mengancam pasangan yang sama-sama sedang jatuh cinta itu untuk berpisah bila tidak ingin dirinya bunuh diri lagi. Nah, disini kadang saya merasa itu merupakan perbuatan curang. Atas dasar humanisme, yang mana berada di atas kepentingan cinta dan kepentingan apapun, tentu saja segala keinginannya akan mudah terpenuhi. 

Seperti hal nya aksi demonstrasi yang sudah menyentuh sisi humanisme, aksi penyiksaan diri yang bisa berbuntut pada kematian, aksi mogok makan, dsb, mungkin akan lebih cepat terpenuhi tuntutannya, dengan terpaksa tapi.

Menurut saya agak kurang fair menuntut sesuatu dengan cara menekan sisi humanisme seseorang/publik. Masih ada banyak cara lain yang lebih berkelas, menurut saya, seperti berdialog atau melakukan kajian analisis untuk pengambilan keputusan yang melibatkan kepentingan banyak pihak. Namun ketika segalanya selalu diputuskan sepihak, dan kepentingan mereka yang lemah tidak lagi di dengar, mungkin mencari perhatian dengan drama melankolia menjadi satu-satunya alternatif yang bisa digunakan.

Sekali lagi, tidak semua orang sadar bahwa dirinya diperdulikan. Sebaiknya kita mulai mengungkapkan kepedulian kita pada orang-orang di sekitar kita sebelum mereka mencari perhatian dengan caranya masing-masing. Tidak perlulah kita menunggu datangnya drama melankolia yang lain. Ketika semua pihak sadar bahwa kepentingannya tidak diabaikan, mungkin tidak akan ada lagi drama. Hingga semua orang jenuh, muak dengan keseimbangan dan mulai merindukan drama kehidupan lagi.


Thursday, 31 March 2016

Perempuan yang Berdagang

Perempuan itu seperti penjual, dan laki-laki itu seperti pembeli.

Layaknya pedagang, sudah semestinya mampu melakukan branding dan menawarkan fasilitas yang menjanjikan. Seperti dunia properti, jualan perumahan, harga segitu dapat fasilitas apa aja sih. Misalnya akses yg dekat dari pusat kota, jaminan dari banjir tahunan, parkir mobil luas, ada kolam renang, free wifi, dsb. Maka developer melakukan branding dengan berbagai nama utopis sejenis Taman Surga City.

Ada banyak tipe penjual.
Ada yang jual mahal banget sampe gak laku-laku terus ujung-ujungnya banting harga sesaat sebelum kedaluwarsa.
Ada yang sengaja pasang harga relatif murah dengan harapan memiliki pelanggan setia.
Dan ada pedagang yang jujur, biasa-biasa saja: menjual barang dagangan dengan harga yang sebanding dengan kualitasnya, tak peduli bukan kualitas nomor 1 sekalipun.

Tipe pembeli juga beragam.
Ada yang udah tawar menawar lama banget terus ujung-ujungnya gak jadi beli.
Ada yang ngajakin ngobrol panjang lebar sambil nemenin nungguin dagangan terus lama kelamaan justru tertarik membeli dagangan kita.

Well, sebenarnya saya sedang menganalogikan pernikahan dengan perdagangan.

Terkadang memang jelas sekali demikian mengingat pihak laki-laki harus membayar mahar untuk meminang perempuan. Di daerah-daerah tertentu di Indonesia bahkan besarnya mahar bisa sangat mahal dan tampak tidak realistis, terutama yang di luar Pulau Jawa. Apalagi untuk meminang perempuan keturunan ningrat. 

Waktu saya di Flores, ada suatu daerah (kalau tidak salah di Larantuka, cmiiw) dimana mahar (belis) untuk bisa menikahi wanita daerah tersebut adalah gading gajah yang sangat panjang. Sepengetahuan saya bahkan di Flores tidak ada gajah! Dan benar saja, rupanya gading gajah yang memang hanya beberapa itu, terus berputar dari pernikahan satu pasangan ke pasangan berikutnya di daerah tersebut. Ada juga suatu daerah di Flores, dimana untuk bisa menikahi wanitanya, keluarga wanita harus dibayar dengan sejumlah hewan seperti sapi, kerbau, dan juga satu truk pisang. Bayangkan saja secara logika, buat apa kita butuh satu truk pisang? Belum lagi jika pernikahan tersebut melangkahi sang kakak dari pihak perempuan, mahar yang harus dibayar dari keluarga laki-laki bisa lebih besar lagi.

Ada juga cerita dari seorang kawan yang menikahi perempuan Aceh, dan memang harus membayar sejumlah mayam tertentu (saya lupa perhitungan konversi ke rupiahnya).

Jadi, akui saja pernikahan itu memang perdagangan.

Semakin compact sebuah dagangan, maka semakin menjual. Seorang teman laki-laki pernah berkata bahwa istri itu semacam paket lengkap: teman ngobrol, teman makan, teman jalan, partner diskusi, partner bercinta, juru masak, pembantu rumah tangga, bahkan perhiasan untuk dipamerkan kepada relasi. Semua itu cukup di satu orang yang sama.

Dalam sebuah obrolan yang lain, ada juga yang berpendapat bahwa pasar seorang perempuan ibarat pasar sebuah es teh. Es teh yg dijual di angkringan dan es teh yang dijual di kedai-kedai artisan bubble yang mulai menjamur toh sama-sama es teh, tapi harganya bisa sangat berbeda jauh. Karena mereka memiliki pangsa pasar yg berbeda. Yang satu menyasar golongan bawah, dan satunya menyasar golongan menengah ke atas.
Senada sama sebuah meme di bawah ini lah ya.


Begitu pula perempuan, mereka memiliki pangsa pasar yang berbeda-beda. Misalnya mereka yang mengejar pasar 'imam yg sholeh' akan berdagang dengan cara ta'aruf. Tentu berbeda dengan mereka yg mencari jodoh dengan cara menebar pesona sana sini, cari gebetan sana sini, dan melancarkan sejurus aksi pedekate ke sang gebetan, kemudian pacaran. Walaupun tujuan akhirnya sama, pernikahan.

Dan layaknya pembeli, mereka para lelaki bebas memilih. Apakah akan membeli kue yang dijajakan pedagang kaki lima di emperan jalan, atau membeli kue di bakery. Sama-sama kue, tentu berbeda kualitasnya. Untuk membeli kue di bakery tentunya modal yang dibutuhkan lebih dari sekedar jajan di pinggir jalan. Untuk membeli kue di bakery, sang pembeli biasanya memang berniat membeli, karena harus pergi ke bakery, masuk ke dalam toko terlebih dahulu, dan merogoh kocek lebih banyak. Sedangkan untuk membeli kue di emperan jalan bisa saja sebenarnya kita hendak pergi ke suatu tempat, yang mana melewati jalan tersebut, eh terus tetiba pengen mampir karena liat kuenya menggiurkan.

Apakah ini pembelaan untuk jomblowan jomblowati untuk mengubah (atau mempertahankan) pangsa pasar kalian, seberapapun seringnya mendapat teror pertanyaan sakral: kapan nikah. Itu sih terserah kalian saja. Yang jelas, saya belum sampai pada pertanyaan sakral diatas. Nanti saja, saya masih berkutat dengan pertanyaan sakral lainnya: kapan lulus. Heuheu

Toh hidup ini seperti permainan Who Wants To Be A Millionaire? Ada beberapa titik aman sebelum mendapat pertanyaan-pertanyaan lain yg harus dijawab. Setelah lulus sekolah akan ada pertanyaan menggalaukan, mau kuliah dimana. Setelah kuliah, akan ada pertanyaan kapan lulus. Setelah lulus, akan ada pertanyaan kerja dimana. Setelah bekerja, akan ada pertanyaan kapan nikah. Setelah nikah, akan ada pertanyaan kapan punya gendongan. Dan seterusnya, setelah sampai pada titik aman tetap akan ada pertanyaan lebih sulit yg menanti.

Tidak perlu terlalu mencemaskan pertanyaan-pertanyaan yg belum datang, yg tiada habisnya ini. Mari menjawab satu persatu pertanyaan yg sudah di depan mata. Toh sampai saat ini kita berhasil melalui beberapa titik aman.


Karma

Kar·ma (n) 1. perbuatan manusia ketika hidup di dunia: hidup sbg umat Tuhan itu sekadar melakukan darma dan --; 2. hukum sebab-akibat: -- bukan hanya menguasai manusia, tetapi juga merupakan suatu hukum mutlak dl alam

Kita sudah harus adil, semenjak dalam pikiran.

Saya sering mendengar atau membaca kalimat di atas, walaupun saya tak pernah ingat pada sumbernya. Saya menyadari bahwa saya sepakat, namun tak melakukannya. Saya tak pernah adil semenjak dalam pikiran.

Tak seperti bibir saya yg selalu saya jaga melalui seleksi ketat mana yg boleh terucap dan mana yg sebaiknya tidak, benak dan hati kecil saya terlalu jujur untuk berceletuk mengomentari segala hal di sekitar saya. Walaupun tidak pernah terkatakan atau tertuliskan, saya tahu bahwa saya sudah tidak adil dalam pikiran.

Saya mengakui bahwa saya sering memandang orang lain sebelah mata, kemudian mencibirnya dalam hati. Selama ini saya tidak merasa berdosa karena toh saya tidak mempergunjingkan mereka, tidak membicarakan dengan orang lain di belakang mereka, bahkan memperlakukan mereka dengan baik tanpa membedakan perlakuan. Saya hanya berbicara dengan diri saya sendiri, melalui celetukan yang tidak sengaja, otomatis keluar dari benak saya yang kelewat jujur dan blak blakan.

Dan ternyata saya memang sudah berdosa dengan cara itu, saya sudah berdosa semenjak dalam pikiran.

Segelintir celetukan yg sangat sering terlontar, diantaranya seputar tempat mereka menimba ilmu, dan bagaimana attitude mereka, atau cara mereka berpakaian.

Oh, lulusan kampus swasta. 
Oh, kuliah disini juga tapi di jurusan yg kurang diminati. 
Orang2 males dan gak niat kuliah kayak mereka mah gak cocok lulus cepet dan kerja di tempat elite, mereka yg cocok itu yg rajin, yg pinter, yg passionate, yg memang mendedikasikan hidupnya di bidang itu. 
Busseet, ini niat pake baju enggak sih. 

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya sadar sepenuhnya bahwa saya tidak berhak menghakimi semua orang walaupun hanya di pikiran saya saja. Memangnya saya siapa, sudah lebih baik dari semua orang? Tentu tidak, yg selama ini saya cerca bisa jadi justru lebih baik dari saya. Semua jurusan itu pada dasarnya baik, semua ilmu akan bermanfaat dengan caranya masing2. Setiap attitude orang pasti punya alasan dibaliknya, pun cara berpakaian atau style yg mereka pilih. Saya tidak pernah berhak mengomentari cara orang lain bersikap dan mengambil keputusan terkait dirinya, karena saya tidak pernah mengalami menjadi mereka. Saya mungkin bisa mengarang atau melogika skenario alasan dibalik yg mereka lakukan, tapi saya tidak pernah tahu yg sebenarnya. Maka sampai kapanpun saya tidak pernah berhak.

Dan rupanya saya kena karma atas dosa yg terus menumpuk hingga saya seusia sekarang ini. Saya percaya karma. Saya sering mengalami karma. Melalui rasa penasaran yg terlintas di benak saya, kemudian rasa penasaran itu terjawab dengan cara saya mengalaminya sendiri. Saya sering terpikir 'kok bisa sih ada orang yg kayak begitu..' Dan entah kapan di kemudian hari saya mengalaminya, menjadi seperti orang yg begitu. 

Maka saya berusaha untuk tidak bertanya-tanya atas fenomena (terutama fenomena sosial) yg terjadi di sekitar saya. Saya membunuh curiosity saya demi tidak perlu mengalami fenomena itu, jawaban Tuhan atas pertanyaan saya.

Melalui tulisan ini saya berniat minta maaf pada semua orang yg pernah saya perlakukan demikian semenjak dalam pikiran. Saya tidak ingat siapa saja korban dari pemikiran saya dan pemikiran apa yg sempat terlintas di benak saya tentang mereka. Karena pemikiran itu memang hanya terlintas sejenak, tidak mengendap, dan tidak dengan sengaja saya pikir-pikirkan. Kedepannya saya akan berusaha menjaga pikiran saya, dan membungkamnya bila perlu. Karena (mungkin) terkadang kejujuran sudah tidak diperlukan, semenjak dalam pikiran.

Tuesday, 23 February 2016

Betapa Susahnya Mencari Sekaligus Bersembunyi

Hal ini terjadi saat saya ingin mendatangi teman-teman saya di wisuda kampus saya, periode Februari ini.

Sebenarnya saya agak agak takut kalau apa yg terjadi di wisuda periode November lalu kembali terulang. Well, saya menangis di hari semua orang bersuka cita. Dan saya menangis tepat dimana ada begitu banyak orang yg mungkin saya kenal sedang berada di tempat yg sama: GSP UGM. Wow! Kombinasi berbagai hal yg terjadi tepat sebelum saya datang ke gsp membuat air mata saya tak terbendung, jatuh tepat dimana tidak seharusnya jatuh.

Kalau di wisuda Agustus dan November lalu saya menemukan begitu banyak orang yg saya kenal, baik sengaja maupun tak sengaja. Di wisuda Februari ini rasanya begitu sepi. Sepanjang perjalanan menerobos gerombolan manusia rasanya saya tak jua menemukan satu yg dikenal.

Padahal saya sudah menyiapkan sesuatu untuk 12 teman jurusan dan 3 teman mapala saya, juga 2 bingkisan cantik untuk teman KKN saya yg hari itu diwisuda.

Saya justru berseliweran dengan mereka yg tidak ingin saya temui, teman-teman dari masa lampau yg tidak pernah saya sapa maupun menyapa saya. Kemana orang-orang yg ingin saya temui, mengapa yg muncul justru mereka yg sedang tidak ingin saya temui?

Ah elah.

Adapun alasan saya tidak ingin bertemu dengan orang-orang tertentu dari masa lalu karena mereka selalu menyakan perkembangan yg terjadi selama kita tak bersama. Padahal toh saya tak berkembang ke arah manapun.

Jadi saya sebisa mungkin menghindari mereka yg tidak ingin saya temui, sembari mencari mereka yg ingin saya temui.

Tapi ini rasanya seperti ketika kita ingin menjadi diri sendiri dan berkeluh kesah kepada seorang teman dekat, tapi pada saat yg bersamaan hadir pula teman yg tak terlalu dekat dimana kita ingin berpura-pura kepada seluruh dunia bahwa kita sedang baik-baik saja.

Ah, lelah.

Monday, 18 January 2016

Project 01: Main Panti

Ceritanya aku habis main ke panti asuhan bersama orang-orang yang saling gak kenal. Aku cuma diajak teman KKN. Nah ternyata dia diajak teman satu daerahnya. Nah selain ngajak teman KKN ku itu, dia juga ngajakin teman-temannya yang lain yang teman KKN ku juga gak kenal. Teman KKN ku selain ngajakin aku juga ngajakin teman kost sama teman-teman FK nya yang beda jurusan. Jadilah kami semua saling gak kenal tapi terhubung oleh kata 'temennya si ini'. Ternyata misi kemanusiaan bisa lebih laris ketimbang bisnis MLM ya. Hahaha

Serunya adalah ketika kita sudah punya satu tujuan, tidak perlu repot-repot mencari teman. Mereka akan datang dengan sendirinya, untuk sama-sama saling mengusahakan satu tujuan tsb.

Tanpa bendera tidak masalah, toh kita masih berada dibawah niat yang sama: berbagi.

Sampai jumpa di project-project berikutnya, dan tentunya salam kenal untuk semua teman-teman baru  ðŸ™Œ